
Episode Sebelumnya..
"Jessica. Ayo bangun." ucap Aska yang telah mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu untuk bangun.
Jessica pun yang melihatnya hanya terdiam. Sehingga laki-laki itu berjongkok di samping gadis itu. "Ayo, aku antarkan kamu pulang. Air matamu sangat berharga jika di jatuhkan ditempat seperti ini, Ayo aku bantu kamu berdiri."
Aska pun membantu Jessica untuk berdiri saat telah mendapatkan anggukan kepala dari gadis itu. Aska pun lalu menuntunnya ke arah motornya lalu menghidupkan motornya.
Setelah itu. Aska menjalankan motornya agak menjauh dari kerumunan, dan setelah dirasa sudah jauh. Laki-laki itu menghentikan motornya. Lalu, laki-laki itu dan menatap wajah Jessica yang kini masih mengeluarkan air matanya.
"Tunggu sebentar ya. Aku tidak akan lama." ucap laki-laki itu. Dan pergi ke arah di Tony masih berdiri di tempatnya dengan kepala yang menunduk.
"Tony.. sekarang aku sudah memenangkan taruhan itu. Jadi sekarang kamu sudah tidak berhak lagi atas Jessica. Karena sekarang dia sudah menjadi milikku! Besok aku beri kamu kesempatan untuk bertemu dengannya dan segera akhiri hubungan mu, seperti yang sudah kamu sepakati." ucap Aska dengan datar. Setelah mengatakan itu, laki-laki itu kembali menghampiri Jessica yang masih diatas motornya.
"Maaf menunggu lama." ucap Aska dan kembali menaiki motornya dan mereka berdua pun melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Tony yang melihat kepergian gadis itu hanya menyesali perbuatannya. Laki-laki itu kini sungguh menyesal telah mempertaruhkan kekasihnya yang telah bersamanya selama enam tahun ini.
"Maafkan aku Jessica. Maafkan aku." lirih Tony yang telah menyesali perbuatannya sendiri yang kini gadis itu akan menjadi milik orang lain.
****
Aska dan Jessica telah sampai di depan rumah gadis itu. Keduanya pun turun setelah gadis itu turun lebih dulu. Aska menerima helm yang di gunakan oleh gadis itu.
"Makasih ya, udah nganterin aku sampai rumah." ucap Jessica dengan mata yang mulai sembab.
Aska yang melihat gadis itu menunduk dengan tangannya yang memegang erat baju yang ia pakai. Seketika laki-laki itu merasa sangat menyesal telah menerima tawaran taruhan dari rivalnya itu. Aska pun mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Jessica yang masih menundukkan kepalanya, mendongak menatap ke arah Aska yang sedang tersenyum tulus kepadanya. Jessica pun tak banyak berkata apa-apa sejak kejadian beberapa menit yang lalu.
"Maaf ya sudah membuatmu menangis," ucap Aska dengan mengelus lembut tangan gadis itu. Jujur ia tak tega melihat gadis itu terlihat sedih. Apalagi dirinya yang telah menerima tawaran dari Tony.
"Gak apa-apa kok. Mungkin Tony memang tidak benar-benar mencintaiku. Sehingga dia... Hiks!" Jessica pun akhirnya menangis saat dirinya sudah tidak bisa lagi mengatakan apapun.
Dan dengan cepat pula. Aska langsung meraihnya ke dalam pelukannya. Membenamkan nya ke dalam pelukannya. Aska pun menepuk-nepuk punggung Jessica mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku janji, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu atau membuatmu menangis lagi. Aku janji Jessica." ucap Aska dengan terus menenangkan gadis itu yang masih menangis di pelukannya.
Sedangkan di sisi lain. Tony tampak frustasi dengan apa yang sudah terjadi. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar sehingga membuat wajahnya terlihat memerah. Sehingga terlihat bulir-bulir bening menetes ke pipinya.
