
Tak terasa sudah hampir 4 bulan Eun Jo dan Tae Woo bermain sandiwara cinta, tak ada kata terucap diantara mereka untuk mengakhirinya. Malah sekarang, setelah bermain marah-marahan dan cemburu-cemburuan 1 bulan yang lalu, Tae Woo tak segan mengumbar kemesraannya dengan Eun Jo didepan orang, entah itu di kantor atau di depan umum. Tanpa basa-basi, Tae Woo sering menggengam tangan Eun Jo, memeluknya secara spontan, memberi dan meminta ciuman selamat pagi dan tak luput juga ciuman selamat tinggal saat ia mengantar Eun Jo pulang ke rumah. Rasanya mereka seperti tidak sedang bermain sandiwara, tapi menyandiwara hati mereka untuk bersikap jujur.
Gara-gara kelakuan mereka yang mengekspos kedekatan di kantor, tak pelak banyak karyawan yang sering membicarakan hubungan mereka, sudah tentu ada pro dan kontra. Sebagian karyawan memuji keserasian mereka, Tae Woo yang tampan dan Eun Jo yang cantik, 2 perpaduan yang pas. Ada pula para karyawan wanita yang iri dengan posisi Eun Jo yang bisa menjadi kekasih dari bosnya. Mereka saling menggunjing, dibilang Eun Jo hanya cewek materialistis – mengincar kekayaan keluarga Jung atau dianggap wanita penggoda. Tapi tak ketinggalan, Tae Woo juga menjadi sasaran gunjingan karyawannya sendiri, kalau bosnya adalah playboy atau berselera rendah, memacari sekretarisnya sendiri.
Semua bisik-bisik itu terdengar sampai ke telinga Eun Jo. Mengusik pikirannya, takut jika isu itu semakin merayap dan dilebih-lebihkan.
Eun Jo yang saat ini berada didepan Tae Woo untuk meminta tandatangan dokumen, memberanikan diri untuk membahas masalah ini. "Pak Tae Woo?"
"Hn?" gumam Tae Woo membolak-balik lembaran yang harus ia tandatangani.
"Apa anda tidak dengar akhir-akhir ini semua karyawan membicarakan kita?"
Tae Woo yang tahu apa maksud pembicaraan Eun Jo, akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap gadis yang berdiri didepannya. "Tidak usah dihiraukan."
"Ini semua salah anda !"
"Kenapa aku ?" Tanya Tae Woo menaikkan alisnya.
"Kalau saja anda tidak menciumiku dan menggandeng tanganku di depan umum, semua tidak akan begini," jelas Eun Jo yang malu untuk mengingatkan kelakuan nakal Tae Woo padanya.
"Kau tidak suka ? kenapa tak menolak atau menghindar? jangan bertingkah kau adalah korban dan aku tersangka."
"Walaupun aku menolak, anda juga tidak akan menghiraukannya kan ? sudah pasti akan melakukan dengan atau tanpa persetujuanku kan ?"
"Ya benar. Kalau begitu nikmati saja," ucap Tae Woo santai melanjutkan menandatangani lembar terakhir dokumennya.
"Aishh ! Tidak bisakah anda bersikap serius?" Eun Jo menghentakkan tangannya ke meja.
"Kau tahu diriku, bukan ?" kata Tae Woo sambil menyerahkan dokumen yang selesai ia baca dan ditandatangani ke Eun Jo.
"Huh dasar!"
Eun Jo langsung mengambil dokumen dari tangan Tae Woo dan membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah meja kerjanya. Belum sempat Eun Jo duduk di kursinya, Tae Woo berkata, "Nanti ikutlah dengan ku."
"Kemana ? sepertinya kita tak punya jadwal pertemuan dengan perusahaan lain ?"
"Nanti kau juga akan tahu."
"Cepat katakan! Atau aku tidak akan mau ikut."
"Akan ku paksa."
"Kalau begitu anda tidak akan dapat jatah ciuman setiap hari, bagaimana?" ucap Eun Jo dengan jari telunjuknya berada di bibirnya yang berseringai.
"Kheh! Kau mengancam ?"
"Yahh, Kalau anda takut dengan ancaman itu."
"Baiklah, ke rumahku." Akhirnya Tae Woo menyerah dengan ancaman Eun Jo, anggap saja mencoba mengalah bukan karena takut dengan ancaman sang gadis. Takut tidak dapat jatah ? mana mungkin kan ?
"Hah ? untuk apa ? berdua saja ?"
Eun Jo segera menyilangkan tangannya di depan dada, takut mengulang kejadian yang dia alami di rumah Tae Woo.
"Apa yang kau pikirkan? Ternyata kau lebih mesum dari ku. Aku akan mengajakmu ke rumah orang tua ku."
