PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 12. Pengakuan


__ADS_3

Setelah acara makan, Tae Woo mengajak Eun Jo untuk berkeliling rumah, berjalan beriringan tanpa kata. Tiba-tiba rasa canggung menyelimuti mereka. Eun Jo yang tak kuat dengan mode silent sepeti ini, dia mencoba mengawali pembicaraan, "apa yang kau lakukan tadi ?"


"Memang apa yang ku lakukan ?"


"Kenapa kau setuju kita menikah ? bukankah perjanjian kita hanya sebatas pembatalan perjodohanmu?"


"Benar. Memang kau tak mau menikah dengan ku ?"


Tae Woo berhenti, lalu ia menghadap Eun Jo agar mereka bisa saling bertatap muka.


Eun Jo tertawa garing, "Menikah dengan mu ? yang benar saja. Bermimpi saja tak berani. Kau lebih pantas dengan gadis yang setara dengan mu, Tae Woo." Eun Jo mencoba tak menatap langsung mata eboni milik Tae Woo


"Kalau kau diajak menikah oleh Jong Hyun, apa kau mau ? sedangkan dia tak setara dengan mu? Maaf, maksudku bukan begitu."


"Aku tahu itu. Tapi Jong Hyun memahami pernikahan atas dasar cinta bukan harta, dulu kami bermimpi menikah dengan sederhana, memiliki rumah sederhana, memiliki 2 anak yang lucu. Hanya sesederhana itu. Yah itu pemikiran dulu, kenyataannya... berbeda sekarang."


Eun Jo membayangkan kejadian saat dia masih di bangku SMA, sebuah pemikiran yang masih labil saat itu. Dan kini ia harus tertampar dengan kenyataan pahit kalau Jong Hyun lebih memilih harta daripada cinta.


"Kau masih mengharapkan Jong Hyun ?" Tanya Tae Woo datar.


Eun Jo mengangkat bahunya, "entahlah. Mengharapkannya pun tak kan bisa."


"Jadi menikah dengan ku juga tak ada salahnya kan ? Aku bisa memenuhi segala keinginanmu. Hidup dengan tidak sederhana. Pernikahan atas dasar cinta, apa itu cukup ?" Tanya Tae Woo sarkatis.


"Memang hidup butuh harta, tapi harta tidak bisa membeli hidup. Tidak semua harus diukur dengan harta, Tae Woo."


"Jangan terlalu munafik, Eun Jo. Sepertinya kau begitu. Semua wanita suka perhiasan, barang branded dan kekuasaan. Derajat yang mengukur mu. Setelah kau punya banyak harta, kau akan lupa apa itu sederhana."


'plak'


Eun Jo menampar Tae Woo keras. Ia tahu itu pasti sakit. Tapi lebih sakit telinganya saat mendengar orang menyimpulkan yang tidak-tidak tentangnya.


"Aku tahu aku tak memiliki apa-apa dan kau punya kekuasaan, bukan berarti kau bisa merendahkan ku seperti itu. Aku bukan gadis yang senang mengincar harta orang. Kau benar, derajat bisa mengukur kekuasaan, tapi aku tak mau menjadi orang yang haus akan harta, agar aku tak pernah lupa diri saat uang tak bisa memberikan kebahagiaan. Jadi jika penilaian mu terhadapku seperti itu, silahkan ! Aku tak peduli dengan orang yang berfikir rendah. Ternyata aku salah menilai mu, Tuan Jung Tae Woo yang terhormat!"


Amarah Eun Jo sudah memuncak sampai tak peduli siapa yang habis ia tampar dan marahi. Tak peduli jika bosnya setelah ini akan memecatnya dengan tidak hormat bahkan lebih parah memenjarakannya.


Tae Woo tampak menahan sakit, membiarkan sengatan perih di pipinya. "Tapi aku benar menilai mu. Aku tahu kau tak seperti itu. Aku hanya ingin menguji mu saja."


Eun Jo mendelik menatap Tae Woo seolah berkata 'apa-kau-sedang-membuat-lelucon?


