
"WHAT......?" Istri kedua....!" Teriak Brendi yang sudah berada di dalam kamar nyonya Winda. Saat ini kebetulan tuan Hasan tidak pulang kerumah makan siang begitu juga dengan Oma Dira. Oma Dira hari ini ada acara di yayasan miliknya.
Nyonya Winda menatap Brendi dengan tatapan kesal "Kamu bisa tenang dan pelan ga ngomongnya Brend! Dirumah ini tembokpun punya telinga." Ucap nyonya Winda kesal dan menahan amarah.
"Gimana aku bisa tenang Mom.. Aku baru tahu mommy sama aja sama pelakor. Masih mending pelakor disayang sama suaminya sementara mommy hanya disayang ama Oma Dira." Ucapnya spontan.
"Jaga mulutmu Brend. Berkat mommy kalian berdua bisa menikmati kemewahan ini. Apa kalian mau kita kembali ke gubuk." Ancam nyonya Winda dengan mata berapi api mendengar ucapan Brendi.
Bibir Brendi menyunggingkan senyumnya. "Apa mommy yakin Aku dan Sinta aja yang diusir? Aku sangat yakin nyonya Winda yang terhormat ini akan diusir terlebih dahulu!"
Nyonya Winda menatap Brendi dengan senyuman yang tidak dapat diartikan "Kamu anak tidak berguna sama dengan bapakmu. Kamu mirip bapakmu. Pengecut! Apa kamu juga bisa menyombongkan diri jika kamu tahu bapakmu bukan tuan Hasan namun tukang judi." Batin nyonya Brendi.
Nyonya Brendi mengalihkan tatapannya lalu menyilangkan kakinya. Dia menemukan sebuah ide agar Brendi mengikuti kemauannya.
"Mommy mau lihat Brend. Apa kamu bisa terima kenyataan disaat daddymu menyerahkan semua warisan kepada istri tuanya!" Ucap nyonya Winda sambil mengukir senyuman dibibirnya.
Brendi menatap nyonya Amara layaknya seorang musuh lalu dengan penuh amarah meninggalkan nyonya Winda.
"Brendi..... Mau kemana kamu?" teriak Sinta yang dari tadi berdiri melihat perseteruan kembarannya bersama mommynya sendiri.
Brendi tetap melangkah tanpa menghiraukan teriakan Sinta.
"Mommy.... ! Apa yang sedang mommy lakukan?" teriak Sinta yang khawatir Brendi akan mendatangi tuan Hasan.
Nyonya Amara menuangkan sebuah minuman kedalam gelas kemudian meneguknya hingga habis kemudian menatap Sinta.
"Mommy tidak melakukan apa apa. Mommy hanya ingin memberi dia pelajaran begitu juga dengan kamu!" Nyonya Winda menatap Sinta tajam.
"Kenapa denganku?" Ucap Sinta ga paham maksud mommnya.
"Supaya kalian tahu bahwa apa yang kalian dapatkan semua ini sewaktu waktu akan hilang jika kalian tidak mau mendengarkan mommy. Apakah kalian rela semuanya diambil alih oleh istri tuanya!"
Sinta menelan salivanya. Raut wajahnya yang angkuh tiba tiba menjadi pucat pasi membayangkan nasib dirinya yang akan jatuh miskin.
Sinta yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan dan memiliki apa yang diinginkan menjadi hilang akal sehatnya membayangkan apabila semuanya akan diambil.
"Mommy... Jangan sampai itu terjadi. Mommy harus turun tangan!" Sinta mendekati nyonya Winda. Dirinya merengek seperti anak kecil.0
"Tentu saja mommy tidak akan membiarkan semua itu terjadi makanya kamu dan Brendi harus keperusahaan agar salah satu dari kalian bisa jadi penerus perusahaan."
Sinta terdiam mendengar ucapan mommymya.
"Tapi aku tidak suka kerja diperusahaan mom! apalgi aku tidak mengerti sama sekali."
"Jika kamu dan Brendi tidak mau belajar siapa yang akan menjadi penerus perusahaan?" Hingga saat ini orang yang kakian panggil daddy belum pernah sama sekali membahas penerus perusahaan dan wasiat apapun! Apa kalian yakin itu adalah hal yang wajar."
Nyonya Winda menatap Sinta dengan tatapan tajamnya.
