PACAR SEWAAN CEO

PACAR SEWAAN CEO
Bab 5. Perjanjian


__ADS_3

Tak terasa, hari kemarin berganti hari sekarang. Merasa cobaan yang kemarin dirasakan tak akan bisa hilang dengan bergantinya petang. Eun Jo terus saja berguling di kasur empuknya. Memejamkan mata rapat-rapat. Takut jika membuka matanya, mimpi buruk yang dialaminya menjadi kenyataan.


"Haarrrghhh.. ini pasti mimpi… iya ini pasti hanya mimpi!"


Eun Jo bangun dan duduk, mencengkram kuat rambutnya. Hal yang 'seharusnya' menyenangkan baginya karena baru saja bertemu pangeran yang hilang entah kemana dan akhirnya dapat bertemu kembali, tapi nyatanya dalam bertemu acara yang membuatnya sedih.


Lingkaran hitam disekitar mata terlihat mengerikan. Membuktikan dia begadang semalam dengan bekas air yang bercucuran membasahi bantal. Iya, ia menangis mengulang kejadian kemarin yang tidak terduga. Ingin rasanya tetap bergulung dibawah selimut dan tak harus berangkat kerja, tapi kalau bukan karena bosnya yang lebih mengerikan, lebih baik dia membolos kerja.


'Rasa sakit ini pasti berlalu' gumam Eun Jo sambil berjalan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


.......


.......


.......


.......


KANTIN KANTOR. 7.00


"Wow! Apa yang terjadi pada mu, Eun Jo?" tanya Yeon Hee yang baru menghampirinya di kantin.


Yeon Hee melihat lingkaran hitam disekitar mata Eun Jo. Dia tahu kenapa, pasti karena begadang dan menangis, tapi penyebabnya masih akan dikoreknya.


"Kau tidak akan percaya, Yeon Hee."


"Aku tidak akan percaya, jika kau belum menceritakannya." Yeon Hee mulai duduk manis didepan Eun Jo. Melipat kedua tangan didepan dada. Siap mendengarkan curhatan sang sahabat.


"Aku bertemu dia."


Hanya terucap inisial 'dia' yang dipakai untuk sang tokoh yang dibicarakan. Dia merasa malas jika harus mengucap nama itu.


"Dia? Dia siapa ? Yang jelas!" Tanya Yeon Hee semakin penasaran.


Eun Jo masih enggan mengucap nama itu, "Mantan kekasih ku dulu."


"Maksud mu.. Jong Hyun?"


Hanya anggukan yang menyatakan jawaban Yeon Hee benar.


"Hah? Yang benar ? Kapan ? Dimana ?" Yeon Hee merasa tak percaya, jika sahabatnya akan bertemu kekasihnya dulu, karena dia tahu kisah percintaan meraka dan bagaimana sedihnya Eun Jo saat berpisah dari kekasihnya itu. Yeon Hee tahu benar.


"Sstt, Bisa kau pelankan suara mu!" Eun Jo melihat sekitarnya, untung saja masih sepi diarea kantin.


"Ups, maaf. Kapan kau bertemu dengannya ?" Tanya Yeon Hee sedikit berbisik.


"Kemarin. Di pesta pertunangan nona Yeo Woo."


"Kenapa dia ada di sana ? apa dia diundang jadi tamu ?"


"Bukan. Tapi.. jadi tunangannya."


Pada akhirnya Eun Jo harus menceritakan sebab kenapa ia menangis kemarin malam kepada sahabatnya, untung matanya saat ini sudah kering dengan air mata sehingga dia tidak perlu menangis lagi didepan umum bahkan didepan sahabatnya sendiri.


"Aapp-- " Yeon Hee menutup mulutnya. Hampir saja ia berteriak. "--pa ? kenapa bisa ?"


"Hmm, aku juga tidak tahu kenapa harus dia." Eun Jo tertunduk. Semangat cerianya hari ini benar-benar hilang entah kemana.


"Tunggu saja! Dia pasti akan menyesal dan kau pasti mendapatkan lebih baik dari si otak encer brengsek itu!"


Eun Jo mau tak mau tersenyum melihat semangat konyol Yeon Hee. Saat di SMA, dia selalu memanggil Jong Hyun dengan sebutan si otak encer.


"Yah~ kau benar, Yon Hee. Dia pasti menyesal karena berani meninggalkanku. Hehe..." Senyum Eun Jo sudah kembali walau masih harus dipaksakan.


