
RUANG KERJA CEO JUNG TAE WOO
Eun Jo berjalan gontai ke meja kerjanya, dia masih terlihat shock mendengar keputusan bosnya atau yang akan menjadi mantan bosnya. Tepat di mejanya ia tertunduk lesu sambil menyanggah dagunya dengan tangan kanan dan menghela nafas berkali-kali.
"Sudahlah Eun Jo, bukankah harusnya kau senang bisa menjadi sekretaris pribadi Tuan Tae Woo yang tampan itu? aku saja iri pada mu," kata Yeon Hee yang berada disebelahnya dengan memanyunkan bibir.
"Kalau begitu kau saja. Aku sih terpaksa. Apa kau tak lihat bagaimana sikapnya tadi saat rapat ? sangat cuek!" ucap Eun Jo dengan memutarkan bola matanya.
Yeon Hee mendekatkan kursinya ke Eun Jo.
"Kau kan hanya melihat hanya saat itu saja kan ? belum tentu dia memang seperti itu. Siapa tau dia jodohmu ? hehe"
"Ah.. aku tak tahu, sebaiknya aku harus segera mengemasi barang-barang ku. Kalau tidak, mungkin dia tidak hanya menyiksaku tapi juga segera membunuhku!"
Eun Jo kemudian berdiri dan berjongkok dibawah meja untuk mengambil sebuah kardus dan meletakkannya di atas meja, dia mulai memasukkan barang-barang pribadinya seperti foto keluarga, foto dia bersama Yeon Hee serta beberapa file-file penting.
"Hah.. kau seperti baru dipecat saja. Jadi tidak ada yang bisa ku ajak bicara gossip artis tampan lagi" hela Yeon Hee menyiratkan kesedihan dan langsung saja Eun Jo yang melihat ekspresi temannya itu langsung memeluk sahabatnya itu.
"Tenang saja, kita kan masih bisa istirahat bersama," ucap Eun Jo sambil melepaskan pelukannya.
"Oh ya! Kalau kau tak betah dengan Pak Tae Woo, kau bisa merekomendasikan aku untuk menggantikan mu," kata Yeon Hee dengan wajah yang ceria.
"Hei, Sang Hoon mau kau kemana kan ? Apa untuk ku saja ?"
Ia tau Shin Yeon Hee dan Park Sang Hoon sudah lama berpacaran sejak di bangku kelas 3 SMA. Sudah lama bukan ? entah alasan apa yang membuat Yeon Hee belum juga mengubah status KTPnya.
"Hehe, aku kan hanya bilang kalau kau tidak betah dengannya, aku rela menggantikan mu, bukankah aku baik hati ?"
Mendengar ocehan temannya itu, Eun Jo hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya.. ya.. Kau memang baik hati. Membuatku sungguh terharu. Ya sudah aku ke ruangan Pak Direktur dulu. Bye Yeon Hee"
.
.
.
.
Sekarang Eun Jo telah berada didepan pintu ruangan Bosnya -emm maksudnya ruangan yang akan menjadi miliknya dan bosnya atau kantor serasa milik berdua. Antara gugup dan tidak mau menjadi alasan yang tipis untuk mengetuk pintu dan masuk kedalam. Tapi dia sudah sejauh ini untuk mencapai kariernya, dia tidak akan menyerah dan akan melawan apapun walau halangan, rintangan membentang tak jadi masalah dan beban pikiran ahaa…
'Baiklah, saatnya perjuangan hidup! Semangat!' gumam Eun Jo sambil mengepalkan tangan kanan didepan dada.
'Tok.. tok.. tok'
Ketukan pintu terdengar berima namun tak seirama dengan detak jantungnya kali ini. Tak ada jawaban ataupun sahutan. Dia mengetuk pintu untuk kedua kalinya tapi tetap saja tak ada timpalan.
Ia mulai memberanikan diri untuk mendorong pintu secara perlahan. Di lihatnya sekilas didalam ruangan kerja barunya itu, terlihat luas menghadap ke arah jendela memperlihatkan pemandangan kota dari atas. Sofa-sofa kulit terlihat mewah tertata secara rapi di samping pintu masuk dan meja kerjanya tepat disebelah meja besar yang ia pastikan milik bos barunya itu. Meja miliknya terlihat lebih besar dari meja sebelumnya, mungkin ia akan menaruh lebih banyak foto yang dipajang di atas meja.
Dia masuk perlahan dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri pakaian dalam, takut jika sang bos ada didalam. Dilihatnya keadaan aman, dia mulai berjalan santai menuju meja barunya. Dengan riang seperti baru saja dapat mainan baru.
