Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 43


__ADS_3

Pagi harinya tuan Guntoro mendapat sebuah kiriman foto dari tuan Galang bahwa Kenan dan Dahlia sedang melaksanakan ijab Qobul di sebuah gedung yang sangat megah. Tuan Guntoro yang mendapat foto tersebut segera keluar dari dalam kamar untuk mencari Maura. Setibanya di ruang tamu, taun Guntoro melihat kak Dinda baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Din di mana adikmu?." tanya tuan Guntoro kepada kak Dinda.


"Tidak tahu pa.. tapi tadi Dinda mendapat pesan dari Maura, kalau di akan keluar sebentar." jawab kak Dinda.


"Apa Maura sedang menghadiri pernikahan Kenan dan Dahlia?."


"Menang Kenan jadi nikah sama perempuan yang bernama Dahlia itu pa?."


Tuan Guntoro pun seketika memperlihatkan sebuah foto dekorasi dan terdapat foto Kenan dan Dahlia yang sedang mengucapkan ijab Qobul.


"Jadi mereka akhirnya menikah?." ucap kak Dinda yang merasa syok, lalu bagaimana dengan keadaan adiknya yang jelas-jelas sedang mengandung.


"Keluarga Kenan menang kurang ajar, bagaimana bisa mereka melaksanakan pernikahan sedangkan adikku menderita, benar-benar harus di beri pelajaran si Kenan, Dinda kira Kenan akan membujuk tuan Galang untuk menikah dengan Maura, namun dia tetap mengikuti keinginan ayahnya." kak Dinda yang merasa kesal dengan Kenan serta keluarganya.


Tuan Guntoro seketika menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa. "Kita tidak bisa menyalahkan Kenan atau pun Maura, Din. Bahkan kita juga tidak bisa menyalahkan keluarga Kenan, semua salah, Maura salah karena sedari awal tidak bilang jika dia mempunyai masalah dengan Kenan, dan Kenan pun sebaliknya, ia tidak pernah bilang kepada orang tuannya dan kepada kita bahwa dia pernah menyentuh tubuh Maura, andai saja Kenan bilang tujuannya apa untuk menikahi Maura, semua tidak akan seperti ini, maklum saja jika tuan Galang tidak mau Kenan menikah dengan Maura, karena Maura datang di saat Kenan sudah mau menikah dengan Dahlia, karena waktu itu bukan waktu yang tepat." ucap tuan Guntoro.


"Lalu kita harus bagaimana pa? bagaimana dengan nasib Maura? apakah Maura akan melahirkan bayi itu tanpa seorang ayah?." tanya Dinda yang duduk di sebelah ayahnya.

__ADS_1


Tuan Guntoro yang mendengar ucapan kak Dinda seketika terdiam sejenak, sambil menatap ke arah kak Dinda. "Kita semua harus pergi dari kota ini?." ucap tuan Guntoro.


"Pergi kemana pa?." kak Dinda yang terkejut dengan ucapan ayahnya.


"Ke Bali.. sebaiknya kita pergi dari rumah ini, dan menjauh dari keluarga Kenan, anggap saja keluarga kita tidak pernah kenal dengan keluarga Kenan, lagi pula papa juga punya rumah di sana."


"Lalu bagaimana dengan kandungan Maura pa?." tanya kak Dinda.


"Nanti kita bisa pikirkan itu di sana.. dua bulan lagi kamu juga akan menikah kan dengan Reyhan, kalian nikah saja di bali, yang penting kita pergi dulu dari kota ini."


Kak Dinda yang mendengar ucapan ayahnya merasa setuju, selain menghindari keluarga Kenan, mereka juga menghindar dari rasa malu tetangga, kerabat, dan rekan bisnis ayahnya, tempat kerja ayahnya, tempat kerja Maura juga.


"Sore ini.. sore ini kita akan berangkat, dan segera kemasi barang-barang mu, dan cepat beri tahu adikmu, bahwa kita akan pergi dari kota ini, sore ini."


"Baik pa.. Dinda akan segera mengirim pesan kepada Maura.." kak Dinda yang sudah beranjak berdiri dari tempat duduknya untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.


...****************...


Di tempat lain, Maura sudah masuk ke dalam gedung tempat acara pernikahan Kenan dan juga Dahlia. Maura begitu terburu-buru datang ke pernikahan Kenan, karena pesan yang telah Kenan kirimkan kepadanya. Pesan yang bertuliskan permohonan maaf Kenan kepada dirinya. Karena pesan itu lah yang membuat Maura datang ke pernikahan Kenan.

__ADS_1


Maura sudah duduk di sebuah kursi paling belakang, sambil menatap ke arah dua sepasang pengantin yang sedang berdiri sambil menyapa tamu undangan. Maura datang bukan untuk memberikan selamat untuk pernikahan Kenan, namun Maura datang untuk menyaksikan runtuhnya kehidupan Kenan yang sebenarnya.


Maura tatap lamat-lamat laki-laki yang sedang mengenakan sebuah baju pengantin, Kenan terlihat begitu tampan dan berwibawa. Saat Maura menatap ke arah Kenan, Kenan baru menyadari bahwa ada Maura di pernikahannya. Maura tahu jika Kenan sedang menatapnya. Kenan tidak mengucapkan kata apapun, begitu pun Maura.


Maura merasa ikhlas apa yang Kenan berikan kepadanya. Maura siap menanggung semua masalahnya sendiri. Tidak satu pun air mata yang menetes dari kedua matanya, entah mengapa Maura tampak begitu benci dengan Kenan. Begitu teganya Kenan membiarkan dirinya menanggung semuanya sendiri.


Kata-kata cinta yang pernah Kenan ucapkan kepadanya, kini Maura hanya menganggap bahwa itu adalah ucapan bohong dan mustahil, bahkan saat Kenan mengatakan bahwa dia mencintainya hingga bertahun-tahun, Maura tidak mempercayainya sekarang.


Maura kembali membuka ponselnya, ia kembali membuka pesan yang Kenan kirim tadi pagi, yaitu sebuah pesan.


"Maafkan aku Maura.. jika aku tidak bisa membuatmu bahagia, maafkan aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak di dalam kandunganmu, namun akan ku pastikan aku yang akan tetap menjadi ayah dari anak itu, bukan laki-laki lain, aku akan kembali di waktu yang tepat, aku mencintaimu dan anak kita."


Maura seketika membalas pesan dari Kenan. "Bayi ini adalah bukti betapa bencinya aku terhadapmu!."


.


.


.

__ADS_1


Like dulu yuk.. biar author semakin semangat 🔥


__ADS_2