PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 9. Salah paham


__ADS_3

Sejak kepulangan dirinya dari Singapura, Eun Jo terlihat murung. Kejadian dimana ia benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Jong Hyun membuatnya galau. Ia yakin keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik, tapi ia tak tahu jika keputusannya juga membuatnya menderita.


"Kau kenapa, Eun Jo ?" Tanya Yeon Hee yang datang ke kantin, duduk didepan Eun Jo. Yeon Hee tak pernah melihat sahabatnya semurung ini.


Eun Jo diam sejenak, lalu ia menghadap Yeon Hee dengan tampang lesunya, "Hm, tak apa-apa."


"Kau bohong! Dari wajahmu kau terlihat tampak tidak senang. Apa yang terjadi? Apa saat kau di Singapura, Pak Direktur berbuat macam-macam ? atau kau dicuekin ? atau... "


"Stop! Jangan berfikir yang aneh-aneh, Yeon Hee. Aku bilang aku tak apa-apa, hanya lelah saja," kilah Eun Jo.


Ia tak mungkin selalu terbuka dengan sahabatnya itu tentang semua keluh kesahnya.


"Hmm. Oke. Kali ini aku percaya. Tapi apa kelelahan membuat mata mu menjadi bengkak?" Yeon Hee mendekat, melihat kantung mata Eun Jo yang sangat mengerikan.


Eun Jo memalingkan wajahnya. "Aku kurang tidur."


"Apa kau terlalu banyak bersenang-senang dengan Pak Jung sampai lupa tidur?"


"Yeon Hee! Hentikan. Jangan menanyaiku terus."


"Ya... ya baiklah. Oh ya, apa kau mau membantuku ?" Yeon Hee menyerah menginterogasi temannya. Lebih baik menyampaikan apa maunya.


"Apa?"


"Aku ingin memberi kejutan untuk Sang Hoon. Dia akan ulang tahun."


"Bukan biasanya kau sudah memikirkannya? Mengapa tiba-tiba perlu bantuan ku ?"


Eun Jo tahu benar jika Sang Hoon ulang tahun, Yeon Hee sudah heboh duluan. Menyiapkan segala sesuatunya dengan terencana dan tanpa perlu bantuan orang lain.


"Aku ingin mengerjainya kali ini, hehe.. "


"Lalu apa yang perlu ku bantu?"


"Aku ingin kau berpura-pura memberikan perhatian kepada Sang Hoon, lalu aku marah karena mengira dia berselingkuh dengan mu," jelas Yeon Hee dengan tampang biasa.


"Hah!? Kau gila ya ? Bagiamana kalau dia marah ? Jangan mengerjainya terlalu berlebihan."


Eun Jo tak habis pikir dengan rencana yang Yeon Hee buat. Ini terlalu beresiko. Dia tak mau terlibat dalam drama ini. Dia sudah terlalu banyak job untuk bermain acting.


"Aku yakin dia tidak akan marah. Aku harus memberikannya humor test. Dia terlalu datar, kau tau ? jadi kumohon, please... "


Yeon Hee memelas dengan aegyo imut andalannya, yang sudah pasti membuat Eun Jo tak tega untuk tidak membantu sahabat karibnya ini. Semoga kali ini nyawanya masih dapat terselamatkan.


"Baiklah, tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau sampai kalian putus yaa… "


"Oke. Thanks, my bestie~"


.


.


.


Oranyo café, 8.30 Sabtu 23 Juli 20..


"Boleh aku duduk disini?" Tanya seorang gadis dengan membawa nampan berisi sandwich tuna dan segelas orange jus kepada laki-laki yang duduk dimeja No. 9, meminta ijin untuk boleh duduk didepannya.


"Hn." Balas laki-laki itu tanpa melihat siapa yang bertanya. dia berkutat pada ponselnya.


"Apa kau terlalu sibuk dengan ponsel mu, sampai tak menyapa teman sendiri?" Tanya gadis itu setelah menaruh nampannya dan duduk didepan laki-laki itu.


"Oh, kau Eun Jo ?" laki-laki berkemeja putih itu sedikit terkejut, melihat gadis didepannya.



"Hmm ya. Apa aku mengganggu mu? kau sedang menunggu Yeon Hee?" Tanya Eun Jo setelah menggigit sandwichnya.


Sang Hoon memasukkan ponselnua ke dalam saku celana. Menatap penuh gadis didepannya. "Tidak. Aku sedang ingin bersantai saja disini."


"Oh ya, ngomong-ngomong kapan rencana kau melamar Yeon Hee, Sang Hoon ?"


"Aku belum berpikir untuk itu. Lalu bagaimana dengan mu ? kapan Jong Hyun melamar mu ?"


