PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 3. Makan bersama


__ADS_3

Sudah 2 bulan Eun Jo menjadinya sekretaris pribadi Jung Tae Woo dan tak hanya menjadi sekretarisnya seperti menyiapkan laporan atau menemani meeting dengan klien namun terkadang dia juga minta untuk menemaninya makan siang berdua, jalan-jalan diluar jam kerja, membawakan barang-barangnya.


Bukan berarti Eun Jo biasa saja akan sikap Tae Woo yang terkadang berlebihan, dia hanya bisa memendam dalam hati, karena sedikit saja protes, ia sudah tahu apa akibatnya. Bukan takut dipecat oleh bosnya karena disebut dengan 'pembangkang' tapi Tae Woo akan lebih membuatnya menderita dengan memberi setumpuk pekerjaan - yang tentu saja membuatnya harus 'lembur'.


.......


.......


.......


Pagi hari ini seperti biasa Eun Jo sudah berada dimeja kerjanya. Membersihkan tempat kerja dan memulai untuk menganalisis laporan produksi perusahaan. Namun aktifitasnya harus terganggu dengan kedatangan seseorang.


"Hallo Sweetheart," seru seseorang wanita dengan penampilan formal dan rambut hitam panjang sebahu. Membuka pintu tanpa permisi. Tentu saja sang tamu yang tak diundang tak perlu harap lapor 2 x 24 jam, karena sang tamu adalah anak dari pewaris perusahaan ini, saudara perempuan Jae Woo dan Eun Jo tahu hal itu karena ia pernah menjadi sekretaris pribadinya.


"Hallo Nona Yeo Woo. Kenapa anda disini ?"


"Emm.. hai Eun Jo. Mana Tae Woo? Apa dia belum datang?"


"Beliau belum datang ke kantor Nona. Mungkin sebentar lagi."


"Ya baiklah. Katakan saja padanya jangan lupa datang ke acara nanti malam dan katakan juga jangan terlambat. Ok ?" jelas Yeo Woo dengan tersenyum.


"Baik Nona."


"Oke kalau begitu. Lain kali kita makan siang bersama ya? Daa~" Lambai Yeo Woo ke arah Eun Jo sambil membuka pintu dan pergi.


'Memang ada apa sih? Sepertinya penting' batin Eun Jo penasaran. Karena jarang Yeo Woo mau repot-repot ke kantor untuk membahas hal pribadi. Tak mau ambil pusing, Eun Jo pun berbalik menuju meja kerjanya.


"Apa jadwal hari ini?"


Seperti biasa suara bariton itu selalu membuat bulu kuduknya berdiri.


"Hah~ Pak Tae Woo, selalu saja anda datang tiba-tiba."


Eun Jo yang sudah membiasakan memanggil Bosnya dengan nama. Bukan Eun Jo yang sengaja agar SKSD ( Sok Kenal Sok Dekat ) dengan memanggil nama bosnya. Karena Tae Woo sendiri yang menyuruhnya dan seperti biasa, dia hanya bisa menurut saja.


"Apa jadwal hari ini?"


"Hmm... apa anda tak bisa mengingat jadwal sama sekali?"


"Tidak. Untuk apa ada sekretaris jika aku yang harus mengingatnya"


"Oke-oke baiklah. Jadwal hari ini makan Siang dengan anak pemilik perusahaan Diamond corp. Nona Kim Ji Won ."


Eun Jo sedikit merasa aneh mengapa makan siang dengan anak pemilik perusahaan yang jelas-jelas tak ada kaitannya dengan pekerjaan bisa masuk jadwal agenda Tae Woo.


"Baiklah,"


"Hah? tumben sekali anda menerima tawaran untuk makan siang, Pak Tae Woo?" Tanya Eun Jo penasaran.


Karena menurutnya, Tae Woo adalah laki-laki anti sosial apalagi terhadap wanita. Kenapa mendadak berubah?


"Kenapa ? Apa kau ingin aku selalu makan siang dengan mu ?"


"A-apa? Ti-tidak. Bukankah anda yang selalu memaksa saya untuk makan siang bersama?"


"Jadi kau terpaksa?"


"Bu-bukan itu maksudnya. Aiishh.. sudahlah. Sebaiknya saya menyelesaikan laporan saja."


