Paintfull Love

Paintfull Love
Kamu


__ADS_3

Sebuah mobil mewah bewarna hitam memasuki kawasan kantor pusat. Mobil tersebut berhenti tepat di teras pintu utama kantor. Semua mata tertuju disaat pintu belakang dibuka. Sosok pria dengan gaya casual keluar dari mobil tersebut.


"Wow.... Ich calon suamiku datang." Ujar seorang staff membuat teman teman yang ada di sekitarnya tersenyum.


"Mimpi..." Ucap temannya kemudian.


"Yeah.. Ga papa."


Ariel melemparkan senyuman tipis kepada staff yang ada di sekitar tanpa menghentikan langkahnya.


"Ach... Hatiku! hatiku meledak."


"Aromanya.... " Ucap yang lain.


"Kerja... Kerja... Kerja... " Ucap seorang pria melihat staff wanita yang sibuk berebut mencari perhatian.


Para staf wanita yang mendengarkan ucapan dari pria tersebut yang tidak lain adalah atasan mereka semua langsung bubar dan kembali ke meja masing masing.


Pria dengan pakaian casualpun sudah hilang dari penampakan mereka.


Ariel mengetuk pintu lalu memasuki ruang kepala pimpinan selaku pemilik dan pendiri perusahaan.


"Maaf pa! Telat... Jalanan macet."


"Iya ga papa." Ucap tuan Pratama selaku papanya Ariel.


"Bagimana perusahaan?" Ucap tuan Pratama sambil duduk di sofa yang diduduki Ariel. Tuan Pratama memilih untuk duduk dihadapan Ariel.


"Aman pa. Ga ada masalah."


"Ada apa pa memintaku datang?"


"Ini dari perusahaan X menawarkan kerja sama. Coba kamu lihat dulu proposalnya."


"Ini bukannya perusahaan yang bergerak di bidang produksi pertambangan dan emas miliknya tuan Hasan itu pa."


"Iya. Kamu mengenalinya?"


"Tidak pa. Namun aku pernah berhadapan dengan anaknya." Ariel menyunggingkan senyuman smirknya mengingat kejadian disaat Brendi ingin menonjok dirinya.


"Bagimana kesanmu? Bukankah biasanya anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya.


"Buruk." Ucap Ariel spontan menatap tuan Pratama.


Tuan Pratama menatap Ariel lalu menyilangkan kakinya sambil mengernyitkan dahinya.


"Jika mendengar cerita rekan bisnis yang pernah menjalin kerjasama. Tuan Hasan itu bagus."


"Benarkah?" Ucap Ariel sambil menyeruput minuman yang baru saja dihidangkan.


"Kita buat pertemuan saja dengan beliau. Jika itu saling menguntungkan. Why not?" Iya kan pa."


"Ide bagus. Atur saja pertemuanya."


"Baik pa. Proposalnya aku bawa untuk kupelajari."


"Ya. Hati hati dijalan.


"Ya pa." Ariel tersenyum menatap papanya lalu kembali ke perusahannya.


***


***


Sesampainya diperusahaan Ariel memberi perintah kepada sekretarisnya untuk masuk ke ruangan.


"Riet, coba kamu hubungi sekretaris tuan Hasan dari perusahaan X. Coba atur jadwal kita untuk melakukan meeting."


"Baik pak."


"Ariel duduk dikursi kebesarannya sambil mempelajari proposal kerjasama yang diajukan oleh tuan Hasan.


Ariel mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum.


'Ternyata benar yang diucapkan papa. Didalam urusan bisnis dia orang yang fair. Jika dilihat dari proposalnya tidak ada yang merugikan dalam bisnis ini. Sama sama menguntungkan."


"Dring... Dring... Dring" bunyi telepon diatas meja berdering.


"Hallo bro, dimana?" Ucap Eric dari seberang sana.


"Kantor. Ada apa?"

__ADS_1


"Ada yang pengen ambil apartemen neyh.."


"Yeah bagus. Lanjutkan."


"Tapi ada masalah. Orangnya pengen di lantai paling atas. Gue dah bilang. Ga bisa. Tapi dia ngotot dan bilang dia mau bayar lebih. Asalkan dapat diatas."


Ariel terdiam karena dilantai atas memang bukan untuk dijual atau dikreditkan. Dilantai atas dirinya hanya membuat 4 kamar dengan ukuran yang berbeda dengan lantai lantai lainnya.


Dari 4 kamar ada satu kamar yang paling mewah dan besar. Kamar tersebut milik Ariel. Sesekali Ariel nginap disana jika ingin menyendiri. 3 kamar lagi dikhususkan Ariel untuk tamu tamu pribadinya jika ada party. Biasanya yang menginap disitu Vino, Eric dan juga Prilla.


