
Di perjalanan menuju mension tuan Yui liu terdiam dan hanya memandangi jalan dari jendela mobilnya.
"Tuan....." Seketika tuan Yui liu pun merubah pandangannya pada sang ajudan pribadi nya itu
"Ya ada apa Ozel?"
"Tuan bagaimana jika nona di beritahukan saja sekarang akan status nya?" Tuan Yui liu terdiam mendengar pertanyaan dari orang kepercayaannya ini.
"Karena menurut saya nona lebih baik mengetahuinya langsung dari tuan" Tuan Yui kembali memandang jalanan diluar jendela mobil tersebut dia memandang jauh kedepan
"Bagaimana jika dia nanti tak mau menerima ku Ozel? Bagaimana nanti kalau dia menghindari ku?" Tuan Yui terdiam sejenak.
"Seperti nya aku belum siap ozel, Aku ingin berdekatan dengan nya. Sepertinya sudah cukup selama ini aku hanya bisa melihat dia dari jauh"
Ozel terdiam kala mendengar ungkapan hati sang tuan besar.
"Biarkan dia dekat dengan ku dulu nanti kalau aku sudah siap aku sendiri yang akan memberitahukannya"
"Baik tuan, saya harap itu yang terbaik. Karena tuan tau tuan Wilson selalu mencari celah untuk bisa menemukan nona muda"
"Aish .... Kenapa aku sampai lupa dengan bocah itu, kamu benar kita harus lebih waspada"
Tuan Yui terdiam memikirkan cara terbaik untuk Kayla, dia juga ingin mempersiapkan Kayla sebagai penerus keluarga nya. karena hanya Kayla harapan satu-satu nya tuan Yui.
Tak terasa kini mereka pun sudah sampai di mension. Tuan Yui dan ozel langsung di sambut oleh pengawal dan maid yang ada di sana.
"Dimana cucu ku?" Tanya tuan Yui langsung pada kepala maid yang sedang menyambutnya.
"Ada di kamar tuan"
"Panggilkan dia, aku akan menunggu di ruang keluarga"
"Baik" Tanpa menunggu perintah kedua kepala maid tadi langsung pergi menuju kamar Kayla yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Tok......
Tok.....
"Masuk..." Maid pun langsung memasuki kamar tersebut dan melihat Kayla sedang berdiri di depan jendela kamar nya entah apa yang sedang di fikiran kayla saat ini.
"Maaf nona, tuan besar menunggu anda di ruang tamu"
"Tuan besar? pasti sudah tua dan perut nya besar? jangan-jangan dia suka lagi Ama aku maka nya aku di culik di bawa kesini dan dinikahi" Sejenak Kayla membayangkan akan hal-hal yang memungkinkan sambil bergidik ngeri.
"Mari nona ikut saya" Kayla pun tersadar dari lamunan konyolnya walaupun benar tuan Yui sudah ber umur tetapi tidak akan sampai menikahi diri nya
Kayla melangkahkan kaki nya mengikuti maid yang ada di depan, hingga dia sampai di ruang tamu dan mendapati seorang yang sudah berumur di sana.
'Tukan apa yang aku duga tadi benar..... Apa aku akan dinikahi nya? Dan jadi istri ke berapa aku jika sampai aku menikahi orang tua di depan aku ini' Kayla terus saja memandangi tuan Yui hingga tak menyadari jika tuan Yui jua melihatnya.
"Ada apa Kay?" tanya tuan Yui yang menyadarkan Kayla.
"A-Apa tuan tau nama saya?"
Kayla tak bereaksi apapun kala mendengar ucapan yang di berikan oleh tuan Yui.
"Apa dia terobsesi denganku gara-gara kejadian tadi siang? Lalu merencanakan semua ini?" Kayla diam seperti patung dia terus saja bertanya-tanya dalam hati nya.
Tuan Yui yang menyadari akan sikap Kayla ini pun hanya tersenyum simpul.