"Nah, beginikan lebih baik kalau kau tersenyum dan jangan lupa semangat muda mu!"


"Hahaha, sepertinya kau mulai selingkuh dengan pegawai baru itu ya, sampai-sampai katanya masuk ke otak mu."


Ya beberapa minggu ini, Yeon Hee selalu didekati oleh laki-laki bernama Bae Ini Hyuk, pegawai baru yang saat ini duduk disebelahnya, menggantikan Eun Jo yang sudah pindah ke ruangan baru. Dan selalu membuat Yeon Hee merinding didekatnya. Biasa, ceramah pagi, kata-kata semangat muda yang selalu diucapkan dan tentu saja kerlingan mata menggoda.


"Enak saja! Sang Hoon tetap di hati ku dan di hati mu akan ada Pak Tae Woo, hehe.. peace," goda Yeon Hee dengan jari kanan membentuk huruf 'V' yang tentu saja membuat Eun Jo salah tingkah dan mengejar si penggoda yang sudah kabur.


"Awas kau ya !"


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


"Huh! cepat juga dia larinya."


Eun Jo sudah masuk ke ruangannya. Masih tersengal-sengal mengatur nafas habis mengejar Yeon Hee ditangga darurat. Mengejar dari lantai 2 ke lantai 4. Entah ada berapa banyak anak tangga yang ia tapaki. Dan yang paling gila mengejar dengan menggunakan sepatu highheels 7 cm.


"Hmm, apa ya agenda hari ini ?" Eun Jo bertanya kepada dirinya sendiri. Entah karena suatu masalah membuatnya lupa akan apa yang ia kerjakan.


"Hari ini, ada meeting dengan perusaahan furniture e-gloss dari Eropa. Oke baiklah, ayo kita siapkan materinya."


Eun Jo yang hendak menuju tempat duduknya yang menghadap pintu tapi terhenti karena ia mendengar pintu dibuka.


'Pak Tae Woo selalu saja telat,' gerutu Eun Jo dalam hati.


"Sekarang anda akaaa… nn," baru saja Eun Jo berbalik untuk memberitahukan jadwal agendanya pada Tae Woo. Tapi sayang bukan bosnya yang muncul.


"Kenapa kau ada disini ?"


Eun Jo hampir saja terjungkal kebelakang melihat orang yang paling ingin ia hindari.


"Emm, aku ada kerjasama dengan Tae Woo, tapi sepertinya dia belum datang." Jong Hyun tampak kikuk bertemu Eun Jo. Ya memang sudah lama tak ada perbincangan antara mereka.


"Oo, kau bisa menunggunya diruang meeting."


Eun Jo berusaha menutupi kegugupannya senormal mungkin, menunjukan bahwa dia baik-baik saja.


"Eun Jo, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." Jong Hyun mulai menuju topik pembicaraan yang sebenarnya.


"Tidak perlu. Bukankah ini sudah berakhir untuk kita ?"


Eun Jo mencoba menghindari topik yang akan membuatnya menangis lagi.


"Kumohon, Eun Jo. Apa yang terjadi kemarin malam bukanlah keinginanku."


Wajah Jong Hyun terlihat sendu. Lingkaran hitam disekitar matanya juga tampak sama dengannya.


"Apa itu terdengar penting?" Tanya Eun Jo sarkas.


"Terserah. Yang penting aku masih sangat mencintaimu Eun Jo, selama ini aku selalu mengingatmu."


Jong Hyun mulai mendekatinya. Tapi ia malah mundur setiap langkah yang Jong Hyun ambil.


"Lalu ? Jika kau masih mencintaiku, apa semua akan menjadi baik-baik saja? Aku rasa dengan otak jenius mu, kau pasti tahu ini akan menjadi sia-sia. Buktinya jika kau masih mencintaiku, tapi kenapa kau tetap melangsungkan pertunangan itu ?"


"Yah, tapi itu diluar keinginanku. Sungguh, Eun Jo. Aku menginginkanmu. Kerjasama antar perusahaan gila ini yang membuatku menjadi bodoh."


Tegar adalah sikap yang Eun Jo ambil saat ini. Hanya mencoba untuk terlihat kuat, walau didalam hatinya benar-benar rapuh dan bisa saja dengan 1 sentuhan bisa membuatnya hancur berkeping-keping.


