Paintfull Love

Paintfull Love
Bertatapan


__ADS_3

Secercah cahaya menerobos masuk dari celah celah gorden yang tidak tertutup rapat. Sang mentari pagi kini sedang tersenyum kepada negeri Paman Sam menandakan musim panas telah tiba.


Ariel mengedipkan matanya melihat cahaya yang masuk dikamarnya. Lalu tanpa berlama lama Ariel beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi dirinya langsung keluar menuju meja makan.


Bik inah yang ditugaskan untuk membantu Nindi selama masa pendidikan di negeri Paman Sam sudah tiba sejak dini hari tadi.


"Mau kemana bg?" Nindi melihat Ariel berpakaian sangat rapi hingga membuat dirinya sangat tampan.


"Pengen ketemu teman bisnis."


"Ooooh...."


"Loe ngampuskan pagi ne? Bareng aja kita."


"Aku mesti buru buru lho bg. Ne hari pertamaku. Aku duluan aja." Nindi meraih tasnya.


"Kita Bareng. Ayo...." Ariel beranjak dari tempat duduk lalu meraih kunci mobilnya.


"Lho... Ga sarapan dulu den...." Bik Inah melihat kearah Ariel.


"Ga bik. Bik Inah aja habiskan semua." Ariel mengangkat alisnya sambil memberi kode kearah meja makan lalu tersenyum menuju pintu apartemen diikuti oleh Nindi.


"Ceklek." Bunyi pintu apartemen dibuka oleh Ariel kemudian langsung keluar dan disaat bersamaan Sheril yang baru saja keluar dan sedang berjalan reflek menoleh dan mata mereka tanpa sengaja saling bertatatapan.


Sheril tertegun melihat ciptaan sang pencipta yang sangat sempurna sedang berdiri di hadapannya. Namun tanpa menunggu lama Sheril langsung dengan cepat membuang tatapannya tanpa memberikan senyuman.


"Masya Allah sempurnanya ciptaanmu." Ucap Sheril didalam hatinya sambil berlalu sementara Nindi yang mau keluar melihat tingkah abangnya yang sedikit kesal hanya tersenyum simpul.


"Hi... Hi... Dicuekin ya...?!"


"Berisik. Buruan."


Ariel melangkahkan kakinya menatap punggung Sheril yang sedang asyik melihat layar ponselnya.


Ariel menjadi penasaran tentang Sheril karena ini bukan yang pertama kalinya Sheril tidak tersenyum padanya.


Sheril masuk kedalam lift dan diikuti oleh Ariel. Disaat ia membalikkan punggungnya tidak sengaja menabrak Ariel.


"Maaf...." Ucap Sheril sambil mendongakkan kepalanya keatas hingga membuat jarak wajahnya dengan Ariel sangat dekat. Sheril mundur kebelakang dan menundukkan wajahnya kemudian menarik nafasnya pelan pelan lalu tanpa ia sadari dirinya menggigit bibir bawahnya.


"Kamu dari indo ya...?" Nindi memulai percakapan agar suasana kembali normal.


Sheril menoleh kearah Nindi "Aku....." Ucapnya.


"Iya... kamu! siapa lagi? Disini cuma ada kita bertiga. Aku Nindi dan itu abangku." Ucap Nindi ramah.


"Oh.. Maaf. Iya... Aku dari indo. Aku Sheril. Sheril menjulurkan tangannya kepada Nindi dan di sambut oleh Nindi kemudian Sheril menoleh kearah Ariel. Namun karena Ariel sibuk dengan ponselnya Sheril mengurungkan niatnya untuk menjulurkan tangan kepada Ariel.


"Mau kemana pagi pagi gene?" Tanya Nindi lagi.


"Kampus, kalau kamu?"


"Sama. Aku juga mau ke kampus. Ini hari pertamaku ngampus." Tiba tiba pintu lift terbuka membuat pembicaraan mereka terhenti.


"Aku duluan ya Nind, Sampai ketemu lagi. Bye." Sheril memamerkan senyuman dengan lesung pipi dikedua pipinya. Sheril berlalu sambil berlari lari kecil karena Meli sudah dari tadi menunggu di parkiran.


"Aaaaaaaaaaaaaa... !" Nindi berteriak tiba tiba hingga membuat Ariel kaget.

__ADS_1


"Ada apa Nind... Ada apa?" Ariel kaget mendengar jeritan Nindi hingga membuatnya spontan ingin mengejar Sheril.