Eun Jo menahan rasa jengkelnya karena lagi-lagi Tae Woo membuatnya tak berkutik. Iapun berjalan ke arah mejanya namun terhenti dan berbalik menghadap meja Tae Woo lagi.


"Oh ya. Tadi Nona Yeo datang ke kantor mencari anda, tapi anda belum datang. Beliau berpesan jangan lupa datang ke acara nanti malam,"


"Kau ikut dengan ku nanti," Kata Tae Woo membuat Eun Jo menautkan alisnya.


"Hah? Ikut ? kenapa saya harus ikut?


"Kau harus ikut saja atau kau akan menyesal." Lagi-lagi sebuah perintah yang harus di 'iya' kan.


"Sebelum itu, nanti kau harus ikut aku dulu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Sudahlah. Ikut saja. Cepat kau selesaikan laporan mu! Aku akan periksa." Perintah Tae Woo.


"Baiklah Pak-Jung-Tae-Woo," jawab Eun Jo penuh penekanan di setiap suku katanya. Yang artinya penyakit jengkelnya kambuh lagi.


'Dasar Bos yang suka seenaknya saja' gumam Eun Jo yang ternyata terdengar oleh Tae Woo.


"Aku mendengarnya!"


'Ups'


.......


.......


.......


.......


Restaurant Nouvelle


Seorang gadis berambut hitam lurus sebahu tergerai indah dengan hiasan bando putih diatasnya. Memakai dress renda perpaduan biru dan putih selutut dengan memakai jaket kardigan putih untuk menutupi lengan tangannya sampai siku. Gadis itu sangatlah cantik dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Dia memasuki sebuah restauran ala Perancis. Gadis itu berlari kecil ke arah meja yang ditujunya.


"Hah-hah. Maaf Tae Woo. Aku terlambat," kata sang gadis dengan tersengal-sengal mengatur nafas.


"Ya, it's ok."


"Aku bingung memilih baju yang cocok. Apa aku terlihat cantik memakai ini ?" Tanya sang gadis dengan mengangkat sedikit ujung dressnya.


"Ya, bagus," balas Tae Woo singkat karena malas jika dimintai pendapat oleh wanita soal fashion.


"Terimakasih. Apa kau sudah pesan sesuatu?"


Gadis yang bernama Kim Ji Won itu menatap Tae Woo dengan wajah yang berseri-seri.


"Kau bisa lihat sendiri kan?" tunjuk Tae Woo dengan arah mata ke meja makan dihadapannya.


"Hehe, maaf. Baiklah aku pesankan dulu ya."


"Kau makan sendiri saja, Ji Won. Aku ada urusan lain," ucap Tae Woo dengan santai tanpa melihat ekspresi Ji Won yang tiba-tiba merasa kecewa.


"Apa karena aku terlambat, Tae Woo ? Maafkan aku".


"Bukan itu. Aku ada urusan lain dengan noona," kata Tae Woo yang hendak pergi.


"Ta-tapi apa kau tidak bisa menemaniku sebentar saja ?" pinta Ji Won dengan menahan tangan Tae Woo.


"Sorry. I can't do it. Next time, Ok ?"


"Emm... ya ok."


Ji Won mencoba menahan tangis saat Tae Woo sudah mulai menjauh. Meninggalkannya sendiri dimeja restauran yang sudah dipesan secara privat. Dia bahkan sudah berusaha tampil sesempurna mungkin untuk bertemu Tae Woo.


"Lihat saja kau akan menjadi milikku! Jung Tae Woo."


Ji Won menangis karena ia sadar bahwa cintanya pada Tae Woo tak terbalas.


Ji Won tahu kalau Tae Woo susah ditaklukkan seperti pria-pria lain yang mengincarnya. Tapi ia pun sudah terlanjur cinta pada lelaki itu saat pertama kali bertemu dan sampai saat ini ia masih mencintainya. Entah kapan ia benar-benar menyerah.


.......


.......


.......

__ADS_1


-.-.-FLASHBACK-.-.-


"Dia siapa Ayah?" Tanya gadis kecil berumur 8 tahun yang baru saja menghampiri ayahnya.


