
Prang..... Sebuah vas bunga melayang diudara. Pecahan pecahan kacanya berserakan dilantai.
"Apa kamu bilang? Katakan sekali lagi..."
"Aku hamil Brend...! Aku Hamil anak kamu."
"Hah... Apa aku ga salah dengar? Anakku.?"
"Iya... Anakmu." Risca meraih tangan Brendi dengan penuh harap.
"Lepaskan....! Mana aku tahu itu anak aku atau tidak. Bisa jadi itu anak orang lain." Ucap Brendi berapi api.
"Aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain sejak bersamamu Brend." Wanita tersebut menjelaskan dengan mata berkaca kaca.
"Heh... ! Aku tidak mau tahu. Aku ingin kamu gugurin anak itu. Jangan pernah berharap aku akan menikahimu."
"Kamu brengsek.... Bajingan!"
Brendi menghampiri wanita tersebut lalu menjambak rambut panjang wanita tersebut.
"Sadarlah Risca... Kamu hanya wanita murahan. Aku melakukan hubungan ini tidak gratis. Bukankah semua fasilitasmu dari diriku? Sekarang menjauhlah dari hidupku."
Brendi meninggalkan Risca yang sedang menangis tersedu sedu. Namun disaat ingin keluar pintu Brendi kembali menghampiri Risca.
"Ingat Ris.. Jika kita bertemu lagi dan kamu belum menggugurkan anak itu. Semua fasilitasmu akan kuambil begitu juga karirmu." Brendi melemparkan senyumnya sambil mengukir wajah mulus milik Risca dengan telunjuknya.
Risca bergidik ngeri melihat senyum dan tatapan Brendi bak binatang buas yang ingin melahap mangsanya. Apalagi dirinya tahu sekali siapa Brendi. Risca mundur beberapa langkah dari hadapan Brendi.
"Lelaki bajingan..." Risca melempar segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Dia benar benar merasa hina. Dibuang seperti sampah. Namun apa daya Brendi punya segala galanya untuk menghancurkan dirinya.
Brendi keluar dari apartemen Risca menuju mobilnya dengan santai seperti tidak ada kejadian.
"Heh.. Dasar pelacur. Enak aja minta pertanggungjawaban. Difikir siapa dirinya?"
Brendi memasuki sebuah perkarangan rumah. Rumah dengan gaya khas eropa bewarna putih berdiri diatas tanah dengan megahnya.
Nyonya Winda yang sedang duduk menonton televisi mendengar suara langkah kaki masuk menoleh kesamping.
"Hai mommy.. Makin cantik aja.." Brendi mencium kedua pipi nyonya Winda kemudian duduk disofa.
"Darimana saja kamu tidak pulang semalaman?" Mata nyonya Winda menatap tajam kearah Brendi.
"Biasa mom, bareng teman. Aku kan bukan anak kecil lagi?"
"Justru karena kamu bukan anak kecil lagi seharusnya kamu tidak keluyuran. Kamu harus ikut ke perusahaan bersama papamu."
"Kenapa sich mom itu terus yang dibahas. Aku sudah berulang kali bilang aku ga suka diatur."
"Kamu harus ke perusahaan Brendi. Jika kamu tidak mau ke perusahaan, kamu akan dapat apa nantinya?"
"Tentu saja semua aset dan perusahaan papa akan jatuh ketanganku dan Sinta. Siapa lagi yang menerimanya jika papa mati.
"Brendi... Jaga ucapanmu Oma Dira ada dikamarnya!"
"Aku kan benar mom, Apa ada yang salah?"
Belum sempat Nyonya Sinta melanjutkan percakapannya tampak Oma Dira dan tuan Hasan sedang menuruni anak tangga bersiap siap untuk sarapan.
Merekapun berkumpul dimeja makan bersama. Semua diam menikmati makanan tanpa ada pembicaraan.
"Hasan... kapan kamu mau membawa Brendi ke perusahaan?" Oma Dira memulai pembicaraan disaat sarapan telah usai.
Nyonya Winda senang mendengar pertanyaan ibu mertuanya kepada sang anak. Tuan Hasan memandangi mereka sambil tersenyum penuh arti.
"Untuk apa aku membawanya mama? Berikan aku alasannya." Semua yang ada terdiam mendengar ucapan tuan Hasan. Pembantu dan supir yang tidak jauh dari sana saling pandang karena kaget.
Oma Dira melotot menatap kearah tuan Hasan yang tidak lain anaknya. "Apa maksudmu Hasan? Tentu saja kamu harus membawanya agar orang kenal penerus kamu!" Oma Dira mencoba untuk tenang.
