Pahitnya Cincin Di Jari Manis

Pahitnya Cincin Di Jari Manis
Part 44


__ADS_3

Tiga tahun pun berlalu. Kini Maura hidup bahagia dengan keluarganya di bali, hingga i melahirkan seorang putri yang sangat cantik yang ia beri nama Kania Kainan Guntoro yang sekarang usianya sudah menginjak 2 tahun lebih. Maura begitu menikmati hidupnya bersama putrinya, ayahnya, dan juga kak Dinda yang juga sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Danio Rey Guntoro yang usianya lebih muda dari Kania. Namun saat Danio menginjak usia satu tahun, kak Dinda memutuskan untuk membeli rumah yang tidak jauh dari kediaman ayahnya bersama suaminya yang bernama Reyhan.


Maura menjalani hidupnya dengan sangat bahagia, walaupun tanpa sosok suami di sampingnya, hanya kadang Maura sedikit sedih jika Kania harus bertanya "kemana Daddy, kemana Daddy." Kata-kata itu yang membuat Maura begitu merasa sakit, dan bingung harus menjelaskan kepada putrinya yang semakin beranjak dewasa.


Maura begitu di sibukkan dengan kesibukannya sebagai dokter di salah satu rumah sakit besar di Bali. Namun Maura juga tak lupa dengan kewajiban nya sebagai seorang ibu yang setiap hari harus merawat putri cantiknya, walaupun ada seorang baby sister, namun Maura tidak membatasi untuk memberikan waktu terhadap sang putri. Maura ingin setiap hari melihat tumbuh kembang Kania degan sangat baik.


Hari ini adalah hari minggu, tepat di mana hari libur Maura. Seperti biasa setiap happy Weekend Maura akan menghabiskan waktunya bersama sang putri yaitu Kania. Dengan langkah kecil Kania berlari-lari menyusuri Mall yang begitu besar. Kania tampak begitu riang sambil tertawa, baru umur 2 tahun, namun Kania begitu sangat lincah, bahkan jalannya pun begitu lancar.


Maura yang melihat putrinya semakin menjauh darinya seketika berteriak. "Kania.. jangan lari-lari nanti kamu jatuh." teriak Kania yang semakin mempercepat langkahnya.


Mall begitu terlihat sangat ramai di hari Weekend, bahkan banyak orang berlalu lalang untuk sekedar menongkrong, belanja, dan cuci mata. Maura mulai menajamkan matanya kala putrinya sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Maura seketika panik ia semakin mempercepat langkahnya, sepertinya baru saja Maura melihat Kania yang lari-lari, dan tiba-tiba sudah tak terlihat saat Maura menoleh ke arah lain.


"Apakah kamu melihat Kania, Tiara?." tanya Maura kepada baby sister Kania. "Baru aja di tinggal nengok sebentar itu anak udah ngga ada?." lanjut Maura.


"Sepertinya tadi Kania berada di gerombolan orang-orang di depan itu buk." ucap Tiara sambil membawa tas yang berisikan perlengkapan Kania.


Maura mulai panik, ia terus memanggil nama Kania, sambil melihat ke arah sekitar, bagaimana bisa anak umur dua tahun begitu sangat cepat larinya, bahkan hilang begitu saja.


"Kania.. Kania.." panggil Maura yang terus mencari keberadaan putrinya.

__ADS_1


Kania memang sering suka jalan sendiri dan berlari-lari namun tetap dalam pantauan Maura dan baby sister, dari pada harus di gendong atau duduk di sebuah stroller. Jika di taro stroller Kania akan menangis dan meminta untuk turun. Maura terus mencari keberadaan Kania, begitu pun Tiara. Tidak biasanya Kania akan hilang jejak seperti ini dari pantau mommy nya.


"Ha.. ha.. ha.." Kania yang terus berlari-lari tanpa arah, sambil menggenggam lolipop di tangannya, dan tiba-tiba saat Kania masih berlari tiba-tiba.


"Bukk.." Kania yang sudah menabrak sebuah badan yang tinggi, tegak, dan atletis hingga Kania sedikit terpental dari tubuh laki-laki tersebut.


Kania yang jatuh tidak menangis, dia hanya merengek, sambil meraih permen lolipop yang susah jatuh ke lantai lalu kembali ia masukkan ke dalam mulutnya. Laki-laki yang melihat seorang balita kecil mungil, namun berisi seketika segera meraihnya. Laki-laki itu tidak melihat jika ada anak kecil di depannya, karena ia sedang sibuk menelfon seseorang.


"Kamu tidak apa-apa cantik." Laki-laki tersebut seketika langsung menggendong tubuh mungil Kania di tangan atletisnya. Laki-laki itu terus menatap ke arah Kania, ia begitu terpesona dengan kecantikan Kania, dengan wajah oval, pipi cabi, mata bulat, kulit bersih, dan rambut hitam lekat namun sedikit bergelombang.


Kania menggeleng pelan, lalu menatap wajah laki-laki yang sedang menggendongnya. "Ania edak apa-apa om." ucap Kania dengan ucapan yang belepotan, layaknya balita pada umumnya, masih belum bisa bicara dengan lancar.


"Cana Yom.. Cana..." Kania yang menunjuk ke sebuah arah yang begitu banyak orang berlalu lalang. Seketika laki-laki tersebut menoleh ke arah yang Kania tunjuk, namun dia sangat kebingungan, bagaimana dia akan menemukan mama anak ini jika orang begitu sangat banyak di mall tersebut.


"Nama kamu siapa?." tanya laki-laki itu lagi.


"Ania om, Ania." jawab Kania menatap laki-laki tersebut tanpa takut.


Laki-laki tersebut sedikit tidak mengerti dengan ucapan Kania, dia sangat bingung dengan ucapan Kania, dia bisa menangkap nama Kania adalah Tania bukan Kania.

__ADS_1


"Apa kamu hafal dengan wajah mama kamu Tania?."


"Ania om, ukan Taia" ucap Kania lagi, yang tidak Terima jika di panggil Tania.


"Iya-iya.." Laki-laki tersebut mengangguk pelan sambil tersenyum, sebab anak ini benar-benar terlihat sangat pintar, bahkan tidak takut dengan orang lain.


"Siapa nama mamamu cantik? apa. kamu tahu?." tanya laki-laki itu lagi.


"Maula om." jawab Kania.


"Ma_ula?." laki-laki tersebut yang mendekatkan wajahnya ke arah Kania, karena tidak paham dengan ucapan Kania.


"No.. Noo.." jawab Kania, sambil menunjukkan jemari telunjuknya."Mommy Ania, amanya Maula, om." ucap Kania lagi.


"Oh Maura?." ucap laki-laki itu lagi yang seketika paham.


Kania yang mendengar ucapan laki-laki tersebut hanya mengangguk sambil tersenyum menunjukan gigi yang masih hanya beberapa saja terpasang di gusinya.


Laki-laki tersebut seketika terdiam sejenak. "Maura?." ucap Laki-laki itu yang tidak lain adalah Kenan. Kenan seketika kembali menatap wajah Kania dengan lekat-lekat. Di sana Kenan melihat bahwa mata dan bibir Kania terlihat mirip dengan Maura. Bahkan Kania begitu sangat putih seperti kulit Maura.

__ADS_1


"Ah tidak mungkin jika ini? tidak mungkin, bukannya Maura ada di Singapura, mana mungkin dia ada di sini, ini pasti hanya kebetulan saja nama orang tua anak ini Maura." ucap Kenan yang tidak percaya jika anak kecil ini adalah anak Maura, wanita yang dulu sangat ia cintai, bahkan hingga sekarang.


__ADS_2