"Ah, my little angel. Dia namanya Jung Tae Woo. Dia lebih tua 2 tahun dengan mu. Coba sana kenalan dengannya."


Dengan sedikit ragu-ragu ia pun berjalan ke arah anak laki-laki yang ada dibawah pohon taman rumahnya sedang asyik membaca buku. Dia merasa ingin berbalik saja pada ayahnya karena takut tapi melihat ayahnya sedang mengobrol dengan Ayah Tae Woo, maka itu Ji Won pun terus berjalan ke arah anak laki-laki itu.


"Haii.. Kau Tae Woo? Namaku Kim Ji Won," salam Ji Won dengan menjulurkan tangan kanannya hendak ingin berjabat tangan.


"Hn," balas Tae Wo tanpa memperhatikan lawan bicaranya.


'Aduh, sepertinya dia galak, oke coba lagi'


"Emm, kau baca apa?"


Ji Won mulai merasa bosan karena dari tadi Tae Woo sama sekali tak menoleh ataupun mengucap 1 huruf pun, hanya berkutat pada bukunya saja. Iapun mulai memandangi dan menulusuri setiap lekuk wajah Tae Woo mulai dari rambut, hidung yang mancung, pipi yang lembut untuk disentuh. Dia pun mengangkat telunjuknya untuk menyentuh pipi Tae Woo yang gembul. Ji Won sedikit terkekeh geli saat telunjuknya akan sampai.


"Apa-apaan kau!" sergah Tae Woo dengan menggenggam tangan mungil Ji Won yang hendak menyentuhnya.


Dengan tatapan yang marah menatap langsung ke arah bola Mata Ji Won. Iris hitam legam itu menatapnya. Sang lawan yang tangannya masih tergenggam hanya diam saja tak bergerak seperti patung. Memandang lebih dalam mata Tae Woo. Serasa terhipnotis, seperti tak menyadari detak jantungnya sudah berdegup kencang seperti orang dewasa yang sedang jatuh cinta. Aiish cinta sekarang tak memandang usia balita dan batita.


'Dia sangat tampan sekali'


Tae Woo yang tak tahu apa yang sedang terjadi pada gadis itu. Langsung segera saja melepas tangannya dan meninggalkan gadis itu sendiri dan menghampiri Ayahnya.


Ji Won masih mematung beberapa saat tapi dia tersadar dan menoleh kanan-kiri mencari Tae Woo. Ia langsung pergi ke arah ayahnya juga setelah tau dia di sana.


"Baiklah, kami permisi dulu Tuan Jung. Kita akan membahasnya lagi nanti," ucap Ayah Tae Woo dengan menjabat tangan teman atau rekan bisnisnya itu.


"Ya, Tuan Kim."


"Terimakasih. Oh Ji Won, paman pamit dulu ya. Ayo Tae Woo ucapkan sesuatu pada Ji Won."


Tae Woo pun hanya membalas, "Bye."


"Hehe, bye bye Tae Woo~" balas Ji Won dengan senyum yang lembut dan melambaikan tangannya ke arah cinta monyetnya itu.


Walau Tae Woo tak melihatnya karena dia telah pergi menuju mobil lebih dulu tapi Ji Won merasa senang bisa bertemu sesaat dengan Tae Woo.


'Kau akan menjadi milikku Jung Tae Woo!'


"Kau kenapa, sayang?" Tanya sang Ayah yang melihat anaknya tertawa sendiri.


"Tidak. Oh ya Ayah, apa aku bisa minta dia untukku ?"


"Hah? Kenapa kau meminta itu?" tanya sang Ayah heran.


Ji Won memang selalu dimanjakan oleh orang tuanya. Apapun yang diminta anak semata wayangnya itu maka orang tuanya akan memenuhinya. Tapi meminta seorang anak laki-laki yang baru dikenal anaknya bukanlah hal yang mampu dipenuhi.


"Karena aku suka dia. Ku mohon ayah. Aku mau dia jadi milikku," rengeknya.


"Ya baiklah. Tapi sekarang kau harus les piano dulu," jawab Ayahnya untuk dapat menenangkan anaknya itu. Karena Sang ayah belum tau apa yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan anaknya.