"Ha...ha... Semua orang sudah mengenalnya mama. Brendi sudah besar biarkan dia menikmati masa masanya. Aku tidak akan memaksanya dan membiarkan dia menentukan pilihannya. Bukankah begitu Brendi?" Tuan Hasan tersenyum kearah Brendi.
"Iya dad... Makasih." Brendi senang sekali mendengar ucapan daddynya tanpa ia tahu maksudnya apa.
"Ga bisa. Kamu ga bisa begitu terus Brendi. Dulu papamu waktu seumuran kamu sudah kerja diperusahaan." Oma Dira menatap Brendi dengan kesal.
"Nanti ada waktunya Oma. Aku setuju dengan daddy."
Nyonya Dirapun marah dengan jawaban anaknya. Melihat ada keributan tuan Hasan memberi kode kepada supirnya untuk pergi.
Selama dalam perjalanan tuan Hasan diam dan memikirkan sesuatu.
"Pak... Kita sudah sampai." Supir memanggil sampai yang ketiga kali baru pak Hasan mendengar.
"Oh... Ya." Tuan Hasan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangannya. Tuan Hasan membuka sebuah brankas lalu mengambil sebuah handphone yang ada dibrankas kemudian menghubungi seseorang lalu keluar dari kantor setelah menerima panggilan.
"Undurkan semua kegiatan pagi ini menjadi pukul 15.00 Wib." Ucap Tuan Hasan kepada sang sekretaris.
"Baik pak."
Tuan Hasan berlalu pergi menuju lantai bawah menemui seseorang yang sudah dihubungi tadi. Seseorang tersebut tidak keluar dari mobil sehingga tidak kelihatan siapa yang ada didalam mobil.
Pak Hasan membuka pintu mobil sendiri lalu duduk di kursi belakang supir. Tuan Hasan sengaja meminta tuan Tono untuk tidak keluar dari mobil.
"Apa semuanya sudah selesai pak Tono???
"Sudah tuan. Hanya tinggal tanda tangan anda saja tuan.."
"Hm baguslah."
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jam segini di ibukota sangat macet.
"Bagaimana dengan kuliah Sheril?"
"Aman tuan. Dia selalu mendapatkan IPK yang sangat memuaskan. Sepertinya dia akan wisuda sebentar lagi karena dia selalu mengambil mata kuliah diatasnya."
"Benarkah?"
"Iya tuan. Ajudan perempuan yang saya tugaskan bersamanya mengatakan itu. Malahan sekarang dia lagi mempersiapkan proposal untuk skripsi."
"Heh.... Dia mirip dengan saya pak tono." Tuan Hasan ingat masa masa kuliahnya dulu.
"Apa sebaiknya kita lanjutkan pendidikannya hingga S2 pak Tono?"
"Itu ide bagus tuan."
"Coba anda carikan S2 yang bagus untuk jurusan Master of Bussines Administration dinegara mana?"
"Baik tuan."
"Tak terasa tiga tahun cepat berlalu. Rasanya baru kemaren anak itu pergi melanjutkan pendidikan." Ucap tuan Hasan didalam hatinya berkaca kaca.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap pak Tono membukakan pintu mobil.
Tuan Hasan berjalan ke sebuah rumah makan elit lalu masuk kedalam sebuah privat room yang sudah dipesan dan diikuti oleh pak Tono.
Diruangan sudah ada beberapa orang yang sudah menunggu. Ada sekitar 2 orang yang berpakaian setelan rapi lelaki dan juga satu orang perempuan yang sangat tidak asing. Mereka berdua adalah ahli hukum dan pengacara terkenal.
Disaat tuan Hasan memasuki private room semua orang berdiri lalu memberi hormat. Setelah tuan Hasan duduk mereka semuapun ikut duduk.
"Bagaimana persiapannya. Ucap tuan Hasan kepada pimpinan dari keempat orang tersebut.
"Sudah beres Tuan Hasan. Tinggal ditandatangani." Pimpinan tersebut memberi kode kepada wanita yang ada disampingnya untuk menyerahkan berkas.
Pak Tono mengambil berkas yang diserahkan perempuan tersebut lalu menyerahkan kepada tuan Hasan.
Tuan Hasan membaca semua berkas yang diserahkan wanita tersebut untuk memastikan tidak ada yang salah.
Setelah rasanya cukup tuan Hasanpun memberi kode kepada pak Tono bahwa pekerjaan tersebut benar.
