Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 41


__ADS_3

Malam ini Maura, tuan Guntoro, dan kak Dinda baru saja tiba di kediaman rumah Kenan, di sana mereka sudah di persilahkan masuk oleh security yang sedang menjaga rumah. Sesampainya di depan rumah, mereka ber tiga sudah di sambut oleh tuan Galang dan juga nyonya Keni.


Sebenarnya tuan Galang dan istrinya sedikit terkejut dengan kedatangan mereka ber tiga ke rumah nya. "Acaranya masih besuk, kenapa tuan sudah datang saja? oh ya Maura.. kamu sudah pulang? kapan pulang? kok pas banget pulang waktu Kenan mau menikah? sengaja ya?." ucap tuan Galang sambil menatap wajah Maura, namun Maura hanya diam.


"Saya tidak mau banyak basa-basi di sini, saya mau ketemu dengan Kenan, karena dia harus bertanggung jawab atas apa yang di perbuat kepada Muara." ucap tuan Guntoro.


Tuan Galang dan nyonya Keni yang mendengar ucapan tuan Guntoro semakin menjadi bingung. "Sebentar.. maksud nya tanggung jawab apa ya tuan?." tanya nyonya Keni.


"Kenan telah menghamili Maura.. dan dia harus bertanggung jawab." ucap tuan Guntoro di depan tuan Galang dan nyonya Keni.


Kedua orang tua Kenan yang mendengar ucapan tuan Guntoro seketika terkejut, mereka berdua saling bertatap-tatapan. "Tidak mungkin anak saya menghamili putri anda, secara mereka berdua tidak pernah ada hubungan, pacaran saja tidak, bagaimana bisa anak saya menghamili putri anda." tuan Galang yang tidak Terima dengan ucapan tuan Guntoro.


"Tapi kenyataannya seperti itu, Maura bilang, Kenan telah memperkosa dia saat Maura menemani Kenan meeting di hotel." ucap tuan Guntoro lagi.


Tuan Galang yang mendengar ucapan tuan Guntoro seketika tertawa ketir. "Kemarin bilangnya ngga mau nikah sama Kenan, terus menolak lamaran Kenan dengan alasan tidak cinta, lalu kenapa sekarang datang ke sini untuk meminta pertanggung jawaban kepada anak saya, di waktu anak saya besuk akan menikah, apa kalian sengaja, karena tidak suka melihat Kenan menikah dengan wanita lain?."


"Jaga ucapan anda ya tuan Galang, kalau anak saya tidak hamil, saya tidak akan datang ke sini, saya juga tidak mau seperti ini, tapi Kenan harus bertanggung jawab apa yang telah dia perbuat."


"Bertanggung jawab apa? memang kalian ada bukti kalau anak saya memperkosa putri anda, mungkin anak yang ada di dalam kandungannya itu anak laki-laki lain, pasti laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab, akhirnya kalian datang ke rumah saya? iya kan?."


"Kita tidak sesampah itu ya tuan Galang terhormat, dan adik saya ini tidak akan pernah bohong dengan perkataan nya, mungkin kita tidak ada bukti, tapi selama dua bulan itu Maura hanya dekat dengan Kenan, jangan asal tuduh sembarangan anda?."


"Loh.. keluarga kalian itu yang jangan asal tuduh sembarangan, jangan asal-asalan anak orang di suruh tanggung jawab, mungkin anak itu anak mantan tunangan Maura, bukan anak Kenan." sahut tuan Galang lagi.


Kenan baru saja keluar dari dalam rumah saat mendengar keributan di depan rumah. "Ada apa ma.. pa..?." tanya Kenan.


Saat Kenan tiba di depan rumah, ia sangat terkejut saat melihat kehadiran tuan Guntoro, kak Dinda dan juga Maura di rumahnya. "Ada apa ini?." tanya Kenan dengan wajah yang kebingungan.


"Ini anaknya?." ucap tuan Guntoro.

__ADS_1


Kenan dan Muara pun saling pandang satu sama lain, hampir dua bulan Kenan tidak melihat Maura, saat Kenan memandangi wajah cantik Maura, Maura seketika langsung menunduk menatap lantai.


"Kamu masuk saja Kenan, biar papa dan mama yang menyelesaikannya."


