PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 8. Merelakan


__ADS_3

ROOM HOTEL '014'. 11.00 P.M


"Dasar sial! Kenapa tidak bisa tidur sih? Dan kenapa harus selalu dia penyebabnya! Tidak mungkin hanya ciuman tidak berarti itu bisa membuat ku seperti anak remaja yang baru kehilangan keperawanan bibirnya. Aku sering melakukannya dulu dengan Jong Hyun, tapi kenapa dengan Tae Woo rasanya aku baru melakukannya. Dasar Tae Woo brengsek ! Berani-beraninya dia menciumku !"


Eun Jo menutup matanya rapat-rapat menggunakan bantal. Terbenam dalam bayangan akan kejadian tadi.


"Dan salahku juga mau melakukannya! Oh tuhan.. ada apa dengan perasaanku ini, bisa-bisanya aku terbuai dengan ciumannya."


Eun Jo tak habis pikir kenapa ia bisa dengan mudah jatuh dalam pesona Tae Woo. Apa dia sebegitu rindunya dengan Jong Hyun sehingga Tae Woo menjadi pelampiasannya. Tapi sungguh tidak ada bayangan Jong Hyun tadi.


"Aku coba tidur saja, daripada harus memikirkan itu yang sudah pasti buat Tae Woo biasa saja."


Eun Jo mulai membenahi posisi tidurnya, mengatur nafasnya menjadi teratur dan mulai memejamkan mata perlahan setalah memanjatkan doa kepada Tuhan agar tidurnya kali ini nyenyak dan tidak ada bayangan Tae Woo sebagai hantu yang muncul di mimpinya.


.......


.......


Diwaktu yang sama, penghuni lain kamar disebelah Eun Jo.


.......


.......


ROOM HOTEL '015'. 11.00 P.M


"****! Tak ku sangka rasa ciuman pertama seperti ini."


Tae Woo mengecap bibirnya. Bibir yang sudah tak perjaka lagi.


Dug.. dug.. dug suara deguban jantung terasa menghantam telapak tangan yang ia tempelkan di dadanya. Terlalu cepat.


"Kenapa aku tiba-tiba ingin menciumnya? Kenapa dia juga tak menolak?"


Tae Woo akui jika ia merasakan sensasi aneh saat ia berdekatan dengan Eun Jo. Entah menyentuh, menggenggam tangannya, membelai pipinya bahkan lebih parah saat ia menciumnya. Desiran darah bergerak lebih cepat dan detak jantung berdetak lebih keras. Apa karena memang ia tak pernah berdekatan dengan wanita sebelumnya, jadi sensasinya seperti ini ? benar hanya itu ?


Sebenarnya tadi ia hanya ingin mengerjai Eun Jo atau lebih tepatnya mendramatisir sandiwara yang ia perankan, tapi ia tak tahu jika efek sampingnya seperti ini. Tak hanya sekali tapi dua kali ia mencium Eun Jo. Ia akui sekali lagi, jika ciuman kedua ia sengaja, karena dia merasa ketagihan dengan kecupan bibir Eun Jo yang menggoda dan sungguh tak disangka pula gayung bersambut, Eun Jo membalas ciumannya. Tak dapat dipungkiri ciuman yang dilakukan karena sama-sama menginginkan menjadi ciuman yang tidak bisa dikendalikan, ciuman panas, ciuman yang menyesatkan. Untung dia masih tahu batasnya, jika tidak mungkin ia akan membuat Eun Jo mati karena kehabisan nafas.


"Argg, hal-hal itu membuatku bingung."


Tae Woo mulai memejamkan matanya dengan menarik selimut hingga keatas kepala. Menutupi bingkai kepala bersurai hitam yang basah sehabis mandi. Ingin mengenyahkan bayangan Eun Jo untuk sejenak dan menekan efek samping yang masih ia rasakan.


.......


.......


.......


HOTEL. 08.00 A.M


'clek'


"Huh!"