Sinta mulai terpengaruh dengan ucapan nyonya Winda selaku orang tuanya ditambah lagi memang semua ucapan mommynya benar.
Hingga saat ini tuan Hasan tidak pernah membahas tentang perusahaan dengan Brendi maupun Sinta.
Jika dilihat teman temannya, mereka semua sudah ikut bagian perusahaan malahan mereka sudah memiliki saham sendiri.
Sementara Sinta dan Brendi tidak memiliki apapun. Memang Sinta dan Brendi tidak pernah terfikir kearah sana. Malahan mereka berdua berfikir tuan Hasan sangat menyayangi mereka karena selalu menuruti apapun pilihan mereka.
"Tapikan mom.. Memang aku dan Brendi tidak pernah membahas tentang perusahaan?" Ucap Sinta ragu.
Sinta masih tidak percaya jika tuan Hasan akan mengusir mereka.
"Percayalah kata mommy!"
"Bukan aku tidak percaya mom, bagaimana mungkin kami anak kandungnya di abaikan. Daddy sangat sayang sama kita." Ucap Sinta bingung
Nyonya Winda merapatkan tubuhnya didekat Sinta.
"Mommy bukan bilang daddy ga sayang sama kalian. Mommy hanya takut tiba tiba istri tuanya datang dan mengambil hak kalian." Ucap nyonya Winda lembut.
Sinta menatap nyonya Winda " Baiklah mom, Aku akan mulai keperusahaan besok." Ucap Sinta penuh keyakinan.
Nyonya Winda memeluk tubuh Sinta lalu tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Nyonya Winda melepaskan pelukannya. Setelah Sinta pamit keluar dirinya tertawa bahagia. Tujuannya agar Brendi dan Sinta kerja diperusahaan kesampaian.
Nyonya Winda menginginkan anak anaknya ikut andil dalam perusahaan suaminya agar salah satu mereka jadi penerus perusahaan.
Hampir dua puluh tahun lebih diirinya menjadi istri dari tuan Hasan namun dirinya tidak memiliki sedikit sahampun diperusahaan suaminya dan sedikitpun tidak menjadi bagian apa apa.
Dirinya tidak pernah puas dengan apapun kemewahan yang dimilikinya selama ini jika belum ikut bagian diperusaan suaminya.
Dengan membuat Sinta dan Brendi tau tentang istri tuanya Amara. Nyonya Winda berharap Sinta dan Brendi menjadi takut dan gelisah hingga akhirnya mau ikut keperusahaan tuan Hasan.
Jika Brendi dan Sinta masuk kedalam perusahaan akan sangat mudah untuk nyonya Winda mencari tau tentang perusahaan dan mengambil alihnya.
Nyonya Winda takut masa lalu dirinya terbongkar dan dirinya tidak mendapatkan bagian apapun. Tapi jika dirinya sudah mengambil alih perusahaan dirinya tidak perlu takut lagi rahasianya terbongkar.
"Tok.... Tok...." Pintu kamar diketuk oleh bik itun membuat khayalan nyonya Winda teralihkan.
"Nyonya Dira sudah sampai nyonya...."
Nyonya Winda berkaca dicerminnya untuk memperbaiki penampilannya. Setelah cukup yakin dengan penampilannya nyonya Winda turun kelantai bawah diikuti Sinta.
"Ayo... Sini makan! Oma bawa pizza."
"Makasih Oma..." Sinta mencium wajah Oma Dira.
Nyonya Winda hanya tersenyum manis didepan Oma Dira.
"Oma... Aku mulai besok akan ikut daddy keperusahaan."
"Benarkah?" Oma Dira menatap Sinta dengan penuh bahagia.
"Iya Oma. Setelah aku fikir fikir. Itu bagus untukku lagian aku sudah bosan main terus." Ucap Sinta sambil menatap nyonya Winda yang sedang tersenyum juga.
"Hm baguslah... Daddymu pasti senang mendengarkannya! Ucap Oma Dira tersenyum bahagia."
Mengingat umur tuan Hasan yang sudah tidak muda lagi membuat Oma Dira selalu khawatir jika tuan Hasan terlalu banyak fikiran dan beban kerjaan karena itu tidak baik untuk kesehatan anaknya.
