Pacarku Hasil Taruhan

Pacarku Hasil Taruhan
Episode 11.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Masuklah." ucap Aska saat gadis itu sudah jauh lebih baik.


Jessica pun hanya mengangguk kecil dan membuka pagar rumahnya yang tidak terkunci. Kemudian gadis itu hendak membuka pintu rumahnya, namun, gadis itu membalikkan badannya melihat ke arah Aska yang masih di tempatnya menunggu gadis itu masuk.


Aska juga terlihat menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. dan bergumam tanpa bersuara. "Masuklah! Aku juga akan segera pergi jika kamu sudah masuk."


Jessica pun akhirnya masuk dan menutup pintu rumahnya. Kemudian Aska pun menghidupkan motornya dan melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah gadis itu.


Sedangkan Jessica sudah mengintip dari balik jendela kamarnya. Melihat kepergian Aska yang sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya. Jessica menutup kembali gordennya dan hendak naik ke atas kasurnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah bingkai foto.


Jessica menghampiri bingkai foto tersebut dan mengambilnya. Gadis itu nampak berkaca-kaca saat melihat dua orang yang ada di dalam bingkai tersebut. Yakni dirinya dan juga Tony yang sedang terlihat tersenyum lebar mereka berdua juga nampak sangat bahagia saat melihat ke arah kamera. Terlihat jelas dari senyuman keduanya. Namun, hal itu. Akhirnya membuat mereka harus berpisah seperti ini.


"Kamu jahat! Kamu jahat Tony! Aku sangat membencimu." isaknya. Gadis itu memeluk bingkai foto itu dengan sangat erat. Gadis itu sangat terpukul dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Eh lebih tepatnya mantan kekasih.


****


Pagi hari pun telah datang. Di mana sang pagi menyinari bumi dengan cahaya matahari yang hangat. Namun, buat seorang gadis yang masih berbalut selimut itu, merasa sangat tidak bersemangat untuk bangun.


Gadis itu nampak menggeliatkan tubuhnya saat suara ketukan pintu kamarnya terdengar di telinganya. Gadis itu masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Namun, lagi-lagi ia harus di buat kesal kepada seseorang yang terus mengetuk pintu kamarnya tanpa jeda.


Mau tidak mau. Gadis itu menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan bangkit dari tempatnya menuju ke arah pintu. Ia membukanya dan melihat seorang laki-laki yang kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Selamat pagi Jessica." sapa seorang laki-laki itu. Jessica yang melihat laki-laki di depannya itu nampak terdiam.


"Aska? Kamu kenapa ada di sini?" tanya Jessica yang tidak menyangka laki-laki yang ia sebut Aska itu datang kerumahnya.


"Menjemput kamu buat berangkat bareng ke sekolah." ucap laki-laki itu sembari menyodorkan gantungan kunci berbentuk kelinci itu kepada gadis itu.


Jessica yang melihat gantungan kunci itu pun langsung mengambilnya. "Loh! Ini kan gantungan kunci ku yang hilang satu mingguan yang lalu. Kok bisa ada di kamu?"


"Aku menemukan itu di belakang kampus kita." ucap Aska.


"Belakang kampus?"


Aska mengangguk kecil. "Iya, aku menemukannya tepat di bawah kakiku."


Jessica pun hanya mengangguk. Ia mengingat waktu itu kan dirinya sama Tony berada di tempat itu dan kebetulan juga laki-laki di hadapannya juga ada di sana saat Tony telah pergi. Dan mungkin gantungan kuncinya terjatuh saat ia ingin kembali ke dalam kelas.


"Makasih ya, sudah menemukan gantungan kunci ini, aku juga dari kemarin lagi cari-cari." ucap Jessica dengan wajah menatap ke arah lain.


"Oh, iya. Btw kenapa kamu bisa ada disini?"


"Kan aku sudah bilang. Kalau aku menjemputmu buat berangkat bareng ke sekolah." sahut laki-laki itu.


"Tapi kan... ini sudah siang."


"Aku tau." ucap laki-laki itu.

__ADS_1


"Terus kalau tau. Kenapa kamu masih ada di sini?" ucap Jessica bingung. Soalnya ini sudah jam sembilan pagi.


"Karena aku bolos." ucap laki-laki itu dengan santai.


Jessica pun yang mendengar perkataan laki-laki itu hanya mengernyitkan keningnya bingung. Bagaimana bisa, seseorang di depannya ini bolos sekolah tapi malah datang ke rumahnya.


"Aku sudah dapat izin kok dari mama kamu. Tadi beliau juga yang membukakan pintu untukku." sahut Aska kemudian. Karena laki-laki itu tau apa yang ada di pikiran gadis itu.


"Lalu mama bilang apa?" tanya Jessica penasaran.


"Beliau gak bilang apa-apa kok. Karena aku datang kesini secara baik-baik, jadi beliau mengizinkan aku buat bangunin kamu." ucapnya jujur. Karena memang mama gadis itu mengizinkan dirinya untuk membangunkan gadis itu.


