
Mobil mewah berwarna hitam baru saja tiba di depan halaman rumah. Maura lebih dulu keluar dari dalam mobil, dengan di susul oleh Tiara sambil menggendong Kania yang sedang tidur begitu pulas. Setibanya di depan rumah, Kania sudah di sambut oleh kak Dinda yang beberapa hari ini sedang backstreet di rumah. Maura menyuruh sang kakak untuk tidak bekerja terlebih dahulu karena beberapa hari yang lalu mengalami keguguran. Dua tahun lebih kak Dinda belum juga di karunia keturunan, setelah dua kali keguguran, yang di sebabkan oleh lemahnya kandung. Dulu di usia kandungan yang sudah memasuki lima bulan, kak Dinda di nyatakan keguguran. Dan beberapa hari yang lalu, usia masih berusia 2 bulan lagi-lagi kak Dinda harus kehilangan bayi nya.
Kak Dinda yang berada di ambang pintu menatap wajah adiknya yang terlihat kesal, menjadi curiga. Tidak biasanya Maura pulang dari mall bersama Kania memasang muka cemberut. Apa lagi masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa permisi.
"Apakah Kania tidur?." tanya kak Dinda kepada Tiara yang baru saja berjalan akan masuk ke dalam rumah.
"Iya buk Dinda..." jawab Tiara sedikit menunduk untuk memberi hormat.
"Kenapa Muara? kok mukanya kaya kesel gitu, apa terjadi masalah di jalan?." tanya kak Dinda lagi.
Tiara yang mendengar pertanyaan dari kak Dinda seketika bingung ia hanya bisa tersenyum, karena tidak bisa menjelaskan kepada kak Dinda kenapa tiba-tiba Maura berubah greatest setelah bertemu dengan laki-laki tadi di mall. "Saya juga kurang tahu, buk. Mungkin ibu Maura hanya kepanasan, cuacanya kan lagi panas."
"Ya sudah cepat bawa Kania ke kamar, agar posisi tidurnya lebih nyaman." perintah kak Dinda sambil mengusap rambut gelombang Kania.
"Baik buk." jawab Tiara lalu kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, kak Dinda melihat Maura sedang duduk di atas sofa, sambil melamunkan sesuatu. Kak Dinda yang melihat adiknya tampak gelisah seketika mendekat.
"Kamu kenapa Ra? tidak biasanya kamu pulang dari luar bersama Kania seperti ini? coba cerita sama kakak." ucap kak Dinda yang duduk di sebelah Maura.
Maura yang mendengar ucapan sang kakak awalnya diam, sambil menatap wajah sang kakak yang sedang duduk di sampingnya. "Apakah kakak sudah sehat? kenapa kakak jalan-jalan sampai luar? seharusnya kakak istirahat di kamar."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kakak ini sedang bertanya kepadamu, jadi jangan tanya balik, jawab pertanyaan kakak, kamu kenapa?." ucap kak Dinda.
__ADS_1
Maura seketika menarik nafasnya dengan berat. Sebenarnya Maura tidak ingin bercerita kepada sang kakak jika tadi di mall ia bertemu dengan Kenan. Namun ternyata kak Dinda lebih jeli melihat raut wajahnya, secara kak Dinda adalah dokter psikolog.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu Kenan di mall kak." ucap Maura.
Kaka Dinda yang mendengar ucapan adiknya seketika terkejut. "Hah.. yang bener kamu? kamu ngapain ketemu dia lagi? apa kamu janjian?."
"Apaan sih kak, ya engga lah, aku aja udah benci sama dia, ngapain aku janjian sama dia, punya nomornya aja engga." jawab Maura sambil menatap wajah sang kakak. "Di bilangin kita ngga sengaja ketemu, aku aja juga bingung, kenapa tiba-tiba ada dia di mall itu, apa lagi dia yang nemuin Kania, saat Kania hilang di mall tadi."
"Jadi yang nemuin Kania di mall tadi si Kenan?." kak Dinda yang semakin terkejut. Sebab saat Kania hilang di mall, Maura sempat mengirim pesan kepada kak Dinda.
"Iya.. Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa, Kania bertemu dengan Kenan. Kenapa sangat kebetulan sekali."
"Jadi Kenan sudah melihat putrinya? apakah dia berfikir Kania anaknya?."
"Sepertinya dia berfikir bahwa Kania adalah anak yang dulu aku kandung, tapi aku bilang bahwa aku sudah menggugurkan anak itu, dan bilang bahwa Kania adalah anakmu."
"Entahlah.. percaya tidak percaya mungkin.. dia terus mencegahku untuk tidak pergi dari mall, dan bilang bahwa dia selama ini mencari ku di Singapure."
"Jadi awalnya, dia percaya jika keluarga kita tinggal di Singapure?."
"Sepertinya seperti itu." jawab Maura.
"Berarti persembunyian kita telah di ketahui."sahut tuan Guntoro yang berjalan ke arah kak Dinda dan juga Maura.
__ADS_1
"Papa." ucap Maura menatap ke arah sang ayah.
"Tidak hanya Kenan yang selama ini mencari mu, tapi tuan Galang dan juga Keni, selaku orang tua angkat Kenan. Mereka mencoba mencari tahu keberadaan kita semua." tuan Guntoro yang duduk di seberang meja.
"Hah.. buat apa orang tuan Kenan juga mencari kita pa?." tanya kak Dinda.
"Kata om Wicak, yaitu sahabat papa, dan juga sabahat om Galuh, yang sekarang menjadi teman bisnis tuan Galang, cerita sama papa, bahwa Dahlia istri Kenan, belum juga bisa memberi cucu untuk mereka, banyak rumor yang beredar bahwa Dahlia mandul, tapi entah benar atau tidak, papa juga tidak paham. Maka dari itu tuan Galang dan Keni mencari Maura, untuk menanyakan anak yang dulu berada di dalam kandungan Maura." jelas tuan Guntoro.
"Apa! enak saja keluarga Kenan? dulu kemana? dulu aja nolak untuk menikahkan Kenan bersama Maura, ngotot mau nikahin Kenan sama Dahlia-Dahlia itu, giliran lama punya cucu, nyari-nyari Kania, Dinda tidak setuju pa, jika Kania di akui cucu oleh keluarga Kenan."
"Kamu kira papa setuju, rasa sakit papa masih terasa sampai sekarang, saat Galang menolak Maura, bahkan keluarga mereka tidak melihat betapa susah payahnya kita membesarkan Kania, bahkan Maura hamil tanpa seorang suami, bagaimana mungkin papa sebagai ayah rela begitu saja, walaupun Kenan putra Galuh, sahabat papa, tapi Kenan sudah keterlaluan."
"Bukan hanya papa, bahkan rasa sakit yang Maura alami tidak akan pernah hilang sampai kapan pun." sahut Maura.
.
.
.
Maaf baru up..
Banyak kerjaan..
__ADS_1
Author ngga lupa kok..😆 cuman lagi sibuk, belum sempat up..
Terimakasih sudah setia menunggu ❤