OBSESI GILA

OBSESI GILA
Chapter 3


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk menyelidiki tentang Zidan. Kini Bianca sudah mendapatkan data lengkap mengenai kehidupan Zidan. Mulai dari Zidan yang memulai bisnis dari nol sampai bisa semaju sekarang, keseharian Zidan, berapa kali Zidan keluar negeri, berapa kali Zidan dirawat di rumah sakit, makanan favorit Zidan sekarang, warna favorit Zidan, bahkan siapa tunangan Zidan.


Bianca tersenyum sinis. Zidan jatuh cinta pada adik Maya, wanita yang dulu pernah Bianca teror habis habisan, bahkan sampai bunuh diri. Bianca tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Tawa yang penuh dengan kelicikan.


"Kakaknya saja bisa kusingkirkan. Tentu saja adiknya juga akan kusingkirkan. Hahaha" Bianca menatap foto Liliana, lalu menancapkan ujung pisau tepat pada leher Liliana.


"Beraninya adik si jal*ng ini merebut milikku. Hihi" Bianca terkikik.


Ia makin menancapkan ujung pisau pada leher di foto Liliana. Matanya menatap tajam foto Liliana.


"Sekarang mari kita mulai permainannya. Hehehe"


Sean kakak satu satunya yang Bianca miliki hanya menatap malas pada adiknya yang mungkin terkena gangguan jiwa.


"Kau akan bunuh dia?" Tanya sean dengan bahasa inggris karena ia tak pandai bahasa Indonesia.


"Tentu saja. Zidan hanya milikku. Hanya aku yang boleh memiliki Zidan. Dan siapapun yang berani merebut Zidan dariku. Maka aku terpaksa membunuhnya" Bianca tersenyum manis. Seolah perkataannya tadi hanyalah hal yang biasa saja.


Sean hanya menatapnya datar. Ia sama sekali tak mencegah adiknya yang berniat membunuh seorang wanita yang tidak bersalah hanya karena obsesi gila adiknya pada Zidan. Sean tak mau ambil pusing. Karena ia pun juga akan melakukan hal yang sama jika miliknya direbut orang lain.


#


"Ayo turun sayang" ucap Zidan saat mobilnya sudah memasuki pekarangan mansion milik keluarga Bratadireja. Saat ini Zidan membawa Liliana ke mansion tempat orang tuanya tinggal. Karena hanya ini satu satunya tempat paling aman menjauhkan Liliana dari Bianca. Keamanan mansion keluarganya sangat aman. Banyak bodyguard di sekeliling mansion ditambah lagi keamanan dengan teknologi super canggih yang dipesan ayahnya dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat.


Zidan tahu Bianca tak akan berhenti melakukan hal gila. Ia juga sangat yakin sekarang Bianca sudah mendapatkan seluruh data lengkap tentang dirinya maupun Liliana. Zidan tak akan ragu dengan kekuasaan milik Daniel Kidman, pemilik perusahaan pertambangan yang terkenal akan kesuksesannya di dunia bisnis.


Liliana menatap ragu pada Zidan. "Aku tinggal disini?" Tanya Liliana.


Zidan mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa?" Tanya Zidan.


Liliana menggeleng. "Kamu tau mami kamu gak suka sama aku kan?"


Zidan menghela nafas. Ia memandang Liliana yang sekarang sedang menunduk menatap lututnya. Zidan tahu jika maminya memang belum merestui hubungan dirinya dan Liliana. Tapi hanya ini satu satunya jalan mengamankan Liliana dari jangkauan si bungsu Kidman. Zidan sungguh tak ingin kehilangan Liliana.


"Mami hanya butuh waktu sayang. Pasti nanti mami akan setuju kok" Zidan tersenyum. Senyum yang selalu bisa menenangkan Liliana. Setidaknya kegundahan Liliana sedikit berkurang.


"Makasih sayang" Liliana memeluk Zidan. Sungguh ia beruntung menjadi gadis yang dicintai oleh pria ini.


Zidan balas memeluk Liliana. Sesekali ia mengecup puncak kepala Liliana sayang. Ia berharap semoga saja maminya mau menerima Liliana.


#


Mirna menatap tak suka pada Liliana. Sejak Zidan pulang dengan membawa Liliana, Mirna menjadi pendiam. Ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi, menandakan jika nyonya bratadireja itu sedang menahan amarah.


