
""Brum.... Brum...Brum..." Deru suara mobil memecah keheningan. Beberapa orang pria sedang terlihat memacu mobil offroad mereka disebuah pedalaman. Mereka menanjak dan mendaki lalu memacu kecepatan melewati lumpur lumpur.
"Woa...Ha... Ha... Ha... Sepertinya kali ini aku lagi yang menang." Ucap Seorang pria dengan bariton khasnya. Pria tersebut keluar dari mobil dengan senyum merekah dibibirnya hingga memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
Tidak lama kemudian beberapa mobil yang lain muncul lalu keluarlah beberpa orang sahabatnya.
"Gimana bro... Mau kemana kita malam ne?" Pria tersenyum tersenyum smirk kepada sahabatnya.
"Dasar loe... Slalu saja curang." Eric menatap Ariel dengan kesal karena seharusnya Eric yang menang namun karena Ariel curang makanya dia kalah.
"Ha...ha... Itu bukan curang bro. Itu namanya taktik." Ariel menepuk pundak sahabtnya Eric.
"Traktir tempat biasa ya bro.... Ya sudah jangan lupa nanti malam. Jangan telat." Ariel berlalu pergi dengan senyum simpulnya karena matahari sebentar lagi akan terbenam.
Langit memperlihatkan warna merah dan keorangean karena sebentar lagi waktu akan menjadi malam. Ariel yang sudah dari tadi sampai kerumah kini sedang bersiap siap untuk pergi kesuatu tempat bersama Eric.
"Mau kemana Riel?" Mama Dewi melihat anaknya yag sedang menuruni tangga dengan kemeja yang sangat rapi.
"Biasalah tu mam, ketemuan sama kekasihnya kak Eric." Seorang gadis cantik yang sedang bersantai di sofa sedang tersenyum smirk melihat kakaknya.
"Dasar bocah.Emanc loe fikir gue homo."
"Siapa taukan?" Nindi menyunggingkan bibirnya.
"Giliran ada maunya baik setengah mati loe. Awas aja loe minta jajan." Ariel melemparkan bantal sofa yang tidak jauh darinya ke tubuh adeknya. Hingga terjadilah perang bantal.
"Makanya punya pacar loe kak. Cari sana."
"Sudah. Hentikan. Kalian ini seperti Tom & Jerry aja. Kamu juga Riel sebentar lagi sudah 30 tahun lho, kapan bawain mama menantu atau perlu mama jodohin sama anak temen mama." Mama Dewi menatap tajam kearah putra sulungnya.
"Sabar Mam... Nanti ada waktunya." Ariel duduk disofa." Sambil menoleh kearah dapur. "Kok belum siap makan malamnya mam?"
"Mulai... Mengalih pembicaraan." Nindi mulai memancing amarah abangnya.
"Hei bocah. Kamu ga beres beres. Bukannya besok kamu mau berangkat? Awas aja kalau ada yang ketinggalan." Ariel menatap adik kesayangannya dengan tatapan tajam.
"Iya... Iya... Selesai makan ntar beberes boss."
Nindi yang mendapat tatapan tajam langsung menundukkan wajahnya. Yeup.. Nindi besok akan berangkat ke negeri paman sam untuk melanjutkan pendidikannya.
"Sudah... Sudah... Ayo makan. Makanannya sudah siap." Mama Dewi meninggalkan anak anaknya lalu menuju ke meja makan.
Mereka bertigapun menikmati makanannya tanpa suara hanya sendok dan garpu yang sedang menari nari diatas piring sambil mengeluarkan beberapa nada.
Semenatara disebuah klub malam, Eric sudah lima belas menit yang lalu sampai.
"Hei bro, dimana Ariel?" Vino yang baru sampai langsung duduk dihadapan Eric sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang.
"Seperti yang kamu lihat. Belum nyampe." Ariel menyeruput minumannya sambil menikmati hentakan musik.
"Itu dia." Ujar Vino. Eric menoleh kearah tatapan mata Vino lalu melambaikan tangannya.