"Mau kemana loe bg?" Ujar Nindi membuat langkah Ariel terhenti. Nindi heran melihat Ariel yang tiba tiba berlari.


"Tentu saja mau mengejar wanita itu!"


"Kenapa emangnya?" Tanya Nindi bingung.


"Bukannya kamu tadi teriak!"


"Iya...Aku gemes melihat senyumnya yang Cantik. Dia punya lesung pipi dan juga gigi kelinci yang bagus lho... Aku pengen." Rengek Nindi tanpa rasa bersalah.


"Pletuk..." Jidat Nindi diketuk oleh Ariel menggunakan tangannya.


"Aduch... Sakit. Ada apa sich?"


"Heeh... Dasar bocah tengik."


"Ich... Ngeselin dech.. Dasar punya abg ga waras."


"Oh ya kamu bisa ga panggil aku kakak. Aku ga suka panggilan itu. Lain kali kalau loe panggil gue bang. Gue ga jawab." Ucap Ariel kesal.


"Hem... Ntar hilang tradisi orang sumatera kita bg." Nindi mengejar Ariel yang sudah berjalan lebih dahulu dan masuk kedalam mobil.


"Ntar kalau dah pulang. Kabari."


"Ok dech bg... Ups... Kakak. He... He..."


Ariel menatap adik kesayangannya dengan tatapan kesal lalu melajukan mobilnya. Hari ini Ariel ada temu janji dengan teman bisnisnya yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.


Selama perjalan Ariel teringat momen dimana Nindi dan Sheril berkenalan di dalam lift. "Heh.. Bisa bisanya dia ga ngelirik kearah gue. Belum tau dia siapa gue....? Ntar kalau dah tau pasti klepek klepek." Ariel menyunggingkan bibirnya.


"Maaf! Sudah lama menunggu Prill?" Wanita cantik yang disapa tersebut menatap Ariel dari atas hingga bawah sambil tersenyum kagum.


"Tidak. Barusan sampai." Prilla mempersilahkan Ariel duduk dihadapannya.


"Ooh... Kamu bawa designnya."


"Jangan buru buru donc. Kita makan dulu. Aku belum sarapan." Rengek Prilla manja.


"Hm.. Baiklah."


Prilla memberi kode kepada waitress agar menuju meja dimana mereka duduk. Setelah Waitress datang merekapun memesan makanan dan menikmati makanan yang datang.


"Ayo dimana proposalmu."


"Hem... Ini!" Prilla menyerahkan sebuah proposal design model pakaian kepada Ariel. Ariel memeriksa proposal yang diserahkan kepadanya sambil sesekali berfikir.


"Gue bawa dulu ya... Ntar malam gue kabari."


"Hem baiklah. Apa kamu bisa mengantarkanku? Mobilku dibengkel." Prilla menatap Ariel dengan penuh harap.


"Hem baiklah. Ayo...."


Prilla berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri Ariel. Semua mata lelaki tertuju kearah Prilla yang mengenakan long dress dengan V- neck dan belahan dressnya menjuntai hingga ke paha. Kulit putihnya yang bersih dan sehat terekspos dengan sangat jelas.


Ariel membukakan pintu mobilnya untuk Prilla lalu dirinya mengemudikan mobil menuju apartemen Prilla. Sepanjang perjalanan mereka bercerita tentang masa masa kuliah dahulu. Sesekali terdengar tawa bahagia Ariel dan Prilla.


"Riel, didepan sana belok ya. Aku tinggal diapartemen itu sekarang."

__ADS_1


"Ok. Baiklah."Ariel menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk apartemen.


"Ntar secepatnya ya kabari." Prilla mengingatkan kembali proposal hasil designnya.


"Ok." Ariel memasuki mobil lalu memacunya dengan kecepatan sedang. Prilla masih berdiri hingga mobil Ariel tidak kelihatan.


"Huffft... Andai saja kamu tau Riel kalau aku menyukaimu apa kamu masih mau bersahabat denganku?" Prilla menarik nafasnya dalam dalam.


Sudah bertahun tahun Prilla memendam rasanya kepada Ariel. Jika berhadapan dengan Ariel tubuhnya ingin sekali memeluk dan bersandar dipundak lelaki tersebut. Namun apakan daya Ariel hanya menganggap Prilla seperti sahabat.


Prilla melangkahkan kakinya perlahan dengan mimik wajah yang sedih lalu memasuki apartemen.