"Bro! Kamu nggak apa-apa?" tanya Anton. Temannya itu melihat bahwa laki-laki itu nampak frustasi di atas motornya.
Tony dengan cepat menghapus air matanya yang mengalir. Yah, laki-laki itu sedang menangis dan Anton melihat itu. Namun, laki-laki itu berpura-pura tidak mengetahuinya.
Anton menepuk pundak laki-laki itu dan ikut duduk di salah satu motor yang berada di samping motor milik Tony. Anton duduk dan menghela nafasnya dengan cepat. "Aku ini pasti berat untuk kamu menerimanya. Tapi, percayalah! Jessica jauh lebih berat menerima semua ini. Apalagi.. dia tau kalau kamu sudah menjaminkan dirinya untuk Aska."
Tony nampak terdiam. Memang benar apa yang di katakan oleh temannya itu. Bahwa kekasihnya atau sudah bisa di bilang mantan kekasih itu jauh lebih berat menerima semua ini. Gadis itu mungkin sudah membenci dirinya. Tony yakin itu.
"Mungkin ini sudah jalan takdirmu Tony. Kau juga harus merelakan nya." ucap laki-laki itu.
Tony menggeleng Kecil. "Tapi... aku sangat mencintainya, Anton. Kita sudah tujuh tahun bersama."
"Lalu, apa kamu juga ingin mengambilnya kembali? Setelah kamu sendiri yang membuat janji itu?" skakmat Anton. Membuat Tony tidak dapat menutupi air matanya yang kembali mengalir.
"Sudahlah! Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Memang berat merelakan seseorang yang telah bersama kita hingga bertahun-tahun lamanya untuk seseorang yang juga kita benci. Tetapi.. bukan berarti, kamu juga harus mengingkari janji yang sudah kamu buat sendiri. Itu bukanlah laki-laki gentleman kau harus tau itu." setelah mengatakan panjang lebar. Anton pun bangkit dari tempat duduknya dan kembali menepuk pundak temannya.
__ADS_1
"Aku yakin. Aska bisa menjaganya dengan baik. Sama seperti kamu menjaganya dengan baik." ucap Anton. Lalu laki-laki itu pergi begitu saja meninggalkan Tony yang masih terdiam di tempatnya dengan tatapannya yang terlihat kosong.
••••••
"Masuklah." ucap Aska saat gadis itu sudah jauh lebih baik.
Jessica pun hanya mengangguk kecil dan membuka pagar rumahnya yang tidak terkunci. Kemudian gadis itu hendak membuka pintu rumahnya, namun, gadis itu membalikkan badannya melihat ke arah Aska yang masih di tempatnya menunggu gadis itu masuk.
Aska juga terlihat menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. dan bergumam tanpa bersuara. "Masuklah! Aku juga akan segera pergi jika kamu sudah masuk."
Jessica pun akhirnya masuk dan menutup pintu rumahnya. Kemudian Aska pun menghidupkan motornya dan melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah gadis itu.
Sedangkan Jessica sudah mengintip dari balik jendela kamarnya. Melihat kepergian Aska yang sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya. Jessica menutup kembali gordennya dan hendak naik ke atas kasurnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah bingkai foto.
Jessica menghampiri bingkai foto tersebut dan mengambilnya. Gadis itu nampak berkaca-kaca saat melihat dua orang yang ada di dalam bingkai tersebut. Yakni dirinya dan juga Tony yang sedang terlihat tersenyum lebar mereka berdua juga nampak sangat bahagia saat melihat ke arah kamera. Terlihat jelas dari senyuman keduanya. Namun, hal itu. Akhirnya membuat mereka harus berpisah seperti ini.
"Kamu jahat! Kamu jahat Tony! Aku sangat membencimu." isaknya. Gadis itu memeluk bingkai foto itu dengan sangat erat. Gadis itu sangat terpukul dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Eh lebih tepatnya mantan kekasih.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...
__ADS_1