
SEOUL - KOREA SELATAN. ****06.45****
Hujan rintik-rintik turun dengan lembutnya, bahkan seperti tak terlihat. Pukul 06.45 Pagi sekarang, bukankah sinar mentari yang harusnya datang ? tapi sayang cuaca hari ini sama persis yang diperkirakan oleh penyiar berita cuaca kemarin, jadi beginilah pagi ini terasa dingin dan malas untuk keluar rumah, lebih baik tidur dibawah gulungan selimut tebal lebih lama.
Tapi tidak untuk saat ini, seorang gadis berambut coklat panjang yang sudah terlihat siap –ya tinggal menata penampilannya sedikit maka sudah terlihat sempurna untuk berangkat kerja.
Apapun cuaca pagi ini, bahkan jika cuaca hari ini sama seperti Afrika dia akan tetap melaksanakan apa yang seharusnya, -ooh tentu saja jika ia tidak ingin melihat koleksi baju terbaru yang berderet di etalase toko fashion hanya dengan menelan ludah saja, karena nyatanya dompetnya tak tampak gendut. Artian gendut yang disukai, tapi kalau berbicara gendut fisiknya, maka kau kan melihat malapetaka datang.
Yaps, dia segera berlari ke lantai bawah untuk mengambil segelas susu dalam lemari es dan hanya meminumnya beberapa teguk saja lalu mengunyah roti lapis yang terasa penuh di mulutnya.
–Ya seperti inilah kehidupan seorang gadis bernama Song Eun Jo yang tinggal sendiri di rumah peninggalan Ayahnya yang telah meninggal 7 tahun lalu karena sebuah kecelakaan lalu lintas dan ibunya telah tiada sejak ia dilahirkan, maka sejak meninggalnya sang ayah, Eun Jo berusaha hidup mandiri saat dibangku SMA, dia telah membiayai segala kebutuhan sekolah dan sehari-hari.
Memang disekolah dulu Eun Jo banyak memiliki teman dan guru yang sayang padanya yang mau membantunya, tapi tetap saja ia menolak dengan alasan 'tidak apa, aku baik-baik saja kok' dengan senyum khasnya yang ceria. Umur 26 tahun bukanlah waktu untuk meratapi nasib, tapi untuk menata masa depan.
Sekarang ia telah mengunci pintu rumahnya dan mulai bergegas menuju halte bus , tak sampai 5 menit bus tersebut telah datang. Seperti biasa bus penuh sesak pada pagi hari , Eun Jo yang tidak kebagian tempat duduk akhirnya berdiri tergencet oleh penumpang lain, untung dia bertubuh kutilang ( Kurus, tinggi, langsing ) sehingga bisa mendapat ruang untuk bernafas. Namun ada-ada saja ulah penumpang yang membuka payungnya didalam bus sehingga membuat ujung payung meneteskan air ke baju penumpang lain, tak terkecuali bajunya telah sebagian basah karena air hujan yang merembes. Beginilah hal paling tidak ia sukai dari hujan di pagi hari, benar-benar membuatnya harus menghela nafas berkali-kali karena menahan rasa jengkel.
Pukul 7.20, Eun Jo sudah tiba di sebuah gedung perkantoran paling terkenal di daerah Apgujeong-dong, -ya apalagi kalau bukan JG Internasional Corp, sebuah perusahaan yang bergerak dalam produk teknologi, kecantikan, pangan, dan property, komplet bukan ? all in one. Jangan bilang Eun Jo masuk ke sini dengan mudah, sebenarnya mencari lowongan kerja disini sangatlah susah, Eun Jo bisa masuk kesini pastinya karena nilai akademik di universitas yang bagus dan penampilan fisik yang menawan, ia harus mati-matian mempercantik tubuhnya setiap hari.
"Hei, pagi Eun Jo, ayo cepat hari ini akan ada rapat dadakan !" sergah teman kerjanya sekaligus sahabatnya sejak SMA sambil berlari terburu-buru.
"Hah! What ? baiklah, tunggu aku Yeon hee!" kata Eun Jo sedikit teriak pada temannya yang telah meninggalkannya dalam keadaan bingung dan panik.
Mengapa harus seperti itu, asal tahu saja ya jika terlambat datang ke kantor atau rapat sekalipun maka siap-siap ada pemotongan gaji secara gaib dibuku rekening dan jangan mencoba protes akan hal itu maka tak akan segan-segan saldo mu benar-benar hilang.
.......
.......
__ADS_1
.......
\=RUANG RAPAT\=
Semua karyawan dan jajaran Direksi telah duduk ditempat masing-masing, menunggu dengan gelisah apa yang akan hendak dibicarakan oleh Pemilik perusahaan ini.
"Pagi semua!" ucap sang pemilik perusahaan yang baru saja datang dalam acara rapat. Dia berdiri didepan sebuah meja bundar dengan gaya yang maskulin dan kharismatik seperti biasanya menggunakan setelan jas berwarna abu-abu.
"Pagi Pak Direktur." Semua karyawan di sana berdiri dan membungkuk memberi hormat.
