Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 39


__ADS_3

Setibanya di rumah, Maura sudah di sambut oleh tuan Guntoro dan juga kak Dinda. Mereka sudah berdiri di ambang pintu kala melihat mobil yang menjemput Maura tiba di halaman rumah. Dengan sangat pelan Maura turun dari dalam mobil, tubuhnya begitu sangat lemah, karena banyak nya isi perut yang sudah ia keluarkan. Dengan langkah pelan Maura menghampiri ayah dan juga kakaknya.


Tuan Guntoro yang melihat putrinya terlihat lemas dan pucat seketika berjalan mendekat ke arah Maura. "Maura.. apakah kamu baik-baik saja nak?." tanya tuan Guntoro melihat wajah Maura yang di penuhi dengan keringat.


"Maura baik-baik saja ma.. Maura hanya kelelahan saja, Maura masuk dulu ya, mau istirahat." ucap Maura sambil menahan isi perutnya yang ingin keluar saat mencium aroma parfum ayahnya.


"Ya sudah.. mandi lalu istirahat ya." ucap tuan Guntoro, dan Maura pun hanya mengangguk pelan.


Maura yang sudah tidak tahan lagi dengan perutnya yang begitu sangat mual seketika langsung berlari begitu saja sambil membungkam mulutnya, agar makanan yang ia makan d tidak keluar lagi.


"Dek.." Kak Dinda yang sudah bersiap untuk memeluk adiknya, namun Maura acuh, ia terus berlari masuk ke dalam rumah.


Kak Dinda yang melihat Maura mengabaikannya seketika kesal. "Tuh anak kenapa? udah kemarin berangkat ngga pamit, giliran pulang juga ngga nyapa, apa di sudah lupa dengan kakaknya?." gerutu kak Dinda yang melihat perilaku adiknya sangat menyebalkan.


Tuan Guntoro yang mendengar ucapan putri sulungnya seketika tersenyum. "Di maklumi saja, mungkin dia sedang capek Din, karena perjalanan jauh." tuan Guntoro yang mengusap punggung kak Dinda.

__ADS_1


Kak Dinda yang mendengar ucapan ayahnya hanya menarik nafasnya pelan, mereka berdua pun kembali masuk ke dalam rumah. "Gimana perkembangan persidangan perceraian papa bersama mama?." tanya kak Dinda di samping sang ayah.


"Persidangan akan di lakukan besuk 3 hari lagi, semoga lancar." jawab tuan Guntoro.


"Syukur lah.. Dinda ingin melihat papa bahagia, walaupun Dinda tahu itu menyakitkan untuk papa, namun ini jalan yang terbaik untuk rumah tangga kita pa."


"Iya Din.. papa akan mencoba ikhlas menerima semuanya sekarang."


Di dalam kamar, Maura baru saja masuk ke dalam kamar mandinya, ia langsung berdiri di depan wastafel dan seketika.


"Hoekkk.."


"Hoekkk.."


Maura kembali meletakkan gelas tersebut di atas meja, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur, dengan kaki masih menjuntai ke bawah lantai. Maura merasa tubuhnya begitu sangat lelah, bahkan punggungnya terasa sakit, padahal seumur-umur Maura tidak pernah merasakan sakit pinggang.

__ADS_1


Saat Maura masih menatap ke atas langit-langit kamar, ia teringat dengan sesuatu, yaitu alat tes kehamilan, yang barusan ia beli saat pulang dari bandara. Maura yang penasaran dengan dirinya apakah ia benar-benar hamil memutuskan untuk membeli tes pack tersebut, apa lagi gejala yang di alami oleh Maura adalah gejala ibu hamil pada umumnya. Mual, pusing, muntah-muntah, tidak suka bau minyak angin, dan masih banyak lagi. Bahkan Maura sudah telat haid hampir dua bulan.


Maura seketika kembali beranjak untuk duduk, dan meraih beberapa tes pack dari dalam tasnya, dari tas pack yang murah hingga yang mahal, agar semakin akurat. Saat Maura menatap tas pack di tangannya ia benar-benar merasa takut, bagaimana kalau dia benar-benar hamil. Maura seketika beranjak berdiri untuk memantapkan diri mengecek kehamilan dengan alat tersebut. Namun seketika langkah nya terhenti Maura baru ingat bahwa mengecek kehamilan paling bagus pada saat bangun tidur di pagi hari.


"Cek sekarang apa besuk ya? ah sekarang saja kelamaan, aku sudah penasaran, pasti hasilnya juga sama besuk atau sekarang." Maura yang kembali berjalan untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar Mandi. Maura sudah meletakan sebuah wadah kecil untuk menampung urinnya, dan segera membuka tiga buah tas pack di tangannya. Saat urin sudah siap di sebuah tempat kecil di depannya. Maura segera memasukan tes pack ke dalam wadah tersebut. Ke tiganya Maura susah masuk kan ke dalam urin.


Setelah selesai Maura letakkan ke tiga tes pack di dekat wastafel, ia masih menunggu sambil menggigit jemarinya, Maura benar-benar takut jika hamil beneran, apa yang akan ia katakan kepada ayah dan juga kakak nya, Maura belum siap jika akan hamil anak Kenan. Maura terus tatap tes pack yang pertama ia masukan ke dalam urin dan tidak lama di sana Maura melihat garis merah dua yang menandakan bahwa Maura positif hamil.


Maura yang melihat tes pack garis dua seketika membelalakkan matanya, apa yang ia takuti ternyata menjadi kenyataan. "Astaga.. apa aku tidak salah liat, apa aku benar-benar hamil?." Maura yang masih menatap lekat-lekat benda di tangannya.


Maura masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seketika menatap ke arah tes pack nomor 2 dan 3. Maura melihat bahwa tes pack tersebut tidak beda halnya dengan tes pack yang pertama, dua-dua nya menunjukan dua garis merah semua yang menandakan positif hamil.


Maura yang melihat 3 tes pack menunjukan garis dua semua tidak bisa mengelak, dia harus bisa menerima kenyataan bahwa memang dia benar-benar hamil. Maura yang tahu dirinya hamil seketika menjatuhkan tubuhnya di lantai kamar mandi. Seketika Maura menitihkan air mata nya. Apa yang harus ia lakukan sekarang, bagaimana dia akan menjelaskan kepada ayah dan kakaknya, jika ayah nya tahu Maura hamil di luar nikah, ia pasti akan sangat membenci Maura. Namun jika Maura bilang kepada Kenan bahwa ia benar-benar hamil, itu sudah terlambat, karena besuk pagi Kenan mau menikah.

__ADS_1


Tangisan Maura semakin pecah di dalam kamar mandi. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, apakah dia harus menggugurkan kandungannya seperti yang dulu ia katakan kepada Kenan, bahwa ia tidak akan membiarkan janin itu tumbuh di rahim nya. Namun Maura teringat bahwa janin yang ada di dalam kandungannya tidak bersalah, semua ini adalah kesalahan Kenan, tetapi saat Kenan ingin bertanggung jawab justru Maura menolaknya.


"Aku benci situasi ini! aku sangat benci! hik.. hik.. masa depanku telah hancur." ucap Maura yang terus menangis.


__ADS_2