Sepertinya ia harus sering mengorek kupingnya agar tidak terjadi ketulian dini.


"Kau gila ? Kenapa kau harus melakukan itu ? Aku bukan anak sekolahan yang harus dapat ujian."


"Aku hanya memastikan jika aku tak salah memilih cinta. Aku mencintai mu, Eun Jo." Tae Woo membelai pipi Eun Jo dan menatap penuh arti.


Kali ini bola matanya akan lepas dari rongganya, melotot mendengarkan pengakuan Tae Woo. Apa ia sedang berakting untuk mendapatkan Piala Oscar ?


"Ku mohon Tae Woo. Disaat seperti ini kau masih bersandiwara?"

__ADS_1


"Kau pikir saat ini aku bersandiwara? Semua perlakuanku terhadapmu itu sandiwara ? Saat aku mencium dan menggenggam tanganmu juga sandiwara ? Kau tidak bisa membedakannya ?"


Eun Jo meletakkan tangannya didepan tae Woo untuk berhenti. Eun Jo terkekeh geli dengan pertanyaan retoris Tae Woo.


"Tunggu! Jadi jika selama ini kau tidak bersandiwara, lalu… kau mempermainkan ku, begitu ?"


"Tidak seperti itu. Situasi saja yang mendukung untuk melakukan sandiwara ini. Memang benar aku terjebak dalam perjodohan dan memang benar kan, kau ingin menghindar dari Jong Hyun ? Hanya perasaanku saja yang tidak bersandiwara. Lalu apa selama ini kau tidak punya perasaan terhadapku, Eun Jo ?"


"Aku… aku… " Eun Jo gugup untuk menjawabnya. Pertanyaan mengenai perasaannya membuatnya sulit untuk berucap.


"Sudah tak perlu dijawab. Kau tahu perasaanku saja sudah cukup. Jangan karena itu, kau menghindar dari ku, Eun Jo. Sekarang akan ku ajak kau berkeliling rumahku."


Tae Woo berjalan didepan, sebagai tuan rumah penunjuk jalan dan Eun Jo mengekor di belakangnya, hampir Eun Jo tak begitu memperhatikan arsitektur yang begitu indah di rumah Tae Woo, hanya mengikuti langkah kaki yang menuntunnya ke tempat tujuan.


Tangan Tae Woo menggantung disisi kiri dan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celana. Tangan itu menggoda ia untuk mengaitkan jemarinya ke sela-sela jemari Tae Woo. Tangan yang kekar, besar dan lembut. Tangan yang biasa menggenggam tangannya erat bagai tangan itu akan selalu memberikannya kenyamanan dan perlindungan.


Ia mendekatkan telunjuknya untuk menyentuh jemari Tae Woo, bukan sekedar rindu akan genggaman itu, tapi juga ingin memberitahunya jika ia kini memiliki perasaan terhadap Tae Woo, entah itu dimulai sejak kapan. Ia juga tak mungkin terus menerus terpuruk dengan masa lalunya.


Eun Jo sudah tahu cara menghilangkan kenangan Jong Hyun dibenaknya, yaitu Tae Woo. Bukan sebagai pelarian, tapi hatinya memang sudah terisi cinta Tae Woo. Aneh memang jika harus bilang begitu, tapi siapa lagi lelaki yang beberapa bulan ini dekat dengannya, memberi kejutan dalam hidupnya dan membuat terpesona oleh ciuman yang menggoda, kalau bukan Tae Woo ? Jemarinya semakin dekat ke tangan Tae Woo.


10 cm...


5 cm...


1 cm…


"Ini kamarku. Masuklah," ucap Tae Woo.


Gagal sudah niatnya.


.......


.......


.......


.......


DIKAMAR TAE WOO


Eun Jo melihat kamar Tae Woo yang sangat lah besar dengan perabotan mewah tertata apik didalamnya. Minimalis bernuansa hitam.



