Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 40


__ADS_3

Kak Dinda yang melihat kamar Maura tidak terkunci seketika masuk begitu saja ke dalam kamar, kak Dinda merasa ia sangat merindukan Maura setelah dua bulan tidak bertemu. Saat kak Dinda masuk ke dalam kamar ia menyapu ke arah ruangan kamar, kamar terlihat kosong.


"Dek.." panggil kak Dinda namun tidak ada jawaban.


Kak Dinda pun memutuskan untuk keluar lagi mungkin Maura sedang mandi pikirnya. Namun saat tiba di ambang pintu kak Dinda mendengar suara seseorang yang sedang menangis di dalam kamar mandi, kak Dinda yang merasa panik takut terjadi apa-apa dengan Maura seketika berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


Kak Dinda langsung membuka pintu kamar mandi begitu saja, dan ia melihat adiknya duduk di atas lantai sambil menangis. "Maura.. kamu kenapa?." tanya Kak Dinda.


Maura yang melihat kehadiran kakaknya seketika terkejut, ia segera meraih tiga alat tes kehamilan di atas wastafel, namun sayang, kak Dinda lebih dulu melihatnya. Dengan tatapan yang penuh curiga kak Dinda menatap ke arah Maura yang sudah beranjak berdiri sambil menyembunyikan alat tes pack di belakang tubuhnya.


"Apa yang kamu pegang?." tanya kak Dinda di depan Maura.


"Tidak apa-apa kak." jawab Maura dengan satu tangan menguap air mata yang membasahi pipinya.


"Berikan kepada kakak Maura, kakak tahu apa yang kamu bawa itu." ucap kak Dinda lagi yang seketika nada suaranya mulai meninggi.


"Ini bukan apa-apa kak." sangkal Maura lagi.


"Berikan tes pack itu kepada kakak sekarang!." Bentak kak Dinda.


Maura yang takut akan ekspresi kakaknya seketika memberikan 3 buah alat tes pack kepada kak Dinda. "Maafkan Maura kak." ucap Maura.


Kak Dinda menatap ke tiga benda tersebut, matanya seketika membulat saat benda menunjukan positif hamil. "Apa kamu hamil?." tanya kak Dinda menatap ke arah Maura.


"Maafkan aku kak, aku juga tidak tahu kalau aku hamil."


Kak Dinda pun seketika diam, ia merasa kecewa, benar-benar kecewa, bahkan tidak menyangka jika adiknya itu hamil, padahal Maura adalah wanita yang baik, pendiam, bahkan tidak pernah macam-macam.


"Siapa yang menghamili mu? katakan pada kakak, dia harus bertanggung jawab."


"Kenan kak." Jawan Maura dengan wajah menunduk tidak berani menatap wajah kakaknya.

__ADS_1


"Kenan?." kak Dinda yang semakin terkejut dengan jawaban Maura, bagaimana bisa Kenan menghamili Maura, padahal Kenan terlihat laki-laki yang baik, sopan, mempunyai etitut yang baik, bagaimana bisa di menghamili anak orang.


Kak Dinda seketika bingung dengan ucapan Maura benarkah yang di kandung anak nya itu anak Kenan. Secara Kenan akan menikah. "Kamu yakin yang menghamili mu adalah Kenan?." tanya kak Dinda lagi yang ingin memastikan.


"Iya kak.. Kenan yang telah merenggut kesucianku, dua bulan yang lalu, dia memaksaku untuk berhubungan, dan aku tidak akan berfikir bahwa aku akan hamil." jawab Maura.


Kak Dinda seketika menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar bingung, secara besuk Kenan akan menikah, bagaimana bisa Maura meminta pertanggung jawaban kepada Kenan. "Kenapa tidak dari dulu kalian menikah, di saat Kenan mau melamar mu Maura, jika kamu tidak menolaknya, pasti tidak akan seperti ini." ucap Kak Dinda.


"Karena aku tidak berfikir sampai aku hamil kak, maka dari itu aku tidak menerima lamaran Kenan."


"Ya sudah.. ayo temui papa, dan bilang semuanya kepada papa jika kamu hamil anak Kenan." ajak kak Dinda.


"Aku takut kak, aku takut papa akan marah dengan aku." Maura yang kembali menitihkan air matanya.


"Marah pasti jelas marah Maura, namun papa harus tahu, agar kamu menemukan jalan keluarnya." ucap kak Dinda lagi.


Kak Dinda dan Maura sudah menuruni anak tangga menuju ke lantai satu, momennya begitu sangat pas, tuan Guntoro baru saja keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang tamu.


