Paintfull Love

Paintfull Love
Masa Lalu


__ADS_3

"Tok... Tok...Tok..." Bunyi suara pintu terdengar diketuk dari luar.


"Masuk!" Perintah seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di sofa sambil memegang sebuah foto pernikahan yang sudah mulai kusam. Lalu setelah itu ia pun menyimpan foto tersebut kedalam sebuah brankas miliknya.


"Duduk."Ucapnya sambil memberi kode kearah lelaki yang sudah dianggap saudaranya sendiri.


"Ada informasi apa pak Tono?" Iapun menyilangkan kakinya lalu menatap ramah pria yang sedang duduk didepannya sambil membawa beberapa map.


"Saya mau memberi ini Tuan?" lelaki paruh baya yang ada didepannya menyodor sebuah map kehadapannya.


"Sudah saya bilang berapa kali pak Tono, jangan panggil saya Tuan"! Ucap lelaki tersebut ramah sambil mengambil map yang disodor oleh pak Tono. Lalu ia pun mebukanya dengan santai.


"Amara.." Matanya membelalak seakan tidak percaya. Lalu melihat beberapa foto selanjutnya. Matanya berkaca kaca menatap beberapa foto hasil jepretan Pak Tono. Lalu iapun berhenti ke selembar foto yang menampilkan wajah istrinya yang telah diusir 20 tahun yang lalu sedang bersama seorang gadis cantik yang sedang merayakan kelulusan SMA. Wajah istrinya dan gadis tersebut jika diperhatikan sangat terlihat mirip dengan wajah istrinya waktu muda.


"Siapa gadis ini?" Ucap Tuan Hasan kepada pak Tono. Pak Tono menarik nafasnya dalam dalam lalu dengan hati hati menyodorkan beberapa berkas dari hasil penelusurannya.


Tuan Hasan menatap berkas tersebut kemudian membukanya dengan buru buru lalu melihat data pribadi gadis tersebut.


"Sheril Amisiani." lirihnya datar membaca nama wanita muda tersebut. Lalu iapun beralih ke berkas selanjutnya melihat kartu keluarga. Dia membacanya namun tidak ada yang menarik Kemudian beralih ke berkas selanjutnya yang merupakan akta kelahiran.


Ia membaca berulang kali akta kelahiran dari gadis tersebut. Nama bapak dan ibu kandungnya sangat mirip dengan namanya sendiri serta nama istrinya yang diusir hanya saja tidak menggunakan nama belakang dirinya Notonegoro.


Ia kemudian menoleh kepada pak Tono dengan penuh tanda tanya.


"Siapa gadis ini?" Tanyanya sekali lagi.


"Anak Nyonya Amara Tuan." pak Tono mengucapnya dengan tegas.


"Apa.....!!" Mana mungkin dia hamil? Jangan bercanda kamu. Bukankah dia tidak menikah lagi setelah keluar dari rumah itu? Apa jangan jangan dia hanya anak angkat?" Tuan Hasan memberikan pertanyaan bertubi tubi kepada pak Tono. Kerutan diwajahnya yang sudah dimakan usia makin terlihat jelas disaat ia dalam keadaan banyak fikir begini.


"Saya sudah mengikutinya hampir tiga bulan Tuan. Saya sangat yakin itu adalah anak Nyonya Amara. Karena bukti bukti yang saya kumpulkan semuanya sudah sangat cukup. 7 bulan setelah Nyonya diusir ia melahirkan gadis tersebut dirumah sakit kota ini tuan. Akta itu dikeluarkan oleh rumah sakit milik pemerintah kota ini. Semua data tertulis disana dan saya sudah menyimpan di file ini tuan."pak tono menyerahkan sebuah hard disk kepada pak Tuan Hasan dengan penuh keyakinan.


"Lalu bapak gadis ini siapa?" tuan Hasan berucap pelan seakan tidak percaya lalu menatap wajah pak Tono yang mulai tegang.


Pak Tono menatap tuan Hasan dengan raut wajah kebingungan.


"kenapa bapak nanya lagi? Bukankah semua bukti disana sudah jelas dan diakta juga tertulis nama bapak. Cuma nama belakangnya saja sengaja dibuang oleh nyonya Amara agar tidak ketara." Ucap pak Tono dalam hati.


Pak Tono menelan salivanya. Mulutnya bungkam, sulit rasanya untuk pak Tono mengucapkan bahwa itu anak kandung dari tuan Hasan sendiri. Pak Tono sangat tau sekali bagaimana sayangnya tuan Hasan kepada istri pertamanya tersebut.