"Hore! Dapat meja baru, nanti akan ku taruh foto disitu dan.. "
"Ehm" deheman suara bariton seseorang yang khas.
Eun Jo yang menyadari sesuatu hal yang mengerikan dibelakang sana dan ia yakini lebih menakutkan dari pada hantu yang bergentayangan. Eun Jo yang membelakangi suara itu, dengan gerakan slowmotion, menggerakkan kepalanya ke arah samping dan mulai memutar badannya seperti gerakan robot.
Setelah mendapati sebuah objek yang tak asing 5 meter dari arahnya, dia mengarahkan matanya yang tepat lurus di dada sang objek perlahan menelusuri ke arah atas. Tepat matanya bertemu dengan sebuah mata berwarna hitam legam.
Eun Jo membulatkan matanya dan ingin rasanya ia berkata 'Bolehkah aku pingsan saat ini juga?'
tapi nyatanya ia tak bisa pingsan saat itu juga hanya saja kakinya begitu lemas untuk berdiri.
Dengan senyuman -tepatnya cengiran- Eun Jo mengucapkan pemilihan kata yang salah - Ya tentu saja karena ia tak bisa berfikir saat ini.
"Hallo Bos~" dengan lambaian tangan kanannya yang begitu lunglai tak bertulang.
Eun Jo tau siapa yang ada dihadapannya sekarang yaitu Jung Tae Woo, Bosnya saat ini.
OMG! Ingin rasanya Eun Jo membuang mukanya ke arah jendela karena malu atas kelakuannya tadi.
Sang objek pun terlihat biasa tanpa harus memunculkan berbagai ekspresi seperti sekretarisnya.
"Apa jadwal hari ini?" Tanya Tae Woo santai.
Eun Jo yang berdiri di sana yang masih dengan membawa sekardus penuh barang- menahan beratnya tepatnya. Terlihat membuka mulutnya sedikit.
'What? Aku bahkan baru saja masuk!'
'Whatt? Aku bahkan belum menaruh barang-barangku!'
'Whattt? Aku bahkan belum menata meja baruku!'
__ADS_1
Terlalu banyak yang Eun Jo gumamkan dalam hati, tapi tetap saja ia tak mampu mengekpresikan di raut wajahnya.
"Eee.. Sebentar Pak Direktur," ucapnya hati-hati.
Eun Jo menaruh barangnya di atas meja dan mengambil sebuah agenda didalam kardus itu dan membalikan badannya kearah Tae Woo.
"Bacakan !"
"Pukul 10.00 akan ada pertemuan dengan Pemilik Perusahaan Hightstar Information Corp membahas tentang kerjasama launching produk yang baru kita buat. Pukul 01.00 Siang anda harus menghadiri rapat besar seluruh pimpinan Direksi dan Pukul 4.00 sore anda harus datang ke acara jumpa pers untuk mengumumkan anda sebagai pimpinan direksi yang baru."
"Batalkan semua!" Hanya 2 kata itu saja yang diucapkan oleh pewaris perusahaan terkenal di Korea ini.
"Ma-maaf Pak, apa anda yakin ?" Tanya Eun Jo takut-takut kalau dia salah bicara.
"Kenapa tidak? Pertama kau belum membuat laporan yang harus ku baca saat pertemuan nanti. Kedua aku malas bertemu dengan tetua-tetua. Ketiga aku tak suka keramaian dan kilatan kamera."
Eun Jo terlihat takjub mendengarkan kata-kata yang keluar dari Tae Woo, bukan karena suaranya yang indah tapi karena pertama kali mendengarkan kata yang dikeluarkan Tae Woo cukup panjang -ya sejauh ini sih.
Tiba-tiba Tae Woo berdiri dan berjalan menuju pintu. Hendak keluar.
"Anda mau kemana Pak Direktur ?"
"Pulang."
'Aiish, dasar cowok aneh' ejek Eun Jo dengan menjulurkan lidahnya kearah pintu, ia berani kali ini karena bosnya sudah menghilang.
"Baiklah. Saatnya menata meja kerja ku!" seru Eun Jo pada dirinya sendiri dengan ceria.