"Tenang lah kay, aku hanya menyelamatkan mu, kamu hampir saja di culik oleh seseorang" ucapan itu mampu menyadarkan Kayla kembali dan mengeluarkan suara nya
"Seseorang? Jadi bukan anda yang menculik ku?" pertanyaan itu mampu membuat tuan Yui meledakkan tawa nya hingga seisi mension itu dapat mendengar tawa bahagia dari tuannya.
Kayla mengerutkan dahi nya, melihat tawa bahagia tuan Yui.
"Maaf tuan jika pertanyaan ku salah" sambil menundukkan kepala nya Kayla tak berani menatap mata tuan Yui
__ADS_1
"Tidak tidak kamu tidak salah sayang, tapi kalau aku mau menculik mi sudah dari dulu aku lakukan, itu sangat mudah untukku" ucap tuan Yui lagi kini tawa nya sudah mulai mereda.
"Maaf jika tawa ku menakuti mu Kayla tapi aku tak bermaksud demikian." Kini tuan Yui tersenyum melihat ke arah Kayla.
"Kay.... Duduk lah di sini" Kayla yang mendengar dan melihat arah tangan tuan Yui yang menepuk sofa di sebelah nya pun melangkah mendekat, menuruti apa yang diminta.
Tuan Yui memandang dalam ke arah Kayla yang sangat mirip mendiang mamah nya.
"Maria....." ucap lirih tuan Yui tapi masih mampu Kayla untuk mendengar ucapan itu.
"Bagaimana tuan tahu nama ibu saya?" Tanya Kayla kaget dan itu pun mampu mengembalikan tuan Yui yang sedang memandang wajah Kayla.
'Mungkin benar yang di katakan ozel tadi, mungkin sudah saat nya Kayla tau akan statusnya di keluarga ini' Tuan Yui pun terdiam kala pikiran itu berkelebat dalam benak nya.
Tuan Yui memegang pundak Kayla dan itu mampu membuat Kayla kaget.
"Kay..... Aku akan menceritakan sesuatu kepada kamu, tetapi berjanji lah ketika kau sudah memahami nya dan mengetahui kenyataannya kau tak akan meninggalkan ku" pernyataan itu membuat Kayla membulatkan mata nya.
'Wah.... Jangan-jangan tuan ini mau meminta ku untuk menikahi nya' Kayla bergidik sendiri kala membayangkan menikah dengan pria didepannya ini.
"Kay.... Apa kamu siap jika aku menceritakan ini?"
"Cerita apa yang tuan maksud?" Kali ini Kayla sudah tak bisa membendung rasa penasarannya dia pikir tadi tuan Yui akan meminta nya menikah tetapi ini dia bilang mau bercerita.
Tuan Yui terdiam sesaat dan menundukkan kepala nya sejenak.
"Aku mempunyai satu orang putri yang sangat aku sayangi....." Tuan Yui menjeda ucapannya dan beralih menatap Kayla sambil mengusap kepala nya dengan sayang.
"Dulu dia meninggalkan aku demi seorang pria yang m*Skin, Aku menolak nya dengan berbagai alasan" melihat reaksi yang di berikan Kayla tuan Yui pun melanjutkan kembali
"Putri ku tak mau mendengarkan aku yang menolak hubungan mereka, hingga suatu saat dia pun pergi bersama dengan kekasihnya itu, meninggalkan semua fasilitas yang aku berikan. hidup sederhana di desa tempat laki-laki tersebut."
"Putri ku sudah tak mau mendengarkan apa pun yang aku mau. Dia teguh seperti mommy nya" membayangkan itu sudut bibir tuan Yui terangkat sempurna membentuk bulan sabit
__ADS_1
"Aku selalu memantau kehidupan nya di desa tersebut hingga beberapa tahun kemudian aku mendengar dia telah memberikanku seorang cucu, aku bahagia tetapi dulu aku terlalu egois dan mengacuhkan perasaanku ini")