Jika ada cucu cucunya di perusahaan setidak tidaknya kekhawatirannya berkurang karena cucunya tentu saja membantu pekerjaan ayahnya. Ditambah lagi cepat atau lambat pasti perusahaan itu juga akan diteruskan oleh cucunya.
Jika cucunya tidak mau tau sama sekali belajar menghandle perusahaan tentu saja perusahaan yang dibangun dari titik Nol bisa bangkrut jika diteruskan ke mereka.
Tidak berapa lama disaat mereka mengobrol seru Brendi dan tuan Hasan tiba secara bersamaan.
"Dari perusahaan kamu Brend?" ucap Oma Dira.
"Ga Oma. Ada urusan penting tadi." Ucap Brendi dengan datar.
Tuan Hasan yang baru sampai disambut langsung oleh asisten rumah tangga lalu menuju lantai atas untuk mandi berhubung sebentar lagi malam akan tiba.
Tidak berapa lama kemudian tuan Hasan duduk bersantai bergabung dengan keluarga yang lain seperti biasa dikursi keagungannya sambil menunggu waktu makan malam.
"Nak... Sinta besok mau ke perusahaan!" Ucap Oma Dira bahagia. Brendi yang baru tau kaget mendengar perkataan Oma Dira kemudian menatap Sinta penuh tanya.
Semua orang khawatir menunggu jawaban tuan Hasan kecuali Oma Dira. Brendi menyunggingkan senyumannya karena merasa daddynya tidak akan membawa Sinta setelah mendengar ucapan nyonya Winda pagi tadi.
"Benarkah Sinta?"
"Iya dad." Jawab Sinta singkat.
"Apakah itu benar benar kemauanmu?" Tuan Hasan menatap Sinta tajam. Sinta menundukkan kepalanya. Tidak tahu kenapa dari dulu menatap tatapan mata daddynya membuat Sinta menunduk.
Brendi yang mendengar ucapan daddynya menggenggam jari jemarinya menahan amarah. Brendi tipenya yang mudah emosi dan bertindak gegabah langsung menyerang daddynya.
"Kenapa daddy bertanya begitu. Apa daddy menyimpan sesuatu rahasia. Apa daddy takut Sinta masuk keperusahaan dan tahu gerak gerik daddy dengan istri tua daddy?
"Apa daddy berencana menjadikan anak dari istri tua daddy penerus perusahaan?" Brendi menatap tuan Hasan dengan penuh amarah. Dirinya memberikan pertanyaan bertubi tubi kepada tuan Hasan dengan penuh emosi.
Semua yang duduk disofa terdiam begitu juga asisten rumah tangga yang mendengar ucapan Brendi.
Nyonya Winda meneguk salivanya. Dia tidak menyangka Brendi sebodoh itu langsung mengintrogasi suaminya.
"Dasar anak bodoh. Argh... Ternyata benar pepatah mengatakan buah apel itu jatuhnya tidak jauh dari pohon apel." batin nyonya Winda menatap Brendi kesal.
__ADS_1
Oma Dira dan tuan Hasan lalu menatap nyonya Winda bersamaan. Oma Dira yang biasanya tidak pernah marah kepada nyonya Winda menantunnya namun kali ini dirinya menatap nyonya Winda dengan penuh amarah.
"Kenapa daddy terdiam? Kaget aku mengetahui semuanya?" Ucap Brendi menyunggingkan senyuman smirknya kemudian mengoceh lagi dengan penuh berapi api.
Tuan Hasan menyilangkan kakinya sambil melipatkan tangan di dadanya lalu menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Ha... Ha.... " Tuan Hasan tertawa keras keras membuat semua orang bingung apalagi Brendi.
"Siapa yang mengatakan kepadamu hal seperti itu? Sepertinya orang yang menyampaikan kata kata itu punya tujuan agar kamu membenci daddy?" Ucap tuan Hasan penuh selidik.
Tuan Hasan yang sudah terbiasa berhubungan dengan berbagai jenis orang dan sudah lama sekali menjadi pemimpin sangat paham sekali menghadapi masalah spele seperti ini.
Brendi terdiam lalu menatap tuan Hasan "Terus kenapa daddy tidak mau membawa Sinta dan aku ke perusahaan?" tantang Brendi.
"Ha.... Ha...... " Lagi lagi ucapan Brendi membuat tuan Hasan tertawa terbahak bahak. Wajah Brendi memerah mendengar tawa tuan Hasan.