"Sorry bro. Telat." Ariel memukul punggung Eric.
"Yeup. Ga papa. Pesanlah minuman sendiri. gue bingung mau pesankan loe apa." Eric kembali menyeruput minumannya.
Vino yang mendengar ucapan Eric langsung tersenyum smirk sambil menahan tawa. Bagaimana tidak seorang Ariel Brata Dirgansandi yang hobbynya ke klub malam tapi tidak suka memesan bir.
"Ngapain loe senyum senyum Vin?"
"Gue lagi bayangin loe pesan susu dancow Riel." Eric yang mendengar langsung terbahak bahak membuat wajah Ariel memerah menahan amarah lalu tanpa menunggu aba aba Ariel langsung menonjok kawannya namun berhasil ditangkis oleh Vino.
"Jangan marah bro, gue kan bercanda. Habis loe aneh. Senangnya ke klub tapi pesannya jus." Vino membela diri.
"Teserah kalian mau ngomong apa." Ariel menyeruput jusnya yang sudah datang beberapa menit yang lalu kemudian mereka bertigapun terlihat menikmati lantunan musik yang ada di klub.
"Vin, bukannya kamu sebentar lagi mau lamaran?"
Eric melihat kearah Vino disusul Ariel.
"Ga jadi. Ditunda?"
"Loe kenapa?"
"Calon ibu negara ingin ke paris dulu. Ada hal yang mesti diselesaikan. Ga usah dibahas lagi. Ge ga mood." Wajah Vino kelihatan memerah.
__ADS_1
"Santai bro. Jangan d fikirkan. Kalau jodoh ga kemana. Ariel menepuk pundak Vino.
"Yeup."
Setelah beberapa jam mereka ada diklub dan merasakan bosan merekapun membubarkan diri begitu juga dengan Ariel. Dirinya harus beristirahat karena lusa akan pergi kenegeri Paman Sam untuk mengantarkan adiknya melanjutkan pendidikan.
Ariel melajukan mobil kesayangannya dijalan raya yang sudah mulai lenggang.
***
"Buruan Nindi, Abgmu udah nunggu di mobil."
"Iya mam.... Sabar."
"Aduch... Dimana tas kecilku yang satu lagi. Bukannya tadi ada disini." Nindi melempar semua barang untuk mencari barang yang ingin ditemukan hingga membuat semua berantakan.
Suara dering ponsel yang ada disaku celananya membuat dirinya berhenti lalu mengangkat ponselnya.
"BURUAN....!" Suara sang abang yang penuh dengan amarah membuat dirinya langsung menuruni tangga lalu menuju mobil.
"Kok lelet sich. Tadi malam kan sudah di kasi tahu buat dipersiapkan segalanya. Ntar kita tertinggal pesawat." Ariel menatap sang adik dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Iya... Maaf."
Setelah pamit dengan sang mama tercinta mereka berduapun diantar oleh supir hingga dibandara.
****
Sementara Disaat yang bersamaan Meli yang lagi bersiap siap di kamarnya mendengar suara bel pintu dipencet. Melipun melihat dari Cctv yang ada didalam apartemennya siapa yang ada diluar. Setelah melihat seorang sosok pria yang sangat dikenalnya melipun membuka apartemennya.
"Ne ambil.. Belikan pakaian dan keperluan apa saja yang dibutuhkan untuk non Sheril!." Meli mengambil sebuah kartu kredit yang disodorkan oleh pak Toni mengingat bahwa nyonya Amara tidak memberikan tabungan yang diserahkan oleh pak Toni beberapa minggu yang lalu.
"Baik pak."
"Ingat! pak Hasan suka pekerjaan yang rapi tanpa meninggalkan jejak. Jangan sampai jati dirimu terbongkar."
"Siap pak."
Pak Tonipun langsung pergi tanpa pamit sedikitpun. Meli yang sudah terbiasa menjalankan tugas yang selalu diperintahkan oleh pak Tono langsung bergegas mengambil tas dan kunci mobil lalu keluar menuju pusat belanjaan.
