
Zidan mendorong kasar Bianca dari pangkuannya membuat Bianca jatuh terduduk di lantai.
Zidan merutuki dirinya sendiri karena bisa bisanya ia tergoda dengan makhluk gila macam Bianca. Ia merasa sangat bersalah pada Liliana. Zidan seperti berkhianat di belakang Liliana.
"Dasar pelac*r lo" Zidan mengusap kasar bibirnya dan mengancingkan kembali kancing bajunya yang tadinya terlepas.
"Aku rela jadi pelac*r kamu asal kamu jadi milik aku bra" ucap Bianca, otaknya sepertinya sudah hilang. Bianca bahkan tak repot merapikan tali gaunnya yang melorot menampilkan bahu serta p*yud*r* putih mulusnya.
Zidan memalingkan wajahnya. "Pergi bie. Please. Jangan ganggu gue sama Liliana lagi"
Bianca menggeleng. Ia menyentuh kaki Zidan. "Ibra please. Jangan suruh aku pergi dari hidup kamu. Aku gak akan bisa" Bianca memohon pada Zidan.
"Kelakuan kamu ini kaya pelac*r tau gak?" Ucap Zidan kasar, ia menendang Bianca yang masih berlutut di bawah kakinya.
Bianca terjengkang ke belakang. Air matanya turun lagi.
"Ibra please" mohon Bianca. "Aku gak bisa hidup tanpa kamu, aku rela jadi yang kedua asal kamu jadi milik aku"
__ADS_1
Zidan menatap tajam Bianca. "Lo gila? Segitu murahannya diri lo sampai memohon mohon ke gue. Denger ya bie, gue gak akan pernah duain Liliana. Paham lo"
"Aku rela jadi selingkuhan kamu saat kamu bosan sama Liliana" Bianca masih saja memaksa.
Zidan mendengus. Ia menjambak rambutnya frustasi. Sampai kapan ia akan terbebas dari gangguan Bianca.
"Bie please. Kamu cinta sama aku kan?" Bianca mengangguk. "Kamu pengen liat aku bahagia kan?" Lagi. Bianca mengangguk. "Kalau gitu please kamu jangan ganggu aku lagi oke? Biarin aku hidup bahagia sama Liliana"
Bianca menggeleng panik. "Gak. Gak boleh. Kamu cuma bisa bahagia kalau sama aku bra. Liliana gak akan bisa bikin kamu bahagia. Cuma aku. Cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia" air mata Bianca luruh lagi.
Zidan makin frustasi dengan sikap Bianca. Ia jadi menyesali kelakuan masa lalu saat ia menolong Bianca yang dibully oleh para gadis saat mereka masih SMA. Seandainya dulu ia diam saja dan tidak sok jadi pahlawan kesiangan untuk Bianca. Pasti sekarang ia tak akan menjadi obsesi Bianca dan masa SMA nya akan berwarna tanpa gangguan dari Bianca.
Namun Bianca justru menggeleng. Ia menangis histeris. "Ibra kamu gak jahat. Kamu yang terbaik buat aku, aku cinta banget sama kamu bra, please. Kamu jangan suruh aku pergi ya" Bianca menatap mata Zidan yang berdiri didepannya, sedang ia masih duduk dilantai.
Zidan memejamkan mata frustasi. Ia benar benar stress jika berhadapan dengan Bianca. Ingin rasanya ia membunuh Bianca sekarang juga agar berhenti mengganggunya. Namun Zidan masih punya hati. Mana tega ia membunuh manusia.
"Bie. Pasti ada pria yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Gak kayak aku yang bisanya cuma nyakitin kamu"
__ADS_1
Bianca berteriak histeris. "Enggak. Enggak ada. Aku gak mau mereka semua. Aku cuma mau Ibra. Aku cuma pengen Ibra. Aku gak mau kalau gak Ibra. Aku gak mau" Bianca menggeleng histeris.
"Bianca kamu tenang dulu" Zidan menyentuh bahu Bianca yang bergetar. "Oke sekarang kamu maunya apa?" Zidan sudah pasrah. Sepertinya memang sulit menjauhkan Bianca dari dirinya.
"Aku mau Ibra jadi milik aku" ucap Bianca.
Namun Zidan menggeleng. "Gak bisa bie. Aku cuma milik Liliana"
Mendengar itu Bianca menangis sesenggukan. "Kalau gitu aku terpaksa membunuh tunangan kamu. Seperti dulu saat aku membunuh gadis gadis yang deket sama kamu"
Zidan menegang. Ia tak menyangka Bianca akan mengancamnya seperti ini. "Bie. Aku akan turuti semua mau kamu, asal kamu gak minta aku untuk selingkuh dari lili dan aku mohon kamu jangan sakiti lili"
Bianca menatap Zidan. "Kalau gitu" ucap Bianca. "Kamu jangan usir aku kalau aku pengen ketemu kamu. Aku janji gak akan usik Liliana kalau kamu gak bentak bentak aku dan ngusir aku lagi"
Zidan menatap Bianca. Ia sedikit sangsi dengan ucapan Bianca. "Kamu yakin gak akan usik lili dan gak akan minta aku buat selingkuh dari lili?" Bianca mengangguk.
"Aku cuma pengen temenan sama Ibra. Aku janji gak akan usik tunangan kamu" ucap Bianca, matanya sudah berkaca kaca lagi membuat Zidan tak tega.
__ADS_1
Zidan menghela nafas. "Kalau gitu oke. Aku gak akan usir ataupun bentak kamu lagi. Tapi kamu juga harus janji jangan usik lili" Bianca mengangguk. Senyum tulus terbit di bibirnya. Senyum yang dulunya pernah membuat Zidan terpesona.
TBC...