Eun Jo langsung membuang muka, begitu ia tau siapa yang keluar dari kamar '015'.


Ia langsung berjalan menjauh dari si pembuat hatinya tak bisa tenang semalam.


"Kenapa dia? Apa dia marah padaku ?" Tae Woo menggelengkan kepalanya melihat sikap Eun Jo yang aneh. Tae Woo langsung menyusul Eun Jo menuju resto Hotel.


.......


.......


"Pagi Tae Woo - Eun Jo," sapa Yeo Woo yang berpapasan di lorong menuju resto hotel.


"Kalian kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Yeo Woo melihat Eun Jo tak berjalan sejajar dengan Tae Wo, seakan Eun Jo sedang menghindarinya dan sangat nampak jelas di wajah mereka jika sedang main marah-marahan.


"Tidak!" ucap mereka bersamaan dan saling memalingkan wajah.


"Haha, kalian seperti anak kecil saja. Jika kalian punya masalah, lebih baik kalian bicarakan. Tidak baik memendam masalah kalian berlarut-larut," kata Yeo Woo menasehati.


"Aku tidak bertengkar dengan Tae Woo. Kami baik-baik saja," jawab Eun Jo meyakinkan jika tidak ada perselisihan diantara mereka -walau sebenarnya ada. Dia tidak mungkin bisa menjelaskan yang sebenarnya kepada Yeo Woo.


"Tidak. Kau sepertinya marah dengan ku?"


Eun Jo menaikkan alisnya kearah Tae Woo.


Eun Jo menarik nafas, dia tau jika ia sedang diposisi tidak menguntungkan. "Sudah ku bilang tidak, sayang."


Eun Jo mengumbar senyum yang dibuat-buat ke arah Tae Woo. Sungguh kata yang barusan ia ucapkan sangat berat. Sampai kapan ia harus terus berpura-pura?


"Benarkah ? kenapa kau tidak memberiku salam tadi pagi. Buktikan jika kau tidak marah padaku. Beri salam pada ku." Pinta Tae Woo.


"Selamat Pagi, Sa-yang." Eun Jo menuruti kemauan Tae Woo, walaupun ia tak tau ada adegan ini dalam skenario sandiwaranya.


"Bukan itu maksudku, Sa-yang. Tapi ini... "


Tae Woo menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk. Seolah-olah tampangnya sangat ingin dimanja. Tapi bagi Eun Jo, tampang Tae Woo bak malaikat berbulu devil. Pingin ditabok pakai sandal.


"Ciuman selamat pagi yang biasa kau lakukan dikantor."


'Hah? Sejak kapan aku begitu? Tidak ku percaya dia mengerjaiku -lagi! Tidak kah cukup ia mengerjai ku kemarin. Oke, ku ikuti apa mau mu, Tuan Besar. Akan ku buat kau menyesali sandiwara ini!' batin Eun Jo kesal.


'Cup.. Cup.. Cup.. Cup.'


Memang terdengar kata 'cup' empat kali. Eun Jo mencium Tae Woo tidak hanya di pipi kanannya, tapi pipi kiri, kening dan bibir. Memberi lebih dari yang Tae Woo minta.


"Aku tidak marah padamu, sayang. Maaf aku lupa memberimu ciuman selamat pagi."


Eun Jo mengerjapkan matanya beberapa kali ke arah Tae Woo, seperti anak kecil minta pengampunan. Tentu saja membuat Tae Woo menunjukkan seringainya lagi.


"Aish kalian ini! Apa tidak bisa tidak pamer kemesraan kalian di depanku. Kalian membuatku iri."


Temari yang ada didepan mereka seperti tidak dihiraukan dan hanya sebagai penonton telenovela romantis.


"Untuk apa iri? Pasti Tuan Jong Hyun sangat romantis padamu, pasti Tae Woo kalah romantis," ucap Eun Jo dengan melirik Tae Woo yang ada disampingnya, mengisyaratkan sedang mengejek.