"Oh itu, sebenarnya aku tidak mau membahas ini sih, aku sudah lama putus dengannya. Dia bahkan sudah bertunangan."


"Benarkah ?"


"Hm ya. Kau tak perlu terkejut seperti itu. Apa Yeon Hee tidak pernah memberitahu mu ?"


"Tidak."


"Oh ya Sang Hoon, nanti malam kau ada rencana kemana ?" Tanya Eun Jo untuk mulai merencanakan misinya.


"Mungkin akan minum-minum bersama teman."


"Kau tidak ada rencana dengan Yeon Hee?"


"Tidak, kami tidak ada janji bertemu."


Eun Jo pura-pura memasang tampang kecewanya, "Ah tidak apa-apa, ku pikir kau bisa meluangkan waktu bersama teman mu ini untuk merayakan ulang tahun mu."


"Dari mana kau tau aku ulang tahun ?"


"Hei kita kan teman lama, tentu saja aku tahu, ya memang sih aku tidak pernah merayakannya bersamamu. Tapi.. kalau kau sibuk atau mungkin kau mau merayakan ulang tahun bersama Yeon Hee. Tidak apa-apa."


"Jadwal ku bisa ku cancel, aku akan meluangkan waktu untuk kita bersama."


"Benarkah? Terimakasih Sang Hoon !" Eun Jo merasa senang mendengarnya, bukan untuk kesenangannya pribadi, tapi lebih kesenangan bisa menjalankan misi. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Sang Hoon saat melihat betapa senangnya Eun Jo bisa mengajaknya pergi bersama dan itu hanya berdua.


"Boleh kah aku mengajakmu ke Namsan Tower?" pinta Eun Jo. Tempat pelaksanaan eksekusi.


"Hn. Tempat yang bagus."


"Oke. Nanti ku kabari waktunya."


.


.


.

__ADS_1


Namsan Tower. 19.30. 23 Juli 20…


"Wah sudah lama aku tidak kesini, Sang Hoon. Semua terlihat begitu indah."


Eun Jo mengedarkan pandangannya, melihat hamparan seperti kelip bintang yang terpantul oleh lampu-lampu jalan, rumah dan gedung yang berwarna warni.


"Ya begitu indah. Bagaikan dunia terperangkap dimata." Sang Hoon tak melihat apa yang Eun Jo lihat, ia sudah cukup melihat semua yang indah terpantul di mata Eun Jo.


Eun Jo yang tak sadar sedang diperhatikan oleh Sang Hoon, hanya mengangguk. "Ya kau benar."


"Eh tunggu, bukan seharusnya aku merayakan ulang tahun mu. Ya walau bukan yang pertama yang mengucapkan, tentu saja Yeon Hee yang terlebih dulu, tapi aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun, Sang Hoon !


Ku harap kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dalam kebahagiaan. Dan tunggu.. ini kue untukmu !"


Eun Jo mengeluarkan kotak kecil yang ia bawa sejak tadi yang dalamnya berisi satu Cronut berlumer coklat dengan 1 lilin kecil diatasnya. Eun Jo menyalakan lilin dengan korek api yang sudah ia siapkan disaku mantelnya.


"Tiup lilinnya! Tapi sebelum itu buat sebuah permintaan. Mungkin bisa bahagia dengan orang kau cintai, Sang Hoon."


Eun Jo mengangkat kue itu dengan ke dua tangannya, mengarahkan 15 cm dari bibir Sang Hoon.


"Tentu saja."


Sang Hoon menutup matanya, berharap apa yang ia minta menjadi kenyataan.


'Fuuh'


"Horee! Selamat Sang Hoon ! Dan ini untuk mu."


Belum sempat ia mengucapkan terimakasih, Eun Jo terlebih dahulu menyerangnya dengan lumeran coklat ke wajahnya.


"Haha, kau kena !"


Eun Jo tertawa lepas melihat tampang Sang Hoon yang selalu dipuja para wanita kini harus berlumur dengan coklat yang manis.


"Kau sudah berani rupanya, akan ku balas kau !"


.


.


.


Namsan Tower. 19.48. 23 Juli 20…


"Kenapa kau mengajak ku kemari, Ji Won ?" Tanya Tae Woo yang harus terpaksa menemani Ji Won berjalan-jalan, kalau bukan Ayahnya yang menyuruhnya, sudah pasti ia lebih memilih diam di rumah.


"Aku hanya ingin pergi saja bersamamu. Bukankah tempat ini sangat romantis untuk kekasih berkencan?" Ji Won bergelayut manja dengan menyandarkan kepalanya di bahu Tae Woo.


"Aku tidak suka keramaian dan sudah berapa kali ku bilang, jangan sentuh aku!" Tae Woo menarik lengannya paksa, membuat sang gadis kaget.


