PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 7. Sandiwara tak terduga


__ADS_3

"Apa kita sudah sampai ?"


"Apa kita sudah sampai ?"


Eun Jo sedang berkomat-kamit mengulang kata-katanya. Memejamkan mata dan menautkan jemari tangannya. Seakan harus ada yang menjawab pertanyaannya segera mungkin jika tidak dia akan mengulangnya sampai 100 kali.


"Bisakah kau tidak mengulang kata-kata mu itu ? kita masih berada di atas, apa terlihat kita sudah sampai?" Tanya balik seseorang yang berada disebelahnya. Terpaksa melepas earphone yang ia pasang.


"Maaf, Pak Tae Woo. Saya takut naik pesawat."


"Kau pernah naik pesawat sebelumnya kan?" Tanya Tae Woo memastikan, karena terlihat jelas wajah Eun Jo memucat.


"Belum pernah."


"Lalu ? Kenapa kau harus takut jika kau belum pernah mengalaminya?"


"Entahlah. Sepertinya akan jatuh saja."


"Hah~. Sekarang kau coba tutup matamu, bayangkan kau ada di atas awan dan berbaring di sana," ucap Tae Woo menenangkan, menutup mata Eun Jo dengan tangan kanannya. Memberikan instruksi pada telinganya. "Sudah?"


"Hem. Ya."


Tae Woo melepaskan telapak tangannya.


"Sekarang kau buka mata mu dan lihatlah pemandangan langit di sana." Tae Woo membuka penutup jendela, mengarahkan Eun Jo untuk melihat ke arah luar jendela.


"Waahh.. Ternyata indah sekali, seperti berada di permen kapas rasa vanilla... tunggu-tunggu apa rasanya white chocolate ya.. hemm enak sekali. Kenapa tidak lihat dari tadi." Eun Jo mulai mengeluarkan senyum khasnya dan hayalan-hayalan aneh yang beredar di otaknya.


"Kau ini! Apa di otak mu penuh dengan imajinasi makanan?"


"Hei! Ini caraku untuk bisa mempertahankan diet, dengan membayangkan makanan tanpa harus benar-benar memakannya."


Itulah perjuangan Eun Jo untuk mempertahankan bentuk tubuhnya agar tetap proposional dan tetap mempertahankan filosofi 'No calori. No fat.'


Sedikit saja merubah alur jadwal makannya, maka sia-sia dia berjuang sejak SMA untuk tetap menjadi primadona sekolah.


"Apa wanita suka berdiet?"


Entah sudah berapa kali Tae Woo bertanya, terlalu banyak yang ia ingin tahu dari Eun Jo. Kepribadian, apa yang Eun Jo suka atau tidak, apa yang sedang Eun Jo pikirkan. Entah mengapa ia sangat penasaran semua yang berkaitan dengan Eun Jo.


"Hemm, sepertinya begitu. Untuk menjaga penampilan lebih menarik apalagi didepan kekasih," ujar Eun Jo spontan.


"Jadi kau melakukannya untuk 'dia'?


"Hah~, sudahlah Pak Tae Woo. Saya tidak mau membahas tentangnya."


Eun Jo jengah mendengar jika nama laki-laki itu terus-terusan mengusik otaknya, membuatnya tidak bisa berfikir normal dan galau berkelanjutan. Eun Jo memalingkan wajahnya ke arah jendela melihat awan yang terbentuk sedemikian rupa. Hanya diam yang meresapi suasana mereka di pesawat. Tak ada pertanyaan dan jawaban. Hanya keheningan saja.


.......


.......


.......


"Erg, berat sekali," keluh Eun Jo yang membawa koper dan 1 tas selempang berisi perlengkapan yang jika dibutuhkan bisa dengan mudah diambil, seperti handphone, charger, lipstick dan dompet.


"Kau memindahkan semua isi rumah ke dalam koper? Kita hanya menginap selama 2 hari di sini."


"Sepertinya bukan barang ku yang berat, tapi tenaga ku saja yang tidak ada, mungkin ini yang disebut jetleg."


"Kamarmu ada disebelah kamarku, jadi jika aku butuh sesuatu, aku bisa cepat memanggilmu," ucap Tae Woo tanpa menghiraukan istilah yang baru ditemukan Eun Jo saat searching di pesawat tadi.