Sheril yang baru selesai mandi melirik kearah pintu karena terdengar suara bel berbunyi. Lalu membuka pintu apartemennya sedikit untuk mengintip siapa yang ada disebalik pintu.
"Ngapain loe?" Sheril menyunggingkan bibirnya sambil malu malu.
"Pengen lihat aja siapa yang datang. He... He..."
"Eaelah Sher... Loe kan bisa lihat dari dalam. Meli langsung masuk dengan membawa tentengan belanjaannya.
"Oh gitu ya. Gue ga ngerti mel. Dimana bisa lihatnya?"
"Disini. Kamu tinggal tekan tombol ini lalu akan terlihat siapa yang ada diluar.
"Ooo.... Gitu." Sheril tersenyum malu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Maklum ini yang pertama kalinya dirinya menikmati fasilitas mewah.
"Kamu dah belanja ya Mel... Ga jadi kita keluar?" Sheril melihat belanjaan yang cukup banyakndisamping kursi Meli.
" Ooh... Itu buat loe. Hadiah pertemanan. Tadi gue mampir dipusat belanjaan. Jangan ditolak. Aku gak suka penolakan." Meli menatap Sheril dengan tajam.
"Tapi ini banyak lho mel. Aku kan jadi gak enak!"
"Ga papa. Papaku uangnya banyak. Gakan habis buat beli barang seperti itu. Perusahaan papaku cabangnya ada dimana mana." Meli menatap Sheril dengan senyuman smirknya.
"Uang Tuan Hasan yang kumaksud non Sheril. Uang papamu. Bosku. Andai dirimu tahu siapa papamu apa mungkin kamu akan tetap ramah seperti ini padaku." ujar Meli dalam hati sambil menatap gedung gedung pencakar langit dari sebalik jendela.
" Hem baiklah. Jika begitu. Makasih ya mel. Semoga berkah dan murah rizki."
"Kamu harus langsung memakainya. Aku akan pilihkan untukmu." Meli mengambil sebuah gaun bewarna hijau mint yang sedikit terbuka tanpa lengan dengan panjang sepaha lalu menyerahkannya kepada Sheril.
"Bagaimana dengan yang itu?" Sheril menunjuk sebuah gaun yang tertutup dengan panjang roknya selutut.
"Hm. Baiklah." Meli menyerahkan kepada Sheril.
"Maaf mel. Ga papakan. Aku kurang nyamam dengan pakaian yang terlalu terbuka. Lain kali aku akan menggunakannya dengan sweater lalu memadu kannya dengan rok.
"No problem. Santai aja Sher. Lain kali jika aku belanja aku tahu pakaian yang kamu suka." Meli menatap Sheril.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memakai bajuku dikamar."
"Sekalian bawa ini kedalam kamarmu. Kamu harus memakai ini. Skin Care ini sangat bagus untuk musim panas disini."
Sheril membawa skincare yang diberikan lalu meninggalkan meli di ruang tamu untuk mengantikan pakaiannya di kamar.
Setelah selesai menggunakan pakaian dan memoleskan wajahnya dengan skincare yang dibelikan oleh Meli lalu Sheril memoleskan bedak padat dengan kuas titpis tpis.
Sheril tersenyum menatap pantulan yang ada didepan cermin.
"Seperti bukan aku..." Ucapnya lirih lalu meninggalkan kamar menuju ruang tamu.
"Sempurna." Meli tersenyum menatap Sheril lalu mendekatinya untuk mengalungkan tas dipundak Sheril kemudian meminta Sheril menggunakan sandal yang tidak terlalu tinggi.
"Kamu kok baik banget mel."
"Aku suka sesuatu yang berbau fashion makanya senang membuat kamu begini. Jadi jangan terkejut dan heran jika aku akan selalu memintamu bergaya."
"Hem.... Baiklah." Sheril tersenyum bahagia karena baginya meli adalah orang yang pertama memintanya berteman dan sangat baik. Biasanya Sheril selalu saja dibully oleh teman teman karena miskin namun berbeda dengan meli.
"Ayo... Kita keluar."
