Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 35


__ADS_3

Maura sudah menuruni anak tangga sambil membawa koper yang cukup besar di tangannya, hari ini Maura akan berangkat ke sebuah kota X yang letaknya cukup jauh. Tuan Guntoro yang melihat putrinya membawa koper seketika berjalan mendekat.


"Maura.. kamu mau kemana nak?."


"Maura ada tugas di luar kota pa, selama dua bulan." jawab Maura menatap ke arah sang ayah.


"Kenapa mendadak sekali, kenapa kamu tidak minta izin dulu sama papa, jika kamu akan keluar kota."


"Karena tugasnya juga mendadak pa, pak Ardian baru bilang kemarin."


"Maura.. lalu bagaimana dengan Kenan? bagaimana dengan pertunangan kalian, apa kamu yakin tidak mau menerima lamaran dari Kenan?."


"Maura yakin Pa, lagi pula Maura tidak pernah mencintai Kenan, Maura dan Kenan hanya teman biasa."


"Apa kamu jangan-jangan masih mencintai Panji laki-laki brengsek itu, Maura move on lah dari_."


"Pa.. Maura sudah move on dari Panji cukup lama, Maura hanya ingin menitih karir dulu, tidak ingin tergesa-gesa untuk menikah, jika memang Kenan adalah jodoh Maura, suatu saat kita akan menikah, dan hidup bersama, papa tidak perlu khawatir soal itu." jelas Maura.


Tuan Guntoro yang mendengar ucapan Maura seketika mengangguk. "Baiklah.. jika itu yang kamu inginkan, papa akan mengerti, ya sudah kamu hati-hati di jalan ya, jaga diri baik-baik di sana, selalu kabari papa jika ada apa-apa."


"Iya pa.. papa jaga kesehatan ya, jangan capek-capek selama di tinggal Maura, dan titip salam buat kak Dinda." Maura yang sudah mengalami sang ayah, lalu berjalan keluar dari dalam rumah.


Mobil berwarna hitam pun sudah melaju meninggalkan halaman rumah, dengan Maura melambaikan tangannya dari dalam mobil. Tuan Guntoro yang melihat putrinya sudah pergi seketika segera menghubungi Kenan. Tuan Guntoro sudah meraih ponsel di atas meja.


"Tut.."


"Tut.."


"Tut.."

__ADS_1


Panggilan yang sudah tersambung, namun tak kunjung di angkat. "Panggilan yang anda tuju sedang sibuk."


Tuan Guntoro kembali menghubungi Kenan, dan untung saja yang kedua langsung di angkat.


"Halo om." ucap Kenan di sambungan telfon.


"Halo nak Kenan, hari ini Maura akan pergi ke kota X untuk tugas di sana selama dua bulan, sebaiknya kamu segera mencegahnya, om tidak setuju jika Maura pergi jauh."


Kenan yang mendengar ucapan tuan Guntoro seketika kaget. "Kenapa mendadak sekali om, apakah dia sudah berangkat?." tanya Kenan.


"Sudah.. sekarang menuju ke bandara." jawab tuan Guntoro.


"Baiklah.. Kenan akan segera menyusul Maura ke bandara om."


"Iya nak Kenan, Hati-hati ya di jalan." perintah tuan Guntoro, dan sambungan telefon pun terputus begitu saja.


...****************...


Setelah menunggu lima menit Kenan melihat mobil Maura sudah tiba, dengan di antarkan oleh sopir pribadinya. Kenan yang melihat Maura sudah turun dari mobil seketika mendekat.


"Maura.." panggil Kenan.


Maura yang mendapat panggilan pun seketika menoleh ke arah sumber suara. Saat Maura menoleh ia di kejutkan dengan kehadiran Kenan di bandara. Maura yang melihat Kenan seketika merasa kesal karena harus bertemu dengan dia lagi. Pasti ayah yang memberi tahu Kenan bahwa hari ini Maura pergi ke kota X.


"Ngapain sih kamu ke sini?." Maura yang memalingkan wajahnya ke arah lain menatap malas menatap Kenan.


"Ikut aku." Kenan yang kembali menarik tangan Maura, namun dengan sigap Maura menolaknya.


"Stop Kenan! berhentilah untuk menggangguku, mau sampai kapan kamu akan mengganggu ku seperti ini?." bentak Maura.

__ADS_1


"Baru kemarin lo Maura aku berbicara kepadamu agar menerima lamaranku, aku memohon kepada mu tapi sekarang dengan mudahnya kamu pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan ku."


"Lha untuk apa aku pamitan sama kamu, memang kamu siapa? ingat kita tidak mempunyai hubungan apa-apa."


"Aku tidak perduli kita punya hubungan atau tidak, ayo kita pulang, aku tidak setuju kamu pergi jauh sendiri." Kenan yang kembali menarik tangan Maura untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Lepasin Kenan!" Maura yang kembali membentak Kenan. "Plakk" Satu tamparan sudah mendarat ke pipi kanan Kenan"Kamu sangat keterlaluan! kamu sudah merenggut kesucianku, dan sekarang kamu memaksaku untuk menikah dengan mu, yang jelas-jelas aku tidak mau!."


"Justru aku yang merenggut kesucianmu, aku memaksamu untuk menikah dengan ku Maura, itu bukti tanggung jawab ku kepadamu." Kenan yang menatap lekat-lekat wajah cantik Maura. "Kamu tahu apa yang aku takutkan setiap hari, apa yang membuat ku tidak bisa tidur setiap malam, karena aku takut kamu hamil anak ku, bagaimana jika kamu hamil, lalu siapa yang akan menjadi ayah anak itu jika kamu tidak mau menikah dengan ku." lanjut Kenan.


Maura yang mendengar ucapan Kenan seketika diam. Maura baru mengingat saat Kenan mengambil kesuciannya tanpa menggunakan alat pengaman, apa lagi Maura saat itu baru saja selesai haid. Pasti kesuburan nya sangat tinggi.


"Cobalah berfikir, aku tahu kamu marah dengan ku, tapi jangan egois Maura, pikiran orang lain juga, apakah tidak ada ketakutan di benakmu, jika kamu hamil."


"Aku tidak akan membiarkan aku hamil." ucap Maura secara tiba-tiba.


"Maksud kamu?." tanya Kenan.


"Ya kalau aku hamil, aku akan gugurkan anak ini, karena anak ini adalah anak haram, hadir di luar pernikahan, aku tidak menginginkannya."


"Why? apa kamu bercanda?." Kenan yang sangat terkejut.


"No.. l am serious." jawab Maura lagi.


"Jangan gila kamu Maura.. kamu itu seorang dokter kandungan, bagaimana bisa kamu akan melakukan itu, itu adalah dosa besar."


"Stop Kenan.. aku tidak ada waktu lagi untuk berdebat dengan mu, minggir lah, jangan menghalangi langkahku."


Kenan yang mendengar ucapan Maura seketika berkaca-kaca. "Aku kecewa dengan mu Maura." ucap Kenan.

__ADS_1


Maura tidak lagi mengindahkan ucapan Kenan. Ia terus berjalan masuk ke dalam bandara sambil menarik kopernya.


"Aku kecewa dengan ucapanmu Maura!." teriak Kenan sambil menatap ke kepergian Maura.


__ADS_2