PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 10. Memabukkan


__ADS_3

The House Apartement 08.32 A.M


Yak. Disinilah Eun Jo berdiri, didepan pintu apartemen milik Tae Woo. Ia baru pertama kali datang kemari, dia tahu alamatnya karena tentu saja Tae Woo yang memberitahunya. Degub jantungnya sama seperti pertama kali masuk ke ruangan kerja Tae Woo sebagai sekretaris barunya. Tapi ini masalahnya lebih rumit dari yang diperkirakan, jika dulu ia masuk ke 'kandang singa' sekarang ia sudah masuk kadang singa dan harus menjadi 'pawang singa'nya juga.


'Tuhan, hidup dan mati ku ku serahkan pada mu,' 


do'a Eun Jo dalam hati.


Ting... tong... Ting... tong…


Suara bel terus berbunyi tanpa henti, menyeruak sampai ke telinga pemilik rumah.


'Krek'


"Hn ?"


Tae Woo menaikkan alisnya, bukan karena heran siapa yang datang, tapi kenapa dia datang. Tae Woo menemui tamunya dengan tanpa persiapan. Hanya memakai celana pendek dan kemeja berwarna biru muda polos.


"Bolehkah saya masuk ?"


"Apa kekasih barumu mengizinkanmu untuk datang ke sini ?"


"Bisakah kita bicara dulu, Pak Tae Woo?"


"Hn. Masuklah." Tae Woo akhirnya menyerah dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Duduklah, apa yang ingin kau bicarakan ?"


Dia duduk di diujung kanan sofa panjangnya dan Eun Jo duduk diujung kiri sofa.


"Aku ingin meminta maaf," ucap Eun Jo dengan menundukkan kepalanya.


"Untuk ?"


"Tentang kejadian yang kemarin."


"Kau tidak perlu meminta maaf, kau bebas melakukannya. Aku yang salah," ujar Tae Woo menghadap Eun Jo dengan tangan tetap ia silangkan didepan dada.


"Bukan itu maksudku! Anda salah paham. Aku tidak sedang berpacaran. Sebenarnya dia mantan kekasih Yeon Hee dan ternyata aku baru tahu kalau sejak dulu ia menyukai ku," jelas Eun Jo.


"Lalu, bagaimana dengan mu ? kau juga menyukainya ? atau kau ingin bersama orang yang sudah menyukaimu sejak lama?" Sekarang sudah kebiasaan Tae Woo bertanya lebih dari 2 pertanyaan dalam 1 kalimat.


"Tidak ! Tidak sama sekali!" jawab Eun Jo spontan.


"Atau Jong Hyun masih ada dihati mu ?" Tanya Tae Woo dengan menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Eun Jo. Mengangkat dagu Eun Jo dengan satu jari dan membuatnya saling menghadap.


"Sudah separuh hilang, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba memudar... "


"Lalu setengahnya untuk siapa ?" Tae Woo terus berusaha mencari jawaban.


"Itu untuk... untuk... "


Eun Jo tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia hanya bisa memainkan jarinya. Bagaimana bisa menjawab, jika dia harus menjawab dalam keadaan jantungnya berdegup kencang, telinga terasa panas dan mata terhipnotis oleh mata Tae Woo yang mengandung magic.


Eun Jo kaget karena dalam seketika Tae Woo menciumnya. Lebih cepat dari kedipan mata.


"Emm... Pak Tae Woo"


"Panggil aku Tae Woo saja. Apa masih ada bekas bibirnya di bibir mu ?"


Eun Jo menaikkan alisnya tanda bingung, "Maksudnya ?"


"Akan ku bersihkan!" belum sempat Eun Jo tahu maksud dari ucapan itu. Tae Woo sudah melancarkan aksinya.


"Emm... akh!"


Tae Woo menggigit kecil bibir bawah Eun Jo, membuat Eun Jo spontan membuka rongga mulutnya untuk bisa diakses Tae Woo dengan leluasa.