Zayn menatap istrinya yang sejak tadi hanya diam dan tidak menyambut kedatangan Zidan. Biasanya jika putranya baik Zevan maupun Zidan pulang ke rumah, Mirna adalah orang yang paling heboh menanyakan apakah putranya makan teratur, tidur teratur, dan hal hal lainnya yang Zayn rasa tak terlalu penting, karena kedua putranya sudah sama sama dewasa dan Zayn yakin jika kedua putranya juga bisa menjaga kesehatan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Mi" Zayn menyentuh pinggang istrinya. "Zidan pulang tuh"


Mirna hanya melirik kesal pada suaminya. "Mami mau ke kamar" Mirna berdiri dan berlalu begitu saja dari ruang tamu.


Zidan menghembuskan nafas lelah. Ia menatap papinya yang masih memandang maminya yang sudah menjauh dari ruang tamu.


"Nanti papi yang akan bicara sama mami" Zayn tersenyum menenangkan. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu makin terlihat berwibawa dimata Zidan. Sejak menikah dengan maminya, papinya memang sedikit melunak, justru berkebalikan dengan sang mami yang sekarang jadi berhati keras.


"Pi, aku ingin Liliana tinggal disini untuk sementara" ucap Zidan langsung pada intinya.


"Kalian kan belum menikah?" Zayn sepertinya tak setuju jika sang putra dan calon menantunya akan tinggal seatap tanpa ikatan pernikahan.


"Pernikahannya akan kita percepat pi" jawab Zidan.


Zayn mengernyit tak suka dengan jawaban putra keduanya. "Tanpa diskusi dulu dengan papi mami?"


"Ini juga mendadak Pi. Papi masih ingat Bianca teman SMA ku dulu?"


Zayn mengerutkan kening mencoba mengingat ingat. "Bianca Victoria Kidman? Gadis yang tergila gila sama kamu itu?" Tanya Zayn.


Zidan mengangguk. "Dia kembali pi. Dan kemarin aku ketemu sama dia, aku takut dia akan melukai Liliana"


Zayn mengangkat alisnya. "Dia kan udah setahunan ini tinggal di Jakarta. Bahkan dia jadi artis terkenal disini. Mami kamu ngefans banget tuh sama Bianca" jawab Zayn sambil merentangkan kedua tangannya di sandaran kursi.


"Berarti maksud kamu papi juga punya gangguan jiwa kaya Bianca dong" jawab Zayn santai. "Kamu ingat dulu papi pernah cerita gimana cara papi bisa nikah sama mami kamu? Persis seperti yang Bianca lakukan ke kamu. Papi juga menyadap semua akun medsos mami kamu, menyewa orang untuk mematai matai mami kamu, mengancam setiap lelaki yang berani deket sama mami kamu. Papi dulu sempat merasa punya kelainan pedofilia karena jatuh cinta sama mami kamu. Tapi kamu lihat kan hubungan mami sama papi malah jadi langgeng sampai tua, bahkan sampai muncul kamu sama Abang dan adek"


Liliana yang sejak tadi diam sedikit tersentak dengan jawaban ayah Zidan. Ia tak menyangka jika kisah cinta pasangan bratadireja itu sedikit sama dengan kisah Bianca dan Zidan andai ia tak datang dalam hidup Zidan. Ia jadi merasa tidak nyaman dengan perkataan ayah Zidan. Ia merasa seakan akan ayah Zidan lebih setuju jika Zidan bersama Bianca daripada dirinya yang jelas tak ada apa apanya dibanding Bianca.


Melihat Liliana yang terlihat tak nyaman, membuat Zidan menatap tajam ayahnya yang seenaknya bicara tanpa memikirkan perasaan gadisnya.


"Dulu papi menggunakan cara apapun untuk mendapatkan mami. Dan sekarang aku pun juga sama, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Liliana. Meski papi dan mami tak merestui hubungan kami"


Liliana menatap Zidan dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Zidan akan memperjuangkan dirinya sampai seperti ini.


"Papi gak bilang gak merestui kalian kok" jawab Zayn santai. Entah kenapa Zidan merasa jika sifat kedua orang tuanya sepertinya tertukar. Maminya dulu orang yang sangat santuy, dan papinya kebalikannya, orangnya keras kepala. Namun sekarang sepertinya terbalik, sang mami yang sekarang keras kepala dan papinya justru sangat santuy.


"Terus ngapain papi cerita tentang masa lalu papi sama mami?"