"Memang anda butuh apa!?" Eun Jo menyilangkan tangannya didepan dada, seperti merasa akan ada penistaan terhadapnya.


"Apa otakmu sekarang kena jetleg ? urusan pekerjaan, Bodoh!" ucap Tae Woo sambil Jari telunjuknya ia arahkan ke dahi Eun Jo


"Oow.. Baiklah saya mau istirahat dulu, Pak Tae Woo."


Eun Jo segera membuka kunci kamarnya karena ia sudah merasa lelah dan ingin merasakan bagaimana rasanya hotel suite di Singapura.


"Hn. Kita akan mulai meeting jam 7 malam ini."


Eun Jo sontak berhenti mengangkat barangnya masuk kedalam dan buyarlah impian untuk merenggangkan punggungnya di kasur super empuk.


"Apaa? Kita kan baru saja sampai dan saya hanya punya 1 jam untuk bersiap, begitu !?" Eun Jo melotot ke arah Tae Woo, tak peduli jika ia sedang melotot ke arah bos yang membayar akomodasinya.


"Mereka ingin meeting dipercepat, bersiaplah!"


'Blam'


Tae Woo masuk kedalam kamar tanpa memberi salam.


"Yaa ampun! Aku pikir bisa bersantai-santai dulu.. eh tunggu.. sepertinya aku melewatkan sesuatu. Bukannya ini kerjasama dengan perusahaan dengan Jong Hyun. Oh Tuhan! Aku bertemu 'dia' lagi ! Sekarang rasanya semua tubuhku mengalami jetleg."


'Blam'


Eun Jo masuk kedalam kamar dengan susah payah mengangkat barang bawaannya.


.......


.......


.......


"Yap penampilan sudah ok. Dan laporan presentasi juga sudah siap."


'Clek'


Tae Woo dan Eun Jo keluar kamar secara bersamaan. Mereka saling menoleh, saling memperhatikan dari bawah hingga ke atas sampai mata mereka saling bertemu pandang.


Tapi permainan menatap harus terhenti karena mereka dikejutkan oleh suara pintu terbuka dari depan kamar Eun Jo.


Tapi ekspresi kaget lebih banyak nampak di wajah Eun Jo, melihat siapa penghuni kamar '013'. Laki-laki maskulin berjas hitam rapi.

__ADS_1


Eun Jo menatap lama mata lelaki itu, hingga datang seorang wanita dari belakang pria itu.


"Oh.. Eun Jo - Tae Woo, ternyata kalian bersebelahan dengan dengan kamar kami," sapa wanita yang bergelayut manja di lengan kanan pasangannya.


"Ah.. Iya.. Nona Yeo Woo, anda disini juga ?"


Sebuah pertanyaan yang tak perlu jawaban. Sudah bisa dilihat sendiri kan ?


"Ya, aku ikut dengan Jong Hyun, tapi bukan hanya sekedar urusan pekerjaan, tapi juga berlibur. Kami sudah menginap disini 2 hari yang lalu."


"Sekamar?" Tanya Eun Jo spontan, tapi ia tiba-tiba dia teringat jika mereka sudah bertunangan dan akan jadi sepasang suami istri. Jadi sah kan jika mereka sekamar ? Eun Jo merutuki kebodohannya sendiri kenapa harus bertanya seperti itu.


"Hm, ya tentu... atau jangan-jangan.. kau mau juga sekamar dengan Tae Woo ya ?" goda Yeo Woo.


"Apa?"


"Jangan bohong pada ku, Jong Hyun sudah memberitahu ku jika kalian sudah pacaran. Hei! Kenapa kau tidak memberitahuku, adik!? Bukankah kau sudah dijodohkan Ayah dengan Ji Won ? Kau tidak sedang bersandiwara untuk menghindari perjodohan kan ?"


"Tidak. Aku benar-benar mencintainya. Apa jawaban itu bisa menjawab semua pertanyaan mu itu, Noona ? sudahlah, kita harus segera meeting."