"Tono...! Kenapa diam?" Bentak tuan Hasan yang sedang kalut. Sebenarnya Tuan Hasan sangat tau jelas kemana perginya arah perbincangan tersebut tapi sulit untuk ia percaya. Tuan Hasan adalah orang yang pintar tidak mungkin dirinya sendiri tidak mengerti setelah melihat semua bukti yang dibawa oleh pak Tono tapi lagi lagi karena rasa bersalah dan takut akan kenyataannya membuat dirinya menjadi sulit untuk mempercayainya.


"Iya Tuan." Ucap pak tono lirih karena takut suasana hati tuan Hasan menjadi bertambah tidak baik.


"Argh...." Tuan Hasan menjerit lalu melemparkan berkas berkas yang ada ditangannya. Ia menutup wajahnya yang sedang putus asa dengan kedua telapak tangannya.


Bagaimana tidak istri yang dulu sangat dicintainya. Hampir 10 tahun mereka menikah walaupun tidak memiliki anak ia tetap mencintainya. Namun kebahagiaan itu berlalu dan kini hanya tinggal masa lalu karena disaat ia pulang dari perjalanan bisinis keluar kota istrinya sudah tidak ada dirumah lagi.


Walaupun kini ia sudah memiliki dua orang anak dari hasil pernikahan perjodohan orang tuanya namun hidup bersama orang yang disayangnya jauh terasa berbeda.


Pak Tono mebersihkan berkas berkas tersebut lalu memasukkannya kedalam map kemudian pamit untuk keluar. Walaupun tak ada jawaban dari tuan Hasan ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ada rasa kasian melihat keadaan Tuan Hasan namun apa yang bisa dilakukan karena semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


Pak Hasan mengambil jasnya lalu melangkah pintu keluar dan memberi pesan kepada sekretarisnya untuk membatalkan segala agenda dihari ini.


"Apartemen." ucapnya kepada supir yang selalu menemaninya. Supirnya yang sudah paham langsung melajukan mobil melewati hiruk pikuknya jalanan.


Sesampainya diapartemen Tuan Hasan membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamar. Bayang bayang masa lalu melintas di kepalanya. Dua puluh tahun dia mencari istrinya dan sekarang di saat ia sudah ketemu ia harus menerima kenyataan ternyata selama ini istrinya tidak mandul.


Matanya berkaca kaca mengingat hasil jepretan foto pak Tono. Ia memejamkan matanya namun yang terlintas dimatanya hanya pakaian istrinya yang kumuh dan senyuman gadis yang tidak lain adalah anaknya sendiri.


"Bagaimana bisa kamu membuat aku terlihat seperti lelaki bodoh dan sebrengsek ini Amara? Apa aku yang selalu merindukanmu namun kamu tidak? Apa yang membuatmu meninggalkan aku dan memisahkan darah dagingku?" Ucapnya lirih sambil meneteskan air mata dipelupuk matanya yang sudah berkerut.


"Apakah kehidupanmu sekarang sangat sulit Amara?" Tanyanya dalam hati mengingat pakaian lusuh yang dikenakan istrinya. Hatinya teriris melihat penampakan istri tuanya tersebut.


"Apakah dia masih istriku? Aku tidak pernah menceraikannya dan tidak pernah mengurus perceraian? Apakah dalam agama aku masih bisa dikatakan suami? Kita berpisah pun tidak ada permasalahan?" Ucapnya lirih lalu membuka situs online tentang pernikahan.


Beratus pertanyaan mengambang diatas kepala pria yang sudah berumur tersebut. Walaupun umurnya sudah memasuki 60 tahun namun wajah tampan dan kharismatik dari wajahnya masih sangat terlihat jelas.


"Ketemu..." Ucapnya. Senyuman bahagia terukir dibibirnya. Yeah tenyata dalam islam meskipun lama berpisah namun jika belum ada kata talak atau perceraian maka masih sah sebagai suami istri.


"Amara, Sheril, papa akan datang dan membahagiakan kalian sekarang." Ucapnya lirih.


Dengan wajah yang cerah iapun menelepon pak Tono untuk bersiap siap menuju kota tempat tinggal dimana istri tuanya tinggal.


"Baik tuan. Saya akan bersiap. Jawab pak Tono dari seberang telepon.


"Siapkan helikopter buat satu jam lagi." Ucap pak tono mengakhiri panggilannya.