"Iyaa ayaah!" Seru Ji Won dengan ceria dan menggenggam tangan Ayahnya masuk ke dalam rumah.


-.-.-FLASHBACK END-.-.-


.......


.......


.......


Sedangkan di tempat lain..


Tae Woo berada didalam mobil lamborghini hitamnya dibasemant restaurant. Dia mengambil ponsel di saku jasnya dan menekan speed dial pada layar sentuhnya.


"Kau dimana?"


'Saya dikantor, Pak. Mau ke kantin dengan Yeon Hee. Ada apa?' Tanya seorang wanita diseberang telepon. Sudah pasti Tae Woo menghubungi sekretarisnya.


'Bukankah anda ada acara makan siang dengan Nona Kim Ji Won?'


"Dia membatalkannya. Sudah cepat keluar. Aku akan segera ke sana!" ucap Tae Woo bohong.


Entah kenapa Tae Woo berbohong yang pasti dia sudah mengaitkan sabuk pengamannya dan menyalakan mobil menuju kantor.


.......


.......


.......


.......


KANTIN KANTOR


"Kenapa, Eun Jo ?"


"Ah maaf, Yeon Hee. Sepertinya kau harus makan siang sendiri lagi. Aku harus pergi dulu. Ada urusan sebentar," ujar Eun Jo yang merasa tak enak pada Yeon Hee.


"Ya baiklah. Aku tahu kau mau makan siang berdua dengan Pak Tae Woo kan ?"


"Eh, bagaimana kau tau?"


'Mengapa Yeon Hee bisa tahu kalau aku sering makan siang dengan Pak Tae Woo?' Batin Eun Jo penasaran.


"Bukan hanya aku yang tahu. Tapi seluruh kantor pun tahu kau dan Pak Direktur yang baru sering berduaan. Apa jangan-jangan dia menyukai mu, Eun Jo?" Kata Yeon Hee dengan meletakkan telunjuk kearah dagu.


"Hey. Jangan ngawur kau! Aku tak mau hal ini akan menjadi gossip dan tambahkan kata 'mustahil' dalam kalimat kalau dia menyukaiku."


"Hehe, aku hanya bercanda, Cepat! Kau pasti sudah ditunggu didepan"


"Baiklah. Maaf ya~, bye."


.......


.......


.......


.......


"Masuklah!" ucap Tae Woo yang sudah ada didepan kantor.


Eun Jo yang menyadari mobil Tae Woo sudah didepannya, langsung saja ia masuk ke dalam.


"Kita mau kemana?"


Tanpa menjawab pertanyaan Eun Jo sebelumnya, Tae Woo sejenak memandanginya dari atas sampai bawah lalu ia mulai mendekat dan terus mendekat ke wajah Eun Jo.


Eun Jo merasa bingung apa yang dilakukan Tae Woo. Jantungnya agak tidak karuan dengan kelakuan yang mendadak seperti ini.


'Inikan masih didepan kantor? Tidak bisa ia memintanya nanti.'


Pikirannya sudah menjadi kacau. Pipinya bersemu merah saat wajah Tae Woo dan Eun Jo tinggal 3 cm lagi. OMG ! Tanpa sadar ia memejamkan matanya. Siap dengan apa yang akan mendarat nanti. Tangan Tae Woo seperti akan menggapai sesuatu.


'Set,' dia berhasil meraihnya.


"Sebaiknya kau pasang sabuk pengaman mu dulu," ucap Tae Woo tepat ditelinga kiri Eun Jo dan memasangkan sabuk pengaman.


Bagaikan telinganya baru saja terkena angin semilir yang lembut yang ia sadar bahwa itu adalah suara Tae Woo. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sekian detik dan dia cepat-cepat menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan salah tingkahnya. Tae Woo yang pura-pura tak menyadari tingkah lucu sang sekretarisnya pun hanya membenahi posisi duduknya dan mulai menjalankan mesin mobil.


'Bodoh ! Bodoh kau Eun Jo! kenapa kau bisa berfikir jika dia akan menciummu !' batin Eun Jo merutuki dirinya sendiri sambil memegang ke dua pipinya yang terasa panas. Malu untuk kesekian kali pun tak bisa terhindarkan. Ia pun memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.


"Kau mau makan apa?"

