
Dua bulan pun berlalu, di sebuah gedung megah begitu terlihat sangat ramai, karena besuk adalah hari pernikahan Kenan bersama Dahlia. Dekorasi mewah sudah terpasang begitu rapi di tempatnya, bahkan 800 kursi untuk tamu undangan sudah di sediakan. Sore ini Kenan sedang duduk di sebuah tempat duduk sambil memantau gedung tempatnya besuk melaksanakan ijab Qobul dan resepsi.
Kenan hanya melamun, tatapan nya kosong, sebenarnya Kenan begitu berat untuk menikah dengan Dahlia, karena Kenan tidak pernah mencintai Dahlia, padahal Dahlia adalah wanita yang cantik, bahkan mempunyai karir yang cemerlang, namun entah kenapa Kenan belum bisa untuk mencintainya hingga 2 bulan ini. 20 tahun saja dia tidak bisa mencintai wanita mana pun, hanya mencintai Maura, apa lagi dengan waktu yang begitu singkat hanya 2 bulan, begitu amat sulit untuk Kenan mencintai Dahlia. Namun karena ini permintaan Maura, menyuruh dirinya untuk menikah dengan wanita lain, Kenan menurutinya. Mungkin memang benar cinta tidak harus memiliki.
Kenan pun seketika meraih ponsel di dalam saku celananya, untuk mengirim sebuah foto dekorasi yang ada di depannya. Ia mengirim foto tersebut kepada Maura, yang hari ini kembali pulang dari kota X setelah dua bulan menjalankan tugas di sana.
"Sesuai permintaanmu.. besuk aku akan menikah." pesan yang sudah Kenan kirimkan kepada Maura. Setelah mengirim pesan kepada Maura, Kenan kembali memasukan ponsel ke dalam saku celananya, ia tidak berharap Maura membalas pesannya.
"Sayang.." panggil wanita tinggi, putih bersih, dan mempunyai badan yang begitu bagus bak gitar spanyol, ya dia adalah Dahlia yang sedang menepuk pundak Kenan dari belakang.
"Hay.." ucap Kenan yang tersenyum ke arah Dahlia.
"Sedang apa kamu di sini?." tanya Dahlia, lalu duduk di samping Kenan.
"Aku hanya memantau perkembangan dekorasi tempat pernikahan kita besuk." jawab Kenan.
Dahlia yang melihat wajah Kenan, ia merasa Kenan terlihat banyak pikiran, bahkan dari matanya terlihat ia kurang istirahat, Dahlia merasa bahwa Kenan tidak bahagia.
"Apa kamu keberatan untuk menikah dengan ku?." tanya Dahlia sambil menatap wajah Kenan.
Kenan yang mendapat pertanyaan dari Dahlia seketika menatap wajah cantik Dahlia. "Tidak.. aku hanya lelah saja..." ucap Kenan sambil menyentuh tangan Dahlia. Kenan memutuskan untuk melupakan Maura dan mencoba untuk mencintai Dahlia secara pelan-pelan, karena sebentar lagi Dahlia akan menjadi istrinya.
...****************...
__ADS_1
Di dalam pesawat, Maura berkali-kali memuntahkan isi perutnya, hingga Ardian pun menjadi panik saat duduk di sampingnya. Maura merasa perut nya merasa sangat mual dari kemarin, bahkan kepalanya begitu sangat pusing. Padahal Maura tidak punya riwayat penyakit apa-apa, dan ini menjadi pertama kalinya Maura mabuk saat menaiki pesawat, biasanya Maura tidak pernah.
"Maura.. apa kah kamu baik-baik saja.. sepertinya kemarin waktu kamu berangkat naik pesawat baik-baik saja." ucap Ardian menoleh ke arah Maura.
"Sepertinya aku sedang tidak enak badan pak, makanya seperti ini." jawab Maura.
"Ya sudah.. aku ambilkan minyak angin." Ardian yang sudah memberikan sebuah minyak angin namun Maura seketika menolaknya.
"No.. No... No.. aku semakin pusing dan mual mencium aroma minyak itu." Maura yang mendorong sebuah minyak angin kecil agar menjauh dari dirinya.