Jong Hyun tahu apa yang saat ini dirasakan Eun Jo . Kekecewaan dan sakit hati. Jong Hyun mencoba mendekat dan Eun Jo yang hanya diam. Jong Hyun memberanikan diri memeluk Eun Jo, mendekap begitu erat. Mengusap punggungnya, menenangkan tubuh sang gadis yang bergetar, tanda Eun Jo menangis. Dia hanya ingin seperti dulu, kebahagiaan bersama cintanya.


"Tapi hanya kau yang bisa membuatku bahagia, Eun Jo," ucap Jong Hyun sambil menghirup aroma tubuh yang selama ini dirindukan. Tak puas hati untuk melepasnya. Sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Menenangkan.


Hampir saja Eun Jo terbuai menerima perlakuan Jong Hyun, sama seperti dulu jika ia sedang menangis. Eun Jo melepas pelukan Jong Hyun pelan. Mundur untuk memberi jarak yang jauh.


"Tidak Jong Hyun. Masa ku membahagiakanmu sudah berakhir. Sekarang saatnya kau yang harus membahagiakan seseorang yang mencintaimu, yaitu Nona Yeo Woo. Kau calon suaminya. Aku yakin suatu hari kau akan mencintainya melebihi kau mencintai ku. Jika aku punya waktu untuk menunggu mu, sepertinya aku juga punya waktu untuk melupakanmu."


Bohong. Kata-kata yang keluar tak sealur dengan kata hatinya. Entah ingin membohongi hatinya, mencoba tegar atau sebuah pengharapan agar Jong Hyun bisa melupakannya.


Eun Jo menghela nafas mengatur isak tangisnya. Berbalik membelakangi Jong Hyun. Mengusap sisa air mata dan berpura-pura membereskan meja. "Sekarang kau bisa menunggu Pak Direktur diruang meeting. Aku akan menghubunginya dan memberitahukan kalau kau sudah menunggu."


"Hemm, baiklah. Maaf." Kata terakhir yang terdengar oleh telinga Eun Jo. Entah suara itu akan terdengar kembali atau tidak. Hanya suara pintu menutup yang mengakhiri percakapan diantara mereka.


.......


.......


.......


.......


"Kenapa? Kenapa? Kenapa dia harus datang ? alasan cintanya yang malah membuatku sakit. Dasar laki-laki brengseekk !"


Eun Jo berusaha menguras segala emosi dan air mata yang masih tersisa dimatanya. Mencoba menenangkan diri didalam toilet.


"Hiks.. hiks.. Aku juga masih mencintaimu dan kau masih ada dalam hati ku. Aku belum tahu bagaimana cara melupakanmu, apakah ada cara melupakan mu ?" Pertanyaan yang harusnya tertuju pada Jong Hyun, hanya mampu ia lontarkan didepan cermin. Mengisyaratkan bayangannya akan menjawab dan memberikan solusi padanya.


"Sudah ku bilang jangan terharu disini," ucap seseorang dengan memberikan sapu tangan ke arah Eun Jo.


"Terima kasih."


Eun Jo menerima saputangan itu tanpa menoleh. Tapi ia merasa curiga kepada seseorang itu. Dia tadi sudah memastikan bahwa toilet kosong. Lalu siapa seseorang dibelakangnya saat ini ? apa hantu penunggu toilet ? tapi kenapa suaranya terdengar serak-serak basah dan familiar ?


Sepertinya Eun Jo harus segera ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan jantung, karena dia mengalami shock jantung 2 kali dalam sehari.

__ADS_1


"Pak Tae Woo ! Kenapa anda ada disini? anda tidak sedang mengintip wanita kan ?" Tanya Eun Jo dengan raut muka ketakutan, seperti baru saja melihat sosok yang lebih seram dari hantu penunggu toilet.


"Bodoh! Pikiranmu kotor sekali. Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan disini?"


"Saya masuk karena ini toilet wanita," jawab Eun Jo sambil cepat-cepat mengusap sisa air mata dan ingus menggunakan sapu tangan pemberian Tae Woo.


Tae Woo hanya bisa menggelengkan kepala bosan dan menunjuk sesuatu dibelakang Eun Jo dan ia mengikuti arah jemari Tae Woo dan melihat gambar yang terpajang di pintu bagian atas. Suatu simbol yang anak-anak juga tau. Ini adalah toilet… 'laki-laki'.


'Bodoh! bodoh kau Eun Jo. Sudah berapa kali kau terlihat bodoh didepan Tae Woo. Untung hanya dia yang ada di toilet, bagaimana jika lelaki genit yang memergoki mu.' 