"Tidak bisa seperti itu tuan, Kenan harus bertanggung jawab." sahut kak Dinda lagi.


Kenan yang mendengar kata-kata tanggung jawab seketika semakin penasaran, ada apa sebenarnya di antara mereka. Kenapa mereka ribut malam-malam.


"Kenan.. apa kamu tidak mendengar ucapan papa? cepat masuk ke dalam rumah sekarang!." bentak tuan Galang.


"Tapi ini ada apa pa.. beri tahu Kenan, kenapa Kenan harus tanggung jawab?." tanya Kenan.


"Maura hamil." sahut Kak Dinda begitu saja.


Kenan yang mendengar ucapan kakak dari Maura seketika menatap ke arah wajah kak Dinda. "Hamil?." tanya Kenan dengan wajah yang begitu bingung.


Kenan seketika meraih benda kecil yang memperlihatkan garis dua berwarna merah di sana. "Apakah ini benar?." Kenan yang masih belum percaya jika Maura hamil, ia terus menatap pada benda tersebut.


"Itu bukan anak mu kan Ken? kamu tidak pernah tidur sama Maura kan?." tanya tuan Galang.


Kenan tidak menjawab pertanyaan dari sang ayah. Ia seketika menatap ke arah wajah yang terlihat pucat terus menunduk ke bawah. "Berapa usianya? kenapa Maura tidak bilang dari kemarin?." tanya Kenan.


Tuan Galang dan nyonya Keni yang mendengar ucapan anaknya seketika terkejut. Mereka berdua terus menatap ke arah Kenan.


"Belum tahu, karena Maura belum periksa, mungkin sekitar dua bulanan." Jawab kak Dinda.


"Maura... kamu benar-benar hamil anakku?." Kenan yang mencoba mendekat ke arah Maura namun di cegah oleh tuan Galang.


"Kenan! kamu ini apa-apaan! ingat kamu besuk akan menikah dengan Dahlia, jangan gila kamu! itu bukan anak mu!." bentak tuan Galang sambil menarik tangan Kenan.

__ADS_1


"Pah.. ini anak Kenan, Kenan yakin Maura hamil anak Kenan." sahut Kenan sambil menatap wajah sang ayah.


"Masuk kamu.. itu bukan anak mu, cepat masuk!." tuan Galang yang memaksa Kenan untuk masuk ke dalam rumah namun Kenan menolaknya.


"Tidak pa.. Kenan harus bertanggung jawab, karena itu anak Kenan, Kenan telah meniduri Maura dua bulan yang lalu, sebelum Maura bergi ke kota X untuk dinas di sana." ucap Kenan agar sang ayah percaya dengan ucapannya.


"Papa tidak percaya.. lebih baik kamu masuk ke dalam rumah.. sekarang!." bentak tuan Galang lagi.


"Tidak bisa seperti itu tuan Galang.. Kenan telah mengakui bahwa dia meniduri putriku, berarti Kenan harus bertanggung jawab." tuan Guntoro yang menarik tangan Galang.


"Jangan ikut campur keluargaku, Kenan itu anakku! yang berhak mengatur masa depan nya adalah aku!." ucap tuan Galang menatap tajam ke arah tuan Guntoro.


Maura yang melihat perdebatan keluarganya dan juga keluarga Kenan seketika menangis, begitu pun nyonya Keni, ia benar-benar bingung hingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kamu hanya orang tua angkat dari Kenan, seharusnya kamu tidak sepenuhnya mengatur kehidupan dan masa depan Kenan sesuka hatimu, Kenan adalah putra dari Galuh dan Nisa sahabatku, dan kami berdua sepakat untuk menjodohkan mereka berdua kelak saat mereka sudah besar, itu janji ku dan Galuh, sebelum Galuh meninggal dunia." ucap tuan Guntoro.


"Jangan bawa-bawa Galuh dan Nisa.. mereka sudah meninggal lama, dan orang tua sahnya sekarang aku, bukan mereka, jadi yang berhak mengatur Kenan aku bukan mereka, dan perjodohan itu sudah masa lampau, dan ini masa sekarang!." tuan Galang yang tidak Terima dengan ucapan tua Guntoro.


.


.


.


Ruwet ya jadinya 😆


Jangan lupa untuk Like, Comment dan Vote ya kakak-kakak..


Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2