
Zidan memarkirkan mobilnya di parkiran. Ia merapikan jasnya sebentar sebelum memasuki aula. Rasa malas mulai menyelimuti dirinya saat membayangkan jika didalam nanti ia akan bertemu Bianca.
Zidan memandang aula pesta yang dipenuhi dengan para makhluk makhluk indah. Bagaimana tidak? Semua teman perempuannya memakai pakaian mini mini semua. Zidan bisa melihat Aldi yang mupeng melihat tubuh indah Sonya yang terbalut baju pesta ketat. Zidan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa anak anak SMA bisa berpakaian se-hot ini di pesta kelulusan, mereka pikir ini klub apa? Yah walaupun Zidan juga seneng sih ngeliat body bak model teman teman perempuannya.
Tapi omong omong kenapa makhluk gila bernama Bianca tidak datang mengganggunya? Apa mungkin Bianca tak datang ke pesta? Tapi sepertinya itu mustahil. Setiap ada Zidan, disitu pasti ada Bianca yang selalu mengikutinya padahal sudah ia usir berkali kali.
Heh. Zidan tersenyum sinis. Ia penasaran bagaimana bentuk pakaian Bianca. Ia yakin Bianca akan berpakaian layaknya jalang untuk menggodanya dan bersikap murahan seperti biasanya.
Zidan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula. Ia mencoba mencari sosok Bianca yang tumben-tumbennya tidak menunggunya. Biasanya setiap ia belum tiba disekolah Bianca pasti selalu menunggunya di depan pintu lalu menempelinya saat Zidan sudah tiba di kelas. Tadinya ia pikir Bianca akan bertingkah seperti biasanya, menunggu dirinya didepan pintu lalu mulai mengikuti kemanapun Zidan pergi. Tak peduli Zidan usir ataupun hina, Bianca akan tetap setia mengikutinya.
Mata Zidan memicing saat ia melihat siluet Bianca dipojok aula. Ia tak heran jika Bianca lebih memilih berdiam diri dipojokan karena relatif sepi, mengingat Bianca yang memang antisosial. Yang ia herankan adalah Bianca sedang bersama seorang pria.
Seorang pria selain dirinya?!?!
Dan apa apaan itu? Bianca berpelukan dengan pria itu? Bahkan Bianca tak menolak saat sang pria menjilat telinganya. Benar benar murahan.
Apakah kelakuan Bianca memang seperti itu? Cih. Zidan mengepalkan tangannya sampai buku buku tangannya memutih. Entah kenapa ia kesal dengan fakta jika Bianca memang wanita murahan. Ia pikir selama ini Bianca hanya bersikap murahan pada dirinya. Namun apa ini, Bianca juga bersikap murahan pada pria lain.
Menjijikkan.
Zidan berjalan keluar. Ia butuh udara segar. Melihat pemandangan menjijikkan tadi membuat ia merasa mual. Sesampainya di belakang aula pesta, Zidan menyalakan rokoknya. Ia menghisap dalam dalam batang nikotin di tangannya.
"Zidan" Zidan menoleh saat suara Dicky memanggilnya. Ia berjalan mendekat di tempat Dicky berada. Disana tak hanya ada Dicky, melainkan ada Aldi dan tiga anak kelas sebelah. "Lo ngapain disini? Evan mana?" Tanya Zidan.
"Ssstt. Jangan berisik" Aldi menaruh jari telunjuk dibibirnya. "Kita mau nongki nongki diluar"
Zidan mengerutkan kening saat melihat botol kaca berisi air warna merah seperti sirup yang masih tersegel. "Lo bawa oplosan?"
"Bahasa lo gak elegan banget. Ini nih namanya wine" Aldi membuka segel botol tadi lalu menenggaknya langsung dari botolnya.
"Minum lo gak elegan benget bro" kata Galih. Ia membuka segel botol lalu menuangkan cairan merah itu digelas beling yang tadi ia culik dari dalam aula.
Aldi menyipitkan matanya. "Lo dapet gelas darimana?"
"Gue ambil dari dalem tadi" jawab Galih.