Eun Jo merutuki kecerobohannya yang tidak bisa hilang dari dulu. Masuk tanpa melihat papan toilet karena terburu-buru.


"Ah benar juga, hehe. Maafkan saya Pak Tae Woo. Sepertinya saya harus segera pergi." Eun Jo hendak kabur dari toilet, tapi..


"Tunggu! Apa kau benar-benar ingin melupakan dia ?" Tanya Tae Woo yang membuat Eun Jo memiringkan kepala arti tak mengerti.


"Hem, maksud anda ? apa anda mendengar apa yang saya katakan tadi?"


"Ya begitulah. Mungkin aku punya solusi untuk itu. Walau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa 'dia' itu," ucap Tae Woo bersandar ditembok dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Solusi ? Apa ?" Tanya Eun Jo penasaran.


"Kau jadi kekasih ku."


Kau- jadi- kekasih-ku. Kata per kata masuk ke telinga Eun Jo dan terangkai jadi satu di otaknya.


Krik.. krikk… alis kiri Eun Jo berkedut.


"Bukankah kau ingin menghindarinya? atau mungkin kau juga bisa melupakannya. Jika kau memiliki kekasih baru kau bisa mewujudkannya," jelas Tae Woo.


"Jika itu memang solusi. Apa untungnya ?"


"Pertama, kau bisa membuatnya cemburu. Kedua, perhatianmu bisa teralihkan dari dia. Dan yang ketiga, aku tidak perlu melakukan perjodohan."


"Perjodohan ? apa keluarga anda suka melakukan perjodohan ?"


Eun Jo tidak habis pikir tentang para keluarga kaya ini. Apa anaknya tidak ada yang bisa mencari jodoh sendiri. Perjodohan yang menguntungkan 1 pihak saja. Orang tua diuntungkan tapi perasaan anaknya tidak dipedulikan.


"Maybe." Tae Woo mengangkat bahunya.


"Status kekasih akan putus saat kau sudah bisa melupakan dia atau perjodohan ku dibatalkan."


"Kenapa anda tidak mencari wanita lain saja yang bisa anda jadikan pacar pura-pura?"


"Aku tak punya banyak waktu untuk mencari hal yang tidak penting. Bukankah ini suatu hal yang menguntungkan kedua belah pihak. Bagaimana ?"


"Hanya itu kesepakatannya ?" Tanya Eun Jo memastikan. Dia tau kesepakatan ini ada keuntungan untuknya. Tapi dia tak mau dapat masalah setelahnya.


"Ya. Aku memberikan solusi untuk membuatmu melupakan seseorang dan keuntungan pribadi ku juga. Bukan sebagai pengisi hati mu. Atau kau ingin lebih dari itu ?" Tanya Tae Woo menunduk dan memajukan wajahnya ke arah Eun Jo. Menyisakan jarak 3 cm. Untung saja tidak ada CCTV dikamar mandi.


"Ti-tidak. Saya setuju!" jawab Eun Jo gugup.


"Benarkah? Sebaiknya kau pikirkan dulu."


"Tidak perlu."


Dia sudah pusing untuk mencari jalan keluar akan masalahnya. Selagi ada yang


mau membantunya walau itu bosnya sendiri. Tak ada ruginya untuk mengambil kesempatan itu. Masa bodohlah.


"Oke. Deal my dear." Kecup bibir Tae Woo tepat di pipi kanan Eun Jo. Sebuah tanda kesepakatan telah disetujui kedua belah pihak, tak perlu hitam di atas putih dan permainan pun dimulai.


"Sebaiknya kita keluar. Aku tak mau kau dikira sedang mengintip lelaki," ucap Tae Woo santai.


Kata-kata Tae Woo terdengar samar ditelinga Eun Jo. Dia belum sadar akan apa yang baru saja terjadi. Mematung dengan wajah seperti kepiting rebus. Sedangkan Tae Woo hanya menanggapinya biasa dan pergi meninggalkan Eun Jo.


Yaps. Takdir apa yang mereka buat?


.......


.......


Kebahagiaan atau penyesalan akan datang di akhir keputusan yang kau pilih diawal. Sudahkan kau membuat keputusan yang akan kau ambil dengan baik ? pikirkanlah baik-baik.


.......


.......


.......


...TBC...

__ADS_1


...^^...


__ADS_2