Pacarku Hasil Taruhan

Pacarku Hasil Taruhan
Bab - 6.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Memangnya kenapa?" tanya laki-laki itu balik bertanya.


"Ya harusnya kamu juga membenciku dong. Karena aku itu pacarnya rival kamu."


Laki-laki itu nampak tersenyum dan menatap langit sembari menghembuskan nafasnya. "Itu karena aku sama sekali tidak membencimu."


Mendengar perkataan laki-laki itu. Jessica terdiam, gadis itu tampak mengalihkan pandangannya ke sekeliling mencoba menjauhkan pandangannya dari laki-laki itu. Entah kenapa detak jantungnya berdegup sangat kencang.


'Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak begitu kencang?' gumam Jessica dalam hati. Gadis itu kini merasa canggung terhadap laki-laki di sampingnya itu.


Dan Jessica pun memilih bangkit dari tempatnya dan menatap laki-laki itu yang juga sudah mendongakkan kepalanya. "Aku harus pergi!"


Jessica pun melangkahkan kakinya menjauhi belakang kampus. Namun, sebelum benar-benar menjauh. Gadis itu membalikkan badannya menatap laki-laki itu yang masih dengan posisi duduknya. Laki-laki itu juga nampak menunggu gadis itu berucap.


"Sekali lagi, terimakasih. Karena sudah menceritakan semuanya kepadaku. Dan terimakasih juga karena kamu tidak membenciku. Tapi kuharap, alangkah baiknya jika kalian berbaikan dan menyelesaikan permasalahan kalian secara baik-baik." ucap gadis itu. Dan Jessica pun pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian.


Laki-laki itu nampak tersenyum pahit. "Tidak semudah yang dibayangkan Jessica. Kita tidak akan pernah seperti itu."


****


Jessica menghentikan langkahnya, saat melihat Tony bersama gadis dengan tampilan yang begitu anggun sedang bersenda gurau dengannya di dalam kelas. Jessica pun langsung duduk di kursinya dan segera mengeluarkan buku beserta Bolpoin untuk menghindari pandangannya terhadap sang kekasih yang tengah asyik mengobrol dengan gadis itu.


Cemburu? Tentu tidak! Jessica tidak pernah menaruh cemburu terhadap kekasihnya itu. Iya justru memberikannya kebebasan untuk bersama siapa saja. Selagi itu masih batas wajar. Lain halnya jika itu terjadi di kebalikannya.


Jadi saat melihat laki-laki itu dengan mengobrol dengan gadis lain, apalagi gadis itu begitu cantik dan mungkin saja bisa menarik perhatian sang kekasih. Jessica bersikap biasa saja, karena menurut gadis itu. "Selagi kita percaya kepada pasangan kita satu sama lain. Maka, tidak akan terjadi sesuatu yang mungkin menyakitkan hati."


Itulah prinsip Jessica. Gadis itu lebih memilih percaya kepada sang kekasih. Karena dirinya yakin, Tony tidak mungkin menghancurkan kepercayaannya.


Dosen pun akhirnya muncul dan pelajarannya juga segera di mulai. Sehingga membuat Jessica lagi-lagi tidak memikirkan perihal apapun, ia lebih memilih fokus pada apa yang dosen Doni jelaskan di depannya.


"Tony...," panggil Jessica saat pelajaran pertama dosen Doni selesai. Gadis itu memanggil sang kekasih saat laki-laki itu hendak keluar dengan gadis yang sama, saat Jessica lihat saat masuk ke dalam kelasnya.


"Maaf, aku harus menemani temanku ini ke kantin." sahut Tony sembari menatap sekilas ke arah sang kekasih.

__ADS_1


"Ajak saja Aska jika memang butuh teman makan!" sambungnya lagi dan itu membuat Jessica yang mendengar perkataan kekasihnya itu membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.


Setelah mengatakan nya, laki-laki itu pun pergi dengan merangkul pundak gadis berambut panjang itu dengan tawa yang menghiasi wajah keduanya. Jessica pun yang ditinggal pergi oleh laki-laki itu hanya mengatur nafasnya yang terasa sesak dan di tambah matanya yang mulai berkaca-kaca.


Jessica pun segera membereskan buku-bukunya ke dalam tasnya. Lalu gadis itu segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sedih.


Dan Aska pun yang berjalan menyusuri lorong universitasnya, laki-laki itu tidak sengaja melihat Jessica berjalan dengan gontai menuju ke arah kantin. Dan tanpa menunggu lama, Aska pun berlari menghampiri gadis itu.


"Hei!" ucapnya dengan menepuk pelan pundak gadis itu. Sehingga membuat Jessica terkejut atas ulahnya.


"Em, hei." ucap Jessica tanpa semangat. Gadis itu terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kantin dengan diikuti oleh Aska.


Mereka berdua pun duduk saat selesai memesan makanan mereka. Mereka memilih untuk di meja paling pojok. Karena hari ini kantin begitu ramai sehingga, mereka berdua mendapatkan meja paling pojok.