__ADS_1


"Karena anda telah membuatku tak jadi makan dengan Yeon Hee. Aku ingin makan steak daging Kobe."


Eun Jo tahu kalau daging kobe adalah daging sapi yang mahal dan rasanya sangat enak walaupun ia tak pernah memakannya, hanya mendengar di televisi. Bukan maksud untuk kurang ajar pada bosnya, tapi jahil sedikit tidak apa-apa kan ?


"Baiklah."


'Hah? tumben sekali dia baik dan tidak menjengkelkan ? Huh, pasti hanya bertahan beberapa jam saja'


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sudah tertarik pada ku?"


"APA! Ti-tidak. Siapa yang tertarik dengan anda?" elak Eun Jo yang memang sedari tadi melihat sifat Tae Woo yang tiba-tiba berubah.


'Suatu saat kau pasti akan tertarik pada ku' gumam Tae Woo.


"Anda bicara apa?" Tanya Eun Jo karena ia seperti mendengar Tae Woo bicara.


"Tidak."


"Iiih, ya sudah."


Eun Jo memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela mobil dan memilih untuk diam.


.......


.......


.......


"Turunlah!"


"Kita dimana?"


Eun Jo mendongak keatas memalui jendela mobil. Tae Woo yang sudah turun dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Eun Jo.


Eun Jo yang terlihat kaget dengan sikap Tae Woo -ya walaupun 'agak romantis' sih. Iapun turun dari mobil dengan kikuk. "Kita di Mall yang ada restoran Jepangnya, bukankah kau bilang ingin makan steak kobe?" ucap Tae Woo dengan menyentuh tangan Eun Jo.


Eun Jo melangkah mundur karena tiba-tiba tangan Tae Woo menggenggam tangannya.


"Kau kenapa?"


"Ah, tak apa-apa."


Eun Jo mencoba menghilangkan debaran jantungnya saat ini atas perlakuan Tae Woo yang berubah. Tapi Eun Jo tetap pada keyakinannya jika sifat Tae Woo ini hanya sementara. Tae Woo kembali menggenggam tangan Eun Jo masuk kedalam Mall. Iapun hanya bisa menelan ludah ketika masuk kedalam dan melihat terpanjang disisi kanan dan kiri koleksi Fashion branded terkenal. OMG! Mulai dari Armani Exchange, Gucci, Hugo Boss, Prada, Chanel, Louis Vuitton, Miu Miu dan Cristian Louboutin.


'Sepertinya gaji ku 3 bulan hanya bisa membeli pakaian dalam Victoria's Secret saja' batin Eun Jo sedih meyakinkan dirinya kalau pakaian, tas dan sepatu di Mall ini sangat mahal dan pasti akan menguras dompetnya seumur hidup. Ingat! Seumur hidup !


Tae Woo terus saja menggenggam tangan Eun Jo, yang tanpa ia sadari kalau banyak pasang mata di Mall itu melihat mereka seperti sepasang kekasih yang serasi. Sedangkan Tae Woo santai saja tapi para pasang mata itu tak bisa melihat kalau Tae Woo tersenyum tipis.


"Berapa banyak air liur yang kau buang karena melihat itu semua?" ujar Tae Woo menyadarkan lamunan Eun Jo.


"Ayo masuk."


Tae Woo menghampiri sang resepsionis restauran, sang resepsionis pun sudah tau apa yang dimaksud dan langsung saja menyuruh pelayan mengantar tamu khusus ke meja makannya.


Tae Woo dan Eun Jo sudah berada dimeja makannya. Tempatnya sangat privat hanya 2 kursi dan 1 meja dari kayu ebony. Sangat simpel tapi elegan. Dan paling membuatnya takjub adalah mereka makan dengan menghadap pemandangan semua penjuru kota Gangnam yang terkenal akan bangunannya yang megah.


"Ini indah sekali" ucap Eun Jo dengan tersenyum.


"Hn, duduklah"


"Eh, maaf Pak Tae Woo, sebenarnya saya cuma bercanda kalau minta steak kobe. Ternyata anda benar-benar mengajak saya kesini. Sepertinya saya tidak sanggup membayarnya. Disini makanannya pasti mahal sekali"


"Bodoh! Tentu saja aku mentraktir mu."