Tae Woo langsung menggandeng tangan Eun Jo menjauh dari duo kakak kandung dan kakak iparnya itu agar ia tidak menjawab list pertanyaan kakaknya. Eun Jo hanya mampu mensejajarkan jalannya dengan Tae Woo, ia mendongak ke wajah Tae Woo yang lurus melihat ke depan, dia tidak percaya jika Tae Woo ternyata aktor yang sangat hebat dalam sandiwara, hanya karena kata-kata 'Aku benar-benar mencintainya' bisa membuat jantungnya berdegup kencang dan dengan mudah membohongi kakaknya, tapi ia harus kembali kedua nyata jika kata-kata itu hanya bagian dari skenario.


'Baiklah, aku akan ku tunjukkan bakat drama ku, tidak seperti opera sabun murahan seperti yang ia bilang kemarin. Kau tidak akan mampu membedakannya, Hahaha… '


Eun Jo tertawa dalam hati akan rencana yang ia lakukan untuk memperlancar aksi main pacar-pacaran dengan Tae Woo.


"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum ?"


"Tidak ada apa-apa."


.......


.......


.......


.......


"Hah~.. Meetingnya membosankan yaa, Eun Jo. Oh ya, kau mau ikut bersama kami ke cafe? Ada cafe yang baru buka disekitar sini." Tawar Yeo Woo saat mereka berdua keluar dulu setelah selesai acara meeting.


"Kami ? maksudnya anda.. Pak Tae Woo dan Pak Lee ?" Tanya Eun Jo meyakinkan.


"Tentu. Hei! Jika sudah diluar jam kantor kau tidak usah memanggil dengan Pak atau marga. Apalagi dengan Tae Woo. Kau kan pacarnya."


"Ah ya. Anda tidak marah kami berpacaran?" Tanya Eun Jo, takut-takut jika hubungannya tidak direstui oleh calon kakak iparnya sendiri. Kenapa tiba-tiba jadi serius sih ?


"Tentu saja tidak. Karena aku senang jika adikku bisa memilih pasangan hidupnya. Kau tau, dia sangat susah dimengerti."


'Ya, anda benar sekali. Tae Woo orang yang paling susah dimengerti, seenaknya sendiri, dingin, jutek. Hei.. hei kenapa aku jadi menghina bos ku sendiri ?'


Eun Jo mengakui penyataan Yeo Woo, tapi ia ucapkan dalam hati. Dia sekarang sedang berperan jadi pacar Tae Woo, tak mungkin jika ia mengolok-olok pacar sendiri, kan ? Dianggap pacar apaan dia?


"Oh hai kedua kesayanganku. Kita pergi ke café ya? Kebetulan aku melihat ada café promo dekat sini."


"Hn." Gumam mereka berdua bersamaan.


"Hah~ deritaku memiliki 2 orang laki-laki yang pelit bicara," ucap Yeo Woo merangkul Jong Hyun dan Tae Woo, sedangkan Eun Jo mengekor di belakang mereka.


.......


.......


.......


.......


O'COFFEE CLUB CAFÉ


Mereka sudah berada di cafe saat ini, Tae Woo duduk 1 kursi panjang dengan Eun Jo, Jong Hyun dengan Yeo Woo. Tae Woo berhadapan dengan kakaknya dan tentu saja Jong Hyun berhadapan dengan mantan pacarnya.


"Permisi, Apa pesanan anda ?" Tanya seorang waiters untuk mencatat pesanan pengunjung yang baru datang.


"Caramel macchiato," ucap Jong Hyun dan Eun Jo berbarengan ke arah waiters.


"Aku pesan Virgin mojito saja dan kau, Tae Woo?"


"Expresso."


Sang waiters mencatat pesanan yang terakhir, kemudian ia permisi untuk menyajikan pesanan 5 menit kemudian.


"Waah, kau dan Eun Jo punya selera yang sama yaa, padahal saat aku bersama Jong Hyun dulu, dia bilang tidak mau minum itu."


"Kenapa?"


"Jong Hyun bilang terlalu manis untuk dikenang, aku juga tidak tau maksudnya apa ? kau masih ingat kan, sayang?" Tanya Yeo Woo ke arah Jong Hyun, sedangkan Jong Hyun malah menatap Eun Jo secara lekat.


"Ya. Aku tak mungkin melupakannya. Aku hanya meminumnya disaat aku ingin."


'Aku tak pernah melupakan mu Jong Hyun, aku tau minuman itu yang sering kita pesan saat kita berkencan dulu. Oh tidak ! aku mengenang masa-masa itu lagi !'