Hari ini Pak Tono menggunakan pakaian serba hitam. Tidak lupa mengenakan masker dan juga topi.
Pak Tono menyerahkan bulpen kepada tuan Hasan untuk menandatangani semua berkas.
"Terimakasih atas kerjasamanya. Setelah ini anggap saja kita tidak pernah kenal dan ketemu demi keamanan kalian berdua."
"Baik tuan."
Tuan Hasan memberi kode kepada pak Tono untuk menyerahkan koper yang ada di tangan kanan pak Tono.
Dengan gerakan cepat pak Tono meletakkannya diatas meja lalu menghadapkan kepada kedua orang tersebut. Setelah saling mengangguk kemudian pak Tono menutupnya dan meninggalkan koper yang berisi uang dolar tersebut diatas meja makan.
"Antarkan saya ke bank. Saya akan kembali bersama supir. Amankan semua berkas ini ditempat yang paling aman dan serahkan kepada tuan Pratama berkas yang satunya."
"Baik tuan."
Mobil meluncur ke Bank X. Tuan Hasan menghubungi supirnya untuk menjemput dirinya sementara pak Tono sudah meluncur menuju sebuah rumah yang sangat sederhana setelah mengganti plat mobilnya.
****
Sementara disebuah rumah yang bergaya khas eropa tersebut tampaklah sosok wanita paruh baya yang masih sangat cantik sedang mondar mandir dikamar.
"Apa yang harus aku lakukan agar Brendi mau keperusahaan?" Lirih wanita tersebut dengan gelisah.
" Huft... Dasar anak anak tidak berguna!" Nyonya Winda mengacak acak rambutnya.
"Dring.... Dring...." Bunyi suara musik dari ponselnya mengalihkan fikiran wanita paruh baya tersebut.
"Hallo...Mom....!"
"Kamu dimana?" Teriak nyonya Winda.
"Apa sich mom teriak teriak...!" Ucap seorang gadis dari seberang telpon.
"Gimana ga teriak. Kamu dan kakakmu sama aja tingkahnya. Keluyuran aja kerjanya. Pulang sekarang. Kalau kamu ga pulang mama bakal blokir kartu kamu." Nyonya Winda mematikan ponselnya.
"Huft...... " Apaan sich mama.
Sinta meraih tas dan kunci mobilnya untuk pulang kerumah.
"Mau kemana pagi pagi gene Sint?" Ucap sahabat karibnya.
"Aku mau pulang. Ada perlu."
"Jangan lupa ntar malem ya tempat biasa."
"Hem... Ok." Ucap Sinta berlalu pergi. Tadi malam Sinta ga pulang kerumah. Dia dibawa Reyna pulang ke apartemennya karena Sinta mabuk pulang dari dugem.
Sinta memacu mobilnya agar segera sampai ke rumah. Dia menghidupkan lagu kesukaannya sambil bernyanyi. Tidak tau kenapa dia sangat bahagia sekali hari ini.
Sesampainya dirumah Sinta langsung mencari Mamanya.
"Dimana mama bik?" Ucap Sinta dengan wajah sombongnya.
"Dikamar non."
"Hem... Bawa ne kekamar." Sinta melemparkan tasnya ke atas kursi.
__ADS_1
"semua orang dirumah ne prilakunya ga ada yang waras kecuali Tuan Hasan sendiri." Ucap bibik di dalam hati sambil meraih tas yang ada dikursi.
Sementara Sinta menuju kamar lantai atas kamar mamanya.
"Ceklek...." Bunyi puntu dibuka oleh Sinta.
"Duduk." Ujar nyonya Winda. Sinta mengikuti perintah mamanya dengan penuh tanda tanya.
"Mulai besok kamu dan Brendi harus keperusahaan. Sampai kapan kamu dan kembaranmu begini?"
"Apaan sich mom... Aku itu ga suka diperusahaan."
"Terus apa kalian mau kalian tidak mendapatkan sedikitpun warisan dan tidak memiliki apa apa?" Nyonya Winda menatap Sinta dengan tajam.
"Kenapa bisa begitu? Akukan anak mommy dan daddy!"
Nyonya Winda menatap Sinta tajam lalu menarik nafasnya melihat kearah jendela.
"Tentu saja kalian anak mommy dan daddy tapi mana mungkin papamu mau mewariskan warisan kepada kalian sementara kalian tidak tertarik perusahaan?"
Nyonya Winda menoleh kearah Sinta. Sinta diam dan berfikir. Kemudian terngiang percakapan dan adegan bersama Prilla ditelinganya beberapa tahun lalu.
