
Kenan baru saja tiba di kediaman Maura dengan raut wajah yang masih kecewa. Kedatangan Kenan ke rumah Maura bukan untuk membawa pulang Maura, melainkan untuk membatalkan niatnya untuk melamar Maura. Dengan langkah cepat Kenan masuk ke dalam rumah. Tuan Guntoro yang melihat Kenan sudah datang seketika berjalan mendekat.
"Loh.. mana Maura nya nak Kenan? apa kamu telat datang ke bandara?." tanya Tuan Guntoro.
"Tidak om, tadi saya sudah sempat bertemu dengan Maura."
"Lalu di mana Maura sekarang?."
"Tapi Maura tetap dengan pendiriannya om, dia tidak mau untuk pulang, dan tetap ingin pergi ke kota X, saya sudah tidak bisa mencegahnya, karena Maura sudah banyak berubah, berkali-kali saya mencoba untuk meyakinkan Maura, namun dia tetap bersikeras untuk pergi." jelas Kenan.
"Ya Tuhan.. memang benar Maura sekarang banyak berubah, om rasa Maura yang dulu telah hilang, Maura yang sekarang om benar-benar tidak mengenalnya." ucap tuan Guntoro.
"Dan saya juga mau bilang om, saya memutuskan untuk membatalkan niat saya untuk melamar Maura, karena saya sadar bahwa perjuangan saya tidak ada artinya apa-apa bagi Maura, sia-sia jika Maura tidak pernah mencintai saya."
Tuan Guntoro pun menarik nafasnya dengan sangat berat. "Om rasa juga seperti itu nak Kenan, saat om tanya kata Maura dia tidak pernah ada rasa, sayang sekali padahal om sangat merestui hubungan kalian, namun cinta tidak bisa di paksakan, akan menyakitkan jika hanya kamu yang mencintai Maura."
Kenan yang mendengar ucapan tuan Guntoro hanya mengangguk pelan. "Andaikan om Guntoro tahu, bahwa yang memuat Maura berubah adalah aku, pasti tuan Guntoro akan membenciku, seperti Maura membenciku." ucap Kenan di dalam hati.
Setelah berbincang-bincang cukup lama. Kenan pun segera berpamitan untuk pulang. Karena jika Kenan terlalu lama berada di rumah Maura, itu semakin menyakiti hatinya. Karena banyak kenangan yang Maura dan Kenan habiskan bersama di rumah tersebut.
Di perjalanan Kenan terus memikirkan Maura, bukan hal mudah untuk Kenan menarik niatnya untuk melamar Maura. Namun Kenan melakukan ini karena ucapan Maura sendiri. Untuk apa dia mengharapkan Maura dan bertanggung jawab terhadap Maura, jika Maura tidak pernah menginginkan kehadiran Kenan yang mencoba untuk membahagiakannya. Bahkan Maura bilang dia akan menggugurkan kandungannya jika Maura hamil, ucapan itu lah yang membuat Kenan begitu kecewa terhadap Maura.
__ADS_1
"Jika kamu hamil, dia ada karena kesalahan ku Maura, bukan kesalahanmu dan anak itu, namun aku mencoba memperbaiki ke kesalahanku, namun kamu tolak mentah-mentah begitu saja, baiklah, aku akan menuruti keinginanmu, jika memang kamu menyuruhku untuk pergi, aku akan pergi dari hidup mu, toh kamu juga tidak menginginkan anak dari ku, untuk apa aku bertahan." pesan yang sudah Kenan kirimkan kepada Maura, dan Maura begitu cepat membukanya, Kenan tidak mengharapkan balasan dari Maura, Maura sudah membaca pesan tersebut saja Kenan sudah sangat lega.
Setibanya di rumah Kenan melihat Ayah dan mamanya sedang bersantai di depan ruang TV.
"Kenapa Ken kok wajahmu muram seperti itu?." tanya tuan Galang, sambil menikmati acara TV.
"Kenan hanya lelah saja." Kenan yang sudah duduk di depan ayah dan juga mamanya.
"Pa.." panggil Kenan.
"Hem." jawab tuan Guntoro sedikit menoleh ke arah Kenan, namun kembali menatap ke layar televisi.
Tuan Galang yang mendengar ucapan Kenan seketika langsung menekan tombol off pada remote, dan TV pun mati begitu saja.
"Gimana? papa ngga denger?." tuan Galang yang menginginkan Kenan mengulang ucapannya, padahal ia sudah sangat jelas mendengar ucapan Kenan barusan.
"Kenan mau menikah dengan perempuan yang sudah papa pilihkan untuk Kenan." ucap Kenan lagi.
"Kamu yakin Ken? mau menikah dengan Dahlia, anak teman papa itu?." tanya tuan Galang lagi untuk lebih memastikan bahwa Kenan tidak berbohong.
"Iya pa.." Jawab Kenan.
__ADS_1
"Kamu sedang tidak mabuk kan? kamu seratus persen sadar kan?." Tuan Galang yang mendekatkan wajahnya untuk menatap wajah Kenan.
"Memang muka-muka Kenan ini kelihatan habis mabuk? ."ucap Kenan sedikit menatap tajam ke arah ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan Maura Ken? apa benar dia menolak lamaran mu?." tanya nyonya Keni.
"Keluarga Maura belum memberikan keputusan ma, begitu pun dengan Maura, lebih baik Kenan mundur saja, dan membatalkan niat Kenan untuk menghalalkan Maura, karena itu sangat sia-sia."
"Nah betul." sahut tuan Galang. "Untuk apa menunggu yang tidak pasti, perempuan itu biasanya banyak yang ingin segera di halalkan, lah itu Maura, malah tidak jelas, mending skip aja cari yang mau di halalin, ya ngga Boy?."
"Tapi kan Maura itu dokter pa, ya pantas saja dia tidak terburu-buru untuk menikah, apa lagi kemarin dia baru saja gagal menikah, itu pasti masih membekas di dalam hatinya, masih ada trauma untuk menuju ke jenjang yang lebih serius lagi bersama laki-laki." ucap nyonya Keni lagi.
"Nah.. kemarin Maura tidak jadi menikah kan, karena calonnya selingkuh, dari situ saja sudah terlihat ma, pasti ada yang salah dengan Maura, makanya tunangannya pilih wanita lain."
"Sudah pa.. Kenan tidak mau papa terus menjelek-jelekkan Maura, karena Maura itu wanita yang baik, ya sudah Kenan masuk ke kamar dulu, mau istirahat capek." Kenan yang sudah beranjak berdiri meninggalkan kedua orang tuanya.
"Besuk papa akan mengatur pertemuan mu dengan Dahlia Boy..?." teriak tuan Galang, dan Kenan hanya mengacungkan jempol sambil berjalan menaiki anak tangga.
"Mama kok sedikit tidak setuju jika Kenan bersama Dahlia pa, secara Dahlia itu model, banyak laki-laki yang menggandrunginya, apa papa yakin itu tidak akan membuat Kenan sakit hati."
"Justru bagus dong ma, Kenan akan semakin di kenal banyak orang, jika pacaran dengan Dahlia, mama ini bagaimana sih?." tuan Galang yang menggaruk kepalanya.
__ADS_1