
Sean melihat Bianca yang sedang duduk di sofa sambil memakan wafer coklat dan segelas susu. Sean mendengus, katanya kemarin akan memulai permainan. Bah apaan?. Sekarang saja Bianca malah malas malasan di sofa ruang tengah sambil makan wafer.
Sean berjalan mendekati adik perempuannya. "Aku akan pulang ke Australia"
Bianca hanya melirik malas sang kakak yang pagi ini sudah rapi dengan setelan jas hitam khas seorang eksekutif muda. Ia lanjut memakan wafer coklatnya dalam diam.
"Jaga dirimu. Aku mungkin akan lama di Australia" Sean mengelus pelan puncak kepala adiknya.
"Hmm" Bianca hanya bergumam dan menepis tangan kakaknya dari puncak kepalanya. Sean tak tersinggung, ia sudah biasa dengan kelakuan adiknya.
"Hati hati saat aku tak ada disampingmu. Calon suamimu itu sepertinya berusaha memperketat keamanan Liliana. Kau tahu kalau Liliana sekarang tinggal di mansion milik Zayn Bratadireja kan?"
Mendengar kata calon suami membuat wajah Bianca yang tadinya datar kini menjadi ceria. Ia bahkan mendongak menatap kakaknya sambil tersenyum lebar. Perubahan mood yang sangat drastis.
Sean balas tersenyum pada adiknya. Sekali lagi Ia mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Aku berangkat ya" Bianca mengangguk. Ia bahkan mengantar kakaknya sampai ke pintu depan. Mood Bianca memang mudah sekali berubah jika menyangkut tentang Zidan.
"Jangan terlalu memaksakan diri untuk membobol keamanan mansion milik Zayn. Cari kesempatan saat Liliana sedang berada diluar mansion. Mengerti?" Sean menasihati adiknya. Ia tahu betul bagaimana ketatnya penjagaan di mansion yang didalamnya ditinggali oleh istri Zayn Bratadireja.
Bianca mengangguk sambil mengerjapkan matanya lucu. Sean tersenyum lalu mengecup kening adiknya. Setelahnya ia mengacak poni Bianca yang menutupi dahinya.
"Hati hati" Bianca tersenyum ceria saat mobil Sean berjalan keluar dari gerbang mansion mewah milik Daniel Kidman.
Setelah mobil Sean sudah keluar dari pekarangan mansion, Bianca berbalik sambil bersenandung riang. Hatinya sedang bahagia. Ia berjalan masuk ke kamarnya. Namun saat netra coklat terangnya menangkap foto Zidan dan Liliana, raut wajah cantik yang tadinya ceria kini berganti datar.
Bianca terdiam cukup lama di tempatnya. Lalu sedetik kemudian air matanya mulai menetes. Raut wajah yang tadinya datar kini berubah menyedihkan.
"Ibra. Kenapa kamu ninggalin aku dan lebih memilih pelacur itu" Bianca menangis tersedu sedu. "Kenapa kamu tega nyakitin hati aku terus"
Setelah menumpahkan tangisnya. Bianca tertawa lebar. Ia mengambil pisau kecil dan berjalan mendekat ke foto Liliana.
__ADS_1
"Karena kamu Ibra jadi berpaling dari aku. Maaf ya, aku terpaksa akan membunuh kamu. Gak sakit kok. Aku janji akan melakukannya dengan cepat, seperti ini" dengan gerakan cepat Bianca menusukkan ujung pisaunya menancap melubangi leher Liliana. Setelahnya ia tertawa.
"Aku akan bunuh kamu kayak gitu. Hahaha" Bianca tertawa, matanya melirik ke arah jam dinding. "Ah Jadi sekarang waktunya bertemu dengan ibra" Bianca tersenyum manis.
Ia mencari gaun seksi yang lebih cocok digunakan saat pergi ke club. Gaun selutut dengan tali spageti dan belahan dada rendah. Menampilkan bahu dan leher jenjang Bianca. Rambut lurusnya ia Curly. Semakin menambah kecantikan Bianca.
Bianca tersenyum puas melihat penampilannya. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Zidan.
#
Zidan Ibra Bratadireja, sejak kecil memang terkenal paling badung daripada sang kakak, Zevan Arya Bratadireja.
Zidan sering tawuran, sedang Zevan mendekati tawuran saja ogah. Zidan sering buat masalah di sekolah, sedang Zevan sering buat prestasi di sekolah. Keduanya memang bertolak belakang, namun Zidan bersyukur karena ia punya kedua orang tua yang menyayanginya dan tak pernah sekalipun membeda bedakan dirinya dengan kakaknya.
Sejak kecil Zevan dididik oleh sang ayah menjadi pemimpin perusahaan. Berbeda dengan Zidan yang sejak kecil bebas memilih jalan hidupnya sendiri. Dan ia juga menolak untuk bergabung dengan Zgroup, perusahaan di bidang perkapalan milik sang ayah.
