
Kenan yang mendengar ucapan tuan Guntoro, seketika terkejut, ternyata Kenan dan Maura sedari kecil sudah di jodohkan oleh orang tua mereka untuk bisa menikah.
"Pa.. Kenan akan membatalkan pernikahan Kenan bersama Dahlia, Kenan tidak mencintai Dahlia pa.. Kenan mencintai Maura." ucap Kenan kepada tuan Galang.
"Tidak! papa tidak setuju jika kamu menikah dengan Maura, kamu akan tetap menikah dengan Dahlia."
"Tapi Maura sedang hamil anak Kenan pa.. Kenan harus bertanggung jawab."
"Stop Kenan, masuk ke dalam rumah sekarang, jangan membantah perkataan papa!." perintah tuan Galang menatap tajam ke arah anaknya.
"Ma.. bawa Kenan masuk ke dalam rumah sekarang." tuan Galang yang juga memerintah istrinya.
"Tapi pa.. Maura_."
"Sudah jangan membantah ucapan papa!." bentak tuan Galang, dan seketika nyonya Keni pun menurut. Nyonya Keni sudah berjalan mendekat ke arah Kenan.
"Ayo nak masuk, biar pala yang menyelesaikan masalah ini." ajak nyonya Keni.
__ADS_1
"Tidak ma.. apa mama juga akan melarang Kenan untuk bertanggung jawab atas janin Maura, yang ada di dalam rahim Maura adalah anak Kenan."
"Bukan begitu Kenan, lebih baik kita masuk dulu ya." nyonya Keni yang terus membujuk Kenan.
"Apa tuan ini tidak dengar bahwa Kenan ingin bertanggung jawab, dan ingin menikahi Maura, lalu kenapa tuan melarangnya." ucap kak Dinda.
Tuan Galang yang melihat Kenan terus menolak perintahnya, dan mengabaikan ajakan mamanya, seketika mendekat ke arah Kenan, dan sedikit mendorong tubuh istrinya. Kini tuan Galang sendiri yang mencoba memaksa Kenan untuk masuk ke dalam rumah. "Ayo masuk kamu."
"Tidak pa.. Kenan tidak mau, Kenan akan tetap menikahi Maura.."
"Plakkk!." satu tamparan sudah melayang ke arah pipi Kenan begitu saja.
Kenan seketika menatap ke arah tuan Galang dengan sangat kecewa sambil mengusap pipi kanannya yang sudah memerah. "Papa ini hanya papa angkat ku, bukan orang tua kandungku, jadi papa tidak berhak mengatur hidup ku, melebihi batas sebagai seorang ayah angkat."
"Plakkk!." Lagi-lagi tuan Galang menampar wajah Kenan. "Lalu siapa yang merawat dan mendidik mu hingga 20 tahun ini, apakah Galuh ayahmu, Nisa ibu mu, haa.. siapa yang menjadikan mu menjadi laki-laki yang sukses seperti ini, berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepadaku, bagaimana pun aku ini ayahmu." tuan Galang yang juga kecewa dengan ucapan Kenan.
"Kamu kira mudah merawat kamu hingga saat ini, tidak Kenan.. jika takdir bisa di ubah, lebih baik anak kandung ku tetap hidup, dari pada aku harus merawat anak orang lain yang aku anggap sebagai anak ku sendiri, namun setelah di rawat ia tidak mengakui ayah yang sudah merawatnya, bukankah itu sangat menyakitkan?." lanjut tuan Galang.
__ADS_1
Suasana semakin tidak kondusif. Kenan benar-benar marah, begitu pun tuan Galang, ia juga marah dengan Kenan yang lancang mengucapkan ucapan yang seharusnya tidak pantas ia ucapkan. Nyonya Keni yang melihat suami dan anaknya terus berdebat dan saling melukai perasaan terus saja menangis, baru pertama kalinya setelah 20 tahun Kenan berani melawan tuan Galang tepat di hadapannya.
"Semua ini gara-gara kamu Maura.." Nyonya Keni yang menunjuk ke arah Maura. "Andai saja kamu tidak datang ke rumah saya malam ini, keadaannya tidak akan seperti ini, kemarin kemana saja saat Kenan ingin melamar kamu, kamu malah pergi ke kota X, kamu mengabaikan niat baik Kenan, dan giliran sekarang kamu hamil, kamu datang untuk meminta pertanggung jawaban, di hari Kenan akan segera menikah, kemarin kemana ha.. kenapa baru sekarang datang, lalu merusak rumah tangga saya!." nyonya Keni yang tiba-tiba menyerang Maura, hingga Maura hampir jatuh.
"Saya tanya.. kenapa kemarin tidak menerima lamaran anak saya, giliran Kenan mau menikah kamu datang.. kamu sengaja ingin merusak rumah tangga saya!." teriak nyonya Keni yang terus menyerang Maura, namun dengan sigap tuan Galang langsung menarik tubuh istrinya.
Nyonya Keni terus memberontak, ingin mencoba terus menyerang Maura. Hingga tuan Galang dan Kenan merasa kewalahan, bahkan beberapa security juga mendekat untuk menghentikan aksi nyonya Keni. "Pergilah dari sini sekarang Guntoro, bawa Maura pergi dari rumah saya." teriak tuan Galang.
Tuan Guntoro yang mendengar teriakan dari tuan Galang seketika membawa anaknya untuk keluar dari rumah tersebut. Karena suasana semakin tak terkendali, bahkan tuan Guntoro melihat kini nyonya Keni telah jatuh pingsan.
Mobil berwarna hitam pun sudah melaju meninggalkan kediaman Kenan. Kini keluarga Maura tidak mendapatkan hasil apapun, padahal besuk adalah hari pernikahan Kenan bersama Dahlia. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk Maura bisa bersatu dengan Kenan. Di dalam mobil tuan Guntoro hanya diam, ia terus menatap ke arah kaca sambil melamun, ingin marah, namun dengan siapa? kini tuan Guntoro haya bisa berdoa, semoga besuk tuan Galang bisa berubah pikiran, dan mengizinkan Kenan untuk menikahi Maura, namun sepertinya itu mustahil.
Maura yang sedang duduk di kursi belakang, terus menitihkan air mata, ia benar-benar menyesali perbuatannya, andai saja dulu dia tidak bersikap egois, dan menerima lamaran dari Kenan, pasti tidak akan serumit ini keadaannya. Maura merasa bahwa semua ini adalah kesalahannya. Mengakibatkan keluarganya serta keluarga Kenan menjadi salah paham, dan bertengkar hebat.
Kak Dinda terus memeluk tubuh Maura, sambil mengusap rambut sang adik dengan sangat lembut, sebenarnya kak Dinda juga kecewa dengan Maura, kenapa tidak dari dulu Maura bilang, bahwa Kenan telah menidurinya. Namun bagaimana pun ini bukanlah sepenuhnya kesalahan Maura. Jika kak Dinda berada di posisi adiknya, pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti Maura. Kak Dinda tahu tidak mudah berada di posisi Maura sekarang.
"Maafkan Maura kak.. maafkan Maura pa.. hik.. hik.." ucap Maura sambil menangis.
__ADS_1
"Jangan bicara apapun, papa benar-benar malas mendengar suara mu." sahut tuan Guntoro tanpa menoleh ke arah Maura.
"Tidak apa-apa.. kakak yakin semua akan baik-baik saja." kak Dinda yang mencoba menenangkan adiknya.