"Papi hanya teringat masa lalu karena kamu menyinggung soal Bianca" jawab Zayn sambil tersenyum sendiri mengingat ingat masa mudanya yang jatuh cinta untuk pertama dan terakhir kalinya dengan gadis yang usianya lebih muda 10 tahun dari dirinya.


Zidan menghembuskan nafas jengah. "Jadi bolehkan Liliana tinggal disini untuk sementara?" Tanya Zidan kembali ke topik.


"Boleh beleh aja sih. Tapi kamu yakin hanya sementara?" Tanya Zayn sangsi.


Zidan mengangguk. "Setelah menikah kami akan tinggal di rumah kami sendiri"

__ADS_1


"Yakin Bianca tak akan menganggu kalian?" Zayn paham betul dengan karakter Bianca. Karena ia pun dulunya juga begitu. Bianca tak akan tinggal diam meski Zidan sudah menikah. Ia akan terus menganggu Zidan sampai Zidan menjadi miliknya seutuhnya. Zayn pun dulu juga sangat terobsesi dengan Mirna, namun makin lama rasa obsesi itu berubah menjadi cinta. Cinta yang begitu dalam.


Zidan terdiam. Ia sendiri juga ragu apakah Bianca akan tetap nekat menganggu hidupnya dan Liliana?


"Terus aku harus gimana supaya Bianca berhenti ganggu aku?" Tanya Zidan.


"Ya kamu nikahin aja Bianca" jawab Zayn santai.


Liliana tercekat. Hatinya berdenyut sakit saat Zayn menyuruh Zidan menikahi Bianca.


"Pi. Aku serius" Zidan mulai kesal. Dulunya papinya tak pernah bercanda garing seperti ini. Ia jadi makin yakin jika kepribadian kedua orang tuanya sepertinya tertukar.


"Papi juga serius. Bianca gak akan berhenti gangguin kamu sampai kamu dimiliki oleh Bianca. Kecuali kalau rasa obsesi Bianca ke kamu sudah hilang atau ada orang yang lebih kuat dari Bianca yang terobsesi dengan Bianca"


Zidan memandang papinya bingung.


"Yah intinya kamu ingin supaya Liliana tinggal disini agar aman kan? Ya oke papi ijinin" jawab Zayn.


"Terus mami?"


"Santai aja. Mami kamu cuma gak suka sama calon istri kamu aja. Dia gak akan gigit atau meracuni Liliana sampai is dead kok. Mami kamu gak berbahaya macam Bianca. Udah ya. Papi mau nyusul mau mami kamu dulu" Zayn berlalu begitu saja dari ruang tamu untuk menyusul istrinya yang sepertinya sedang marah.


Di ruang tamu yang mewah itu kini tersisa Zidan dan Liliana. Berbeda dengan Zidan yang sepertinya lega akan keputusan papinya, Liliana justru takut. Ia takut jika seandainya ia tak diterima di rumah ini. Zidan yang sepertinya paham dengan ketakutan Liliana pun bertanya.


"Sayang. Kamu kenapa?"


Liliana menoleh pada Zidan. Raut wajahnya terlihat jika ia sedang gelisah. "Aku takut. Gimana kalau aku tinggal di apartemen aku aja"


"No! Bianca pasti udah tahu alamat apartemen kamu. Bahaya sayang. Bianca itu psikopat"


"Kenapa kamu gak sama Bianca aja. Sepertinya hanya Bianca yang pantas buat bersanding-"


"Sstt. Kamu ngomong apa sih sayang? Aku kan cintanya sama kamu" Zidan tersenyum lembut. Lagi dan lagi Liliana luluh dengan senyuman Zidan yang memenangkan hati dan jiwanya. Namun ia kembali teringat dengan ibunya Zidan yang sepertinya belum menyukainya.


"Tapi mami kamu.."


"Mami gak akan nyelakain kamu kok sayang. Beliau cuma belum bisa nerima aja. Aku yakin nanti mami suka kok sama kamu. Lagian ada aku kok sayang, aku kan juga tinggal disini nantinya. Tapi kita beda kamar ya, atau ntar ketauan sama mami papi kalau kita sering-"


Liliana menutup mulut Zidan yang bicara tanpa melihat situasi. Bagaimana kalau nanti mami papinya Zidan dengar? Bisa malu setengah mati ia.


TBC....


Minta dukungannya ya


Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2