
"Hah~ hah~, kenapa aku tiba-tiba mimpi buruk? Dan kenapa juga harus dengan Pak Tae Woo?" gerutu Eun Jo heran yang baru terbangun dari tidur malamnya. Baru pukul 10.00 malam, tapi mata sudah terbuka dan alamat akan begadang menunggu kantuk datang lagi.
"Sepertinya aku salah mengambil keputusan. Apa aku batalkan saja ya ?"
Teringat kembali kesepakatan konyol yang dia buat dengan Tae Woo tadi. Tapi salahnya sendiri kenapa bisa dengan cepat mengambil keputusan.
'Drrt.. Drrtt'
Ponsel Eun Jo terdengar bergetar di atas meja. Rasa kantuk yang tersisa dimatanya membuatnya enggan untuk mengangkat panggilan itu, tapi karena sudah terlanjur mata terbuka, ia akhirnya mengangkat panggilan tanpa melihat nama kontak yang muncul dilayar.
'Sedang apa ?'
Kata pertama yang to the point didengar oleh Eun Jo, tanpa harus bertanya siapa lawan bicaranya, dia sudah tau pengganggu tidurnya plus penyebab mimpi buruknya. Jung Tae Woo.
"Sedang mengalami mimpi buruk," jawab Eun Jo malas.
'Apa sudah lebih baik?'
"Tidak, mimpi buruknya malah menjadi kenyataan."
'Benarkah ? mimpi buruk apa ?'
Jarang sekali Tae Woo bertanya lebih dari satu kali dalam satu kalimat. Dan terdengar mengisyaratkan kekhawatiran.
Eun Jo yang merasa aneh akan pertanyaan bosnya yang sok perhatian membuatnya curiga.
"Tunggu! Kenapa anda tiba-tiba menelfon?"
'Sebenarnya merasa sedikit bersalah atas kejadian tadi'
"Sebenarnya anda tau siapa orang yang ingin ku hindari bukan ? tapi anda malah berpura-pura tidak tau dan malah memanfaatkan situasi!"
Bukan merasa iba atas pengakuan dosa Tae Woo yang langka, malah membuat Eun Jo bertanya akan apa yang ada dibenaknya tadi siang. Rasa kantuk pun terasa hilang berganti dengan emosi.
'Aku memang tidak tau. Tapi dari sikap mu padanya yang membuatku tau. Dan aku tidak memanfaatkan mu. Tapi lebih tepatnya menguntungkan,' jelas Tae Woo.
"Hah ! Menguntungkan ? dari mananya ?" Tanya Eun Jo sewot.
'Apa kau tidak lihat dia cemburu ? itu langkah awal yang bagus. Bukankah kau setuju tentang kesepakatan kita'
Tae Woo mengungkit kesepakatan yang baru disetujui mereka tadi pagi di kantor.
"A-aku ingin membatalkan kesepakatan bodoh ini!"
Eun Jo merasa jika kesepakatan itu akan membawanya kedalam masalah yang rumit.
'Tidak bisa. Kau sudah ku beri kesempatan untuk berfikir, tapi kau menolak. Jadi, mulai asah akting mu. Drama sabun mu tadi jelek sekali.'
"Apa ? jadi yang tadi itu hanya akting ?" Entah ia bodoh atau polos saat ini. Tidak merasa jika ia tadi sedang diajak ke dalam sebuah permainan tanpa ia tau sudah siap atau belum.
'Kau pikir sungguh-sungguh ? Kheh, jangan berharap.'
Eun Jo dapat mendengar suara tawa kemenangan diseberang sana. Tertawa ? Tae Woo tertawa ? ah tidak mungkin, pasti dia sedang berkhayal.
"Siapa yang berharap ? Dasar bos seenaknya sendiri!"
Eun Jo menjulurkan lidah ke arah layar telfon, untung saja itu bukan video call.
'Hmm. Lebih baik kau tidur. Jangan mimpi buruk lagi. Good night dear' kalimat terakhir dari sang penelpon dengan suara lembutnya. Entah kenapa menjadi penenang emosi Ino yang baru meluap.
