
Sejak Zidan mengetahui jika selama ini Bianca dibully oleh Puspita dan gengnya. Zidan jadi sering menemani kemanapun Bianca pergi. Hal ini membuat Bianca bahagia bukan main. Hubungan mereka pun sekarang sudah tidak canggung lagi.
"Lo pacaran ama Bianca dan?" Tanya Aldi saat pandangan mata Zidan sejak tadi melihat Bianca yang sedang presentasi didepan kelas.
"Gak" jawab Zidan.
"Tapi anak anak semua pada ngira lo pacaran ama Bianca"
"Hmm" Zidan hanya bergumam tak jelas.
#
Saat bel istirahat Zidan mengajak Bianca ke kantin bersama. "Ibra. Besok ke perpustakaan kota yuk" ajak Bianca.
"Mm. Jam berapa?" Tanya Zidan.
"Emm. Pagi aja ya, sekalian kita lari pagi"
Zidan menatap Bianca geli. "Kamu yakin mau lari pagi? Nanti baru setengah lari kamu udah ngos ngosan trus bilang 'ibra, duduk bentar yuk, aku capek'"
"Iih Ibra" Bianca merengut sambil mencubit perut Zidan.
Zidan hanya terkekeh geli sambil mencubit pipi Bianca.
"Zidan"
Bianca dan Zidan menoleh bersamaan saat nama Zidan dipanggil dan muncullah sosok Puspita yang terlihat ngos ngosan.
Senyum Puspita muncul saat ia berada didepan Zidan.
"Zidan. Kata ayah besok mami kamu ulang tahun ya?" Tanya Puspita semringah.
Zidan diam. Shit. Ia sama sekali tak ingat jika besok maminya ulang tahun. "Trus apa urusannya sama lo?"
Puspita tersenyum malu malu. "Aku mau nanya sama kamu, mami sukanya apa? Soalnya aku bingung mau kasih hadiah apa buat mami"
Zidan melirik sinis. "Lo tanyanya ke mami gue dong. Ngapain lo nanya ke gue. Dan ya, tolong berhenti manggil mami gue pake sebutan mami"
"Tapi Tante Mirna nyuruh aku manggil beliau mami kok" jawab Puspita.
"Terserah. Pokoknya kalo ada gue jangan panggil mami gue pake sebutan mami lagi. Paham lo" Setelahnya Zidan menggandeng tangan Bianca meninggalkan Puspita yang menatap sebal.
"Awas lo bie" ancam Puspita.
#
Bianca menatap Zidan yang sejak tadi terlihat kesal, bukan lebih tepatnya emosi.
"Ibra kenapa" Bianca memegang lengan Zidan. Matanya menatap polos kearah Zidan.
Zidan tersenyum. "Gak papa kok, aku cuma kesel aja kalo diganggu cewek cewek macam Puspita"
Bianca diam.
Zidan mengernyit saat melihat sikap aneh Bianca. "Kenapa?" tanyanya.
Bianca menggeleng. Manik coklat terangnya menatap bola mata hitam milik Zidan. Wajahnya terlihat sedih. "Ibra juga gak suka kalo aku deket deket Ibra? Aku kan juga cewek sama kaya Puspita"
Mendengar itu Zidan tertawa. Ia mengacak pelan rambut coklat Bianca. "Kamu polos banget sih. Maksud aku, aku emang gak suka kalau ada cewek yang deket deket aku. Kecuali kamu, mami, sama Hira adikku" jawab Zidan.
Bianca menatap polos. " Artinya kamu gak suka ada cewek yang deketin kamu selain yang kamu sebutin tadi?"
"Iya" Zidan mengangguk.
"Kenapa?" Tanya Bianca penasaran.
"Yah gak suka aja. Aku risih kalo ada cewek yang caper sama aku"
__ADS_1
"Bukannya banyak cewek yang caper sama Ibra ya?"
Zidan tersenyum lembut. "Iya. Banyak banget malah. Tapi sekarang aku bersyukur karena ada kamu, cewek cewek itu ngiranya aku pacaran sama kamu, makanya sekarang yang caper sama aku jadi berkurang deh"
"Berarti aku pawang Ibra dari para ular itu dong?" Zidan bisa melihat binar mata bahagia di manik coklat terang Bianca.
Zidan tertawa. "Iya. Selalu jadi pawang aku buat ngehalau para ular itu ya" Zidan tersenyum, tangannya mengusap poni Bianca yang menutupi dahinya.
