Paintfull Love

Paintfull Love
Rumah Sakit


__ADS_3

Sebuah mobil melaju di hiruk pikuknya ibu kota. Tidak berapa lama mobil tersebut memasuki area parkiran rumah sakit swasta elit yang terbagus di ibu kota.


Sheril menatap bangunan megah yang sedang berdiri kokoh dihadapannya.


"Ayo.... Turun non!"


"Kenapa kita kesini pak?" Ucap Sheril kepada pak Tono setelah keluar dari mobil.


Setelah pulang dari negeri Paman Sam Sheril langsung dibawa ke apartemen yang ada di ibu kota untuk istirahat.


Fikir Sheril setelah istirahat dirinya akan ke kota kampung halamannya. Namun tebakan Sheril jauh meleset. Kini Sheril berada di tempat ini.


Pak Tono yang biasanya ramah hanya lebih banyak diam dan bisa dikatakan tidak berbicara sama sekali. Beliau hanya memberi perintah. Ayo, Silakan keluar dan silakan masuk.


"Ayo non Sheril... Keluar!" Ucapnya lagi setelah membuka pintu mobil belakang.


Sheril keluar tanpa banyak berkata dan mengikuti perintah pak Tono. Dirinya merasa sedikit kecewa karena Sheril berharap dirinya langsung pulang ke kampung halamannya dan memeluk sang bunda tercinta.


Raut sedih terukir diwajahnya namun dirinya takut membuat pak Tono marah.


"Apa kata beliau nantinya jika aku tidak mau menurutinya. Sudah disekolahkan tinggi tinggi bukannya ngucapin terimakasih malah melawan." Batin Sheril menatap punggung pak Tono.


Pak Tono berjalan didepan Sherilq lalu menuju ruangan VVIP. Sherilpun memasuki ruangan tersebut tanpa banyak tanya.


"Percuma bertanya dijawab juga tidak." batin Sheril didalm hatinya.


"Silakan masuk non." Pak Tono mempersilakan Sheril masuk lalu menunggu di pintu keluar.


Sheril menatap ke sekeliling ruangan lalu tiba tiba matanya berhenti ke pembaringan. Matanya bertatapan langsung dengan sosok yang sangat dikenalinya.


"Bunda.......! teriak Sheril.


Nyonya Amara yang sedang ada di ranjang tersenyum menatap Sheril dengan senyum bahagia. Tangannya menjulur kedepan agar Sheril masuk kedalam pelukannya.


Sheril berlari kecil menuju pembaringan lalu menyambut juluran tangan sang ibu tercinta. Dirinya memeluk sambil mencium seluruh wajah bundanya.


"Aku kangen bund... "Sheril memeluk erat tubuh bundanya yang sangat kurus disaat ini.


"Bunda juga kangen kamu nak...." Mata nyonya Amara berkaca kaca memeluk anak semata wayangnya sambil mencium ubun ubun sang anak.


Sheril melepaskan pelukan lalu menatap bundanya yang pucat dan kelihatan sangat kurus.


"Sejak kapan bunda disini? Kenapa ga ngabarin aku?" Sheril meneteskan air matanya. Selama ini tiap kali berkomunikasi Nyonya Amara selalu saja mengatakan dalam keadaan baik baik saja.


Nyonya Amara hanya tersenyum lalu menatap wajah Sheril "Bunda baik baik saja... Bunda senang melihat kamu sehat dan semakin cantik aja nak!" Ucap Nyonya Amara menyentuh sang anak. Tak terasa tetesan air matanya mengalir ke pipi.


Nyonya Amara tidak menyangka sang anak kini sedang ada dihadapannya. Dulu dia kira Sheril akan pergi dan tidak kembali lagi setelah merasakan enaknya hidup mewah. Namun dirinya salah Sheril masih seperti dulu.


"Bunda...... "Sheril menggenggam tangan sang ibunya tercinta lalu menciumnya dengan penuh hangat dan kasih sayang.


"Aku sayang bunda. Aku akan disini tidak akan kemana mana lagi." Ucap Sheril.


Sheril sudah menyelesaikan semua mata kuliahnya kini dia hanya menunggu sidang skripsi lagi.


"Bunda baik baik saja kok nak. Kamu jangan khawatir."


"Bagaimana aku tidak khawatir. Bunda ada disini. Aku tidak ingin bunda kenapa kenapa." Rengek Sheril.


