
Liliana kaget saat Maya menjerit di kamarnya. Ia berlari panik menuju kamar Maya.
"Kak. Ada apa?"
Ditempatnya Maya bergetar ketakutan. Tangannya menunjuk bingkisan yang terjatuh di lantai. Liliana menatap bingkisan itu dan berjalan mendekat.
Seketika ia terkejut. Ia menatap Maya dengan sorot ketakutan. "Bagaimana bisa?" Tanyanya syok. Maya hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri pun tak tahu bagaimana bisa ia mendapatkan kiriman berupa bangkai kucing serta telapak tangan manusia yang masih berlumuran darah.
Maya menangis. Tubuhnya bergetar ketakutan. Liliana memeluk kakaknya, ia mencoba menenangkan kakaknya meskipun ia sendiri pun sebenarnya butuh ditenangkan juga.
"Kita harus bilang sama ayah dan ibu" kata Liliana. Sebentar lagi pukul 8 malam, artinya sebentar lagi kedua orang tuanya pulang dari toko.
Liliana mengelus punggung kakaknya yang bergetar. Dan Maya semakin mengeratkan pelukannya pada adiknya.
#
Bianca kembali ke rumah mommy nya setelah memuaskan dahaganya akan darah. Mayat Romi sudah diurus oleh orang suruhannya.
Renata yang tadi sore baru pulang dari rumah sakit menatap khawatir pada putrinya saat matanya menangkap darah kering di leher Bianca.
"Bie, leher kamu-" Bianca menepis tangan mommy nya yang ingin menyentuh lehernya. Setelahnya ia naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.
Renata menatap punggung putrinya. Dalam hati ia khawatir jika terjadi hal buruk pada putrinya.
Di kamarnya Bianca melepas seluruh pakaiannya. Ia berdiri di depan cermin memandang tubuh telanjangnya yang putih mulus.
Bianca mengusap dadanya yang lumayan besar untuk ukuran anak SMA seperti dirinya. Bianca mulai berpikir bagaimana bisa Zidan tidak tergoda dengan wajah cantik Bianca. Kenapa Zidan bisa lebih memilih Maya daripada dirinya. Padahal jelas jelas Bianca jauh lebih sempurna daripada Maya.
Bianca kaya? Jelas. Ayahnya, Daniel Kidman orang terkaya no 3 di Australia.
Bianca cantik? Jelas. Wajahnya yang campuran Eropa Asia semakin menambah kecantikannya.
Bianca pintar? Oh jelas. Dirinya selalu menduduki peringkat pertama di kelas padahal setiap guru mengajar ia tak pernah memperhatikan, ia justru sibuk memperhatikan Zidan.
Kurang apa lagi Bianca? Bagaimana bisa ia dicampakkan begitu saja oleh Zidan.
Bianca meremas payudara bulatnya. Apa Zidan ia perkosa saja supaya Zidan jadi milik Bianca seutuhnya?
#
Keesokan paginya, Maya izin tidak masuk sekolah. Setelah kejadian semalam badannya demam tinggi. Ia mengalami trauma akan kejadian semalam.
Bianca tersenyum. Baru segini saja Maya sudah jatuh sakit? Apa perlu ia kirim jantung manusia yang masih tersisa detakannya pada Maya supaya Maya jadi gila.
Hihihi. Bianca terkikik.
Sepertinya akan seru jika ia terus meneror Maya.
"Bianca"
Bianca menoleh. Ia sedikit terkejut saat melihat orang yang memanggilnya. Hardin Faulkner, kakak kelasnya yang berdarah Inggris. Untuk apa pria dingin dan temperamen ini mengajaknya bicara.
Berbeda dengan gadis lain yang akan malu malu saat ditatap Hardin, Bianca justru menatap takut pada Hardin. Bagi Bianca dihatinya hanya ada nama Zidan. Tak ada yang lainnya.
"Dipanggil Miss Hana" kata Hardin.
Bianca menghembuskan nafas kesal. Sialan guru satu itu, setiap hari selalu saja memanggil dirinya dan menyuruhnya mengerjakan soal soal bahasa Inggris di materi OSN tahun lalu, kalau bukan itu pasti Bianca dipaksa mengerjakan latihan soal Bahasa Inggris yang banyaknya minta ampun. Karena Miss Hana ingin Bianca mewakili sekolah untuk ikut olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional.
Bianca berjalan melewati Hardin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia malas beramah tamah pada siapapun kecuali pada Zidan tentu saja.
Sedang Hardin berdiri diam di tempatnya. Mata birunya menatap punggung Bianca yang berjalan ke kantor guru. Hardin menyeringai sambil menatap Bianca.