"Heh? Dia kenapa sih. Sedikit-sedikit baik. Lalu tiba-tiba seenaknya sendiri, lelaki yang sulit dimengerti," ucap Eun Jo ke arah layar telfon di depannya. Layar sudah hitam, yang artinya sang lawan bicara sudah memutuskan panggilan telfonnya terlebih dahulu.
"Arrgh! Aku harus bagaimana ?!" erang Eun Jo menekan pipinya.
.......
.......
.......
\=:\= Flashback\=:\=
RUANG RAPAT. 11.00
"Hai, Jong Hyun. Maaf lama menunggu," sapa Tae Woo saat bertemu rekan bisnisnya yang sudah menunggu diruang meeting.
"Oh. Tidak apa-apa," jawab Jong Hyun santai.
"Baiklah. Silahkan duduk. Kita akan membahas kualitas bahan furniture yang akan kita buat dan perhitungan eksport yang kita lakukan…. "
"Bagaimana pendapatmu ?" Tanya Tae Woo yang baru saja mempresentasikan bahasan meetingnya.
Tapi Tae Woo tau jika calon kakak iparnya itu dari tadi tak memperhatikan sama sekali.
"Eem.. ya cukup menguntungkan," jawab Jong Hyun.
"Baiklah. Kita kan membahasnya lebih lanjut saat kita ke pabrik pembuatan furniture."
__ADS_1
"Ya," Jawabnya tanpa menoleh pada Tae Woo yang ada didepannya. Masih menatap sesuatu objek yang tak bisa membuatnya berpaling.
"Sepertinya kau sedang lelah hari ini, hyeong atau kau sedang merindukan noona ?" Goda Tae Woo dengan senyum yang dibuat-buat.
"Oh. Ya aku sedikit lelah karena acara kemarin." Bohong Jong Hyun.
"Hmm. Oh ya Eun Jo, kau jadwalkan untuk keberangkatan kita ke pabrik e-gloss di Singapore minggu depan," ucap Tae Woo kepada sekretarisnya yang berjarak 3 bangku disebelahnya.
"Baik. Pak Tae--. Eh, maksud saya Pak Direktur."
Eun Jo sudah terlanjur keceplosan memanggil bosnya dengan nama. Terdengar begitu akrab. Membuat seseorang merasa heran disana.
"Kau tak perlu seperti itu. Panggil aku seperti biasanya," ucap Tae Woo dengan senyum lembut pada Eun Jo.
"Sepertinya kalian akrab sekali." Entah mengapa Jong Hyun merasa terganggu dengan kedekatan dua orang didepannya.
"Memang. Karena aku tidak hanya sebagai bosnya. Tapi juga kekasihnya." Ujar Tae Woo santai.
"Hah ?"
"Pak Tae Woo !?"
Sebuah kalimat yang membuat Jong Hyun dan Eun Jo kaget yang mendengarnya. Sedangkan yang mengucapkan hanya santai saja tanpa ekspresi seperti biasanya.
Tae Woo berdiri mendekati Eun Jo yang masih duduk dan berhenti di belakangnya. Menumpukan kedua telapak tangannya ke pundak Eun Jo.
"Sepertinya kita tak perlu menyembunyikan hubungan ini dari kakak ipar ku sendiri, Eun Jo."
"Ku dengar kalian baru saja bertemu dan kalian bos dengan sekretaris, bukan ?"
"Apa itu perlu dijelaskan, hyeong ? Kau lebih tau arti cinta dibandingkan aku. Cinta tak ada perbedaan. Aku mencintainya pada pandangan pertama. Seperti noona pada mu."
"Dan apa... dia mencintaimu ?" Tanya Jong Hyun memastikan. Mencari kepastian akan apa yang baru saja ia tau. Namun bukan sebuah kepastian yang ia harapkan tapi sebuah jawaban untuk hatinya yang merasa cemburu.
"Sepasang kekasih harus saling mencintai bukan? Daripada berdusta untuk mencintai seseorang. Kau bisa menanyakan langsung pada Eun Jo?"
'Kenapa Pak Tae Woo tiba-tiba berkata seperti itu ? Apa maksudnya ? Apa yang harus ku lakukan ?'