"Aahh...!" desah Eun Jo, karena Tae Woo menemukan titik sensitifnya. Eun Jo tak kuasa untuk tak menahan suara ******* yang keluar dari bibirnya. Ini sudah terlanjur jika mau mengakhiri.


Tae Woo menekan tengkuk Eun Jo untuk memperdalam ciuman mereka. Tanpa disadari, jemari tangan kanan Eun Jo terangkat untuk menelusup ke dalam rambut sang pencumbu, meremas helain surai hitam milik Tae Woo. Mereka bergonta-ganti posisi ciuman, saling memalingkan wajah ke kanan atau ke kiri. Mempertemukan bibir mereka agar saling memberi sapuan dan saliva. Sungguh, lagi-lagi Eun Jo terbuai dengan ciuman itu. Spontan tapi menghanyutkan, singkat tapi memikat dan lembut tapi menuntut. Berbeda dengan ciuman Jong Hyun atau Sang Hoon kemarin.


"Su... sudah hentikan !"


Eun Jo mendorong bahu Tae Woo, dia sudah kehabisan nafas dan perlu pasokan oksigen. 15 menit waktu yang cukup untuk menguras udara diparu-parunya.


"Tunggu... " sepertinya Tae Woo belum puas akan aksinya.


'Buk'


"Aw!"


Eun Jo terdorong jatuh ke sofa berwarna merah maroon, memposisikan dirinya terlentang dengan Tae Woo diatasnya.


Tangan kanan Tae Woo menelusup ke arah belakang pinggang Eun Jo, mendekap semakin erat padanya, memposisikan pertemuan bibir meraka untuk mendapatkan puncak hasrat yang mereka inginkan. Tangan kanan Eun Jo masih memilin helaian rambut Tae Woo yang basah karena keringat dan tangan tangan kirinya meremas kemeja Tae Woo yang tanpa sengaja kancing atas tertarik dan lepas begitu saja, memperlihatkan dada bidang yang menggoda.

__ADS_1


Tae Woo menyudahi ciuman mereka hanya untuk mengatakan sesuatu yang amat penting baginya, tapi sungguh dalam hatinya masih berniat melanjutkan aksi ganasnya.


"Dengarkan aku, Eun Jo. Aku ingin mengatakan kalau sebenarnya selama ini aku men… "


Ting... Tong.. ting.… Tong...


"Tae Woo apa kau didalam!" seru seorang tamu diluar.


Pupuslah rencana yang ia bayangkan..


"Nona Yeo Woo !"


Eun Jo melonjak kaget mendengar suara wanita di depan. Buru-buru Eun Jo merapikan pakaiannya yang kusut karena aksi saling menempel tadi.


"****!"


Tae Woo melangkah mendekati pintu, membukakan pintu untuk tamu yang merusak suasananya.


"Tumben noona kemari ?" Tanya Tae Woo dengan bersandar pada pintu.


"Memang aku tak boleh mengunjungi adikku sendiri? Wow! Kenapa kau berkeringat? Apa kau baru saja selesai joging ?"


Yeo Woo melihat tampilan adiknya yang kacau dan penuh keringat, mengira dia baru selesai joging di area taman depan apartemen.


"Sudah cepat katakan kenapa noona kemari ?"


"Aku belanja beberapa bahan makanan dan berniat memasak untuk mu dan... kenapa kau menghalangi aku masuk? seperti kau menyembunyikan sesuatu saja." Yeo Woo menerobos masuk ke dalam. Karena tak seperti biasanya ia tak langsung dipersilahkan masuk.


"Eun Jo ! kau disini juga ? tunggu … jangan-jangan kalian berdua… ?"


Yeo Woo melihat Eun Jo ada didalam dengan rambut yang sedikit berantakan dan tentu saja keringat dingin yang bercucuran. Menimbulkan sebuah kecurigaan besar.


"Kami tidak !" Teriak Eun Jo spontan dengan melambaikan ke dua tangannya ke depan.


"Sedang joging bersama ?" lanjut Yeo Woo. Membuat Tae Woo dan Eun Jo cengo.


"Oh ya Eun Jo, kau mau membantu ku membuat sarapan ? kita akan makan bersama."