Dirinya merasa seperti seseorang yang sangat bodoh sekali diperlakukan seperti ini.
"Bukannya kamu dan Sinta yang tidak mau keperusahaan." Jawab Ruan Hasan santai.
Brendi terdiam malu lalu menatap nyonya Winda.
"Terus masalah apa kamu sebut tadi? Istri tua? Anak dari istri tua?" Ucap tuan Hasan menahan amarah namun dirinya tetap terlihat tenang agar tidak membuat orang curiga.
Tuan Hasan tersenyum menatap nyonya Winda selaku istrinya dan juga Oma Dira selaku ibunya sendiri. Ini kesempatan dirinya untuk menyindir mereka habis habisan.
"Apa orang yang memberimu informasi itu tidak mengatakan bahwa wanita itu mandul dan dia diusir dari rumah oleh tuan rumah ini sendiri."
"Wanita itu sudah dicari kemanapun oleh nyonya rumah ini namun tidak ditemukan tanda tanda kehidupannya?" Ucap Tuan Hasan lagi.
Tuan Hasan menatap Brendi dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu takutkan Brendi? Apa kamu khawatir dengan sesuatu yang tidak pasti? Bukankah kamu anak pintar."
Brendi menundukkan kepalanya sambil menahan amarah. Saat ini dirinya marah sekali sama mommynya yang memanfaatkannya layaknya orang bodoh.
"Daddy nanya ke Sinta seperti itu. Daddy hanya ga mau Sinta memutuskan keputusannya karena keterpaksaan. Daddy sudah bilang kapanpun kalian mau datang ke perusahaan pintunya selalu terbuka. Tidak perlu meminta izin." Ucap Tuan Hasan meninggalkan mereka semua.
"Kamu mau kemana hasan? Makan malam sudah siap."
"Aku sudah tidak nafsu makan ma!" Tuan Hasan memanggil supirnya untuk meninggalkan rumah.
Oma Dira menatap nyonya Winda dengan tatapan amarah.
"KAMU TDAK SADAR DIRI.... beraninya kamu membahas masalah yang sudah hampir berpuluh puluh tahun! Nyonya Winda meneguk salivanya mendengar ucapan Oma Dira yang penuh makna.
"Dan kalian berdua, Oma kecewa sama kalian! kalian selama ini disekolahkan tinggi tinggi namun berani beraninya kalian berfikiran hal yang buruk dan tidak masuk diakal kepada daddy kalian.
Oma Dira berlalu pergi dengan wajah penuh amarah meninggalkan ruangan tamu.
"Antarkan saja makan malam ke kamar." Ucapnya kepada Asisten.
Brendi dan Sinta menatap mommynya dengan penuh kecewa.
"Argggh..... " Teriak Brendi kesal.
"Apa tujuan Mommy melakukan ini semua?" Brendi menghampiri mommynya sambil menahan amarah.
Nyonya Winda hanya terdiam. Dirinya tidak menyangka masalah ini akan menyerang dirinya sendiri. Dengan kejadian tersebut akan sulit dirinya untuk membuat anaknya berpihak kepada dirinya.
Jika dirinya mengatakan hal sebenarnya maka itu sama saja membuka pintu gerbang kematian untuk dirinya.
"Maafkan mommy. Mommy hanya ingin kalian kerja diperusahaan. Itu saja." Ucap Nyonya Winda berbohong sambil meneteskan air mata dipipinya.
"Maaf...." Nyonya Winda menangis sesugukan.
"Aaaaachhh.... " Brendi mengacak acak rambutnya. Walaupun dirinya brengsek dan kejam tapi jika melihat air mata ibu kandungnya menetes dipipi membuat dirinya merasa bersalah juga.
Amarahnya yang memuncak tidak bisa dilampiaskan kepada mommynya. Melihat ibu kandungnya menangis membuat hatinya ikut teriris apalagi mendengar ucapan Oma Dira kepada ibunya.
"Lain kali jangan begini lagi mom, Aku tidak suka. Ini yang terakhir kali. Mommy membuat semuanya jadi kacau." Ucap Brendi memberi peringatan karena dirinya sangat kesal dengan ulah mommnya.
"Iya...." Ucap Nyonya Winda.
__ADS_1
Brendi menaiki tangga lalu memasuki kamarnya.
"Aaaach... Brengsek!" Ucapnya mengingat kejadian barusan.