Dicky membuka segel botol lalu meminumnya sedikit. "Lo ikutan minum ****?" Tanya Zidan.
"Gue beraninya dikit. Kalau banyak bisa KO gue ntar" jawab Dicky.
"Ah lemah lo" ejek Aldi. "Lo mau gak?" Tawar Aldi pada Zidan.
Zidan menatap ragu. Senakal nakalnya Zidan, ia paling mentok hanya menghisap rokok. Ia belum pernah mencoba alkohol. "Gak deh" tolak Zidan. "Btw si Evan mana?"
"Gak ikutan dia" jawab Aldi. "Payah emang. Eh dan, lo liat Bianca gak tadi? Kayaknya dia udah move on dari lo deh. Tadi gue liat dia sama si Hardin, mantan kakak kelas kita yang orangnya bule itu"
Mendengar itu mood Zidan langsung turun. Rasa kesal yang tadi sudah menguap kini hinggap lagi.
__ADS_1
"Muka lo kenapa? Jangan jangan lo gak rela ya Bianca berpaling dari lo"
Zidan menatap Dicky kesal. "enak aja, lo pikir dia siapa?" Ketus Zidan.
"Lah terus ngapain muka lo kaya marah gitu? Harusnya lo seneng dong kalau Bianca suka cowok lain, kan artinya lo gak digangguin lagi"
Mendengar itu Zidan makin kesal. Ia juga tak tahu kenapa ia bisa sekesal ini saat membayangkan jika Bianca melupakannya dan berpaling ke lelaki lain. Apalagi ini Hardin. Senior yang dulunya mantan kapten basket yang terkenal akan kepintaran dan ketampanannya itu. Jelas jelas ia kalah jauh dari Hardin. Zidan semakin menenggak wine nya sampai habis tak bersisa. "Masih ada lagi gak?" Tanya Zidan.
"Wuih. Kuat juga lo sebagai pemula" puji Aldi lalu ia menyodorkan sebotol wine yang segelnya sudah ia buka pada Zidan.
Dicky memandang Zidan aneh. Kelakuan Zidan ini seperti seseorang yang sedang patah hati. Ia seperti tak terima jika Bianca sudah tak tertarik lagi padanya. Ya Dicky paham. Mungkin harga diri Zidan sedikit terluka karena dilupakan begitu saja oleh Bianca. Dicky menggelengkan kepalanya. Kenapa juga Zidan merasa marah jika Bianca sudah move on dari dirinya. Bukankah selama ini Zidan benci Bianca. Bahkan menghina Bianca didepan banyak orang. Mempermalukan Bianca. Mengatai Bianca murahan, jalang, pelacur, dan sebutan yang lainnya tak pantas.
Padahal jika dipikir pikir yang membuat Bianca begitu terobsesi atau mungkin cinta mati pada Zidan adalah Zidan sendiri. Andai dulu Zidan tidak berusaha mendekati Bianca dan mencari perhatian Bianca. Mungkin saja sekarang Bianca tak akan sebegitu obsesinya pada Zidan. Yaa manusia memang begitu. Saat ada disia-siakan. Namun setelah pergi merasa kehilangan dan baru sadar jika orang itu penting bagi dirinya.
Jika memang benar jika Bianca benar benar move on dari Zidan. Mungkin yang bisa Dicky lakukan adalah menatap turut prihatin pada Zidan.
"Emang murahan banget si Bianca itu" racau Zidan mulai mabuk. Ia mulai meracau menjelekkan-jelekkan Bianca. "Pelacur kamu bie. Emang jalang sejati kamu"
Dicky, Aldi dan ketiga temannya hanya menatap Zidan aneh.
"Kayaknya dia mulai mabuk deh" kata Aldi pada Dicky. "bisa gawat entar kalau bapaknya tahu"
"Lah salah siapa lo bawa ginian disini" tukas Dicky.
"Yang manggil dia kesini siapa?" Elak Aldi.
"Yang nawarin dia minum siapa?" Tukas Dicky tak mau disalahkan.
Karena kesal dan takut kena semprot papinya Zidan, akhirnya Aldi merebut botol yang Zidan minum dan membuangnya kesampah.