"Kau kenapa sih, Tae Woo ? kenapa aku tak boleh menyentuhmu, sedangkan kau dan gadis itu saling berbagi sentuhan."


"Hn?"


"Yang kau ajak ke pertunangan Kak Yeo Woo. Kau seakan tak mau lepas dengannya, tapi kenapa kalau dengan ku, kau seperti takut akan terkena alergi kulit."


"Dasar perempuan, suka melebih-lebihkan. Baiklah kau mau kemana ? aku lelah."


Tae Woo menyerah dengan sikap kekanakan Ji Won, lebih baik ia turuti saja sebelum menangis menjadi-jadi disini.


"Hn."


Semoga tidak terlintas di otaknya untuk mendorong Ji Won jatuh.


.


.


Cup


"Eggh, Sang Hoon, apa yang kau kau lakukan ?"


Eun Jo kaget dengan apa yang dilakukan Sang Hoon. Dia baru saja dicium oleh kekasih sahabatnya sendiri. Ini petaka.


Sang Hoon menyentuh dagu Eun Jo. Mendongakkan lebih dekat dengan wajahnya. Ia mendengarkan apa yang Eun Jo ucapkan, tapi bukannya menjawab, Sang Hoon malah mencium Eun Jo lagi. "Em... ah... henti... kan, ini didepan umum !"


Eun Jo mendorong bahu Sang Hoon sekuat tenaga untuk memberi jarak diantara mereka.


"Hah... hah... kau mengerjaiku?" Tanya Eun Jo heran, mengelap bibirnya dengan punggung tangan.


"Sang Hoon ?"


Eun Jo memanggil Sang Hoon, tapi dia menunduk dan hanya terdengar lirih kata 'maaf'


"Sang Hoon !" Eun Jo berteriak memanggil Sang Hoon yang pergi begitu saja meninggalkannya sendiri. Ia pun juga tak mengerti ada apa yang sebenarnya terjadi. Mencium seenaknya dan pergi begitu saja. 'Semoga Yeon Hee tak tau kejadian ini. Untung dia belum datang,' batinnya berharap.


Ia pun berbalik kebelakang untuk mengambil tas yang ia taruh di bangku kosong. Dan hampir saja terjengkang kebelakang melihat seseorang dihadapannya.


"Yeon Hee ! Kau sudah disini? Se... sejak kapan? Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu. Biar aku jelaskan! Jadi begini... "


"Ya aku mengerti. Nanti kau harus ke rumah ku, Eun Jo. Sekarang sepertinya kau harus menyelesaikan masalah mu yang lebih penting."


"Apa?"


"Aku pergi dulu."


Yeon Hee pergi, bukan memberinya kesempatan untuk bernafas lega, tapi untuk memberinya serangan jantung. Ternyata ada Tae Woo dan seorang gadis dibelakang. Kini dapat terlihat jelas mata Tae Woo dan Eun Jo saling bertemu.


"Pak Tae Woo ? Anda juga disini ?"


Hari ini begitu sial bagi Eun Jo. Mendapatkan surprise yang beruntun. Ia tak tahu harus mencari alasan apa kepada Tae Woo.


"Cih ! Ternyata dia gadis murahan. Lebih baik kita pergi saja, Tae Woo. Tinggalkan dia!" Ji Won tampak senang dengan kejadian ini. Mencoba memprovokasi.


"Kau pergilah, Ji Won."


"Kenapa aku ?"


"Sudah ku bilang pergi!" bentak Tae Woo yang membuat Ji Won pergi dengan menangis.


Mereka terus saling memandang, tak ada ucapan yang keluar. Sampai akhirnya Tae Woo yang harus membuka pembicaraan. "Khekh! Tak disangka kau cepat sekali berpindah ke lain hati."

__ADS_1


"Apa maksud anda?"


"Kau seharusnya mematuhi perjanjian kita dahulu, baru berfikir untuk mencari pengganti."


"Anda salah paham! Itu bukan mau ku."


"Lalu bagaimana mau mu ?" Tae Woo mendekat dan menatap intens kedalam mata Eun Jo.


"Jangan mendekat! Aku tidak ingin memperumit masalah ini. Aku tau aku salah, aku tidak memikirkan bagaimana kalau orang yang tahu kita berpacaran melihatku dengan lelaki lain. Jika itu memang maksud anda."


"Aku tidak peduli dengan sandiwara kita akan terbongkar. Sepertinya sandiwara ini juga tak perlu dilanjutkan, karena kau sudah membuka hati mu untuk orang lain."


Tersirat nada kekecewaan dari perkataan Tae Woo.


"Sudah kubilang anda salah paham! Dia bukan orang yang ku cinta!" teriak Eun Jo melihat Tae Woo sudah berbalik menjauhinya.