Banyak pertanyaan yang Eun Jo ucapkan dalam batinnya, walau tau tak ada yang bisa menjawabnya bahkan ia sendiri. Ia hanya bisa menatap jemari yang saling terkait di pahanya, saling berperang jempol. Mengatasi kegugupan yang ia hadapi saat ini. Eun Jo juga tak sanggup menatap ke arah Jong Hyun yang terus terarah kepadanya sejak tadi.
"Kau mencintainya, Eun Jo ?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Jong Hyun tiba-tiba. Pertanyaan yang lebih sulit mencari jawabannya daripada rumus matematika.
Eun Jo tak tau harus mengucapkan apa, lidahnya kelu. Jika ia bisa jujur, dia masih mencintai Jong Hyun. Tapi keadaannya saat ini berbeda, jika ia berkata seperti itu pasti Jong Hyun akan membuatnya sakit hati lagi dengan memintanya ia kembali ke pelukannya, tapi jika ia berbohong dan berkata mencintai Tae Woo, pasti akan membuat Jong Hyun lebih sakit hati. Oh Tuhan ! Tolong ! Kata apa yang harus ku keluarkan dari mulut ini ?
"Ya. Aa-aku mencintainya." Jawaban yang menggantung dari Eun Jo.
"Mencintainya ?"
"Oh... baguslah. Yeo Woo pernah bilang kalau kau tidak pernah dekat dengan perempuan. Aku senang kau bisa memiliki hubungan. Sebaiknya kau menjaga dan jangan menyakiti Eun Jo, dia kelihatannya gadis yang baik." Kata-kata nasehat yang malah keluar, bahkan lebih tepat untuk menenangkan hati dia sendiri. Tak lupa membubuhkan senyuman getir sebagai pelengkap, agar tak ada yang tau dia merasa sakit mendengar penjelasan Eun Jo.
"Ya, aku akan menjaganya, aku tidak akan meninggalkannya. Kau juga tidak akan meninggalkan noona kan ?"
"Aaa..," Jong Hyun bingung harus menjawab apa.
Selama Jong Hyun kebingungannya mencari kata-kata, Tae Woo berucap, "Kau sudah pasti tidak akan meninggalkannya. Kau sudah tinggal serumah dengan noona bukan ?"
"Ya."
Hanya itu yang mampu mempertegas pertanyaan Tae Woo. Walaupun bukan pengganti kata janji untuk terus bersama tunangannya saat ini.
Eun Jo yang mendengar itu membuat dunianya terasa runtuh. Rasa cemburu, rasa iri, rasa tak terima akan kebersamaan pasangan tunangan baru itu membuatnya sesak. Tapi ia tak tau jika perasaan sesak juga dialami oleh Jong Hyun.
"Hn. Sebaiknya aku pergi dulu, Tae Woo. Aku harus kembali kekantor. Sampai jumpa lagi."
Jabat tangan Jong Hyun ke Tae Woo. Mengakhiri rapat kerjasama antara dua perusahaan dan juga rasa tak enak yang mendera hati antara 2 insan yang membohongi hati masing-masing.
"Terimakasih, hyeong"
Jong Hyun pergi meninggalkan ruang meeting tanpa menoleh atau menyapa Eun Jo. Menatapnya lagi membuat lebih pilu.
.......
.......
.......
.......
"Pak Tae Woo, apa yang anda lakukan tadi?!" Tanya Eun Jo dengan kesal atas sikap Tae Woo yang berlebihan tadi.
"Rapat."
Eun Jo semakin geram dengan kelakuan bosnya yang tidak menentu, kadang cerewet , kadang juga pendiam. "Bukan itu. Maksudku apa yang anda katakan pada Jong Hyun ? kenapa anda berbohong ?"
"Kau juga berbohong."
"Berbohong apa ?"
__ADS_1
"Entahlah, hanya kau yang tahu," jawab Tae Woo dengan mengangkat bahunya.
"Anda mau kemana?" Tanya Eun Jo saat Tae Woo yang hendak meninggalkan ruangan.
"Aku mau menemui seseorang dulu. Jangan lupa kerjakan tugas laporan presentasi mu untuk minggu depan."
Tae Woo yang tak ingat akan jadwalnya sendiri malah mengingatkan tugas orang lain.
"Ya-ya."