#
Sudah satu bulan ini teror yang dialami Maya tak kunjung berhenti, justru makin parah. Terakhir tadi pagi saat Maya akan berangkat sekolah, ia menemukan potongan kaki manusia yang masih segar pertanda baru saja dipotong terbungkus plastik hitam di pelataran rumahnya. Reflek ia menjerit, bahkan sampai warga kampung berbondong bondong datang ke halaman rumahnya untuk melihat potongan kaki manusia itu.
Dan pagi ini Maya dan Liliana dilarang keras oleh ayah mereka keluar rumah. Ayahnya takut terjadi hal buruk pada Maya.
Dedi-ayah Maya sebenarnya sudah melaporkan hal ini pada polisi, namun polisi tidak segera bertindak cepat mengusut kasus ini. Bahkan terkesan lambat.
Di kamarnya Maya bergetar ketakutan. Tubuhnya makin lama makin kurus kering karena ia tak doyan makan. Setiap akan makan ia teringat potongan potongan tubuh yang satu bulan belakangan ini rutin dikirim padanya. Ia jadi mual setiap kali akan menelan makanan.
Liliana menatap sedih kakaknya. Ia sendiri pun juga takut karena makin lama teror ini makin ekstrem.
Liliana berjalan mendekat pada kakaknya, ia menyentuh bahu sang kakak yang bergetar.
"Hah" Maya terlonjak kaget. Seluruh tubuhnya mengalami tremor parah. Setelahnya Maya menangis histeris.
Liliana panik, ia memeluk Maya mencoba menenangkan kakaknya. Akhir akhir ini Maya selalu seperti ini, kata dokter Maya mengalami depresi akibat trauma. Liliana mengelus punggung kakaknya lembut sambil sesekali menciumi ubun ubun kakaknya.
Setelah lelah menangis, Maya tertidur. Liliana menyelimuti tubuh kakaknya yang meringkuk seperti janin di ranjang. Setelahnya ia keluar dari kamar saat pintu rumahnya diketuk.
Liliana mengintip dijendela terlebih dahulu sebelum membuka pintu seperti pesan ayahnya. Takut jika terjadi hal hal buruk mengingat akhir akhir ini Maya mengalami gangguan terror.
Jantung Liliana berdegup kencang saat melihat siapa orang yang mengetuk pintu. Cepat cepat ia membuka pintu depan dan nampaklah orang yang selalu membuat jantung Liliana kebat kebit.
__ADS_1
Liliana tersenyum malu malu pada Zidan. Sejak satu bulan belakangan ini Zidan sering datang ke rumahnya untuk bertemu Maya. Setelah mendengar jika Maya diteror, Zidan selalu melindungi Maya seperti bodyguard.
Dan sudah satu bulan belakangan ini Liliana menaruh hati pada Zidan.
"Kak Zidan nyari kak Maya ya?" Tanya Liliana.
Zidan mengangguk. "Iya, aku mau ngajak Maya berangkat bareng ke sekolah"
Raut wajah Liliana berubah tak suka mendengar hal itu, namun sedetik kemudian ia merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.
"Kak Maya sama aku gak dibolehin berangkat sekolah sama ayah" kata Liliana.
Kening Zidan mengerut. "Kenapa?"
Liliana pun menceritakan apa yang barusan dialami Maya pada Zidan.
"Sekarang ayah sama ibu lagi ngelaporin kejadian tadi ke kantor polisi" jelas Liliana.
"Dan ninggalin kamu sama Maya dirumah sendiri?" Tanya Zidan.
Wajah Liliana jadi kikuk. "Semua pintu dan jendela udah dikunci kok" kata Liliana. Ia tak ingin Zidan menyalahkan orang tuanya.
"Tapi tetep aja bahaya"
Liliana hanya tersenyum kikuk. "Masuk dulu kak" kata Liliana. Zidan mengangguk.
"Maya kemana?" Tanya Zidan saat ia sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Kak Maya tidur dikamar. Kecapekan nangis" jawab Liliana sambil mengunci pintu depan.
"Eh kok pintunya dikunci?" Tanya Zidan.
"Kata ayah disuruh gitu kak. Soalnya kita takut kalau peneror kak Maya masuk ke rumah" jelas Liliana
Zidan hanya mengangguk. Setelahnya ia menatap Liliana serius. "Aku punya dugaan tentang siapa yang neror Maya"
Liliana menatap Zidan. "Siapa kak?"
"Ini cuma dugaan aku. Aku punya temen disekolah yang terobsesi banget sama aku. Bahkan semua perempuan yang pernah aku kencani meninggal dengan penyebab yang berbeda beda" kata Zidan.
Liliana menatapnya bingung. "Terus apa hubungannya sama kak Maya?"
Zidan menatap Liliana. Raut wajahnya terlihat sangat serius sekarang. "Akhir akhir ini aku sama Maya deket"
Zidan mengangguk.
