OBSESI GILA

OBSESI GILA
Chapter 11


__ADS_3

Setelah susah payah membujuk Liliana agar tidak melaporkan ke polisi. Liliana akhirnya bisa mengerti, dan hal itu membuat Zidan lega.


Bukannya ia ingin membela Bianca. Ia justru sangat ingin melihat Bianca dijebloskan ke penjara. Tapi ia tahu, Bianca bisa melakukan apapun dengan uang ayahnya.


Liliana dan Zidan kini duduk di sofa. Mereka diam tak ada yang bersuara.


Di keheningan itu, tiba tiba suara gelas pecah mengagetkan keduanya. Mereka saling berpandangan sejenak lalu sedetik kemudian keduanya berlari ke sumber suara.


Liliana tercekat, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Zidan pun juga tak kalah kaget.


Disana tubuh Maya tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan busa putih. Tubuh Liliana luruh ke lantai, ia syok melihat kondisi kakaknya.


Zidan melangkah mendekat ke arah Maya. Ia berjongkok dan meraba pergelangan tangan Maya. Namun tak ada detakan denyut nadi disana, Zidan meletakkan telunjuknya pada di hidung Maya. Tak ada hembusan nafas, yang artinya tubuh Maya kini sudah berubah jadi jasad alias MATI.


Zidan memegang botol kecil yang tergeletak di samping jasad Maya.


"Sianida?" Zidan menatap pecahan gelas di lantai. Ia menduga maya mencampurkan racun sianida pada minumannya, lalu Maya mati keracunan.


Zidan menoleh menatap Liliana yang tampak menyedihkan. Wajahnya banjir air mata. Zidan berdiri dan mendekat pada Liliana. Ia memeluk Liliana mencoba menenangkannya.


#


Bianca menatap prosesi pemakaman Maya di dalam mobil. Ia sebenarnya sudah tak mengharapkan kematian Maya setelah tahu jika yang Zidan suka bukan Maya melainkan Liliana.


Mata coklat terangnya menatap tajam pada Liliana yang menjadikan bahu Zidan sebagai sandaran. "Sialan" umpatnya.


Sepertinya ia harus segera membuat Liliana cacat agar Zidan berhenti menatap Liliana.


#


Sudah dua tahun sejak kematian Maya, kini Zidan dan Bianca sudah duduk di kelas 12. Sifat Bianca masih sama, tak ada yang berubah. Ia masih sangat terobsesi pada Zidan. Sedang Zidan juga masih sama, ia selalu memandang Bianca sebagai kuman pengganggu hidupnya.


Kini Zidan dan Liliana sudah dua tahun menjalin hubungan di belakang Bianca. Liliana sekarang sudah duduk di kelas 11 walaupun ia tidak bersekolah di tempat yang sama dengan Zidan. Ia dan Zidan tetap menjalin komunikasi yang baik.


Dua tahun belakangan ini hidup Liliana damai. Walaupun awalnya Zidan takut jika Bianca akan mencelakai Liliana, namun ternyata tidak. Bianca sama sekali tak menyentuh Liliana. Namun justru selalu menempeli dan membuat Zidan risih saat disekolah.


Seperti sekarang, saat siswa kelas 12 sedang menjalani UNBK. Bianca dengan santainya memandangi Zidan yang duduk di seberangnya. Walaupun sudah tiga kali kena tegur oleh pengawas bianca masih saja bandel.


Zidan yang risih karena terus terusan dipandangi seperti ini akhirnya menoleh dan melotot kesal pada Bianca. Ia benar benar tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan soal. Ia merutuki nasib sialnya yang harus satu ruangan dengan Bianca, ditambah duduknya yang berseberangan dengan makhluk gila ini.


Bianca tersenyum sangat manis saat Zidan melotot padanya. Ia sudah selesai mengerjakan soal ujian. Soal segini mah gampang untuknya. Sekarang yang ia lakukan hanya memandangi Zidan tanpa bosan sampai waktu ujian habis.


"Ibra" panggil Bianca saat mereka sudah keluar Lab Komputer 1, tempat ujian mereka.


Namun yang dipanggil sama sekali tidak menoleh. Bianca akhirnya berlari sambil memanggil nama Zidan.


"Ibra" panggilnya saat sudah berada didepan Zidan.


Zidan mendengus malas. "Apa lagi?"


"Besok malam kan pesta kelulusan. Aku boleh gak berangkat bareng kamu"

__ADS_1


"Gak" ketus Zidan.


Raut wajah Bianca berubah sedih. Namun tidak berpengaruh untuk Zidan. Ia paham betul Bianca ini jagonya drama queen.


"Ibra please. Kali ini aja ya" Bianca memandang Zidan memelas.