"Ya, baiklah. Aku akan langsung saja membahas hal penting pagi ini," menghela nafas sebentar.
"Seperti yang kalian tahu, aku baru saja menikah bulan lalu dan akan mengurus cabang perusahaan di Cina, sehingga posisi sekarang tidak ada. Maka dari itu aku akan mengajukan adik kandungku menduduki posisi ini, ya memang dia tak pernah terlihat media atau bahkan kalian pun tidak tahu, karena sejak kecil dia bersekolah di Amerika, tapi sekarang dia hadir disini. Ku beri satu hal... dia orang pendiam dan sedikit menyeramkan tapi tenang saja dia tak akan membunuh kalian semua, mungkin hanya akan menyiksa saja, hahaha," candanya sambil menggertakkan giginya.
Tak pelak para karyawannya tertawa kecil, karena memang anak pertama dari keluarga Jung chaebol ini terkenal kocak dan ramah tapi tak meninggalkan aura kharismatik, mungkin itu yang membuat istrinya yang berasal dari keluarga pengusaha Cina terbuai dengan si sulung ini. Ya walaupun umur Jung Jae Woo sudah separuh mendekati kepala empat , tapi siapa yang menyangka penampilan dan umur berbeda jauh. Kau akan kena jebakan batman.
Bagaikan banyak wartawan yang memotretnya untuk dipasang diheadline news, seakan terlihat banyak kilatan cahaya yang menyilaukan dari arah pintu yang sudah dilewati oleh seorang laki-laki muda bersurai hitam agak berantakan. Memperlihatkan kontur wajah yang sempurna, tirus dan tulang rahang yang indah jangan lupakan bibir yang menggoda. Mengenakan setelan jas hitam yang tidak dikancing dan didalamnya memakai kemeja putih, membuat kesan gagah nan rupawan.
Semua memandang ke arah jalan pria itu yang sedang menghampiri kakaknya, begitu mereka berhadapan yang pertama kali bukanlah salam atau pelukan seperti saudara, tapi sebuah deathglare yang dilayangkan tajam ke kakaknya. Jae Woo hanya cengar-cengir saja, karena memang dia suka menggoda adiknya satu ini.
"Yaps, perkenalkan semuanya dia adik kandungku namanya Jung Tae Woo, dia yang akan menggantikan ku sebagai pimpinan Direksi perusahaan ini," sambil menepuk pundak adiknya memberi isyarat bahwa giliran Tae Woo untuk bicara.
"Mohon bimbingan kalian semua." Singkat, padat dan jelas tanpa ekspresi sedikitpun bahkan dengan tangan masuk kedalam saku celana. Semua terlihat cengo.
"Hahaha, baiklah karena dia masih ingusan disini, maka dia perlu seorang sekretaris pribadi yang mengurusi jadwalnya, maka aku menunjuk Song Eun Jo sebagai sekretarisnya." Tunjuk Jae Woo kearah Eun Jo. Para penghuni ruangan itupun menoleh kearahnya.
Eun Jo menoleh ke sana kemari tampak seperti mencari seseorang, seperti tidak menyadari jika ia yang ditunjuk.
__ADS_1
Yeon Hee yang melihat gelagat temannya langsung menyikut tangan Eun Jo dan berbisik, "hust! Pak Direktur menunjuk mu tahu !"
"Bagaimana Eun Jo ? hari ini kau harus mengemasi barang pribadi dimeja kerja mu ke ruangan Bos baru mu".
Eun Jo langsung saja berdiri menghadap bosnya itu, "Saya Pak Direktur ?" sambil menunjuk ke arahnya sendiri.
"Ya tentu saja kau, karena kau dulu pernah menjadi sekretaris pribadi noona, maka aku memilihmu. Kenapa ? apa kau keberatan ?" tanya Jae Woo dengan senyum yang dibuat-buat mengisyaratkan bahwa perintah tak boleh dibantah.
"Oh, ti.. tidak Pak Direktur. Sa.. saya bersedia."
Menghadapi situasi ini memang sulit baginya, karena dia tidak mengenal bos barunya itu dan kalau dilihat pertama kali, firasat Eun Jo menyimpulkan bahwa dia akan benar-benar tersiksa oleh bos barunya itu.
'Aduhh, mati aku! Kenapa harus aku sih?' gumam Eun Jo sambil mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, walau sepertinya tak ada yang tau apa yang ia gumamkan, tapi ada yang bisa melihat gerak bibir sang gadis malang ini didepan sana.
Tae Woo melihat calon sekretaris pribadinya dari atas sampai bawah dan melihat tingkah gugupnya itu, membuatnya berfikir sejenak seperti mengingat sesuatu dan tiba-tiba ia berseringai tipis, bahkan tak terlihat oleh manusia maupun makhluk halus karena benar-benar tipis mungkin hanya dia dan Tuhan yang tau. Sepertinya dia menemukan mainan baru yang tidak terduga di Korea.
Jangan bayangkan rencana atau ide gila apa yang akan melintas 100 km/jam di otaknya, karena tidak ada yang bisa menduga masa depan bukan ?
.......
.......
.......
.......
...TBC...
...^^...
__ADS_1