"Kita harus lapor polisi kak. Ayo kak cepetan" Maya berdiri dan menarik lengan Zidan panik.
"Li kamu tenang dulu"
"Tenang gimana kak? Satu bulan ini selalu aja ada potongan tubuh manusia yang mampir ke rumah kami disertai tulisan tulisan yang isinya menyuruh kak Maya bunuh diri. Kakak masih bisa nyuruh aku tenang?" Ucap Liliana histeris.
Masalahnya kalau kita lapor polisi nyawa kamu yang jadi taruhannya Li, dan aku gak mau kamu kenapa napa.
"Li, kamu tenang dulu. Itu baru dugaan aku, kita gak bisa seenaknya lapor tanpa adanya bukti" jawab Zidan.
Sebenarnya ini bukan dugaannya. Ia sudah menyelidiki matinya para perempuan yang pernah ia kencani. Dan ia sudah menemukan siapa dalang dibaliknya.
Bianca.
Perempuan gila yang sangat terobsesi pada dirinya. Zidan teringat percakapannya dengan Bianca satu Minggu yang lalu.
Zidan berjalan cepat menuju rumah minimalis milik Renata, mommy Bianca. Zidan masuk tanpa permisi ke rumah Bianca.
Didalam Bianca duduk di ruang tamu seakan menunggu kedatangan Zidan. Bianca tersenyum manis saat melihat Zidan menatapnya dengan penuh kebencian.
"Ini semua ulah kamu kan?"
Bianca tersenyum manis. Ia memang sengaja mengirim video saat ia menghabisi semua mantan kencan Zidan, setelahnya Bianca menghapus file nya dari ponsel Zidan. Ia tak segila itu memasukkan dirinya sendiri ke balik jeruji besi.
Lalu bagaimana Bianca bisa menghapus video tadi dari ponsel Zidan? Jawabannya karena selain menguntit kemanapun Zidan pergi, dirinya juga meretas ponsel Zidan.
Segila itu obsesi Bianca pada Zidan.
"Bagaimana kamu bisa setega itu bie. Kamu benar benar psikopat tau gak"
Bianca tersenyum pada Zidan. "Ini semua salah kamu juga Ibra. Kalau kamu berhenti memandang gadis lain dan hanya memandang aku, semua gadis itu tak akan berakhir mati"
Zidan yang kadung emosi mencekik leher Bianca. "Berhenti gangguin aku mulai sekarang. Atau aku habisi nyawa kamu"
Bianca tertawa lebar disaat nafasnya hampir terputus karena cekikan tangan Zidan dilehernya. "Silahkan. Aku bersedia mati ditangan kamu Ibra"
Zidan makin mengencangkan cekikan nya. Namun setelahnya ia melepaskan tangannya pada leher Bianca. Entah kenapa ia tak bisa membunuh Bianca.
"Aku gak akan biarin kamu hidup bebas bie. Aku akan laporin kamu ke polisi. Biar kamu membusuk dipenjara"
__ADS_1
"Polisi ya?" Bianca tertawa lebar. "Apa kamu tau kenapa sampai sekarang aku masih bebas padahal sudah membunuh puluhan orang? Itu karena para polisi penggila uang itu takut sama aku. Hihi" Bianca terkikik.
"Kalau gitu aku juga akan nyogok polisi supaya kamu membusuk di penjara" ancam Zidan.
Bianca tertawa makin lebar. "Ibra. Papi kamu itu gak ada apa apanya dibanding Daddy aku" katanya. "Daddy aku bisa hancurin bisnis perkapalan milik papi kamu dalam sekejap. Mau coba?"
Zidan menggeram marah. "Aku gak peduli" jawabnya. "Kamu lihat aja. Besok pagi kamu akan terbangun di penjara"
"Oke. Kita juga lihat aja. Besok bagaimana nasib bisnis papi kamu" ucap Bianca.
Zidan berlalu meninggalkan rumah Bianca.
Dan esok harinya seperti yang Bianca katakan. Saham perusahaan papi Zidan merosot tajam. Papinya sibuk mencari investor untuk mengembalikan harga saham perusahaan. Namun sudah satu Minggu ini usaha Zayn mencari investor tak membuahkan hasil sama sekali. Orang tua Zidan nyaris bangkrut. Para karyawan Zgroup sebagian terpaksa di PHK.
Mirna bahkan sampai jatuh sakit karena banyak pikiran. Sifat Zayn pun juga berubah makin kasar. Bahkan tak segan membentak Mirna, padahal biasanya Zayn mana berani membentak Mirna.
Kedua orang tua Zidan akhir akhir ini sering bertengkar. Zayn yang dipusingkan oleh perusahaan sehingga jarang pulang dan Mirna yang mengira jika suaminya terjerat wanita lain. Rumah yang biasanya hangat kini berubah dingin.
Zidan datang menemui Bianca. Ia menatap penuh benci pada Bianca.