Zidan ingin memulai usahanya sendiri dengan membangun perusahaan kelapa sawit dari nol sampai sesukses sekarang. Tanpa Zidan ketahui sebenarnya kesuksesannya itu karena campur tangan ayahnya.
"Maaf mengganggu waktunya pak, ada seorang wanita yang ingin menemui bapak" suara feminim Rena sekretarisnya terdengar di telinga Zidan.
Belum mengucapkan sepatah katapun pintu di ruang kerjanya terbuka lebar dan terlihatlah wanita cantik yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Ibra" Bianca tertawa gembira. Ia berjalan bak model ke arah Zidan.
Zidan memalingkan muka jijik. Ia sangat sebal karena hidup tenangnya selama 7 tahun ini harus terusik lagi karena makhluk gila didepannya ini.
"Aku kangen banget sama kamu sayang" Bianca mencium pipi Zidan, membuat Zidan menatap tajam padanya, namun alih alih takut Bianca justru menampilkan senyum mempesona yang mampu menyihir para pria, tentu saja kecuali Zidan.
Zidan mengusap kasar pipinya yang baru saja dicium Bianca. "Pergi lo. Gue udah bilang kan sama lo jangan ganggu hidup gue lagi"
Bianca masih tersenyum. "Aku bawain kamu nasi goreng pake telur. Aku sendiri loh yang buat. Kamu suka nasi goreng kan?" Mengabaikan usiran kasar Zidan. Bianca justru mengeluarkan bekal yang tadi ia masukkan di dalam totebag warna hitam.
__ADS_1
Zidan mendengus sinis. "Sorry. Gue gak lapar"
"Tapi ini udah jam makan siang sayang, nanti kamu sakit kalau gak makan" ucap Bianca lembut. Namun Zidan justru jijik dengan suara lembut Bianca. Zidan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
Bianca membuka kotak bekal yang ia bawa, seketika bau harum nasi goreng menguar masuk ke penciuman Zidan.
Zidan melirik nasi goreng dengan telur mata sapi disertai lalapan timun dan tomat serta sayuran yang diiris tipis tipis di tata rapi di bagian pinggir. Kalau tidak gengsi ia ingin sekali makan bekal yang dibawakan Bianca. Namun karena tadi ia sudah menolak bahkan mengusir Bianca ia jadi gengsi untuk memakan bekal yang dibawakan Bianca, Zidan juga tak ingin Bianca jadi semakin berharap padanya.
Bianca menyendok nasi goreng dan secuil telur mata sapi lalu menyuapkannya di mulut Zidan.
"Aa sayang. Tenang aja ini gak ada obat perangsangnya kok" Bianca tersenyum manis.
Zidan jadi sangsi. Bianca itu gila, dia rela melakukan apapun untuk keinginannya yang gila.
"Ayo sayang, aku serius ini gak aku campur apapun kok. Tadinya aku berniat nyampurin obat perangsang dikit sih. Tapi gak jadi" kata Bianca santai.
Karena tak ada respon dari Zidan. Bianca meletakkan sendoknya di kotak bekal dan menutup kotak bekal itu. Tanpa aba aba Bianca duduk mengangkang di pangkuan Zidan dan ******* bibir Zidan. Tangannya mengusap sensual dada Zidan, dan pinggulnya sesekali bergoyang menggoda Zidan.
Zidan lelaki normal, mendapat serangan panas dari seorang wanita cantik membuat akal sehatnya melayang dan dirinya menegang.
Namun dalam hati Zidan merapalkan nama Liliana. "Ingat lili. Ingat lili"
Zidan memalingkan wajahnya ke samping, bermaksud menghentikan bibir Bianca yang menghisap bibirnya. Namun bukannya berhenti Bianca justru menghisap lehernya, membuat Zidan mengerang.
"Bie hentikan" Zidan menyentuh pinggul Bianca yang sesekali masih bergoyang menggodanya.
"Please bra. Sekaliii aja ya. Please. Kamu juga udah gak nahan kan. Lagian gak ada yang tahu juga" ucap Bianca dengan wajah memerah serta mata sayu.
Jujur hati kecil Zidan pun juga ingin melakukannya. Sudah tiga hari ia tak dapat jatah dari Liliana karena mereka berdua pisah kamar saat tinggal di mansion kedua orang tua Zidan. Dan sepertinya ia akan jarang dapat jatah dari Liliana sampai mereka menikah.
Melihat Bianca yang menggoda seperti ini membuat Zidan makin tergoda. Ia ***** bibir Bianca ganas, tangannya yang tadi di pinggul Bianca sekarang merambat naik ke dada Bianca, meremas lembut sesuatu yang masih tertutup bra dan pakaian itu. Kedua insan beda kelamin itu kini sedang berciuman panas di ruang kerja Zidan.
__ADS_1
TBC...