"Iya.." tuan Guntoro yang menoleh ke arah Dinda dan Maura. Tuan Guntoro menatap Maura terus menunduk tidak berani menatap ke arah wajah ayahnya. "Ada apa Din.. Ra..?apa ada masalah dengan kalian berdua?."


"Maura sama Dinda ingin bicara sesuatu dengan papa.. ayo pa duduk dulu." kak Dinda yang berjalan untuk duduk di sofa dan di ikuti Maura dan juga tuan Guntoro.


"Bicara apa?."


Kak Dinda seketika diam, ia benar-benar berat ingin mengatakan kepada sang ayah, apa lagi Maura dia hanya diam, karena takut, ia takut jika ayahnya kecewa dengannya.


"Loh kok pada diam.. bicara saja, papa akan mendengarkan."


Kak Dinda seketika memberikan 1 buah tes pack kepada sang ayah dengan tangan begitu gemetar. Tuan Guntoro yang melihat Dinda memberikan sesuatu seketika meraihnya. Than Guntoro tatap alat tes kehamilan tersebut, di sana terlihat jelas garis dua yang menandakan positif hamil.


"Punya siapa ini? dan siapa yang hamil?." tanya tuan Guntoro dengan wajah yang mulai berubah.

__ADS_1


Kak Dinda dan juga Maura yang mendapat pertanyaan dari sang ayah hanya diam, bahkan Maura memejamkan matanya, ia benar-benar tidak sanggup melihat raut wajah ayahnya.


"Jawab papa Dinda! Maura! kenapa kalian diam!." bentak tuan Guntoro.


"Maura pa, maafkan Maura.. jika Maura mengecewakan papa." jawab Muara sambil terus menunduk.


Tuan Guntoro yang mendengar jawaban dari Maura seketika syok, putri bungsu yang ia banggakan, kini hamil di luar nikah, seketika mata tuan Guntoro berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Maura akan berbuat zina di belakangnya hingga hamil.


"Maafkan Muara pa..." Maura yang sudah bersujud di kaki sang ayah, sambil menitihkan air matanya. "Maafkan Maura telah mengecewakan papa."


Marah, benci, dan kecewa menjadi satu. Ingin rasanya tuan Guntoro mengusir Maura dari rumah tersebut, namun bagaimana pun Maura tetap lah putrinya, tidak mungkin tuan Guntoro akan mengusirnya.


"Siapa laki-laki yang menghamili mu?. " tanya tuan Guntoro.


"Kenan pa.. Kenan yang telah meniduri Maura." jawab kak Dinda.


Tuan Guntoro yang mendengar nama Kenan seketika semakin syok. "Kenan? benarkah Kenan yang menghamili mu?." tanya tuan Guntoro dengan memegang kedua pundak Maura agar Maura menatap wajahnya.


Maura tidak menjawab apa-apa dia hanya mengangguk pelan.


"Bagaimana bisa Kenan menghamili mu bagaimana ceritanya, dia akan segera menikah, dan kenapa kamu baru bicara sekarang Maura?." tanya tuan Guntoro lagi.


"Maafkan Maura pa.. Maura tidak berfikir kalau Maura akan hamil, karena saat itu Maura di paksa oleh Kenan untuk melakukan hal bejat itu di sebuah hotel." jawab Maura yang masih bersimpuh di kaki sang ayah.


"Jadi.. kalian tidak mau sama mau?."


"Tidak pa.. waktu itu Maura sedang menemani Kenan meeting di hotel, namun meeting berlangsung cukup lama 2-3 jam, akhirnya Maura memutuskan untuk tidur di sebuah kamar yang sudah sediakan oleh Kenan untuk Maura, namun entah apa yang di dalam pikiran Kenan, dia tiba-tiba memperkosa Maura saat meeting sudah selesai." jelas Maura.


"Kenan benar-benar biadap berani-beraninya dia memperkosa anakku, lalu kenapa kemarin kamu menolak lamarannya, jika kamu sudah di nikmati olehnya?." tanya tuan Guntoro lagi.


"Maura kecewa pa.. Maura kecewa dengan perlakuan Kenan, karena Maura kira Kenan laki-laki yang baik."

__ADS_1


"Baiklah.. ayo kita pergi ke rumah Kenan sekarang, untuk meminta pertanggung jawaban, enak saja dia, menikmati tidak mau tanggung jawab." Tuan Guntoro yang sudah beranjak berisi dari tempat duduknya.


__ADS_2