Bianca tersenyum. "Gimana? Perusahaan ayah kamu mau bangkrut ya?"
Zidan makin mengeratkan kepalan tangannya. "Aku mohon. Balikin harga saham perusahaan papi aku"
Bianca tersenyum sinis. "Kamu pikir segampang itu?"
"Aku akan lakuin apapun asal kamu kembalikan perusahaan yang dibangun papi aku dari nol. Kecuali menjadikan aku milik kamu, kalau yang itu aku gak bisa"
Bianca mendengus. "Kalau gitu aku juga gak bisa ngembaliin harga saham perusahaan papi kamu"
Bianca terkejut saat Zidan berlutut padanya. Spontan ia memundurkan kakinya.
"Aku mohon. Tolong jangan bawa bawa keluargaku" mohon Zidan. Ia sungguh tak bisa melihat kedua orang tuanya yang biasanya hangat kini jadi beku. Ia rela merendahkan dirinya sendiri pada Bianca demi keluarganya.
Bianca memalingkan wajahnya. "Maaf aku gak bisa sebelum kamu jadi milik aku"
"Kalau gitu terpaksa" Zidan mendongak menatap Bianca sayu.
Bianca balas menatap Zidan. "Terpaksa apa?" Tanyanya.
"Terpaksa aku akhiri hidup aku sampai disini"
Bianca membeku. Setelahnya ia tertawa miris, Zidan bahkan lebih memilih mati daripada menjadi miliknya. Dan bodohnya ia masih saja mengejar pria ini.
Tanpa sadar mata Bianca berkaca kaca. "Kamu lebih milih mati daripada hidup bahagia sama aku?"
"Aku gak akan bisa hidup bahagia sama kamu"
Bianca mengepalkan tangannya. Ia tertawa sinis. "Kalau gitu lebih baik kamu mati aja" kata Bianca, setelahnya ia mengambil pisau lipat yang ada disaku jaketnya. "Nih. Kamu tadi bilang mau bunuh diri kan? Oke sekarang aku ingin lihat kamu mati"
Zidan sedikit terkejut saat Bianca menyodorkan pisau lipat pada dirinya.
"Kenapa? Kamu takut?" Tantang Bianca.
Mendengar itu Zidan geram. Ia merebut pisau lipat di tangan Bianca dan menusukkannya di pergelangan tangannya.
Bianca terbelalak. Hatinya nyeri saat melihat darah memancar di pergelangan tangan pria pujaan hatinya. Ia mengepalkan tangannya, mencoba menekan perasaan ingin menghentikan aksi Zidan.
Zidan meringis kesakitan. Hanya beginikah akhir hidupnya? Ia belum bisa sukses seperti harapan orang tuanya, ia belum bisa jadi anak yang membanggakan untuk orang tuanya, ia bahkan belum menikah namun sudah mati muda karena bunuh diri.
Alangkah menyedihkannya hidup Zidan.
Air mata Bianca menetes. Hatinya berdenyut nyeri. Sudah cukup. Bianca tak tahan. Ia berlari dan merebut pisau yang menusuk pergelangan tangan Zidan.
"Kamu gila hah? Hanya karena aku nyuruh kamu mati aja kamu lakuin. Lalu saat aku nyuruh kamu hidup bahagia sama aku kamu tolak" Bianca berteriak sambil terisak.
Zidan menatap Bianca. Pandangannya sudah buram karena ia kehilangan banyak darah. "Aku mohon. Jangan libatkan keluargaku" lirihnya.
Bianca menghapus kasar air matanya. "Aku akan selamatkan perusahaan papi kamu. Tapi ada syaratnya"
Zidan menggeleng. "Aku gak bisa" lirihnya. "Aku gak bisa jadi milik kamu" Penglihatannya sudah mengabur.
Wajah Bianca berubah mendung. "Aku gak minta itu" katanya. "Aku mau kamu jauhin Liliana. Atau kalau gak, aku akan potong kaki Liliana supaya dia cacat. Dan setelahnya kamu akan berhenti mencintai Liliana"
Zidan membeku. Bagaimana bisa Bianca tahu jika selama ini ia menaruh hati pada Liliana. Padahal sebisa mungkin ia menjauhi Liliana dan hanya berani menatap Liliana dari jauh.
Bianca tertawa. "Kamu pasti bertanya tanya bagaimana aku bisa tahu kamu cinta sama Liliana kan?" Bianca mengusap rahang Zidan. "Ibra, aku tahu semua tentang kamu" katanya.
Zidan menatap Bianca horror. Bianca memang gila. Ia sangat pantas dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
"Jadi bagaimana? Kamu jauhi Liliana atau aku buat Liliana gak punya kaki?"
"Oke. Aku akan jauhi Liliana"
TBC…
__ADS_1