Disaat ia ingin memasuki lift tidak sengaja ia bertemu dengan musuh bebuyutannya. Prilla yang sedang tidak semangat hanya melirik wajah wanita tersebut dengan malas.


"Ada apa nona Prilla, lagi patah hati ya!" Ucap gadis yang bernama Sinta tersebut sambil ketawa mengingat momen yang dilihatnya dipintu apartemen tadi.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan nona muda? Hingga mencari tahu tentang diriku. Ups... Oh ya ya... Aku lupa kamu memang tidak punya pekerjaan!"


Prilla menyunggingkan bibirnya kemudian keluar melihat lift terbuka lalu berjalan dengan anggunnya menyusuri lorong apartemen menuju unit kamar yang ditempati namun tiba tiba dihadang oleh Sinta.


"Hei Nona Sinta... Buat apa aku bekerja. Kitakan beda kasta. Aku calon penerus perusahaan yang terbesar di Asia sementara kamu calon penerus bisnis Fried Chicken." Sinta ketawa bahagia hingga membuat wajah Prilla memerah.


Orang tua Prilla memiliki bisnis Fried Chicken. Cabangnya sudah banyak malahan sudah ada diluar ibukota. Orang tuanya termasuk orang tua yang sangat berada juga namun kalah jauh jika dibandingkan dengan bisnis papa Sinta.


Prilla mendekati Sinta lalu berbisik dengan pelan1 "Apa kamu yakin kamu penerusnya? Kamu harus tanyakan itu kepada mamamu?" Ucapan Prilla seperti sesuatu yang horor. Tidak tahu kenapa jantung Sinta tiba tiba berdegup dengan kencang.


"Tentu saja aku yakin! Aku adalah anak pertamanya." Ucap Sinta mengebu ngebu seperti bocah sekolah dasar yang sedang bertengkar dengan lawannya


"Heh...Aku tidak yakin. Jangankan kamu. Mama dan kembaranmupun aku ga yakin dapat apa apa."


"Kamu iri, iyakan.. Kamu pasti cemburu...?" Sinta lagi lagi menampilkan sifat kekanakannya hingga membuat Prilla tertawa melihat tingkahnya.


"Kamu harus tanyakan kepada mamamu tentang kamu dan adikmu. Bye.... "


Prilla berlalu pergi meninggalkan Sinta dengan penuh amarah dan kebingungan.


"Kenapa dia begitu yakin dengan ucapannya? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?" Sinta menghentak hentakkan kakinya kelantai.


"Aaaach... Bodoh.. Bisa bisanya aku dikerjain." Sinta menghentakkan kakinya kembali sambil menggigit bibirnya.


Prilla yang sudah sampai ke unit apartemennnya langsung mengambil segelas air putih lalu menyeruputnya hingga gelas kosong.


"Huh... Bisa bisanya ketemu. Mama sama anak sama aja seperti rubah licik."


Prilla mengingat perkataan mamnya tempo lalu, prilaku Nyonya Winda mamanya Sinta yang suka sekali mencari masalah dengan tetangga. Nyonya Winda dulu tetangganya Prilla. Prilla saat itu masih SD.


Disaat itu Nyonya Winda belum menikah tapi hampir setiap hari lelaki bergonta ganti mengantar nyonya Winda pulang kerumah hingga membuat warga marah.


Puncak kemarahan warga disaat nyonya Winda ketahuan berselingkuh dengan suami orang yang merupakan warga setempat juga. Sejak itu nyonya Winda diusir.


Mereka bertemu lagi disaat nyonya Winda sudah menjadi suami pengusaha kaya.


Prilla dan Sinta beda umur 6 tahun namun karena Sinta berlimpah materi umur 4 tahun dia sudah masuk Sd home schooling. Di bangku sekolah dasar dia hanya menempuh pendidikan 5 tahun. Dibangku sekolah menengah pertama dia 2 tahun dan dibangku Sekolah menengah atas 2 tahun. Di perguruann tinggi dia hanya 3,6 tahun. Hingga disaat umur 19 tahun Sinta sudah S2.


Prilla sempat bekerja diperusahaan papanya Sinta namun tidak tahu karena alasan apa Prilla dipecat. Prilla yakin itu adalah ulah Nyonya Winda.


Nyonya Winda sepertinya takut suaminya mencari tahu tentang masa lalunya.


Prilla menyunggingkan bibirnya "Heh.. Aku penasaran. Apa Sinta dan kembarannya adalah anak kandung dari pengusaha kaya tersebut?

__ADS_1


__ADS_2