Selanjutnya dilantai atas banyak sekali ruang ruangan khusus seperti kolam renang pribadi, ruam Gym dan salon pribadi.


Jika ia menjual salah satu unitnya itu berarti dia akan berbagi dengan calon penghuninya.


"Gimana? Kok diam?"


"Batalkan saja. Aku tidak suka berbagi." Ucap Ariel tanpa fikir panjang.


"Hem... Baiklah."


Ariel kembali melanjutkan aktivitasnya. Belum beberapa menit ia mematikan panggilan kini panggilan dari Eric datang lagi lewat ponsel pribadi.


"Hallo, ada apa lagi Eric? Ucap Ariel mulai kesal.


Eric biasanya tidak pernah mengganggu Ariel dalam mengatasi masalah Apartemen namun karena dirinya sangat penasaran dengan calon pembeli kali ini.


"Hem... Pembelinya bilang dia tetap menginginkan kamar itu. Dia tidak membutuhkan fasilitasnya namun dia hanya ingin penghuninya tidak bersatu dengan penghuni yang lain."


Ariel merasakan ada yang aneh. "Apa penghuninya ini adalah seseorang yang dirahasiakan atau dikejar oleh kepolisian atau jangan jangan penguntit?"


Calon pembeli mengatakan penghuninya bukan orang yang suka keramaian dan bergabung dengan orang lain.


"Aku akan bertemu langsung dengan penghuninya. Jika dia mau baru aku setuju."


Eric menjelaskan kepada lelaki paruh baya yang tidak lain adalah pak Tono sebagai penghubung pemilik dan juga calon pembeli.


Pada awalnya Pak Tono merasa sangat keberatan dengan permintaan Ariel namun karena dirinya sangat membutuhkan lokasi yang aman untuk Sheril akhirnya iapun setuju dengan permintaan Eric.


Pak Tono dan Eric melakukan janji pukul 7 malam. Setelah melakukan perjanjian pak Tono pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Pak Tono menarik nafasnya menatap apartemen yang berdiri kokoh. Jika dia tidak setuju maka akan sangat sulit sekali mencari apartemen yang memiliki ruangan seperti apartemen ini.


Apartemen yang lain Sangat mudah dicarikan namun apartemen yang memiliki lantai atas sebagai ruangan pribadi sangat sulit di cari.


Jika Sheril tinggal di lantai atas tersebut akan sangat sulit untuk orang bertemu dan mencari akses dirinya karena lantai atas tersebut merupakan lantai khusus milik tuan Ariel Pratama.


Staff yang ada di apartemen saja tidak sembarangan yang bisa masuk ditambah lagi liftnya pribadi. Keamanan Sheril sangat terjaga disana.


Pak tono melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit pak Tono berbicara dengan Sheril.


Sheril yang sudah mendapat penjelasan dari bundanya seminggu yang lalu mengenai dirinya. Tanpa banyak tanya mengikuti saja permintaan pak Tono.


Menurut fikiran Sheril apa permintaan pak Tono pasti sudah diketahui lebih dahulu oleh tuan Hasan. Dan pastinya itu adalah yang terbaik buat Sheril.


"Baiklah... Aku akan bersiap siap nanti malam."


"Non... Berpakaianlah serapi mungkin agar penjual merasa yakin untuk menjualkannya kepada anda." Ucap pak Tono.


"Baiklah"


"Saya akan meminta Bao bao menemani saya."


"Tidak non. Anda akan ditemani oleh Meli."


"Meli... Bukannya dia di luar negeri."


"Tidak. Dia diluar sekarang."


Pak Tono mengambil ponselnya lalu menghubungi Meli yang sedang duduk di ruang tunggu. Beberapa menit kemudian Meli masuk keruangan sembari menampilkan senyumannya kepada Sheril.


"Ternyata aku selama ini dipermainkan olehnya. Lihat aja kamu mel." Sheril menyunggingkan bibirnya menampilkan senyuman smirknya untuk pertama kali.


Meli yang sudah terbiasa berkerja dengan bermacam macam kepribadian. Sangat paham sekali arti senyuman yang ada dibibir Sheril.


Pak Tono melihat Sheril dan Meli yang saling bertatapan kemudian pamit untuk undur diri sebelum peperangan dimulai.


Sheril menarik nafasnya dan menahan emosinya agar tidak meledak saat ini berhubung dirinya masih berada di rumah sakit dan nyonya Amara dalam keadaan tidur.


Sheril melirik arloji ditangannya pukul 16.00 WIB.


"Antarkan aku ke salon." Ucap Sheril sambil melemparkan tasnya ke sofa.