Bianca mengangguk, bibir terbalut lipbalm itu tersenyum lebar.
Tanpa Zidan sadari. Sejak saat itulah hidup bebasnya akan segera berakhir karena obsesi gila Bianca.
#
Makin hari kelakuan Bianca makin aneh menurut Zidan. Seperti sekarang, Bianca yang sejak Zidan datang terus terusan menggandeng lengan Zidan dan mengikuti kemanapun Zidan pergi. Bahkan saat Zidan ke toilet pun Bianca nekat menunggu di depan pintu toilet. Zidan jadi risih dibuatnya. Bianca yang polos dan ceria seolah hilang digantikan dengan Bianca yang overprotektif dan sedikit errr-
Gila.
"Tumben nih lo gak ngajak Bianca kemari?" Tanya Evan saat Zidan datang tanpa membawa sang pawang.
Saat ini Zidan, Evan, Aldi, dan Dicky sedang berada di rooftop.
"Gue gak pernah bawa dia kali. Dia nya aja yang ngikutin gue mulu. Sumpah lama lama risih banget gue sama Bianca" jawab Zidan sambil mengeluarkan bungkus rokok dari balik saku jaketnya.
Aldi tersenyum sinis. "Gaya lo. Dulu aja kemana mana sama Bianca, bahkan sampe moto Bianca diem diem terus tiap malem hasil potonya diliatin mulu"
"Cemburu lo" ejek Evan.
"Dulu sih. Sekarang mah dah move on gue" jujur saja Aldi bersyukur ia bisa cepat move on dari Bianca. Melihat kelakuan obsesi Bianca pada Zidan membuat Aldi ngeri sendiri, untung saja dulu ia tak nekat merebut Bianca dari Zidan. Kalau gak bisa bisa Aldi yang berada di posisi Zidan sekarang. "Gak risih lo dan tiap hari direcoki Bianca mulu? Gue liatnya aja risih" tanya Aldi.
"Risih banget gue. Jujur gue sebenernya juga gak tahan sama Bianca." jawab Zidan.
"Lo ambil positifnya aja lah bro. Kan sekarang para ular kagak ada yang gangguin elo lagi" Dicky yang sejak tadi menyimak kini bersuara.
"Lepas dari ular masuk ke sarang buaya. Hahaha" ejek Aldi.
Zidan melirik teman temannya yang memasang wajah penasaran. "Gue kabur dari si Bianca"
"Kok bisa?" Tanya Aldi.
"Tadi Bianca dipanggil Miss Hana, yaudah mumpung ada kesempatan gue kabur aja" jawab Zidan. Ia menghisap batang nikotinnya untuk meredakan stress yang akhir akhir ini menyerang dirinya karena ulah Bianca.
"Gimana kalo lo terima Puspita aja dan? Kemarin si pussy nembak lo kan?" Kata Aldi memberi saran.
Zidan menatap Aldi sebal. "Maksud lo gue harus nerima Puspita jadi pacar gue gitu?"
Aldi mengangguk. "Lumayanlah lo bisa ngremes susu dia, lumayan gede tuh susunya"
Evan menggetok kepala Aldi. "Otak lo ***. Mikir ke situ mulu. Gak puas lo tiap malem main solo terus?"
"Main solo mana pernah puas. Yang puas itu kalo udah masuk ke lubang, nah itu baru puas" Aldi balas memukul dahi Evan namun Evan berhasil mengelak.
"Lubang ****** maksud lo" Evan menarik kerah belakang Aldi sambil menyeretnya menuju toilet diujung rooftop. "Noh. Makan tuh ******"
"B*NGS*TTT. AWAS LO VAN"
#
Puspita berjalan menuju kelas sambil bersenandung kecil. Hatinya sedang gembira karena mendengar perkataan Zidan jika Zidan risih dengan Bianca. Selama ini ia memendam rasa cemburunya dalam dalam saat melihat Zidan yang kemanapun selalu bersama Bianca. Setiap hari hatinya berdenyut sakit saat melihat orang yang ia suka bersama dengan wanita lain. Ia kira Zidan sangat mencintai Bianca sampai sampai tak mau pisah dari Bianca. Puspita bahkan pernah ingin menyerah untuk mendapatkan perhatian Zidan.
Namun ternyata selama ini hanya Bianca yang jatuh cinta pada Zidan, sedang Zidan tidak.
Puspita teringat kata kata Zidan "Risih banget gue. Jujur gue sebenernya juga gak tahan sama Bianca."