\=:\= Flashback END \=:\=
.......
.......
.......
HANNAM THE HILL Apartment, 21.30.
"Aku pulang," salam seseorang yang baru saja masuki kediamannya, meletakkan sepatu begitu saja. Tergambar diraut wajahnya jika si pendatang sedang lelah.
"Ah kau sudah pulang, sayang," balas seorang wanita berbalut celemek ungu bermotif bunga yang senang mendapati ada yang datang, seseorang yang ia tunggu kepulangannya sejak tadi, terlihat rasa rindu terpancar dari senyumnya.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya si wanita itu begitu melihat pasangannya pulang terlambat tidak seperti biasanya.
"Maaf, aku tadi sedang sibuk di kantor," jawab si laki-laki sambil melepas kacamatanya.
"Ya tak apa-apa. Sekarang mandilah, aku akan menyiapkan makan malam mu, sayang," sahut wanita yang baru saja menjadi tunangan sah Jong Hyun kemarin malam. Yeo Woo sudah jauh-jauh hari memindahkan barang-barangnya ke apartemen Jong Hyun untuk tinggal bersama, sekarang dia bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama pujaan hatinya.
Layaknya sudah seperti sang istri idaman, Yeo Woo menyiapkan segala sesuatunya untuk Jong Hyun. Dari baju kerja, makanan yang akan disantap, dia mau cintanya tercurahkan seutuhnya ke Jong Hyun dan dia juga berencana mendesign ulang dekorasi setiap ruang di rumah barunya itu. Tentu saja Jong Hyun setuju-setuju saja, dari pada berdebat dengan wanita, yang tentu saja akan merepotkan, maka Jong Hyun lebih memilih diam.
"Aku sudah makan, Yeo Woo. Kau makan sendiri saja. Aku lelah." Jong Hyun langsung masuk ke kamar tanpa memberi sambutan spesial untuk Yeo Woo. Ucapan terimakasih pun tidak apalagi sebuah kecupan ataupun senyuman.
"Oo, baiklah." Yeo Woo hanya bisa tersenyum tanpa makna.
'Oke baiklah, Jong Hyun. Lihat saja ! Aku akan membuat mu menjadi milikku seutuhnya'
.......
.......
.......
'Shzzz… shzzz….'
Pancuran air shower yang dingin membasahi tubuh Jong Hyun. Mendinginkan tubuh yang merasa lelah dan mendinginkan otaknya yang panas. Mengurangi sedikit beban yang ia rasakan.
'Dug.'
Hantaman kepalan tangan Jong Hyun ke arah tembok. 'Sial!' hanya umpatan yang saat ini dapat mewakili kekesalan yang dialaminya.
'Aku mencintai Jung Tae Woo!'
'Aku mencintai Jung Tae Woo!'
Kata-kata Eun Jo masih terngiang jelas dibenak Jong Hyun. Berdengung terus menerus membuat amarahnya semakin memuncak.
"Apa ini alasan yang membuatmu tak mau kembali padaku, Eun Jo ?"
"Atau hanya sebuah kebohongan untuk menghindari ku ?" gerutu Jong Hyun mencari jawaban yang seharusnya ia tujukan pada Eun Jo.
"Lalu apa bedanya dengan diriku?"
"Aku yang membuatmu menjauh dari ku dan aku juga telah membohongi perasaan ku. Apa aku harus sembunyi dan membuat waktu berlalu dengan kebohongan yang terus tersimpan atau aku harus mengubah takdir sebelum waktu berjalan?" Tanya Jong Hyun pada diri sendiri. Butiran tangis menyatu dengan tetesan air. Menyamarkan jejak kesedihan dan kepiluannya.
"Arrgg, shiit !"
'dug'
.......
.......
.......
Benar kata orang, kita akan merasa kehilangan saat orang itu jauh. Tapi disaat dia masih bersama kita, terlalu banyak alasan untuk menghindarinya.
Apa kau ingin benar-benar memohon pada Tuhan agar rencana mu berjalan lancar ? atau memohon agar rencana Tuhan menjadi yang terbaik untuk mu.
Mana yang harus dipastikan ?
.......
.......
.......
__ADS_1
...TBC...
...^^...