Dua jam berlalu akhirnya kini mereka berdua sampai di kota tempat tinggal dimana anak serta istri tuanya berada.


"Sekitar satu jam pak." Jawab pak Tono yang memang dalam beberapa tahun belakangan ini ditugaskan untuk mencari tau tentang keberadaan istri tuanya tersebut. Ia ingin memastikan apakah masih hidup atau sudah meninggal.


"Ayo kita kesana." Tuan Hasan melangkahkan kakinya dengan penuh semangat.


"Apa Tuan tidak makan dulu?" Ucap Pak Tono yang khawatir karena dari tadi Tuan Hasan belum makan sedikitpun.


"Apa kamu lapar?" pak Hasan menolehkan wajahnya menatap Pak Tono yang sedang berdiri disampingnya sambil membawa sebuah koper.


"Tidak Tuan. Saya hanya khawatir saja sama tuan karena dari tadi belum makan sedikitpun. Saya sudah makan sebelum berangkat." Pak Tono menatap tubuh yang ada disampingnya yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang disayangnya.


"Hem baiklah. Kita makan dulu. Saya baru ingat saya belum makan. Hanya sarapan roti tadi pagi sebelum ke kantor." Tuan Hasan melirik arloji yang ada ditangan kirinya sambil tersenyum melihat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Saking bahagianya ingin ketemu sampai lupa belum makan. Seperti anak muda aja." Fikirnya sendiri lalu tersenyum geli memikirkan tingkahya yang sudah tidak muda lagi. Tapi itulah kenyataannya ia memang sudah tidak sabar untuk bertemu.


Dua jam berlalu kini hari sudah malam. Langit sudah mulai tampak gelap. Sebuah mobil kini sedang terparkir di sebuah gang kecil. Tidak jauh dari beberapa rumah penduduk. Tidak jauh dari sana ada rumah yang berukuran sekitar 10 × 12 meter. Rumah yang sangat sederhana sekali dan ada sedikit taman beserta teras kecil.


"Kamu yakin itu rumahnya?" Tuan Hasan menoleh kearah orang kepercayaannya.


"Iya Tuan. Saya yakin." Pak Tono menoleh ke arah rumah tersebut dan melihat ada seseorang yang mengemudikan motor tiba di halaman rumah yang mereka perhatikan lalu mengetuk ngetuk pintu rumah.


"Dan tidak lama pintu dibuka kemudian muncullah sosok anak gadis yang bernama Sheril lalu beberapa detik kemudian wanita paruh baya yang sudah berumur kisaran 45 tahun muncul dengan membawa sebuah bingkisan lalu menyerahkan bingkisannya kepada tamu lalu menerima uang dari tamu kemudian tamupun pergi.


"Nyonya Amara jualan online tuan. Ia menerima catering dalam bentuk lauk pauk dan kue. Tamu itu mungkin salah satu pelanggannya." Pak Tono memulai pembicaraan.

__ADS_1


Tuan Hasan menelan salivanya yang terasa pahit dan perih dihati. Bukan pekerjaan istrinya yang dipermasalahkannya. Namun dia merasa bersalah sebagai suami. Dirinya yang bergelimangan harta dan orang orang dekatnya semua mencicipinya namun orang yang paling disayangnya serta darah dagingnya sendiri tidak dapat menikmatinya sama sekali. Jika ia adalah orang susah dan tidak memiliki apa apapun dia tidak akan merasa bersalah namun kenyataanya sebaliknya.


Ia menarik nafasnya lalu membuka pintu mobil.


"Mau kemana Tuan?" Pak Tono mencengkeram tangan tuan Hasan.


"Lepaskan. Aku ingin bertemu Anakku." Tuan Hasan menatap tajam kearah pak Tono seakan akan ingin melahapnya sekarang juga.


"Jangan sekarang tuan. Tunggu Sheril tidak ada dirumah dulu. Saya takut akan ada salah paham dan membuat Sheril membenci Tuan." Pak Tono mengucapnya dengan penuh waspada. Tuan Hasan yang mendengarkan penjelasan Pak Tono panjang lebarpun menghentikan niatnya.


"Kapan waktunya? kita sudah sampai disini sekarang." Tuan Hasan menunggu jawaban dari Pak Tono.