Tae Woo terhenti sejenak. Tapi dia melanjutkan langkahnya pergi tanpa menoleh.


.


.


.


Rumah Yeon Hee. 10.00 PM. 23 Juli 20…


Eun Jo sudah bersiap menghadapi amarah sahabatnya. Ia tahu resikonya, tapi hei! Ini bukan sepenuhnya salahnya. Yeon Hee yang menyuruhnya untuk melakukan sandiwara ini. Dia juga sudah memperingatkannya jika ia tak akan bertanggung jawab jika hubungan mereka akan berantakan. Dan dia juga tak tahu jika akhirnya akan seperti ini.


Eun Jo sekarang berada didalam kamar. Duduk di kasur bernuansa bunga yang bermekaran, menunggu Yeon Hee pergi ke dapur. Tunggu ! Apa Yeon Hee akan membunuhnya ? jangan-jangan dia bawa pisau dan sedang mempersiapkan bumbu untuk memasaknya. Pikiran Eun Jo mengkhayal diluar batas, sampai khayalannya buyar setelah Yeon Hee masuk membawa nampan berisi 2 cangkir teh hijau dan beberapa cookies.


"Ternyata benar kalau Sang Hoon suka pada mu."


Yeon Hee duduk dekat Eun Jo. Membuka pembicaraan mengenai kejadian tadi.


"Ha? Jangan menyimpulkan hal yang tidak-tidak."


"Aku tidak salah menyimpulkan. Semuanya sudah terbukti!"


"Apa hanya karena Sang Hoon bersama ku ? itu kan yang kau mau atau karena dia .. menciumku ?" Tanya Eun Jo hati-hati.


"Itu salah satunya."


"Salah duanya ?"


"Dia punya foto mu."


"Foto album perpisahan ? teman-teman kita juga punya kan ?"


"Bukan itu, bodoh ! Tapi dia punya foto mu, ku ulangi 5 POSTER besar fotomu di kamarnya!" Yeon Hee mengangkat 5 jarinya ke wajah Eun Jo.


"What !? kau tak salah lihat? Itu fotomu mungkin ?"


"Apa aku sudah cukup buta, sampai tidak bisa membedakan wajahmu dan wajahku?"


"Jadi benar ? OMG! Kenapa semua menjadi rumit ? lalu kenapa kalian bisa bertahan sejak lama?" Tanya Eun Jo setelah menyeruput teh hijau untuk menenangkan diri.


"Agar bisa dekat dengan mu waktu sekolah tanpa ketahuan dan dia juga tak mungkin memiliki mu karena kau sudah punya kekasih, kan?"


jawab Yeon Hee menyandarkan bahunya di pinggiran kasur.


Eun Jo mengangguk. "Masuk diakal. Tapi kalian tetap bersama kan ?"


"Sebenarnya kami dulu pacaran hanya sebuah status dan aku sudah putus dengan Sang Hoon 3 tahun yang lalu. Sekarang kami hanya berteman saja."


"Kenapa kau tidak pernah cerita pada ku ?"


"Untuk apa ? hanya menambah pikiran mu saja kan ?"


"Hmm ya, tapi jika Sang Hoon adalah jodoh mu, pasti dia akan kembali pada mu, buat dia lupa pada ku, oke ?"


Eun Jo menepuk ke dua pundak Yeon Hee memberi semangat.


"Hmm, thanks. Tapi ada satu hal lagi yang terbukti."


"Apa ? ada lagi ?"


"Hn. Aku melihat jika Tuan muda Jung itu sangat cemburu saat melihatmu dicium Sang Hoon tadi."


"Ku mohon jangan mulai lagi. Aku tidak ingin memikirkan laki-laki."


"Oke-oke. Kau menginaplah disini. Selagi besok hari libur kerja."


"Ya, baiklah."


.


.


.


Minggu. Rumah YEON HEE 8.05 AM. 24 Juli 20…


"Yeon Hee, apa aku harus ke apartemen Pak Tae Woo ?" Tanya Eun Jo yang sudah berganti baju dan berdandan.


"Ya. Jika kau berniat meminta maaf."


"Tapi apa dia akan mengerti ?"


"Dia akan mengerti. Aku yakin. Percayalah."


"Mm... baiklah akan ku coba," jawab Eun Jo lalu ia pergi mengambil tasnya dikamar Yeon Hee.


"Hei, kau tidak sarapan dulu?"


"Tidak, terimakasih. Kau tau ? You are my bestfriend." Peluk Eun Jo pada Yeon Hee. Mengartikan sebuah dekapan sebagai tanda sayang.


"Ya... ya... aku tau itu. Oke Hati-hati. Berjuanglah !"


"Yap, bye~"


.

__ADS_1


.


...TBC...


__ADS_2