"Hah? Yang benar. Tapi tunggu! Anda tidak kenapa-kenapa kan? Kenapa anda tiba-tiba jadi baik." Tanya Eun Jo penasaran.


"Aku baik-baik saja," jawab Tae Woo dengan nada kesal.


"Ya karena anda tidak seperti biasanya, khawatir jika anda terbentur sesuatu dan menyebabkan anda akan menjadi baik seperti ini dan sepertinya anda tidak boleh terbentur lagi hehe"


Canda Eun Jo dengan tangan membentuk huruf 'V' yang artinya 'peace'. Tae Woo pun tersenyum -yang kali ini garis senyum yang terlihat jelas saat mendengar candaan Eun Jo.


Eun Jo sedikit merasa aneh, bosnya bukannya marah karena diledek tapi malah tersenyum. Seakan terhipnotis dengan senyum langka Tae Woo yang tidak pernah ia lihat, Eun Jo pun tersenyum lembut kearah Tae Woo. Mereka saling memandang dan memberi senyuman. Namun tak bertahan lama karena sang pelayan telah datang untuk menyajikan hidangan.


Tae Woo dan Eun Jo pun memakan hidangan yang telah disajikan dalam diam -kecuali Eun Jo yang selalu memberi komentar setiap menu yang ia makan, yang sudah seperti pembawa acara kuliner.


.......


.......


.......


"Hah~ kenyangnya." Lega Eun Jo sambil memegang perutnya setelah keluar dari restauran.


"Makan mu banyak sekali, seperti tidak pernah makan saja."


"Bukan tak pernah makan, salah sendiri makanannya enak sekali, hehe. Apa sekarang kita kan ke kantor? karena kita sudah lama keluar kantor."


"Tunggu dulu, ikut aku," kata Tae Woo dengan menggenggam tangan Eun Jo lagi -yang kali ini kelihatan menarik.


Mereka akhirnya sudah didepan suatu butik dengan koleksi pakaian-pakaian yang super bagus dan terlihat mahal.


"Pilihlah."


Eun Jo hanya menoleh ke arah Tae Woo heran kenapa ia disuruh memilih pakaian disini.


"Sudah cepat pilih yang kau suka," ucap Tae Woo dengan merangkul pundak Eun Jo ke arah pegawai butik.


Bagaikan kejatuhan duren montong alias Hoki. Eun Jo pun langsung memilih sebuah dress bewarna putih yang bentuknya simpel, panjangnya hingga atas lutut. Eun Jo langsung mengambil dress itu dan berlari ke ruang ganti.


"Bagaimana ? bagus tidak ?"


"Ehem, Yaa lumayan."


Butuh beberapa detik untuk Tae Woo membalas pertanyaan Eun Jo, selain memang dia tidak jago mengomentari hal-hal yang berbau fashion wanita, tapi karena sedikit terpesona dengan wanita dihadapannya itu. Cantik, elegan, manis. Hah? Apa dia baru saja memuji kecantikan wanita? Sepertinya Tae Woo lupa apakah ini pertama kali memuji seseorang atau tidak ?


"Sudah, cepat ganti baju mu. Kita harus kembali kekantor secepatnya" kata Tae Woo mengibas-ngibaskan tangan dihadapan wajahnya layaknya mengusir kucing.


"Yaa.. baiklah."


.......


.......


.......


"Terimakasih untuk makan siang dan pakaiannya, Pak Tae Woo. Tapi kenapa anda membelikan dress ini ?" Tanya Eun Jo yang sudah berada di mobil menuju kantor.


"Pakailah saat acara noona nanti malam, akan ku jemput."


Tae Woo memang sudah begitu hafal jalan ke rumah Eun Jo, karena dia sering mengantarnya pulang.


"Memang ada acara apa nanti? sampai-sampai harus ikut segala."


"Sudahlah, ikut saja."


Eun Jo yang tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah itu berkaitan tentang hidupnya atau tidak. Nasib baik atau jahat. Beruntung atau sial.


Tak ada seorangpun yang bisa menduga masa depan


bukan ?


.......


.......


.......

__ADS_1


...TBC...


...^^...


__ADS_2