"Haha.. sepertinya begitu," tawa renyah Yeo Woo.


"Kau tidak bersama Hyeong, noona ?"


"Dia masih mengurusi sesuatu. Oh itu dia." Lambai Yeo Woo ke arah Jong Hyung yang terlihat di salah satu meja resto.

__ADS_1


Cup. "Selamat Pagi, sayang." kecup singkat Yeo Woo ke bibir Jong Hyun yang fokus ke arah tabletnya.


Eun Jo yang melihatnya terasa ada yang mengganjal dihatinya, bukan rasa cemburu yang ia rasakan seperti biasanya, memang dia masih terlihat tidak suka jika mantannya itu bermesraan, tapi kali ini rasa itu sudah sedikit memudar. Entah kenapa, apa karena ia sudah mulai merelakannya ?


"Hn?"


Jong Hyun mengerutkan alisnya heran.


"Hehe, aku meniru mereka, sayang. Seharusnya kau lihat mereka, pagi-pagi saja sudah mengumbar kemesraan. Eun Jo memberi ciuman selamat pagi pada Tae Woo." Jelas Yeo Woo sambil bergelayut manja di lengan Jong Hyun.


"Oh, sebaiknya kita segera pesan makan."


Jong Hyun tak ingin menanggapi terlalu jauh, apalagi berkaitan dengan kemesraan pasangan baru itu. Tidak mau cemburu menguras hati.


.......


.......


.......


UNIVERSAL STUDIO SINGAPURA. 10.30


"Wahh, tempatnya menyenangkan sekali. Taman hiburan ini apa namanya?" Tanya Eun Jo yang takjub akan pemandangan yang ia lihat, sebuah taman hiburan yang begitu luas, ramai akan pengunjung, banyak wahana yang disajikan, tarian parade , badut dan sebuah icon globe dunia di gerbang masuk. Seumur hidupnya dia tidak pernah masuk ke taman hiburan. Ayahnya dulu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya. Main bersama teman-teman pun hanya sekedar pergi ke mall, konser, pantai dan cafe yang instagrammable.


Kekesalannya pada Tae Woo tadi sudah hilang seketika saat tau dia akan diajak ke taman hiburan.


"Ini namanya Universal studio. Kau akan bisa bersenang-senang sepanjang hari. Ini pakai lah."


Tae Woo menyodorkan sebuah bando mickey mouse berpola polkadot hitam putih yang menjadi pelengkap pengunjung untuk masuk. Kurang lengkap jika kita tak menjadi sebuah bagian didalamnya.


"Hm? Pakai ini? Lucu sekali." Seketika itu Eun Jo seperti kembali ke dunia anak kecil, bertingkah kekanak-kanakan.


Seperti anak kecil yang baru diajak orang tua untuk pergi berwisata.


Tae Woo yang melihat tingkat imut Eun Jo, hanya mampu tersenyum simpul, melihat Eun Jo yang menjadi sosok yang sebenarnya. Periang dan juga cantik.


"Kita mau naik apa dulu ?" Tanya Eun Jo membuyarkan lamunan Tae Woo menikmati ciptaan Tuhan terukir di wajah Eun Jo dan satu bagian yang sangat menggoda untuk terus dipandang.


"Kau tak ingin berkeliling dulu? Baiklah ku ajak kau ke sana."


Tae Woo menautkan jemarinya ke sela-sela jemari Eun Jo, menggandeng untuk mengikutinya. Tae Woo tak mau jika Eun Jo hilang dari pandangannya.


Eun Jo tak keberatan dengan sikap Tae Woo, yang terpenting saat ini ia bisa bersenang-senang.


.......


.......


.......


"Hoeekk.. hoeek..hah.. hah ~Nyawa ku tinggal berapa ini?" Eun Jo memegang erat kain bajunya di bagian dada.