__ADS_1


"Bawakan tasku juga." Meli menahan amarahnya melihat tingkah Sheril seperti anak kecil.


"Kenapa? Kamu tidak mau? Aku atasanmu sekarang!" Ucap Sheril kesal. Dirinya tidak bermaksud ingin menghina Meli namun dirinya kesal saja orang yang dianggapnya sahabat selama ini ternyata adalah seorang mata mata.


"Sheril... Ayolah. Jangan gitu. Bukannya kita bestie. Akukan melakukan ini karena papamu." Meli membuat tampang bersalah dengan wajah penuh permohonan.


Sheril menarik nafasnya lalu meninggalkan Meli. Meli mengambil tas Sheril lalu mengejar Sheril.


"Mana mobilnya?" Ucap Sheril.


"Yang disana tuan putri." Ucap Meli bak seorang kasim di drama korea.


Sheril menuju mobil lalu membukanya namun terdengar alarm mobil tanda bahaya hingga membuat beberapa orang melihatnya.


"Meli.... " Teriak Sheril.


Meli pura pura tidak mendengar dirinya sengaja tidak menekan tombol kunci pembuka mobil sehingga disaat Sheril membuka pintu mobil alarm tanda bahaya/peringatan berbunyi sekeras kerasnya.


Seorang satpam menatap Sheril. Sheril pergi menjauh lalu menghampiri Meli.


"Kamu mau aku pecat?"


"Aku akan sampaikan semua rahasiamu ke tuan Hasan."


"Meli.... " teriak Sheril benar benar dongkol dibuat Meli.


"Ayo... Maafkan aku dulu."


"Iya... Iya."


Meli memeluk tubuh Sheril. Sheril yang masih kesal namun dirinya juga sangat rindu dengan Meli. Meli sudah dianggapnya seperti kakak sekaligus sahabat dirinya. Melilah yang membuat dirinya nyaman berada dinegeri paman sam.


"Ayo. Buruan. Kamu harus ke salon dulu. Biar pemiliknya terpana melihat kecantikan kamu. Jika perlu kamu harus membuat pemiliknya mengikuti semua permintaanmu. Ha... Ha..."


Meli berjalan meninggalkan Sheril. Sheril tersenyum melihat tingkah konyol meli yang tidak pernah berubah.


"Buruan." Ucap Meli.


"Kamu harus duduk disini. Jika kamu tidak ingin aku dipecat oleh tuan Hasan. Ini bukan negeri Paman Sam lagi!"Ucap Meli sambil membukakan pintu belakang.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi tapian... Buruan. Da hampir setengah jam ne berlalu."


Sheril melihat arlojinya dan benar saja dikatakan oleh Meli. Sudah setengah jam berlalu. Sheril belum ke salon dan belum juga memilih pakaian.


Sheril langsung memasuki mobil kemudian Meli menutupnya dan langsung bergerak dengan cepat ke salon.


Setelah menemani Sheril masuk ke salon Meli membisikkan sesuatu ditelinga Sheril.


"Aku akan keluar memilih pakaian untuk kamu pakai."


"Hm baiklah."


Meli akhirnya pergi meninggalkan Sheril di salon menuju sebuah Boutiqe yang cukup ternama di ibu kota.


****


****


Eric yang baru saja sampai di apartemen langsung menuju sebuah ruangan yang sudah ditata oleh staff. Apartemen X ini sepenuhnya dikelola oleh Eric.


Hampir semua orang berfikir pemilik apartemen tersebut adalah Eric. Padahal pemilik yang


sebenarnya adalah Ariel.


Eric sengaja datang satu jam lebih cepat. Dirinya mempersiapkan semua berkas jual beli 1 unit kamar apartemen dan juga beberapa syarat yang harus dipenuhi.


Jika calon pembeli setuju maka mereka langsung akan melakukan akad serah terima satu unit kamar apartemen malam ini.


Ariel melajukan mobilnya menuju apartemen karena dia janji pukul 7 sudah tiba di apartemen.


Sementara Sheril yang sudah selesai berdandan kini melihat dirinya didepan kaca. Malam ini dirinya menggunakan sebuah dress bewarna hijau botol di padu padankan dengan sweater lalu menggunakan riasan sedikit tipis.


"Wow.... sempurna." Ucap Meli melihat Sheril seperti sebuah boneka yang hidup.


Kulit nya yang putih bersih dan sehat sangat cantik menggunakan apapun. Ditambah lagi dengan riasan diwajahnya membuat kecantikannya makin mempesona.


"Ayo... Kita harus berangkat sekarang."


"Yeup." Ucap Sheril sambil meraih tasnya.

__ADS_1


__ADS_2