Pacarku Hasil Taruhan

Pacarku Hasil Taruhan
Episode 18.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Makanya, jangan terlalu menggemaskan seperti itu. Biar orang-orang yang melihatnya tidak gemas ingin mencubitnya."


"Ih sakit Aska! Memang kamu tidak sakit kalau di cubit seperti ini, hah? Sini biar aku cubit juga biar tau sakitnya seperti apa." Jessica pun langsung mencubit pipi laki-laki dengan keras. Sehingga Aska menepuk tangan Jessica.


"Auw! Jessica ini sakit!"


"Sakit, kan? Itu juga yang aku rasain tadi." ucap gadis itu.


"Ya tapi, kan. Aku mencubitnya tidak terlalu keras! Tapi kamu malah membalasnya dengan begitu keras." ujar Aska sembari mengelus pipinya yang kini terlihat memerah.


"Bodo! Week!!" Jessica menjulurkan lidahnya pada laki-laki itu.


"Cih!" Aska pun tersenyum saat gadis itu menjulurkan lidahnya. Nampak sangat menggemaskan bagi Aska. Namun, laki-laki itu harus mengontrol dirinya untuk tidak menculik gadis itu karena terlalu gemas.


"Kamu mau pulang nggak?"


Jessica menghentakkan kakinya saat laki-laki itu sudah menghidupkan motornya. "Ih! Aska. Bisa nggak sebentar lagi pulangnya? Aku masih mau di sini dulu."


"Yaudah! Kalau gitu aku tinggal."


"Yak! Yak! Tunggu! Yaudah, ayo kita pulang." ucap Jessica dengan kesal. Gadis itu pun langsung duduk di belakang punggung laki-laki itu.


Dan keduanya pun pergi dari tempat wahana itu. Menuju ke arah rumah Jessica, karena laki-laki itu tidak ingin orang tua dari gadis itu mengkhawatirkannya anaknya.


...****...


Keduanya pun sampai di rumah gadis itu. Keduanya pun turun dari motor, dengan Aska yang mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu rumah itu.

__ADS_1


Aska pun mengetuk pintu rumah itu. Dengan menahan tangan Jessica yang hendak membukanya. Laki-laki itu masih mengetuk pintu tersebut saat sang tuan rumah belum membukakan pintu rumahnya.


"Aska, aku aja yang buka. Kan aku juga ada kuncinya ini." ucap Jessica dengan mengeluarkan kunci rumahnya dari dalam tasnya selempang nya dan menunjukkannya kepada laki-laki itu.


Aska pun yang melihat hanya menggelengkan kepalanya dan kembali mengetuk pintu rumah gadis itu. Setelah beberapa saat. Pintu pun terbuka dan terlihat wanita paruh baya atau mama Jessica tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua.


"Sudah pulang?" tanya Mira saat melihat sang anak dan juga laki-laki yang tadi pagi datang dengan meminta izin untuk membawa sang anak jalan-jalan telah kembali.


"Iya, ma." jawab Jessica.


"Iya, Tante. Maaf, jika saya lambat mengantarkan Jessica pulang, seperti yang Tante katakan pagi tadi. Saya minta maaf Tante." ucap Aska sembari menundukkan kepalanya tanda meminta maaf kepada orang tua gadis itu.


Mira pun yang melihat laki-laki itu begitu sopan, hanya menganggukkan kepalanya. Mira pun mengelus lengan laki-laki itu. "Tidak apa-apa kok. Lagian Jessica tadi sudah memberitahu kepada Tante kalau kalian akan pulang lambat. Dan Tante, Oke-oke saja jika kalian memang pulangnya terlambat. Eh! Tapi malah kalian sudah pulang."


Aska melirik ke arah Jessica yang sedang menatap sang mama yang lagi tersenyum ke arah Aska. Ia juga melihat bahwa gadis itu sedang jengkel terhadapnya, karena sudah membawanya pulang lebih cepat.


Aska kembali melihat ke arah Mira. Orang tua Jessica. "Baiklah, Tante! Kalau begitu saya pamit dulu."


Aska kembali melirik ke arah Jessica. Namun, lagi-lagi gadis itu hanya menatap sang mama dan tidak meliriknya sedikit pun.


'Mungkin dia lagi marah sama aku karena sudah membawanya lebih awal.' gumam Aska dalam hatinya. Laki-laki itu tersenyum saat melihat gadis itu yang enggan melihatnya.


"Tidak perlu Tante. Terimakasih! Tapi, saya harus pulang, karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan di rumah. Sekali, terimakasih sudah mengizinkan saya membawa Jessica." ujar Aska.


"Begitu ya... Yaudah kalau memang begitu. Hati-hati di jalan ya nak. Dan jangan sungkan untuk datang kembali ke sini. Karena rumah ini selalu terbuka." balas Mira kepada teman anaknya itu. Entah kenapa, Mira sangat menyukai laki-laki di hadapannya itu. Karena menurutnya laki-laki yang ada di depannya ini begitu sopan terhadapnya.


"Iya, Tante. Kalau begitu saya pamit dulu. Jessica aku pamit pulang dulu ya." ucap Aska. Kemudian, laki-laki itu sudah menghidupkan motornya dan melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah gadis itu.


Jessica yang melihat laki-laki itu sudah menghilang dari pandangannya pun langsung berlari kecil ke arah pagar rumahnya. "Itu orang, bikin aku kesal sekaligus bikin aku penasaran."

__ADS_1


"Jessica...," panggil sang mama.


Jessica yang sedang berdiri di dekat pagarnya menoleh. "Iya, ma?"


"Ayo, masuk! Ini sudah sore sayang." ucap sang mama.


"Iya, ma." Jessica pun masuk mengikuti langkah sang mama yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumahnya.


"Loh! Anak papa sudah pulang? Katanya, mama kamu pulang terlambat. Tapi ini kok udah pulang?" suara berat terdengar familiar di telinga Jessica. Gadis itu menoleh dan benar saja suara berat tersebut adalah papanya yang sedang duduk dengan secangkir kopi di tangannya.


"Tau tuh si Aska! Dia ngebet banget pengen nganterin aku pulang. Katanya, dia takut papa sama mama akan marah kalau dia sampai telat nganterin aku pulang." ucap Jessica sembari mengerucutkan bibir bawahnya.


Papa dan mamanya hanya saling pandang dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang putri yang sudah terlihat kesal. Mira dan sang suami, menghampiri sang anak dengan sang papa yang langsung merangkul putri semata wayangnya itu.


"Sayang, anaknya papa. Kamu itu harusnya senang jika ada temanmu yang seperti itu. Itu berarti si... siapa itu namanya."


"Aska, papa." sahut Jessica dengan melipat kedua tangannya.


"Iya si Aska. Harusnya kamu itu senang karena ada teman kamu yang seperti itu. Dia lebih mementingkan apa yang diamanatkan seseorang kepadanya. Ketimbang, dengan seorang teman yang melewati batas waktu." ucap sang papa terdengar menasehati sang anak. Namun, itulah kebenaran yang harus ia didik untuk anak semata wayangnya itu.


Jessica terdiam saat mendengarkan penjelasan dari sang papa. Apa yang dikatakan oleh papanya itu ada benarnya. Aska lebih mementingkan apa yang menurutnya baik. Dan bersikap tuli untuk hal-hal yang menurutnya tidak baik. Itulah, yang dipikirkan oleh gadis itu saat ini.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....

__ADS_1


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2