Ia perlu oksigen dan ketenangan saat ini. Ia baru saja menaiki roller coaster yang ia tak tau sebelumnya.


Eun Jo hanya asal menurut kemana Tae Woo mengajaknya.


"Kau kenapa?" Tanya Tae Woo yang tanpa rasa bersalah sedang memandangi Eun Jo. Tak membantu.


"Tidak usah berlebihan seperti itu. Mau mencoba wahana lain ?" Tawar Tae Woo yang senang sekali melihat Eun Jo menderita.


"Tidak.. Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Ya, jangan lama-lama. Aku beli minuman dulu. Ku tunggu di sana."


Angguk Eun Jo.


.......


.......


.......


"Sial. Toiletnya penuh sekali. Tae Woo pasti menunggu lama."


Sudah 15 menit ia pergi ke toilet. Eun Jo sudah akan beranjak dari tepatnya tapi...


Sret


"Hmpp!"


Eun Jo mengerang mendapati ada seseorang yang menariknya dan menutup mulutnya dari belakang. Takut-takut kalau ada orang asing yang menculiknya. Tapi setalah beberapa meter menjauh dari tempat semula dan dari kerumunan orang-orang, sang 'penculik' melepaskan dekapan tangannya.


"Siapa ka.. uuu !" Eun Jo tercekat saat ia berbalik menghadap ke arah wajah sang 'penculik'nya.


"Jong Hyun? Kau disini ?"


"Hn. Maaf telah membawa mu dengan tidak nyaman. Yah Yeo Woo mengajakku ke sini."


"Kenapa kau menarik ku tiba-tiba ? lalu dimana Nona Yeo Woo?" Tanya Eun Jo mengedarkan pandangan mencari Yeo Woo, takut jika kepergok sedang berduaan dengan Jong Hyun.


"Aku sedang tidak bersamanya. Dia bertemu teman lamanya. Ada yang harus ku bicarakan dengan mu, Eun Jo."


Jong Hyun berusaha meraih dan menggenggam tangan Eun Jo agar dia mendekat ke arahnya, tapi Eun Jo malah menepis dan mundur beberapa langkah.


"Sudah ku bilang, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kita sudah memiliki pasangan kita masing-masing. Bagaimana jika mereka tau kita terlihat bersama ?"


"Eun Jo, aku tahu kau tidak mencintai Tae Woo. Dia hanya sebagai pelarian mu saja dan kau pun tau aku terpaksa melakukan ini. Apa kau tidak ingin mengakhiri ini, Eun Jo ? Apa kita akan terus membohongi perasaan masing-masing? Kita hanya kan melukai orang lain."


Jong Hyun langsung bicara to the point, tak perlu basa-basi lagi, entah ia dengarkan atau tidak, dia hanya ingin mengutarakan perasaannya yang masih mengganjal.


"Kau benar. Tapi apa gunanya kita kembali, toh kita juga akan saling menyakiti. Kita seperti terlihat menyakiti orang lain, tapi dengan pengorbanan kita orang lain akan merasa bahagia. Kau! Kau bisa membahagiakan Yeo Woo, keluarga mu, membangun perusahaan mu, sedangkan kalau kau bersamaku tetap saja kita melukai mereka. Apa yang kurang dari Yeo Woo ? dia begitu sempurna… "


Eun Jo memberi penjelasan kepada Jong Hyun, entah kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Kali ini bukan menghindar atau masih memendam rasa sakit hati, tapi ia lelah menjadi orang ketiga, diantara hubungan Jong Hyun dengan Yeo Woo, Keluarga dan perusahaannya. Eun Jo tak mau menjadi perusak hubungan itu.


"Jika ini jalannya, kenapa tidak kita jalani saja, Jong Hyun. Kita bukan diposisi dimana kita bisa memilih!"