"Gak ya gak" Zidan berlalu meninggalkan Bianca.


"Ibra please. Sekali ini aja ya" Bianca menjajari langkah lebar Zidan.


"Hari ini lo bilangnya kali ini aja, tapi besok besok dan besok nya lagi juga tetep kali ini aja" Zidan mengehentikan langkah "Bie please. Gue capek tiap hari lo ganggu mulu"


Bianca memandang Zidan. "Sejak kapan aku gangguin Ibra? Aku kan cinta sama Ibra. Jadi aku gak mungkin ganggu Ibra"


Zidan menghela nafas lelah. Sumpah. Ia benar benar sangat tak tahan menghadapi orang gila semacam Bianca. "Dengan elo yang tiap hari nempelin gue mulu itu sangat menggangu gue bie"


Bianca menunduk sedih. "Aku kan cinta sama Ibra. Tapi Ibra gak pernah mandang aku"


"Ya karena gue gak pernah cinta sama lo. Paham lo?" Bentak Zidan. Para murid yang ada disekitar mereka menatap mereka berdua. Seluruh siswa maupun siswi di sekolah ini sudah tahu bagaimana Bianca yang selalu mengejar Zidan namun selalu diabaikan oleh Zidan.


Mata Bianca berkaca kaca. Sedang Zidan hanya memandangnya datar. Psychopath macam Bianca bisa menangis? Bah. Itu pasti cuma akting. Pikirnya.


Zidan berlalu meninggalkan Bianca. Namun urat malu Bianca sepertinya sudah putus. Ia masih tetap mengejar Zidan walaupun ia tahu jika Zidan pasti akan membentaknya.


"Ibra please. Gak ada yang mau sama aku kecuali kamu. Please nanti temenin aku ya" mohon Bianca.


Zidan mengabaikannya, ia berjalan dengan langkah lebar menuju parkiran depan. Ia sama sekali tak peduli pada Bianca.


Bagi mereka sudah biasa jika Zidan mengabaikan Bianca bahkan cenderung tak peduli. Namun tetap saja Bianca dengan tak tahu malunya terus menempeli Zidan.


#


Bianca menatap dirinya di cermin. Malam ini ia memakai gaun warna putih dengan motif bunga dibagian pinggangnya, menampilkan kesan elegan. Bianca menatap puas pada pantulan dirinya, ia terlihat sangat sempurna.


Malam ini ia akan datang ke pesta kelulusan SMA nya. Walaupun ia tidak datang bersama Zidan, namun ia pastikan jika malam ini Zidan akan menjadi milik Bianca seutuhnya.


Pintu kamar Bianca terbuka dan muncullah sosok Renata. "Mau mommy antar?" Tanyanya.


Bianca menggeleng. "Aku ingin menyetir sendiri"


Renata memandang ragu, ia sebenarnya khawatir jika putrinya membawa mobil sendiri, namun jika tidak diizinkan putrinya pasti akan lebih bersikap dingin padanya. Renata menghela nafas. "Baiklah. Tapi hati hati ya"


Seperti biasa Bianca tak menjawab. Ia beranjak keluar dari kamar menuju garasi.


Sesampainya didalam mobil, Bianca mengecek tasnya siapa tahu ada yang tertinggal. Namun semuanya aman. Bianca memandang botol kecil yang ada didalam tasnya, ia menyeringai. Ia makin tak sabar untuk sampai di pesta.


#


Dirumahnya, Zidan sedang memasang dasi warna navy yang dipadukan dengan kemeja warna putih serta jas hitam. Ia terlihat sangat mirip dengan Zayn saat memakai jas. Wajah tampan ayahnya menurun padanya.


Zidan turun ke lantai bawah menemui keluarganya yang sedang duduk di sofa depan tv. Semua keluarganya berkumpul kecuali abangnya yang sedang kuliah di Inggris.

__ADS_1


"Mami lihatin kakak, wajahnya kayak papi" Zahira, adik bungsu Zidan yang baru duduk di kelas 1 SMP itu memekik lebay.


Mami dan papinya menoleh ke arah Zidan. "Aduh anak mami udah besar ya sekarang" Mirna berdiri dan menciumi pipi Zidan. Sebenarnya ini membuat Zidan risih, ia malu sendiri jika diciumi maminya seperti ini. Kalau dulu jaman masih kecil mah ia biasa saja. "Udah dong mi, kakak udah gede ini" protesnya.


"Bagi mami, kamu, adek, sama Abang kamu masih anak kecil mami" Zidan hanya memutar mata malas "kak, sekolah kamu aneh. Dulu jaman mami masih SMA pesta kelulusannya pas mau mendekati hasil UN tuh. Kok punya kamu selesai UN langsung pesta?"