"Sebentar lagi Tuan. Biasanya non Sheril ngajar les privat dari jam 8 sampai jam 10 malam." Pak Tono menunjuk kearah gadis yang keluar dari pintu lalu diikuti oleh wanita paruh baya. Setelah mencium punggung tangan ibunya gadis tersebut pergi mengendarai motor matic yang baru dibelinya belum lama ini untuk mempermudah ia pergi bekerja dan membantu mengantar pesanan langganan ibunya.


Gadis tersebut melewati mobil yang dikendarai pak Tono dan tuan Hasan. Tuan Hasan menatapnya dari dalam mobil sampai motor Sheril tidak terlihat lagi.


"Sekarang Tuan boleh pergi. Saya akan berjaga jaga disini menunggu non sheril pulang." Pak Tono keluar lalu membukakan pintu mobil untuk tuan Hasan.


Tuan Hasan menarik nafasnya lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ia kelihatan sangat gelisah. Dirinya takut jika kedatangannya tidak diterima dan akan diusir.


"Tenang pak!" Ucap pak Tono yang usianya lebih tua dan hanya beda dua tahun dari Tuan Hasan.


"Doakan saya pak Tono." Tuan Hasan pergi setelah mendapat jawaban anggukan dari pak Tono. Ia melangkahkan kakinya dengan jantung berdebar.


"Apa Amara akan mengusirku dan berteriak serta menjerit hingga membuat semua orang berkumpul?" Tanyanya dalam hati.


Tak terasa bejalan sekitar lima menit kini ia sudah berdiri didepan rumah yang sangat sederhana ini. Namun entah mengapa hatinya tersa sangat tenang, damai dan juga tentram berada disini jauh berbeda jika ia berada di rumahnya yang bak istana. Hatinya selalu saja gundah dan selalu saja terbawa emosi hingga membuat dirinya lebih sering berada diapartemen sendiri.


Dirinya mematung di depan pintu rumah tersebut. Fikirannya tiba tiba kosong tidak tau harus melakukan apa. Hampir lima belas menit ia berada didepan pintu namun tidak melakukan apa apa.


"Mau mencari siapa pak?" Suara tetangga memecah keheningan hingga membuat ia sadar dan mencari arah suara yang ada disampingnya.


"Saya ingin mencari Buk Amara. Ucapnya sopan.


"Ketuk aja pintunya lagi pak. Biasanya buk Amara ada dibelakang buat kue jadi ga kedengaran kalau dipanggil." Ucap wanita paru baya yang merupakan tetangga dari istri tuanya tersebut.


"Baiklah buk. Makasih." Setelah mendengar jawaban dari pak Hasan wanita tersebut yang baru pulang kerja menjawab dengan senyuman lalu menghilang memasuki rumahnya.


"Tok... Tok... Tok... " Suara pintupun mulai diketuk oleh tuan Hasan.


"Iya.. sebentar." Suara seorang perempuan menjawab dengan lembut dari dalam rumah hingga membuat jantung tuan Hasan berdetak dengan cepat karena takut diusir dan tidak diterima.


"Ceklek..." Suara pintu terbuka dan berdirilah sosok wanita yang kini sangat terkejut melihat seorang pria yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Ia menutup mulutnya seakan tidak percaya. Matanya berkaca kaca menatap pria yang masih terlihat sangat tampan walaupun usianya sudah tidak muda lagi.


"Amara... " Tuan Hasan memanggil nama istri nya lirih dengan bibir bergetar. Ingin rasanya ia memeluk namun karena sudah hampir 20 tahun berpisah dirinya takut akan membuat orang salah paham.


Disaat umur yang sudah tua sebenarnya perasaan cinta itu sudah tidak ada lagi namun cinta itu lebih kearah rasa sayang dan mengasihi.


"Mas..." Wanita yang dipanggil Amara menangis sesugukan. Tak terasa air mata jatuh begitu saja. Bagaimana tidak? Pria yang sangat dicintainya dahulu dan pernah hidup bersama walaupun sudah berpisah lama masih mengingat dirinya dan mencarinya.


Nyonya Amara sangat tau sekali bagaimana usaha suaminya mencari dirinya selama ini. Semua saudara, kenalan dan orang yang mengenali dirinya ditemui. Namun Nyonya Amara sendirilah yang memilih untuk pergi dan meninggalkan suaminya karna disaat itu orang tua suaminya tidak bisa menerima dirinya yang masih belum dikaruniakan seorang anakpun. Namun nasib berkata lain setelah keluar dari ruamh itu ternyata ia hamil tiga bulan.

__ADS_1


__ADS_2