Eun Jo berusaha untuk mengenyahkan bayangan akan masa lalunya, tapi kalau ia dihadapkan terus dengan orang yang akan membangkitkan kenangan itu. Mana bisa hilang ?


Tae Woo yang melihat Eun Jo sedang gelisah akan tatapan Jong Hyun, langsung menautkan jemarinya ke tangan Eun Jo dan mengecupnya. Memberikan tatapan yang intens.


"Hei.. hei.. Kalian ingin mengumbar kemesraan kalian di depan kami, begitu? Sungguh aku tidak pernah menyangka kalau adikku ini akan bisa jatuh cinta, ku pikir dia menyukai Choi Si Hun, karena dia tidak pernah kelihatan bersama wanita lain," jelas Yeo Woo.


"Siapa Si Hun?" Tanya Eun Jo penasaran.


"Oh, dia teman sekelas Tae Woo sejak SMP hingga kuliah di Amerika, mungkin karena sama-sama berdarah Korea, mereka akrab sekali. Aku takut jika Tae Woo cinta mati dengannya. Yah kau tau maksudku kan?... em Gay." Yeo Woo tertawa geli mengingat masa kecil adiknya.


"Itu karena kita di asrama laki-laki. Jadi aku dekat dengannya!" kilah Tae Woo kesal.


"Ya.. ya. Aku tahu. Hanya bercanda." Yeo Woo mencubit pipi adiknya tersayang.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa kau bisa menyukai Tae Woo, Eun Jo ?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari Yeo, pertanyaan yang ingin ia hindari karena harus berpikir keras untuk merangkai kata kebohongan apa agar dapat dipercaya oleh Yeo Woo dan Jong Hyun.


"A-aku menyukai Tae Woo karena .. " Eun Jo mulai berpikir kata apa yang harus ia ucapkan, mungkin ini saatnya ia menunjukkan bakat aktingnya.


"2 bulan memang waktu singkat untuk menilai. Tapi setelah mengenal Tae Woo, dia orang yang unik. Dia dingin, tapi sebenarnya lembut. Dia suka seenaknya sendiri, tapi dia penuh perhatian. Dia kelihatan pelit bicara, tapi dia suka mengungkapkan perasaannya, maksudku dia romantis dan penuh kejutan."


Eun Jo tersenyum lembut ke arah Tae Woo diakhir katanya. Terlalu berlebihan mungkin akan kata-kata yang ia ucapkan, tapi dia hanya berusaha untuk meyakinkan semua orang jika mereka benar-benar sedang saling jatuh cinta.


Sedangkan Tae Woo yang mendengar penuturan dan tatapan lembut Eun Jo hanya bisa diam sejenak, menyadari jika Eun Jo sedang memainkan akting yang luar biasa. Tak mungkin jika dia hanya akan tergoda dengan kata manis Eun Jo, maka dia tiba-tiba melancarkan skenario berikutnya.


'Cup.'


Tae Woo mencium bibir Eun Jo lembut. Tanpa persetujuan. Cepat. Tapi sangat mendebarkan bagi Eun Jo.


"Terimakasih kau telah menilai seperti itu. Aku penuh kejutan bukan ?" kata Tae Woo setelah melancarkan aksinya, tak peduli jika ia melakukannya didepan umum bahkan didepan kakaknya. Eun Jo dapat melihat seringai tipis diwajah Tae Woo, seringai itu adalah tanda jika ia sedang 'DIPERMAINKAN.'


Eun Jo tak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya, bukan karena ia merona, lebih tepatnya ia kesal karena dikerjai oleh Tae Woo. Namun hanya ia yang mengartikan itu, tak sama dengan arti dari Yeo Woo dan Jong Hyun yang melihatnya.


"Oh, sweet sekali kalian. Kalian benar-benar pasangan serasi. Iyakan, sayang ?"


"Hn."


Jong Hyun hanya bisa diam, tak ingin berkomentar. Cukup detak jantungnya saja yang tak bisa diam melihat Tae Woo berani mencium Eun Jo didepannya.


Percakapan selajutnya hanya tentang wisata-wisata apa saja di Singapura yang belum pernah Eun Jo ketahui, Yeo Woo menceritakan masa kecil adiknya, apa yang disukai dan tidak disukai. Obrolan antar wanita yang mendominasi, sedangkan kaum pria hanya diam dan sekedar mendengarkan ocehan para wanitanya.