"Cepatlah mandi! Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ucap Aska lagi. Laki-laki itu hendak pergi meninggalkan gadis itu. Namun, langkahnya terhenti saat gadis itu memanggilnya.


"Tunggu." tahan Jessica saat laki-laki itu hendak pergi. Aska pun membalikkan badannya dan menatap gadis itu.


"Kamu mau mengajakku ke mana memangnya?" tanya Jessica penasaran.


"Aku kan sudah bilang ke suatu tempat. Memangnya kamu berpikir aku akan menculik mu ya?" ucap Aska dengan wajah datarnya.


Jessica menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangannya saat laki-laki itu menatap tangannya yang menahan lengan laki-laki itu. "Eh, maaf. Aku gak bermaksud memegang tangan mu."


Aska juga tampak hanya diam saja. Lalu laki-laki itu mengangguk kecil. "Cepatlah mandi! Aku akan menunggu di bawah."


Setelah mengucapkan itu. Aska pun pergi meninggalkan Jessica yang masih di tempatnya dengan tatapannya yang tertuju pada punggung laki-laki itu yang menuruni anak tangga rumahnya.


Beberapa saat setelah gadis itu berdiam diri di tempatnya. Dengan cepat, Jessica pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa menutup kembali kamarnya.


Aska pun mengangguk. "Iya, Tante. Jessica nya sudah bangun."


"Syukurlah kalau begitu. Ayo, nak. Silahkan duduk." ucap mama Jessica ramah dan mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk di ruang tengahnya.


Aska pun nampak mengangguk dan tersenyum kepada wanita yang nampak begitu cantik itu. Lalu, laki-laki itu duduk berhadapan dengan orang tuanya Jessica.


"Kamu satu kelas sama Jessica ya nak?" tanya wanita itu.


Aska yang melihat bingkai foto yang ada di belakang wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya. "Tidak Tante. Kami berbeda kelas."


"Oh benarkah? Hm.. Tante kira kalian sekelas! Karena Tante lihat, kalian terlihat akrab." ucap wanita itu.


Aska tersenyum kecil sembari sesekali melirik ke arah bingkai foto yang ada di belakang wanita itu. "Tidak Tante."


Mama Jessica yang mengetahui tatapan anak laki-laki itu mengarah pada foto yang ada di belakang. Langsung membalikkan badannya dan mengambil satu foto gadis cantik yang sedang tersenyum ceria itu. Lalu, menunjukkannya kepada laki-laki di hadapannya itu.


"Anak Tante sangat sangat cantik, kan?" tanya wanita itu yang membuat Aska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena mengetahui tatapannya yang mengarah pada foto yang diambil mama gadis itu.


"Iya, Tante. Jessica memang sangat cantik." ucap Aska.


"Panggil saja Tante Mira." ucap Mira kepada anak laki-laki yang ada di depannya itu.

__ADS_1


"Iya Tante Mira."


Mama Jessica atau lebih tepatnya Mira itu tampak tersenyum saat melihat laki-laki di hadapannya itu nampak canggung saat berhadapan dengannya. "Dia sama sekali tidak sepertinya."


"Iya, Tante. Maaf saya tidak mendengar apa yang Tante bicarakan."


Mira hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa kok."


"Mama." ucap Jessica yang tiba-tiba sudah berdiri di depan sang mama.


Mira dan Aska pun menoleh ke arah gadis itu. "Sudah selesai?"


Jessica mengangguk. "Sudah."


"Jadi kalian kamu pergi sekarang?" tanya Mira pada Aska dan sang anak.


"Iya Tante. Saya izin kepada Tante untuk mengajak Jessica jalan-jalan sebentar." ucap Aska kepada Mira.


"Tante izinkan. Tapi... pulangnya jangan sampai malam ya." ucap Mira memberikan izin.


"Yaudah kalau begitu, Jessica dan Aska pamit dulu ya ma." pamit Jessica kepada sang mama.


"Hati-hati di jalan ya sayang. Jaga diri baik-baik!" ucap sang mama sembari mengelus lembut rambut sang anak.


Jessica pun mengangguk. "Iya, ma."


"Tante saya pamit dulu." kali ini aska pamit sembari mencium tangan wanita paruh baya itu.


Mira pun mengangguk. "Iya, hati-hati di jalan ya. Tolong jaga anak Tante."


"Baik, Tante. Saya akan menjaga Jessica dan memastikan Jessica akan pulang tepat waktu.


"Iya, Tante percaya sama kamu."


mereka berdua pun pergi meninggalkan pekarangan rumah gadis itu dengan mengendarai motor milik laki-laki itu.


"Kita mau kemana sih Aska?" teriak Jessica dari belakang saat bertanya kepada laki-laki itu.


"Nanti juga kamu tau, kita akan kemana." sahut laki-laki itu dengan menolehkan kepalanya ke samping agar gadis itu mendengar perkataannya.


"Iya, tapi kemana dulu." ucap Jessica terus bertanya kepada Aska yang memilih untuk tidak mengatakan apapun. Laki-laki itu memilih tetap fokus menyetir.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....

__ADS_1


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2