"Hoekkk.." Maura yang kembali ingin memuntahkan isi perutnya namun untung saja tidak sampai keluar.
Ardian yang melihat Maura mencium aroma minyak angin semakin mual dan pusing pun seketika ikut mencium minyak angin di tangannya. "Memang ada masalah dengan baunya, baunya enak kok, segar."
Salah satu pramugari yang melihat Maura terus memuntahkan isi perutnya dan wajahnya begitu sangat pucat pun seketika berjalan mendekat ke arah Maura sambil membawa sebuah minuman. "Selamat sore nona, apakah nona baik-baik saja?." tanya pramugari tersebut.
"Yes.. aku baik-baik saja." jawab Maura dengan nada yang begitu lemah.
"Mari minumlah jus mangga muda ini nona, agar perut anda sedikit enak." pramugari yang sudah memberikan sebuah jus mangga muda kepada Maura.
Maura yang melihat sebuah jus terlihat segar dan enak seketika meraihnya, Maura langsung menegak jus tersebut hingga hampir habis. Ardian yang melihat Maura begitu menikmati jus tersebut seketika terkejut, padahal dari tadi Ardian terus menawari makanan, dan minuman namun Maura menolaknya, dengan alasan mual dan tidak suka, dan hanya jus mangga yang Maura mau menerimanya.
"Sepertinya istri anda ini sedang ngidam tuan." ucap pramugari yang bernama Sinta.
__ADS_1
Ardian yang mendengar ucapan pramugari tersebut semakin terkejut. "Hah.. ngidam? maksud anda Maura sedang hamil?."
"Iya.. saya pikir istri anda sedang hamil, karena saat dulu saya hamil juga seperti itu, sukanya minum yang segar-segar, seperti jus jeruk dan jus mangga muda." ucap Sinta.
"Tapi Maura ini bukan istri saya mbak, dan kita sama-sama masih lajang, belum ada yang menikah, ya kali Maura hamil belum punya suami, ada-ada saja anda ini?." ucap Ardian lagi.
"Loh.. tuan bukan suaminya?." tanya Sinta yang tak kalah terkejut.
"Bukan." jawab Ardian.
"Lah.. saya kira kalian berdua pasangan suami istri, maaf ya tuan dan nona kalau saya salah bicara." ucap Sinta lalu berjalan pergi sambil menahan malu.
Ardian yang mendengar ucapan pramugari tersebut seketika tertawa. "Aneh-aneh saja, masa kamu di kira hamil." ucap Ardian menoleh ke arah Maura.
Sebenarnya Ardian senang-senang saja jika terlihat seperti suami Maura, karena selama ini Ardian juga memendam rasa dengan Maura. Makanya dia memilih Maura untuk menemaninya bertugas di rumah sakit kota X.
Maura yang mendengar ucapan pramugari barusan kembali teringat dengan kejadian waktu itu, saat Kenan merenggut mahkotanya 2 bulan yang lalu, namun Maura masih tidak percaya jika dia hamil.
"Tidak mungkin aku hamil, pasti aku hanya masuk angin biasa." ucap Maura di dalam hati. Namun Maura kembali teringat dengan tanggal datang bulannya, bahwa Maura hampir tidak datang bulan selama 2 bulan. Maura seketika panik, apa jangan-jangan dia memang sedang hamil.
Setelah turun dari pesawat, Maura segera meraih ponsel di dalam tasnya, saat membuka ponsel Maura mendapat pesan dari Kenan, dan dengan cepat Maura membukanya. Maura melihat sebuah dekorasi yang begitu cantik dan mewah. Entah kenapa saat Maura membaca pesan tersebut, Maura menjadi sesak dan sakit hati. Ia merasa terluka saat mengetahui bahwa Kenan akan benar-benar menikah.
"Bukankah ini semua sudah kemauanmu Maura.. kau menginginkan Kenan untuk menikahi wanita lain, lalu untuk apa kamu sekarang merasa sedih, itu sangat memalukan." ucap Maura di dalam hati.
__ADS_1