Ia melirik ranjang yang besar, ukuran king size. Sepertinya sangat nyaman untuk ditiduri. Tapi matanya tiba-tiba teralih ke meja di samping ranjang. Sebuah bingkai foto berwarna putih. Bukan foto narsis Tae Woo atau foto keluarga, tapi fotonya saat masih di bangku SMA. Kenapa Tae Woo bisa punya ?


"Bukankah ini fotoku ? tapi ini kan saat aku masih bersama Jong Hyun ?" Tanya Eun Jo sambil memegang foto itu.


"Hn. Dulu aku dikenalkan dengan pacar noona saat di Amerika. Tanpa sengaja aku menemukan foto terjatuh di lantai rumah Jong Hyun. Aku tahu dia masih mencintaimu dan dia masih menyimpan kenangan kalian. Saat aku melihat fotomu, aku tertarik. Tapi aku juga tahu Jong Hyun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sudah dijodohkan dengan noona. Aku juga tak bisa jujur pada noona jika pacarnya mempunyai orang yang sangat dicintai, karena aku juga tidak ingin noona kehilangan orang yang ia cintai. Maka saat aku tahu kau menjadi sekretaris ku, aku ingin kalian atau kita mendapat solusi dari hubungan ini. Sekarang Jong Hyun dan noona akan menikah, kau mulai melupakan dia dan aku pun jatuh cinta padamu. Apakah ini keputusan yang adil untuk mu ?" sebuah penjelasan yang terpanjang yang pernah Tae Woo tuturkan. Sedikit terengah-engah di bagian terakhir.

__ADS_1


"Entahlah aku juga tak bisa memastikannya. Tapi yang ku tahu pasti Tuhan sudah merencanakan ini semua dengan baik."


Eun Jo lalu beralih pada sebuah album foto yang terselip diantara buku-buku. Ia langsung mengambil dan membukanya.


"Wah ! Ini foto waktu kau kecil, Tae Woo. Lucu sekali!"


Eun Jo membolak-balik lembaran foto dan tertawa melihat keimutan Tae Woo saat kecil. Wajah tampan sedari kecil, pipi gembul yang menggemaskan dan pose-posenya jutek yang sampai sekarang Tae Woo lakukan.




Setelah selesai melihat foto-foto, ia mengembalikkan album itu ke tempatnya. Kemudian Eun Jo mencoba merebahkan diri ke kasur Tae Woo yang besar nan empuk. Bagaikan di atas permen kapas yang lembut. Kalau lama-lama tiduran disini, Eun Jo dijamin akan menjadi putri tidur yang akan susah dibangunkan, bahkan dengan ciuman pangeran.


"Lalu kenapa kau harus tinggal di Apartment. Sepertinya tinggal disini menyenangkan."


Tae Woo duduk dipinggiran ranjang, sebelah Eun Jo. "Aku ingin tinggal sendiri dan mandiri."


"Rumah sebesar ini, apa tidak membuat orang tua mu kesepian ? Tuan Jae Woo sekarang tinggal di Cina, Nona Yeo Woo tinggal di apartment Jong Hyung dan kau tinggal di apartment lain."


"Tenang saja. Beberapa bulan lagi tempat ini akan ramai dengan tangisan."


"Maksudnya ?"


"Sudahlah. Ku ajak kau ke tempat lain. Aku tidak suka kau tiduran di kasur ku."


Tae Woo beranjak dari ranjangnya dan berdiri di depan Eun Jo dengan posisi masih tidur terlentang dengan nyaman.


"Kenapa ? aku kan hanya mencoba saja."


'buk'


Tae Woo menjatuhkan dirinya tepat di atas Eun Jo, dengan kedua tangan bertumpu tepat disebelah bahu Eun Jo. Wajah mereka sangat dekat untuk berbagi nafas.


Tae Woo merendahkan kepalanya ke kiri, berbisik tepat di telinga Eun Jo yang memerah.


"Jangan sampai aku menerkam mu di atas kasur kalau kau terus disitu," ucap Tae Woo dengan senyum yang sulit untuk diartikan.


"... atau kau mau menyembuhkan pipi ku yang masih sakit ini?"


"Hah?!"


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TBC...


...^^...


__ADS_2