"Emm.. baiklah, Nona Yeo Woo." Mereka langsung menuju dapur, sedangkan Tae Woo ingin duduk melihat televisi saja.


"Tae Woo, Kau sana ganti baju mu dulu !" Perintah kakaknya sebelum pantatnya menyentuh sofa dan Tae Woo hanya bisa menghela nafas.


.......


.......


.......


"Ya tentu saja. Nona Yeo Woo kan pernah menanyakan itu ?"


"Sudah kubilang, kau bisa memanggilku eonni. Anggap saja aku ini kakak ipar mu."


"Ah, ya. Tapi kenapa eonni menanyakan itu lagi ?"


"Ah tidak. Aku hanya memastikan saja. Tae Woo itu jika sudah menemukan orang yang dia cintai, pasti dia akan memperjuangkannya. Tidak peduli dunia menentangnya. Dia adalah adik yang paling ku sayang, semoga kau tak pernah menyakitinya karena orang lain, entah orang dimasa lalu mu atau dimasa yang akan datang."


"Ii... iya eonni" jawab Eun Jo gugup.


"Woow ! Kau pintar sekali memasak, Eun Jo. Sudah pasti Tae Woo akan cinta mati padamu, haha... "


"Ah... ini masakan yang biasa aku buat di rumah."


"Ya tetap saja, ini akan membuat Tae Woo tidak bisa lari dari mu. Dia dari dulu selalu ingin masakan rumah, karena dia dulu tinggal di Asrama. Jadi sering-sering mampirlah kesini untuk makan bersama ya... "


Eun Jo tidak tau harus menjawab apa, hanya dapat membalas dengan anggukan saja.


"Oke baiklah. Terimakasih telah membantu. Yuk kita sarapan bersama!" Yeo Woo dan Eun Jo membawa piring dan menata hidangan ke meja makan.


Yeo Woo berteriak memanggil Tae Woo untuk makan bersama.


"Ah ini ?" Tae Woo tampak kaget dengan makanan yang tersaji di atas meja.



"Calon istrimu yang memasak ini, kelihatan lezat kan ?"


Tae Woo tidak menjawab pertanyaan kakaknya, malah menghampiri Eun Jo dan langsung mengecup pipinya. Eun Jo kaget dengan yang dilakukan Tae Woo tiba-tiba.


"Terimakasih makanannya," lanjut Tae Woo dengan senyum yang mempesona.


"Ehem. Sebaiknya kita makan."


"Oh ya Tae Woo, kapan kau akan mengenalkan Eun Jo pada ayah ibu ?" Tanya Yeo Woo.


"Secepatnya. Mungkin minggu depan," jawab Tae Woo dengan mata yang berbinar saat menyantap makanannya.

__ADS_1


"Hah ! Se... cepat itu !?"


Eun Jo hampir saja menyemburkan kunyahan di mulutnya, tak disangka sandiwaranya akan melibatkan orang tua segala. Dia tak mungkin bisa berbohong dihadapan orang tua. Itu kan dosa ?


"Tenang saja. Orang tua ku tidak akan macam-macam pada mu." Yeo Woo menepuk pundak Eun Jo menenangkan.


"Ah ya..."


Setelah percakapan singkat itu, mereka hanya bisa makan dengan canggung, Yeo Woo tak banyak bicara seperti biasanya, tak bilang 'iri' lagi saat melihat Tae Woo menyuapi Eun Jo dan sebaliknya. Saling mengusap sudut bibir karena ada nasi yang tersisa. Walau yang mereka lakukan adalah sandiwara, tapi bagi Yeo Woo mereka adalah pasangan yang benar-benar serasi dan saling mencintai, susah rasanya harus memisahkan mereka. Mewujudkan harapan seseorang yang ia cintai untuk merusak kebahagiaan orang yang ia sayangi.


"Sepertinya aku harus segera pulang. Aku tak mau lama-lama menjadi obat nyamuk disini. Aku juga harus ke kantor Jong Hyun dulu," ucap Yeo Woo sambil berdiri.