Eun Jo mulai tak kuat menahan air mata yang mulai memaksa untuk keluar, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hm. Sepertinya aku sudah menyerah meyakinkanmu Eun Jo. Aku akui ke keputusasaan ini adalah akibat ku sendiri. Tapi aku tak akan pernah menyesal mencintaimu. Kau memang bukan takdirku, tapi kau adalah bagian dari hidupku. Semoga kita bisa saling membahagiakan orang lain. Kita hidup bukan untuk mencari arti kebahagiaan yang bisa kita dapat, melainkan mencari apa gunanya kita untuk membahagiakan orang lain. Maaf... aku sudah mengganggu mu lagi, Eun Jo. Semoga kau menemukan kebahagiaanmu."


Tersirat di wajah Jong Hyun jika ia kecewa, frustrasi, putus asa dan tak tahu harus bagaimana lagi. Jong Hyun mendekat ke arah Eun Jo, membelai untuk terakhir kali, memandang mata itu terakhir kali, cintanya sudah berakhir. Tak akan ada hari esok untuk kembali ke cintanya.


Cup

__ADS_1


"Untuk terakhir kalinya. Terimakasih kau sudah menjadi bagian dari kebahagiaanku, Eun Jo," ucap Jong Hyun disaat mencium kening Eun Jo, menciumnya penuh hikmat, karena ia tahu momen ini tak akan pernah terukir lagi di hidupnya. Setelah mencium dan memeluk Eun Jo untuk terakhir kalinya, Jong Hyun lalu pergi meninggalkan Eun Jo, pergi menjauh tanpa menoleh ke arahnya lagi.


"Hiks.. hiks.. huaaaa… maafkan aku Jong Hyun. Andai kau bisa mengerti apa yang kurasakan saat ini. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Mengapa kisah kita menjadi seperti ini."


Eun Jo menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan isak tangisnya yang sudah tak bisa dibendung lagi, menangis untuk langkah yang diambilnya, menangis untuk merasa kehilangan, menangis untuk rasa sakitnya, menangis untuk orang yang pernah ia cintai dan menangis untuk penyesalan. Eun Jo duduk bersimpuh di tanah dengan memegang erat ujung rok yang menjadi pelampiasannya. Melihat punggung Jong Hyun pudar dari pandangannya. Sama seperti waktu itu, melihat Jong Hyun pergi dari dirinya.


Dari jauh, ada seseorang yang melihat kejadian pilu itu. Tapi dia lebih memilih diam dan membiarkan sang gadis melampiaskan apa yang ia rasakan.


.......


.......


.......


"Sayang, kau dari mana saja?" Tanya Yeo Woo yang berhasil bertemu Jong Hyun di taman, setelah ia mencoba menghubunginya, tapi tidak aktif.


"Aku lelah. Sebaiknya kita kembali ke hotel."


"Kau tidak apa?"


Yeo Woo tak tau apa yang terjadi pada Jong Hyun, wajahnya pucat dan ada bekas air mata tertinggal.


"Hn."


"Baiklah. Biar aku saja yang menyetir." Yeo Woo menggandeng tangan Jong Hyun ke arah parkiran mobil.


.


.


.


HOTEL ROOM '013'. 06.00 P.M


"Apa kau mencintaiku, Yeo Woo?" Tanya Jong Hyung tiba-tiba saat Yeo Woo menghampirinya membawakan segelas teh.


"Hah? Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Hampir saja gelas teh yang dipegang Yeo Woo terlepas dari tangannya, kaget dengan pertanyaan Jong Hyun tentang perasaannya.


"Jawab saja."


"Ya tentu saja. Aku sangat mencintaimu. Yah~ Aku tau kau tidak pernah mencintaiku, Jong Hyun. Aku tau kau hanya terpaksa. Aku tau kau masih sangat mencintai kekasih mu dulu, tapi kau berusaha menyembunyikannya. Kau berusaha menerima semua ini. Kau tak banyak bicara saat aku cerewet. Kau tak marah saat aku melakukan kesalahan, karena kau memang tak pernah menganggap aku ada."