"Masih belum baikan, sama pacarnya. Hm?" tanya laki-laki itu saat melihat gadis di depannya itu hanya diam mematung.


Jessica melihat ke arah lawan bicaranya. Lalu menggeleng Kecil sembari tersenyum. "Kamu pesan makanan apa?"


Aska yang tau gadis itu mengalihkan pembicaraan pun hanya tersenyum kecil. "Aku pesan mie ayam sama es teh manis sih. Kamu?"


Jessica tampak tersenyum saat mendengar pesanan laki-laki itu. "Aku sama mie ayam dan es teh manis."


Jessica pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, aku pesan itu setiap hari kok."


"Sama dong! Aku juga setiap hari pesannya dua menu itu kalau di sini. Soalnya itu makanan dan minuman kesukaanku." ucap Aska dengan senyum yang masih terukir di bibirnya.


"Loh! Selera makan kita sama."


"Itu menu favorit kamu juga?" lagi-lagi laki-laki itu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Mereka berdua pun tertawa bersama saat mengetahui tentang makanan kesukaan keduanya yang sama-sama menyukai mie ayam dan es teh manis. Mereka berdua pun tampak tidak merasa canggung seperti beberapa jam yang lalu saat mereka berada di belakang kampusnya.


Sedangkan di sisi lain. Nampak gadis dengan rambut panjang itu menyipitkan matanya melihat ke arah dua orang yang saling tertawa yang duduk di meja pojok yang berada jauh darinya dan laki-laki yang merupakan Tony kekasih Jessica.


"Tony.. itu bukannya pacar kamu ya? Tapi itu sama siapa, kok kayaknya akrab banget." ucap gadis berambut panjang itu sembari menunjukkan ke arah kedua orang yang berada di pojok itu kepada Tony.

__ADS_1


"Coba deh liat mereka, kalau kamu gak percaya." ucapnya lagi. Menyuruh laki-laki itu untuk menoleh ke arah pandangannya.


Tony yang sejak tadi hanya terdiam saat menemani gadis itu langsung membalikkan badannya melihat ke arah yang ditunjukkan oleh gadis itu. Dan sontak membuat mata laki-laki itu melebar. Terlihat laki-laki itu mengepalkan tangannya dan tanpa ba-bi-bu lagi. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri kedua orang yang masih tertawa itu.


Dan saat laki-laki itu sudah berada tepat di depan keduanya. Tony langsung menghantamkan pukulan keras pada Aska yang terkejut dengan kedatangan Tony yang tiba-tiba.


"Aska!!!" teriak Jessica saat melihat Aska sudah mengeluarkan darah dari bibirnya saat hantaman keras dari sang kekasih yang kini hendak memukul kembali laki-laki itu.


Gadis itu langsung menahan tangan kekasihnya. "Tony!!! Kamu apa-apa sih! Kenapa tiba-tiba memukul orang begitu?"


"Lepas!!! Laki-laki itu pantas mendapatkan pukulan dariku. Karena telah mencoba mendekatimu." ucap Tony mencoba melepaskan tangan Jessica. Namun, gadis itu terus menahannya, hingga Jessica mendorong tubuh laki-laki itu.


"Tony! Kamu apa-apaan sih! Yang mencoba mendekatiku siapa? Dia hanya menemaniku makan siang saat kamu tidak bisa." ucap Jessica saat ia berhasil mendorong tubuh kekasihnya itu.


"Kamu masih terus membelanya, iya? Kamu tidak tau siapa dia." kali ini Tony meninggikan suaranya dan menatap wajah kekasihnya itu dengan tatapan tajamnya.


"Rival kamu, kan?" sahut Jessica yang kini juga menatapnya dengan tak kalah tajam.


Tony mengepalkan tangannya dan membalikkan badannya sembari menghantam meja yang ada di depannya. Jessica pun tak peduli, ia lebih memilih membantu Aska yang masih terduduk di lantai dengan bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Ayo, kita ke UKS." ucap Jessica sembari merangkul laki-laki itu menuju ke UKS.


Sedangkan Tony yang melihat kekasihnya lebih memilih membantu Aska mengeratkan rahangnya. "Awas kalian."


"Tony kamu tidak apa-apa, kan? Pacar kamu itu bagaimana sih. Sudah tau kamu sama laki-laki itu musuhan, tapi malah memilih pergi sama laki-laki itu. Seharusnya kan dia memilih kamu, karena bagaimana pun kamu kekasihnya." ucap gadis berambut panjang itu yang tiba-tiba menghampiri laki-laki itu.


Tony tak mengatakan apapun kepada gadis itu. Ia lebih memilih untuk pergi juga dari sana meninggalkan gadis itu sendirian.


"Loh! Kok aku malah ditinggal sih Ton. Tony... tunggu dong!" ucapnya sembari mengikuti laki-laki itu.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2