Mereka berduapun memasuki lift kemudian berjalan menunju Universitas tempat Sheril akan menempuh pendidikan kemudian pergi mengunjungi tempat tempat penting.
Tak terasa bebera jam telah berlalu kini sebentar lagi sore akan berganti malam.
"Mel.... Pulang yuk. Capek dan pegel." Sheril menatap meli yang sedang menyeruput minuman.
"Baiklah. Hari juga mau malam. Lagian besok hari pertama kamu kuliahkan. Kamu harus istirahat. Ayo....!"
Meli melajukan mobilnya dijalanan lalu hampir setengan jam didalam mobil kini mereka berhenti di parkiran.
"Aku sendiri aja mel. Ga perlu diantar sampai keatas."
"Ok. Bye.... "
Meli memutarkan mobilnya setelah Sheril tidak kelihatan ia menghentikan mobilnya lalu melihat layar ponsel untuk mengecek pelacak yang ada di handphone Sheril. Pelacak tersebut dipasang oleh pak Tono tanpa sepengetahuan Sheril. Meli ingin memastikan jika Sheril langsung ke kamarnya.
Sheril memasuki lift lalu menekan tombol angka lantai apartemen yang ditempati yang namun disaat pintu hampir saja tertutup ada seorang pria dan wanita yang memasukinya.
Sheril menatap wanita tersebut lalu tersenyum kemudian dibalas senyuman juga. Selanjutnya tanpa melihat wajah pria tersebut Sheril menundukkan wajahnya sambil melihat layar ponsel.
Sheril memang tidak suka bertatapan dengan pria. Dirinya merasa tidak percaya diri dan juga canggung jika berhadapan dengan pria apalagi jika melihat pria yang sangat rapi dan kelihatan kaya.
Ariel yang pakaiannya sangat berkelas dari atas hingga bawah ditambah lagi tubuh atletis dan wajah yang sangat sempurna membuat Sheril semakin tidak berani untuk melirik.
"Cantik dan natural. Pakaiannya bermerek sepertinya bukan anak orang sembarangan." ujar Nindi didalam hatinya.
Nindi menoleh ke pria yang ada disampingnya yang tidak lain adalah abangnya sendiri.
Ariel menatap sang adik yang sedang menatap dirinya. Nindi memberi kode untuk melihat wanita sebelah yang ada disamping abangnya.
Ariel melirik sekilas lalu memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung rambut namun wanita disebelahnya sedikitpun tidak beralih dari layar ponsel.
Setelah pintu lift terbuka Sheril keluar lebih pertama. Diirinya sengaja mempercepat langkah kaki sambil memasukkan ponsel didalam tas lalu menuju unit kamar yang ditempatinya. Kebetulan mereka tinggal diapartemen dan lantai yang sama juga.
"Wow.....luar biasa. Gue fikir hampir semua wanita tertunduk wajah tampan loe bg.... Ternyata Wanita itu sedikitpun tidak menoleh kearahmu. Dia senyum sama gue lho tapi sama loe dia ga ngelihat dikitpun."
Ariel mengetuk jidat Nindi lalu melenggang pergi menuju unit kamarnya. Ariel melihat sosok wanita yang mengabaikannya sedang masuk kedalam unti apartemen yang ada disamping apertemennya.
"Apa dia penghuni baru? Bukankah kemaren orang swiss yang tinggal disebelah?"
"Sepertinya iya. Penghuni baru. Naksir ya."
"Biasa aja. Mana ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Emanc loe fikir ne drama korea yang loe tonton."
Ariel masuk kedalam apartemen lalu menyandarkan tubuhnya diatas sofa. Hatinya sedikit penasaran dengan ucapan sang adik.
"Apa aku tidak menarik lagi? Tapi dibandara masih banyak gadis terpesona. Apa Mungkin matanya rabun?"
"Mandi sana bg... Bau!"
"Iya... Iya... Cerewet."
"Minggir." Ariel melewati tubuh Nindi lalu pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan juga istirahat berhubung tubuhnya sangat lelah.
__ADS_1