"Bangsat. Itu masih setengah kenapa lo buang" teriak Galih.
"Ahh peduli tai. Belinya juga pakai duit gue kali" bentak Aldi, ia mencoba memapah Zidan yang sempoyongan. "Oy kont*l. Bantuin dong, berat nih" teriak Aldi pada Dicky.
"Ah nyusahin aja sih" Dicky berdiri sambil menggerutu. Benar benar nyusahin deh remaja labil yang sayangnya teman dekatnya ini.
Saat Dicky akan Aldi membantu memapah Zidan. Zidan berontak. Ia mendorong Aldi menjauh dari tubuhnya lalu berjalan sempoyongan masuk Aula.
"Eh mau kemana itu tikus got satu" umpat Aldi.
Sampai di aula, mata Zidan menyipit karena pandangannya mengabur. Matanya menajam saat manik hitamnya menemukan sosok Bianca yang berdiri dengan Evan. Ia berjalan cepat ke arah Bianca. Tanpa sepatah katapun, ia menampar keras pipi Bianca sampai Bianca jatuh tersungkur. Ujung bibirnya berdarah akibat kerasnya tamparan Zidan.
"Zidan. Lo gila" teriak Evan.
Zidan menepis kasar tangan Evan yang mencekik kerahnya. Telunjuknya menunjuk Bianca yang masih tersungkur di lantai, terlalu syok karena tiba tiba Zidan menamparnya.
"Heh jalang. Berapa tarif lo sehari? Gue tertarik ngew*in elo. Atau lo kasih gue gratis aja gimana? Secara kan lo dapet perjaka, dan gue baik hati kan? Gue rela ngasih perjaka gue buat jalang bekas orang kayal elo" hina Zidan.
__ADS_1
Nafas Bianca tercekat di tenggorokannya. Dadanya berdenyut sakit mendengar ucapan Zidan. Serendah itukah dirinya di mata Zidan? Tanpa sadar air matanya luruh. Ia dihina habis habisan oleh Zidan dihadapan seluruh siswa siswi kelas 12 beserta para guru serta staf sekolah.
"Semuanya. Kenalin pacar baru gue. Namanya Bianca Victoria Kidman. Pelacur binal yang udah jadi bekasan banyak pria dan dengan gak tahu malunya masih aja ngejar gue. Kalau kalian ada yang mau nyobain cewek gue. Oke gue gak keberatan sama sekali. Kamu juga gak keberatan kan sayang?" Zidan menatap Bianca yang masih terduduk. Mata Bianca memerah, air mata terus turun di matanya. Ia malu, ini pertama kali dalam hidupnya dipermalukan habis habisan dihadapan banyak orang.
Dia, Bianca Victoria Kidman. Putri bungsu Daniel Kidman dan Renata Wijaya, adik satu satunya Sean Kidman. Ia adalah tuan putri keluarga Kidman. Tak ada yang berani menghinanya karena ayahnya salah satu orang terkaya di Australia. Jikapun ada yang berani menghinanya, tentu saja akan Bianca mutilasi tubuhnya.
Tapi ini Zidan. Apa Bianca sanggup menyakiti Zidan barang segores saja?
Tentu saja jawabannya TIDAK.
Bianca tak akan pernah bisa menyakiti cintanya. Walaupun Zidan membuat hatinya luar biasa sakit ia tetap tak bisa menyakiti Zidan. Sebodoh ini dirinya karena cinta. Ya Bianca bodoh jika menyangkut Zidan. Ia rela merangkak dibawah kaki Zidan asal Zidan mau memandangnya.
Wajah Zidan terlempar ke samping saat bogem mentah dari Evan mampir ke wajahnya. "Lo udah kelewatan Zi" ucap Evan. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangannya untuk meninju muka Zidan.
Zidan menatap Evan sinis. "Jadi sekarang lo jadi jalangnya Evan? Setelah gue tolak lo sekarang berpaling ke temen gue sendiri? Emang brengsek ya lo" tunjuk Zidan tepat dimuka Bianca.