"Apa kamu yakin kamu penerusnya? Kamu harus tanyakan itu kepada mamamu?" Ucapan Prilla seperti sesuatu yang horor. Tidak tahu kenapa jantung Sinta tiba tiba berdegup dengan kencang.
"Tentu saja aku yakin! Aku adalah anak pertamanya." Ucap Sinta mengebu ngebu seperti bocah sekolah dasar yang sedang bertengkar dengan lawannya
"Heh...Aku tidak yakin. Jangankan kamu. Mama dan kembaranmupun aku ga yakin dapat apa apa."
"Kamu iri, iyakan.. Kamu pasti cemburu...?" Sinta lagi lagi menampilkan sifat kekanakannya hingga membuat Prilla tertawa melihat tingkahnya.
"Kamu harus tanyakan kepada mamamu tentang kamu dan adikmu. Bye.... "
"Sinta... Sinta... Kenapa kamu diam? Teriak Nyonya Winda sambil menggoyangkan tubuh anaknya.
"Oh... Iya Mom... Ada apa? Ada apa?" Ucap Sinta kaget.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu fikirkan?"
Sinta menatap mommynya dengan kecewa "Aku hanya teringat ucapan Prilla mom!"
"Prilla...? Prilla ? " Nyonya Winda mencoba mengingat.
"Prilla anak teman mommy yang pernah kerja diperusahaan daddy!" Ucap Sinta.
"Apa yang dikatakan kepadamu?"
"Katanya dia tidak yakin aku dan Brendi menjadi penerus perusahaan. Jangankan aku dan Brendi. Mommy aja gakan mungkin mendapatkannya. Aku harus menanyakan dengan mommy tentang aku dan Brendy."
"APA......?"
"Prang......" Semua alat kosmetik yang ada di meja rias jatuh. Mata nyonya Winda berapi api penuh amarah. Nyonya Winda seperti kemasukan hantu mengobrak abrik semua barang. Ia lupa jika Sinta masih dikamarnya sedang memperhatikannya.
Sinta kaget melihat reaksi mommynya.
"Kenapa mommy bisa semarah ini mendengar ucapan Prilla? Apa mommy punya sesuatu yang dirahasiakannya?" Tanya Sinta didalam hatinya lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat menuju kamarnya.
Sinta mengunci kamarnya kemudian mondar mandir memikirkan reaksi mommynya terhadap ucapan Prilla.
"*Aku yakin sekali ada sesuatu rahasia yang tidak kuketahui. Apa jangan jangan aku dan Brendi adalah anak angkat Mommy?"
"Tidak. Kalau aku anak angkat. Kenapa Prilla mengatakan mommy juga tidak dapat warisan*."
Prilla mondar mandir sambil menggigit kukunya yang lentik.
"Aku harus menghubungi Brendi. Aku harus katakan kepada Brendi masalah ini."
Prilla meraih ponselnya lalu menyentuh layar ponselnya untuk menelepon kembarannya Brendi.
"Tut.... Tut.... Tut.... "
"Kemana sich anak ne. Susah kali dihubungi."
Setelah berkali kali Sinta mencoba barulah ponsel terhubung.
"Dimana sich kamu Brend?
"Biasalah Sin... Ge nongkrong!"
"Ayo kita ketemuan. Aku ada ha yang penting ingin dibahas."
"Ntar aja dech Sint."
"Aku bilang penting. Ini menyangkut masa depan kita. Apa kamu mau jadi gelandangan.!" Teriak Sinta emosi.
"Apaan sich teriak teriak!"
"Makanya kita ketemu. Aku bilang penting."
"Ok. Aku kirim alamatnya."
Sinta mematikan ponsel lalu meraih tas dan kunci mobilnya menuju alamat yang dikirim oleh Brendi.
Selama dalam perjalanan Sinta sering kali mengumpat dan memaki orang dijalanan karena hampir saja tertabrak. Sinta memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sinta yang terbiasa hidup santai tanpa punya masalah kini tiba tiba dihadapi dengan masalah yang menurutnya sulit untuk dihadapi. Sinta seperti lepas kendali karena dirinya tidak tahu harus melakukan apa.
Bagaimana tidak? Selama ini semua masalah diselesaikannya dengan uang dan sekarang masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan uang.
__ADS_1
"Sialan, Apa sich yang dirahasiakan mommy dan kenapa Prilla yang harus mengetahuinya?" Sinta memaki mommynya selama perjalanan.