Iapun mulai mengeluarkan barang-barang pribadinya, seperti sebuah bingkai foto ayah dan ibunya, walaupun ia tak pernah melihat ataupun mendapatkan kasih sayang Ibunya, ia yakin kalau sang Ibu menyayanginya lebih dari apapun. Dia mengecup foto keluarganya itu dan menaruhnya disisi kiri meja bersebelahan dengan fotonya dengan Yeon Hee dan Sang Hoon saat berlibur ke pantai bersama. Untung saja saat itu mereka berfoto tak memakai bikini, kalau tidak sudah pasti foto itu telah banyak beredar dikalangan teman-teman untuk dijadikan album kenangan.
Sudah sekitar 1 jam Eun Jo merapikan meja kerjanya dan tidak bisa dipungkiri ada rasa penasaran saat ia melihat meja kerja bosnya itu. Tak ada yang istimewa dimeja Tae Woo , hanya ada papan nama lengkap dan jabatan, beberapa file tertumpuk rapi tapi sayang tidak ada satu pun foto di sana.
'Apa dia tidak suka narsis ya?' pikir Eun Jo dengan mengerutkan keningnya.
Saat dia melihat kursi empuk berada tepat disebelahnya, tiba-tiba melintas hal jail yang ingin lakukan. Apalagi kalau bukan mencoba kursi Kepala Direktur Utama.
"Hehe, jadi ini begini rasanya jadi seorang pemilik perusahaan? Keren juga," kata Eun Jo sambil menyamankan duduknya dan memutar-mutarkan kursi geraknya itu.
Setelah merasa cukup menjalankan ide jahilnya, Eun Jo merasa ada sesuatu suara yang bergemuruh tapi tak terlihat wujudnya seperti orang yang sedang berdemo meminta kenaikan gaji. Ia memejamkan matanya sejenak dan tersenyum dengan cerianya, "Saatnya makan siang!" sambil menepuk perutnya.
.......
.......
.......
"Hai Yeon Hee"
Eun Jo mendaratkan tubuhnya tepat di kursi depannya Yeon Hee.
"Hai, kenapa kau lama sekali sih? Kau tidak sedang bermesraan dengan Pak Direktur yang tampan itu kan?" ucap Yeon Hee dengan mengerlingkan matanya.
"Apa ? Yang benar saja! Kau ingin tau apa yang terjadi tadi ?"
"Kau ceritanya nanti saja. Kita pesan makanan dulu saja."
Yeon Hee hendak berdiri untuk mengambil makanan, tapi urung dilakukan karena tangannya sudah ditarik oleh Eun Jo.
"Nanti saja, dengarkan aku dulu!"
Mau tak mau Yeon Hee pun harus membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengarkan curhatan teman baiknya itu.
"Cepat! Apa yang kau mau ceritakan? Tapi Ingat! Jangan lama-lama, karena perut lapar ku tidak bisa diajak toleransi!" Kata dengan menyanggah dagunya dengan tangan sudah siap mendengarkan.
"Kau tau ? saat pertama masuk ke ruangan Bos baru itu. Ku pikir dia sudah ada didalam tapi ternyata dia berada dibelakang ku saat aku merasa senang bisa mendapatkan meja kerja baru, dia mengagetkan ku dan dia membuatku malu karena dia memergokiku seperti anak yang baru dapat mainan saja!" cerita panjang lebar Eun Jo dengan menggerakkan kedua tangannya mempraktekkan segala hal yang ia ceritakan dan terkadang merubah mimik wajahnya dari senang lalu sedih dan sebaliknya. Yeon Hee pikir curhatan Eun Jo sampai disini, ternyata masih to be continued.
"Kau tau? Saat aku masih membawa barang ku, tiba-tiba dia menyuruhku membacakan agendanya hari ini. Memang apa dia tak lihat aku sedang memikul beban barang yang ku bawa!"
"Dan kau tau lagi, tadi dia dengan seenaknya membatalkan semua agendanya hari ini dan pulang begitu saja!" Sekarang ia mulai meninggikan suaranya dan melotot ke arah Yeon Hee seperti orang yang benar-benar jengkel.
"Aish.. Ada lagi! Dia… "
Cerita Eun Jo terhenti tiba-tiba karena merasakan ada yang bergetar dibawah sana. Dia memasukkan tangannya ke saku blazernya dan melihat mengapa Handphone nya bergetar, ternyata ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ingin rasanya tidak menggubris panggilan itu, tapi karena penasaran siapa yang menelepon akhirnya pun dia mengangkatnya juga.
"Halo, dengan siapa ini ?"
'Hei kau! Cepat buat laporan untuk pertemuan besok dan buatkan pidato pers untuk nanti sore!'
Eun Jo menjauhkan handphone dari telinganya karena suaranya benar-benar membuat telinganya berdengung.