Tae Woo tahu apa yang dipikirkan Eun Jo. Pasti tentang aksi saling tempel menempel tempo hari. Walau sama-sama mau, tapi kalau bukan Tae Woo yang mulai duluan, itu tak akan terjadi.
"Untuk apa ?"
"Tentu saja mengenalkan mu pada orang tua ku. Kita harus terlihat meyakinkan. Karena jadwal pertemuanku beberapa minggu lalu padat, jadi aku tak bisa mengajakmu secepat yang ku janjikan dulu."
"Apa harus sekarang? Bisa kita tunda besok... Oh tunggu! Tahun depan, mungkin ?" ucap Eun Jo dengan tampang memelas.
__ADS_1
"Tidak bisa! Jangan mencari alasan atau kau ingin menikmati masa pacaran kita ?" Sekarang giliran Tae Woo yang berseringai.
"Tidak! siapa ingin begitu." Teriak Eun Jo lantang, kemudian tersambung kata, "Oke, aku ikut" dengan lirih.
"Baiklah. Setelah pulang kantor, aku akan mengantarmu ke rumahmu, kau bersiaplah. Lalu akan ku jemput jam 7 untuk makan malam dengan orang tua ku," kata Tae Woo yang hanya disahuti dengan anggukan pelan dan bibir manyun Eun Jo.
.......
.......
.......
.......
Suatu tempat yang mengerikan... 19.30 Malam
Sungguh Eun Jo dalam masalah yang amat teramat sangat besar. Bagaimana tidak ?
Sebuah gerbang menuju neraka akan ia lewati. Tidak ada jalan lain untuk dia lari. Melangkah maju adalah tujuan kakinya saat ini.
Sebuah rumah besar dan luas bergaya eropa. Indah dan megah bagikan di surga. Mengecoh mata. Tapi ia tahu didalamnya akan ada ranjau yang siap membunuhnya.
Walau sekarang disampingnya ada seorang malaikat penjaga, tapi dia juga salah satu penghuni tempat mengerikan itu. Siap tak siap, Eun Jo harus menuntaskan misinya. Lebih cepat lebih baik.
Setelah turun dari mobil, Tae Woo berdiri disebelahnya menggenggam tangan Eun Jo. Menoleh untuk meyakinkan jika Eun Jo baik-baik saja, karena dia akan diajak ke dalam kediaman Jung, keluarga chaebol -- kaya raya di Korea Selatan, tentu saja untuk bertemu calon mertua bohong-bohongan.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Tae Woo yang melihat wajah Eun Jo yang memucat dan tangan terasa dingin.
"Sejujurnya tidak. Apa orang tua mu akan menyukaiku ? bagaimana kalau tidak ? atau bagaimana kalau sandiwara kita terbongkar ?" Tanya Eun Jo yang bingung apa yang harus ia lakukan saat sudah masuk nanti.
"Sstt. Bicaralah seperlunya saja dan tenanglah, aku ada disamping mu," ucap Tae Woo menenangkan dan mempererat genggaman tangannya.
Mereka akhirnya melangkah untuk masuk ke dalam rumah mengerikan itu (versi Eun Jo).
.......
.......
.......
.......
"Malam, Ayah , Ibu." salam Tae Woo, menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Ah anakku, akhirnya kau pulang juga. Ibu merindukanmu," ucap seorang wanita tua namun masih terpancar aura kecantikannya, Moon Hee kyung namanya, memeluk erat sang anak yang sudah tak lama pulang.
"Aku juga merindukan ibu." Tae Woo balas memeluk ibunya dengan hikmat. Sedangkan sang ayah terlihat diam, bukan berarti dia tak sayang anaknya, namun terlalu gengsi mengakui.
"Dan siapa gadis cantik ini, Tae Woo ?" Tanya sang ibu yang melihat seorang gadis berbaju mini dress berlengan panjang, tampak berdiri dengan anggun dibelakang Tae Woo.
Dia menoleh dan menarik tangan Eun Jo mendekat padanya, "Dia kekasihku, ibu."
"Salam, bibi dan paman. Saya Song Eun Jo," salamnya dengan membungkuk 45 derajat ke arah ibu Tae Woo dan sedikit menyerong untuk memberi salam pada sang ayah yang masih anteng duduk di sofa.
"Benarkah ? Ibu tak mengira kau akan mempunyai kekasih." Senyum indah terpatri di wajah sang ibu.
"Makanya, Ayah Ibu. Aku tak ingin dijodohkan dengan Ji Won. Dia sudah ku anggap seperti adikku. Tidak lebih."
"Ehem," suara serak terdengar dari sang ayah, Jung Geon Woo.
__ADS_1
"Duduklah dulu," perintah sang ayah pada semuanya.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu?" Tanya sang ayah setelah menatap Eun Jo lama. Meneliti dari ujung kaki hingga kepala.