Dasarnya Bianca saja yang terus terusan menempeli Zidan tak tahu malu. Dasar murahan. Batin Puspita.
Saat berada di koridor Puspita berpapasan dengan Bianca yang baru saja keluar dari kantor guru. Bianca terlihat tengok kanan kiri mencari sesuatu.
__ADS_1
"Lo nyari Zidan?" Puspita tersenyum mengejek saat berada didepan Bianca. "Percuma Zidan itu udah risih ama lo"
Bianca tak menanggapi Puspita, ia berjalan melewati Puspita tanpa perlu repot repot membalas ejekan Puspita. Bianca mana peduli pada ular burik macam Puspita.
"Heh. Gue bicara ama elo ya bangsat" sial ia dikacangin. "Lo nyari Zidan kan? Gue tahu Zidan dimana"
Bianca berhenti melangkah. Melihat itu Puspita tersenyum sinis.
"Cih" Puspita berdecih. "Dasar murahan ya lo, lo masih aja ngejar ngejar zidan padahal lo tau selama ini Zidan udah gak pernah nganggap elo"
Bianca tak menanggapi. "Jadi Ibra ada dimana?"
Puspita menyeringai. "Bener bener deh, gue gak ngerti lo itu sebenarnya punya urat malu gak sih? Udah jelas jelas zidan itu gak mau sama elo. Kok ya gak tau malunya lo itu masih aja nempelin Zidan"
Bianca menatap datar Puspita. "Katamu kamu tau Ibra ada dimana?"
Lama lama Puspita jengkel sendiri dengan Bianca. "Ngapain lo nyari nyari pacar gue? Zidan itu sekarang udah jadi pacar gue, jadi lo jangan macem macem ya ama pacar orang. Gak mau kan lo disebut pelakor" bentak Puspita.
Bianca terdiam.
Puspita tersenyum mengejek melihat keterdiaman Bianca. Hehe patah hati kan lo? Itu yang selama ini gue rasain saat elo selalu aja nempelin Zidan. Dasar murahan.
"Itu gak mungkin kan?" Bianca terlihat syok.
Puspita makin senang saat melihat keterkejutan Bianca. "Ya mungkin lah. Buktinya barusan Zidan nembak gue rooftop. Gak percaya lo?" Jawab Puspita sambil melipat tangan didada.
"Ibra. Itu gak mungkin kan?"
Seketika Puspita pucat pasi. Ia menolehkan kepalanya ke kebelakang.
Deg.
Sialan. Jadi manik mata Bianca yang sejak tadi melihat ke belakang tubuhnya karena melihat Zidan? Sialnya ia tadi mengira jika Bianca tadi terlalu syok makanya matanya tidak fokus menatap dirinya.
Puspita tergagap "Errr- Zi, aku bisa-"
"Itu bener" jawab Zidan.
"Hah?" Puspita cengo.
"Puspita sama aku resmi jadian hari ini" jawab Zidan. Puspita ternganga. Apaan? Ia kan tadi ngarang karena terlanjur kesal diabaikan Bianca. Kok sekarang malah Zidan yang bilang mereka sekarang pacaran?
Tapi bukannya bagus kan? Puspita tersenyum sombong ke Bianca. Ia melipat kedua tangannya sambil mengangkat dagunya.
Bianca mematung. Kedua tangannya mengepal. "Ibra. Kamu bilang kamu gak suka dideketin cewek lain selain aku, mami kamu, sama adik kamu. Kenapa sekarang kamu malah-"
"Cukup bie. Itu dulu, dan sekarang aku jatuh cinta sama Puspita. Jadi mulai sekarang stop muncul dihadapan aku. Oke?"
Puspita tersenyum bahagia. Jadi selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ibra. Kamu-"
"Ayo pus, kita balik ke kelas" Zidan menggandeng tangan Puspita meninggalkan Bianca.
Puspita tersenyum sinis menatap Bianca yang masih mematung. Dulu Puspita yang berada di posisi Bianca saat ia ditinggalkan Zidan, namun sekarang semuanya berbalik.
Ditempatnya Bianca mengepalkan tangannya erat. Ia marah.
Zidan hanya miliknya. Tak boleh ada yang merebut miliknya. Jika ada yang berani merebut Zidan maka Bianca terpaksa menyingkirkannya.
Bianca tersenyum sinis.
Ya. Ia harus menyingkirkan siapapun yang berani merebut ibra nya dengan cara...
Membunuhnya.
TBC..
__ADS_1