Mereka mengantar Yeo Woo pergi ke depan pintu.


"Baik-baik di rumah ya Tae Woo dan... jangan nakal dengan Eun Jo" goda Yeo Woo.


"Aku tidak janji."


"Haha... Oke bye~"


.


Setelah orang ketiga pergi dan kini hanya tinggal mereka berdua saja. Membuat suasana tiba-tiba terasa canggung. Eun Jo tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Tae Woo setelah kejadian tadi.


"Emm... Sebaiknya aku beres-beres meja makan dulu, Tae Woo."


Eun Jo segera berlari untuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Sedangkan Tae Woo kembali duduk disofa melihat acara televisi yang sudah tentu semua acaranya membosankan.


"Tae Woo, sepertinya aku harus pulang sekarang," kata Eun Jo saat menghampiri Tae Woo yang sedang menonton televisi.


Tae Woo menahan tangan Eun Jo, "Kenapa buru-buru?"


"Aku ada janji dengan Yeon Hee," kilah Eun Jo.


Tae Woo masih menahan tangan Eun Jo dengan tangan kirinya dan tangan kanannya untuk menekan kontak di ponselnya. Setelah terdengar nada sambung, Tae Woo menekan tombol loudspeaker.


'Halo,' salam seseorang diujung telepon.


"Yeon Hee. Apa hari inj kau ada janji dengan Eun Jo ?" Tanya Tae Woo.


'Tidak ada, Kenapa Pak Direktur Jung ?'


Tut... tut... Sebelum mendapat jawaban, Tae Woo sudah memutuskan sambungan teleponnya.


'Sial! Yeon Hee tidak bisa diajak kompromi.' Kesal Eun Jo dalam hati.


"Dengar kan? Jadi temani aku sebentar. Tenang saja aku tidak akan menyerang mu untuk saat ini."


Tae Woo menarik lengan Eun Jo untuk duduk kembali, tepat disebelahnya, lalu Tae Woo merebahkan kepalanya di paha Eun Jo setelah ia mematikan televisi.


"Tae Woo !"


"Beri waktu aku untuk istirahat."


Tangan Eun Jo tanpa sadar membelai rambut Tae Woo, menyisir dengan jemari lentiknya. Seperti cara menidurkan anak.


"Tae Woo ?"


"Hn?"


"Apa gadis yang kemarin yang bersamamu itu Nona Ji Won, anak dari pemilik Diamond Corp ?" Tanya Eun Jo.


"Hn"


"Ooh... Jadi dia yang dijodohkan denganmu ?"


"Hn"


"Kenapa kau tidak menerima perjodohan itu ? Dia cantik, kaya, pintar dan gadis yang sepadan dengan mu."


"Itu menurutmu, bukan diriku."


"Tapi... "


"Sstt, biarkan aku tidur."


Tae Woo menyamankan posisi tidurnya, menarik tangan kiri Eun Jo dan menggenggamnya di atas dada. Entah karena takut sang gadis akan pergi atau hanya sebuah pegangan yang bisa membuatnya cepat tidur? Entahlah. Tae Woo menghembuskan nafasnya panjang lalu teratur, menandakan dia mulai terbuai mimpi. Rasa kantuknya akhirnya datang, karena ia memang tidak bisa tidur semalam. Terjaga karena memikirkan Eun Jo dicium oleh laki-laki lain.


"Dia kelihatan lelah sekali. Matanya menghitam, pasti dia kurang tidur."


Eun Jo memperhatikan setiap lekuk wajah sang pangeran tidur. Tampangnya memang tampan, tapi yang membuatnya sangat terpikat yaitu sebuah lengkung dibawah hidung, walau jarang tersenyum tapi jika bibir itu sudah beraksi, akan membuatnya bisa melupakan semuanya. Eun Jo menepis semua bayangan itu, dia harus sadar jika ini hanya sandiwara, maka ia harus tetap bersandiwara. Eun Jo terus membelai surai hitam Tae Woo, sampai ia juga terbuai ke dalam mimpi.


.......


.......

__ADS_1


.......


...-TBC-...


__ADS_2