Yeo Woo menunduk melihat bayangan wajahnya di air teh dalam gelas yang ia pegang, tak berani menatap ke arah Jong Hyun.


"Apa kau ingin melihatku bahagia?"


"Tentu saja," jawab Yeo Woo spontan, melihat bola mata eboni milik Jong Hyun.


"Jika aku ingin bersama dengan kekasihku dulu, apa kau mengijinkan?"


"Tapi kita kan sudah bertunangan."


"Kita bisa mengakhiri ini sebelum kita menikah."


"Yah kau benar. Kita bisa mengakhiri ini. Aku akan lakukan itu untuk mu karena... aku mencintaimu." berat rasanya untuk menyetujui keinginan Jong Hyun.


"Apa kau bisa menyatukan kami?"


"Hm. Jika kau bisa membantu." Sulit rasanya kata itu keluar dari tenggorokan Yeo Woo. Merasa tak rela kehilangan Jong Hyun.


"Aku ingin Eun Jo."


Praanggg


Cukup kata itu yang membuat Yeo Woo tak percaya. Gelas yang ia pegang sedari tadi jatuh dan pecah berantakan.


"Hah? Eun Jo ? kenapa dia ? dia kan pacar Tae Woo."


"Sebenarnya dia adalah orang yang sangat aku cintai. Aku menginginkannya. Tidak! Aku tidak menginginkannya, tapi membutuhkannya! Apa kau bisa ?"


"A-aku tidak bisa. Eun Jo milik Tae Woo sekarang. Dan aku bisa lihat jika Tae Woo juga mencintai Eun Jo."


Yeo Woo merasa bimbang akan keputusannya untuk membantu Jong Hyun, dilain sisi ia ingin melihat Jong Hyun bahagia tapi disisi lain ia tak ingin kebahagiaan adiknya terenggut.


"Jadi kau tidak bisa ?"


"Jika kau tidak bisa mendapatkan orang yang kau cintai. Aku akan membuatmu mencintaiku." Yeo Woo mengepal tangannya di dada, berusaha meneguhkan hatinya. Berucap pasti akan keyakinannya.


"Benarkah ? apa kau bisa menghapus cintaku ini ? menghapus rasa sakit ku ? menghilangkan bayangannya ? dia tak tergantikan." Jong Hyun mendekat ke arah Yeo Woo.


"Sekarang lihat aku ! Aku akan berusaha, tak peduli bagaimana caranya, jika mencintainya membuatmu tersiksa. Aku akan menghilangkan rasa sakit itu."


Yeo Woo menangkup wajah Jong Hyun, menatap mata yang kelam itu. Mengucapkan sebuah janji yang ia sendiri tak yakin akan bisa. Menghilangkan jejak cinta Eun Jo di hati Jong Hyun yang telah lama singgah.


"Emm... " Yeo Woo mengecup dalam bibir Jong Hyun, seakan mentransfer rasa cinta yang ia miliki untuk Jong Hyun, walau ia tau hanya sebuah ciuman tak bisa membalas perasaannya. Jong Hyun diam bergeming, tak menanggapi ciuman yang ia terima. Karena rasanya hambar, bukan maunya.


Yeo Woo masih menatap lekat mata ebony itu.


"Aku mencintaimu, Jong Hyun. Lihat aku saja! Jika dia datang, aku akan mengusirnya. Jika membuatmu terluka, aku akan menyembuhkannya. Jika dia mengharapkan mu kembali, maka kau sudah lupa akan dia. Namun jika tidak bisa dan kau tak menghendaki ia pergi dari pikiran mu, maka bayangkan saja aku adalah… "


" .…Eun Jo."


.......


.......


.......


.......


“Kalau kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Kalau dia kembali, dia akan selalu jadi milikmu. Tapi kalau tidak, dia tak akan pernah menjadi milikmu.”-Kahlil Gibran


.......


.......


.......


...TBC...


...^^...

__ADS_1


__ADS_2