"Hei! Siapa kau? Berani-beraninya kau menyuruhku!" Eun Jo berteriak ke arah handphonenya dengan nada jengkel.
'Kau mau ku pecat? Lakukan sekarang !' terdengar nada perintah dari lawan bicaranya.
__ADS_1
Eun Jo mulai berfikir cepat siapa yang barusan meneleponnya.
Loading 10 %. Dia tau tentang agendanya hari ini?
Loading 30 %. Dia tau kalau dia belum membuat laporan ?
Loading 50 %. Dia bisa memecatnya. Dan siapa lagi kalau bukan ?
Loading 100 %. Yapss
"Pak.. Pak Direktur ? andakah itu ?"
'Jadwalkan pers sore nanti dan segera buat pidato persnya!'
ucapan terakhir yang terlontar dari sang lawan bicara. Eun Jo mungkin tak melihat jika Tae Woo tengah tersenyum disana -tersenyum ? Benar kalau Tae Woo memang tersenyum saat ini, tapi seperti biasa tak ada yang tahu.
"Ba.. Baik."
Eun Jo tau ia sedang berbicara sendiri karena nada teleponnya sudah terdengar 'tut.. tut.. tut'.
"ARRRGGGHHH! What the Helll"
Eun Jo mencoba meluapkan semua rasa kesalnya. Dia berteriak -walau tak keras dan mungkin cuma Yeon Hee saja yang mendengarnya. Dia mengepalkan ke tangannya dengan sekuat tenaga, tapi ia tersadar kalau itu akan meremukkan Handphonenya. Dia pun akhirnya hanya bisa menghela nafas saja untuk menenangkan emosinya.
"Ada apa ?"
"Dasar orang aneh! Dia baru saja menyuruhku dengan seenaknya. Bukankah tadi yang membatalkan semua agendanya tapi tiba-tiba dia mengubahnya lagi"
Tiba-tiba Eun Jo menegakkan kepalanya.
"Lihat saja ! Bukan kau yang akan membunuhku tapi aku dulu yang akan membunuhmu!"
Eun Jo benar-benar kesal hari ini. Emosinya seperti sudah sampai di ubun-ubun kepalanya.
Ia ingin terus saja berkoar mengungkapkan amarahnya pada Bosnya itu. Tapi Yeon Hee selalu saja menunjuk ke arah belakang punggungnya.
"Apa sih? kau tidak tau hari ini aku sedang kesal!"
"Ssst.. lihat belakang" bisik Yeon Hee sambil tetap menunjuk kearah belakang.
Sontak ia yang penasaran pun langsung menolehkan kepalanya dengan santai.
'Ohh Tidak, jangan lagi!'
Eun Jo sambil menepuk dahinya. Dia membuat dirinya malu untuk ke dua kalinya.
"Kau mau membunuhku, Nona Song Eun Jo ? sebelum itu lakukan dulu tugas mu!"
"Pak Direktur, bukankah anda tadi bilang akan pulang ?"
"Aku sedang menghadiri rapat Direksi tadi dan kau malah bersantai disini?"
Tae Woo berjalan mendekat ke arah Eun Jo.
"Ti.. tidak. Saya hanya sedang istirahat sebentar" elak Eun Jo memberi pembelaan apalagi dirinya yang sudah merasa terpojok.
"Kalau begitu cepat keruangan ku sekarang!" Lagi-lagi perintah.
"Maaf, kenapa anda menelepon saya tadi ? Bukankan anda bisa menyuruh orang memanggil saya jika anda tidak jadi pulang ?"
"Hanya mengetes Handphone mu saja,"
Tae Woo pergi ke arah lift meninggalkan Eun Jo yang mematung.
Eun Jo hanya mampu membuka mata dan mulut lebar-lebar. Merasa cengo dengan kelakuan jail bos barunya ini.
Iapun berbalik ke arah Yeon Hee, "Aku menyesal tak mendengarkan mu untuk pesan makanan dulu, mungkin aku akan segera mati kelaparan."
"Haish.. Dasar kau ini. Cepat makan roti ini! Dan segera lakukan hukuman mu"
"Thanks Yeon Hee, bye bye~"
Eun Jo melambaikan tangannya kearah Yeon Hee sambil memajukan bibir bawahnya. Bukan karena ia sedang sariawan, tapi karena sedih harus melakukan episode tantangan uji nyali berikutnya dan tak tau siksaan apa yang Tae Woo berikan padanya nanti.
Sungguh tidak ada yang bisa menduga masa depan bukan ?
.......
.......
.......
...TBC...
__ADS_1
...^^...