"Kan semua sekolah beda beda mami. Apalagi di jaman mami, udah jaman kapan tuh" jawab Zidan. Memang di sekolahnya pestanya diadakan awal awal, takut jika nanti nanti para siswa akan disibukkan mendaftar kuliah. Belum lagi siswa yang akan mengikuti sbmptn, sekolah tak mau menyita waktu belajar anak muridnya.


"Oh iya kak, kamu berangkat sama siapa?" Tanya mami.


"Sendirilah"


"Gak sama Bianca?"


Zidan menatap jengkel pada maminya. Heran. Padahal seluruh anggota keluarganya sudah tahu kelakuan psychopath Bianca. Namun tetap saja maminya masih saja mencomblangi dirinya dengan makhluk gila itu. "Please deh mi. Ntar kalau berangkat sama Bianca pulang pulang yang ada kakak tinggal nama"


Maminya terkikik. "Ya gak mungkinlah. Bianca kan cinta mati sama kamu, mana mungkin dia bunuh kamu. Ya kan Pi?"


"Hmm" Zayn hanya bergumam.


"Ya siapa tahu. Bianca itu cewek gila, pas gilanya kumat dia bisa bunuh siapa aja tuh" buktinya dulu dia nyuruh gue bunuh diri didepan matanya sendiri. Walaupun ujung ujungnya dicegah sih. Tapi kan tetep aja, gila ya gila. Batin Zidan. Ia heran bagaimana maminya sama sekali tidak takut dengan kelakuan gila Bianca. Justru maminya seperti mendukung dirinya dengan Bianca. Tak tahu saja maminya jika Bianca pernah membuat rumah tangga mami dan papinya hampir hancur saat ayah bianca membuat perusahaan papinya hampir bangkrut.


"Berarti papi kamu juga gila dong" jawab Mirna santai. Zidan melirik papinya yang menatap kesal pada maminya. Kadang ia heran juga dengan papinya yang bisa bisanya cinta mati sama perempuan yang nyantuynya minta ampun seperti maminya.


"Duh mami sama kakak berisik. Sana hush kakak pergi aja sana daripada bikin mami ngoceh mulu dari tadi" tangan kanan adiknya terangkat mengusir Zidan. Dasar adik durhaka!


Bagaimana bisa dia punya Abang yang dinginnya minta ampun, sampai membuat dirinya beku jika dekat dekat dengan Zevan, -halah lebay- dan punya adik yang super ngeselin, mami yang nyantuynya kebangetan, serta papi yang kadang kaku tapi nyebelin. Sepertinya hanya dirinya sajalah yang punya sifat normal di keluarga ini.


#


Bianca memandang suasana pesta yang sangat meriah itu dengan tatapan bosan. Kenapa Ibranya belum datang datang, Bianca sudah tak sabar ingin bertemu Ibra.


Ditengah kebosanannya, Bianca membuka aplikasi sosmed di ponselnya. Ia menunduk menatap layar ponselnya, saat ia menunduk sepasang sepatu hitam berhenti didepannya. Bianca tersenyum riang, ia mendongakkan kepalanya. Namun sedetik kemudian senyum diwajah cantik itu lenyap digantikan dengan tatapan datar. Ia kira yang datang padanya tadi adalah ibranya. Tapi ternyata bukan, pria pemarah asal Inggris ini yang datang padanya.


Pria itu menyeringai saat disuguhi wajah datar Bianca.


Bianca terpaku sejenak, seringai pria gila ini sesaat membuatnya merinding. Walaupun Bianca psikopat yang Zidan anggap kejam, namun bagi Bianca dirinya tak ada apa apanya dibanding orang gila dihadapannya ini.


"Menunggu priamu?" Bisik Hardin Faulkner ditelinga Bianca.


Tanpa sadar tubuh Bianca bergetar. Ia mundur satu langkah, namun dengan sigap tangan kekar Hardin memegang pinggangnya. Bianca tersentak.


Sialan. Bagaimana orang gila ini bisa berada dipesta kelulusannya padahal Hardin sudah lulus dua tahun yang lalu.


Bianca berontak. Ia mencoba melepas tangan Hardin yang melingkari pinggangnya. Namun sayang, tenaganya tak ada apa apanya dibanding cengkeraman tangan pria ini dipinggangnya.


Hardin menyeringai. "Aku menemukanmu" bisik Hardin di telinga Bianca. Bianca merinding. Tubuhnya bergetar saat Hardin menjilat telinganya. Setelahnya tangan Hardin melepas pinggang Bianca dan berbalik meninggalkan pesta.


Bianca menghela nafas lega saat matanya melihat Hardin berjalan menuju pintu keluar.


Tanpa Bianca sadari, Zidan melihat kejadian itu.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2