"Habis ini kalian mau kemana?" Tanya Yeo Woo setelah selesai menyeruput tetesan terakhir minumannya.


"Aku mau mengajak Eun Jo berjalan-jalan."


"Ooh.. kalian selamat bersenang-senang yaa.. jangan bikin Eun Jo kelelahan."


"Hnn, kau mau kemana, Noona?"


"Aku juga mau bersenang-senang dengan Jong Hyun ke tempat yang romantis. Aku kan tidak mau kalah dengan kalian."


.......


.......


.......


"Aku tak menyangka kau bisa berakting sangat hebat. Perkembangan mu cukup pesat juga." Puji Tae Woo.


"Tapi kenapa anda malah melebih-lebihkan sandiwaranya."


"Bukankah bagus jika mereka lebih percaya ?"


Eun Jo semakin tak tau kemana arah tujuan sandiwaranya. Membuat se-meyakinkan mungkin atau hanya sebatas orang tau bahwa mereka 'pacaran.'


"Tapi tidak dengan mencium ku juga kan !?"


"Kau marah?" Tanya Tae Woo.


Sudah jelas terlihat di wajah Eun Jo jika ia sedang kesal, tak mau menghadap ke arah lawan bicara.


"Ya. Tentu saja aku marah karena anda melakukannya tanpa persetujuanku!"


"Oooh, jadi kau ingin menikmati juga ciuman tadi, sampai-sampai aku harus ijin dulu padamu ?"


"Aappa!?" Eun Jo langsung menoleh menghadap Tae Woo.


'Cup.'


Tae Woo mencium Eun Jo lagi. Hangat dan lembut, itulah yang dirasakan Eun Jo saat ini.


Tae Woo mulai melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Eun Jo, menariknya untuk mendekat sedangkan tangan kanannya untuk menekan tengkuk Eun Jo.


Eun Jo tak bisa jika ia tidak terbuai dengan perlakuan Tae Woo, tangannya tiba-tiba tak sejalan dengan perintah otaknya. Sungguh otaknya sedang korslet saat ini. Tangannya serasa bergerak sendiri melingkar dileher Tae Woo, menautkan ke sepuluh jarinya menjadi satu. Meraka saling memperdalam ciumannya seakan jika bibir pasangannya tak akan bisa dinikmati lagi.


Hawa dingin Singapura di bulan Januari tak bisa mengalahkan kehangatan yang mereka bagi. Anderson Bridge yang mereka singgahi menjadi saksi kelakuan nakal mereka. Eun Jo tak pernah mengira jika ia bisa luluh dalam sekian detik dengan pria ini, pacar pura-puranya. Dan tak ada bayangan sang mantan dibenaknya lagi. Tak terasa sudah 5 menit mereka saling berbagi kecupan dan hembusan nafas. Mereka masih manusia hidup, butuh oksigen untuk mengisi paru-parunya.


Tae Woo tersenyum ke arah Eun Jo. Menggesekkan sentuhan jemarinya ke pipi lembut Eun Jo.


Eun Jo hanya bisa merasakan sentuhan itu, karena ia masih menutup matanya, takut menerima kenyataan jika hatinya goyah akan perlakuan Tae Woo.


"See? Kau sudah setuju kan ?" Tanya Tae Woo melepaskan dekapan ke dua tangannya ditubuh Eun Jo.


Eun Jo perlahan membuka matanya, menyadarkan akal sehatnya. " Ti-tidak ada kata 'Ya'."


"Kau tidak menolak ataupun memberontak sama sekali. Jadi jawabanmu adalah 'Ya'." Tae Woo menepuk kepala Eun Jo lembut, setelah itu ia meninggalkan Eun Jo dalam kebisuannya.


"Tunggu ! Anda mau kemana ?" teriak Eun Jo tertinggal jarak yang begitu jauh. Terlalu lama ia tenggelam akan lamunannya.


.......


.......


.......


Kadang bibir bisa bohong atau jujur dalam kebungkaman, namun hati tak akan bisa berbohong.


Sedikit demi sedikit es juga akan mencair dengan kehangatan, keheningan terusik oleh bisikan dan cinta kan bersemi untuk bisa tersampaikan.


.......


.......


.......


...TBC...


...^^...

__ADS_1


__ADS_2