Pesta yang tadinya meriah kini berubah hening. Hanya ada suara makian Zidan pada Bianca. Seluruh siswi perempuan sebagian ada yang mendukung Zidan karena memang selama ini menurut mereka kelakuan Bianca juga keterlaluan. Namun sebagian pula ada yang tak setuju dengan kelakuan Zidan yang dianggap terlalu berlebihan menghina Bianca.
"Elo yang keterlaluan Zi" bentak Evan.
"Sudah cukup" bentakan kepala sekolah menggema memenuhi aula pesta. "Zidan. Ijazah kamu ditahan satu tahun karena mabuk dan membuat keributan di acara sekolah, besok kami akan memanggil orang tua kamu ke sekolah. Bu Risma, tolong bantu antar Bianca pulang dan obati lukanya" titah kepala sekolah.
"Jadi selain temen seumuran lo juga ngelayanin tua bangka kayak kepala sekolah kita ini?" Zidan yang sudah mabuk tak bisa berpikir jernih. Ia menatap kepala sekolah "pak kepsek. Bapak bayar jalang ini berapa sekali pakai? Murah atau mahal. Kalau murah sih mau saya pake juga"
Kepala sekolah melebarkan matanya. Ia benar benar terkejut dengan ucapan Zidan yang terlalu menghina Bianca sampai titik terendah. "Zidan. Jaga ucapan kamu atau saya keluarkan kamu dari sekolah" ancam kepala sekolah. Beliau tidak main main dengan ancamannya karena sekarang lulus tidaknya siswa sekolah yang menentukan.
"Hahahaha" Zidan tertawa. "Masa depan saya masih terjamin walau bapak keluarkan saya dari sekolah sekalipun. Bapak kenal ayah saya kan?" Zidan tersenyum mengejek.
"Kamu juga tahu ayah Bianca kan? Ayah kamu tak ada apa apanya dibanding ayah Bianca jika kamu ingat" kata kepala sekolah.
Mendengar itu Zidan menatap Bianca sinis. Ia baru sadar jika Bianca sekarang sudah berdiri dengan rambut yang tadinya tersanggul rapi kini berantakan dengan ujung bibir berdarah akibat tamparannya tadi. Bianca menangis sesenggukan dan terlihat sangat menyedihkan.
Zidan terenyum sinis, ia berjalan mendekat pada Bianca dan mencengkeram rahang Bianca. "Gak nyangka ya. Anak orang terkaya no 3 di Australia bekerja sebagai pelacur"
"ZIDAN. SUDAH CUKUP. SUDAH CUKUP KAMU PERMALUKAN BIANCA" Bu Risma berteriak murka. Perkataan Zidan sungguh menyakitkan, ia yang mendengarnya saja sakit hati apalagi Bianca yang dihina? "Evan. Kamu antar anak tidak berguna ini ke rumah orang tuanya" perintah Bu Risma.
Evan memapah Zidan keluar aula. Zidan berontak namun dengan sigap Evan kunci pergerakan tangan Zidan. "Sayang ayo ikut aku. Ayo sini aku ew*in kamu. Aku udah gak tahan nih sayang" racau Zidan saat Evan menyeretnya keluar aula.
Bianca menunduk menahan malu. Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Ia benci merasa sakit seperti ini. Ingin rasanya ia membenci Zidan, tapi bodohnya ia tak bisa. Ya Bianca akui ia tolol. Sangat tolol karena jatuh cinta pada Zidan.
"Semuanya bubar. Pulang ke rumah masing masing. Jangan ada yang keluyuran" kata kepala sekolah tegas. Hancur sudah acara kelulusan yang sudah disusun susah payah oleh OSIS karena ulah Zidan.
Di kejadian ini korban yang paling merasa malu adalah Bianca, bukan Zidan yang membuat keributan. Semua orang akan mengingat kata kata Zidan yang menyebut Bianca pelacur, jalang, murahan. Dan mereka akan menatap Bianca dengan pandangan menghina tanpa mengaca terlebih dahulu.
Padahal tak tahu saja mereka jika kegadisan Bianca masih utuh belum tersentuh.
TBC…
__ADS_1
makasih banyak buat pembaca yang memberikan komentar mendukung untuk cerita saya❤️
luv u