Tae Woo menggenggam tangan Eun Jo dan menaruhnya diatas paha, "aku tak pernah seyakin ini, Ayah. Jangan bilang jika semua ini demi kelangsungan perusahaan kita. Sama seperti yang Ayah lakukan pada noona dan hyeong ?"
"Jangan berfikir seperti itu pada Ayahmu, Tae Woo." Sang ibu dengan aura kasihnya mencairkan suasana yang agak kelam ini.
"Ayah menikahkan kakak-kakak mu karena memang mereka saling mencintai. Ayah hanya mengenalkan mereka dengan anak teman ayah, tapi untuk urusan cinta mereka sendiri yang memutuskan. Jika kalian juga saling mencintai, Ayah tidak akan melarang. Apa kau selama ini berfikir seperti itu pada Ayah, hah ? Harta Ayah bukanlah perusahaan, karena itu tak akan abadi walaupun kalian akan meneruskannya. Tapi keluargalah harta yang paling berarti, karena akan memberikan kebahagiaan yang abadi," jelas sang ayah dengan menatap intens anaknya.
Tae Woo tak pernah melihat ayahnya serapuh ini, terlalu banyak kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin ia salah mengartikan maksud dari setiap tindakan ayahnya. Tapi namanya laki-laki tetap saja pada gengsinya untuk meminta maaf, mungkin sudah keturunan dari nenek moyang. Pantang untuk bersedih dan menangis. Harga diri nomor satu.
Sang ayah lalu mendekat, menatap Tae Woo dan Eun Jo bergantian dan ia pun tersenyum, "Kalau kalian memang sangat serius akan hubungan kalian. Ayah pasti akan merestui. Sebaiknya kalian cepat menikah. Itu lebih baik."
"Ya itu ide yang bagus," timpal Tae Woo dengan enteng.
"Jangan !" ucap Eun Jo spontan.
"Kenapa Eun Jo ? Apa kau tidak setuju?" Tanya sang ibu .
"Bukan begitu, bibi. Maksudku, eonni kan belum menikah, tidak baik jika kami mendahuluinya, apalagi mereka baru saja bertunangan."
"Kalau begitu acara pernikahan kalian dengan Yeo Woo jadi satu saja." Usul sang ibu lagi. Yang hanya ditanggapi anggukan oleh sang suami.
"Itu juga jangan, bibi."
Sang Ibu mengerutkan keningnya, "kenapa lagi ?"
"Tidak enakkan jika cara pernikahan harus dibagi dua, ini adalah acara pernikahan yang tentu saja 1 kali seumur hidup. Eonni pasti ingin acara pernikahannya berkesan dan menjadi satu-satunya pusat perhatian," jelas Eun Jo.
"Kau benar juga, Eun Jo. Lalu kalian akan mengadakan kapan ?"
"Kami belum memikirkan itu, bibi."
"Begitu ya, sebaiknya kalian harus segera membicarakan hal ini."
"Kami ingin menikmati masa pacaran dan mengenal keluarga. Tidak ingin terlalu terburu-buru, bibi," ucap Eun Jo dengan senyum.
Ternyata ia salah mengira jika keluarga Tae Woo mengerikan, ternyata keluarga ini sangatlah ramah dan langsung menerimanya tanpa adegan tidak direstui seperti di drama korea yang sering ia tonton.
"Ah, bibi punya ide. Agar kita saling mengenal, bagaimana kalau kita bulan depan, liburan beberapa hari ke villa yang ada di Jeju ?" Tanya sang ibu menoleh ke arah suami.
"Ya, itu ide bagus, sayang. Bagaimana Tae Woo ?"
"Baiklah, akan ku kosongkan jadwalku bulan depan."
Eun Jo yang tidak ditanyai pendapat, sudah pasti harus setuju dengan ide sang ibu untuk 'saling mengenal keluarga' seperti yang ia ucapkan tadi. Pikirannya seketika kosong , tak bisa berpikir rencana apa yang harus ia lakukan saat liburan bulan depan. Harus bersandiwara seperti apa didepan orang tua Tae Woo. Dosa yang ia tumpuk semakin banyak dimasa muda.
Sang ibu tiba-tiba menggenggam tangan Eun Jo, membuyarkan lamunannya. Berniat mengajak makan bersama.
Dimeja makan sang Ibu banyak bercerita disela makannya mengenai masa kecil Tae Woo, tentang bagaimana ia anti dengan perempuan dan sikap Tae Woo yang akhir-akhir ini berubah, lebih hangat dengan keluarga dan pasti itu karena kehadiran Eun Jo didalam hidup Tae Woo.
.......
.......
.......
.......
...TBC...
...^^...
__ADS_1