"Kamu harus melanjutkan pendidikan nak..."Belum selesai nyonya Amara menyelesaikan kalimat Sheril menutup bibir nyonya Amara dengan jari telunjuknya.


"Tidak bund. Aku sudah merasa cukup sampai disini. Pendidikan bisa kapan saja. Namun merawat bunda tidak bisa kapa saja."


"Jangan Sheril."


"Ga bund.. Jika pun Sheril melanjutkan pendidikan. Sheril akan kerja buat bawa bunda kesana. Sheril ga mau bahas itu lagi."


Nyonya Amara mengeluarkan cairan beningnya lalu dihapus oleh Sheril. Hatinya senang mendengar ucapan Sheril.


Tidak lama kemudian terdengan bunyi ketukan pintu. Sheril menoleh kearah pintu lalu muncullah sosok tuan Hasan.


Sheril beranjak dari pembaringan lalu memyambut kedatangan tuan Hasan.

__ADS_1


Tuan Hasan tersenyum hangat kepada Sheril kemudian menuju ke pembaringan. Sheril yang masih berdiri tidak jauh melihat tuan Hasan dan sang ibunda sedang mengkonfirmasi sesuatu namun Sheril tidak bisa mendengarkan dengan jelas.


Tuan Hasan kemudian menghampiri Sheril lalu duduk di sofa yang tersedia sambil menanyakan kabar dan ngobrol hal hal yang ringan kemudian pamit untuk pergi.


Waktu tuan Hasan memang sedikit karena pekerjaan dirinya begitu padat ditambah lagi dirinya tidak bisa berlama lama berada di rumah sakit karena terlalu banyak mata mata.


Sheril mengantar tuan Hasan sampai pintu lalu menutupnya kembali .


Sheril berjalan menghampiri pembaringan sang bunda yang sudah tertidur sejak dirinya ngobrol bersama tuan Hasan.


Sheril menarik selimut hingga ke dada lalu mencium kening sang bunda.


"Mengapa diriku merasa semakin aneh dengan kehidupanku saat ini? Ada hubungan apa bunda dan tuan Hasan?" Batin Sheril.


Sheril melihat ruangan tempat sang bunda dirawat. Sheril menatap sekelilingnya.


"ini ruangan kelas VVIP. Bagaimana mungkin bunda bisa membayarnya? Sheril menatap wanita paruh baya yang terbaring dengan wajah pucat pasi tersebut yang tidak lain adalah ibu kandungnya.


Sheril beranjak dari pembaringan lalu duduk diatas sofa.


Dirinya yang selama ini fokus belajar sampai dirinya bisa menyelesaikan kuliah 3 tahun dan sekarang hanya menunggu panggilan skripsi mulai teringat dengan kejadian kejadian aneh yang terjadi selama dirinya bertemu tuan Hasan.


Sheril sebenarnya merasa janggal dan aneh juga dengan hal hal yang dialaminya selama ini namun dirinya selalu berusaha untuk berfikir positif.


Tapi tidak tau kenapa saat ini rasa ingin tahu dalam dirinya menjadi sangat kuat. Mungkin karena dirinya sedang tidak ada kegiatan dan sudah tidak banyak tugas yang harus di pelajari ataupun dikerjakan lagi.


Sheril memegang tenggorokannya yang terasa sangat haus.


"Aku keluar cari kantin dulu. Di rumah sakit biasanya ada kantin." Batin Sheril.


Sheril membuka pintu kamarnya kemudian dua orang pria berbadan kekar yang sedang berada dipintu kamar nyonya Amara menatapnya.


"Ada yang bisa dibantu non Sheril?" Sheril menatap pria yang bertanya kepadanya sambil menjawab "Tidak ada."


Sheril melangkahkan kakinya untuk melewati kedua pria tersebut.


Kedua pria tersebut bertatapan sambil memberikan kode agar salah satu diantaranya mengikuti kemana nona muda tersebut akan pergi.


"Kenapa kamu mengikutiku."


"Kami hanya menjalankan tugas kami nona."


"Siapa yang memberi perintah kepada kalian?"


"Tuan Tono, Nona...!"


Sheril menarik nafasnya lalu membalikkan badan kemudian melanjutkan langkah kakinya.


Sheril berputar putar kebingungan mencari kantin. Dirinya sengaja tidak bertanya kepada pria berbadan kekar tersebut karena dirinya memang sedang kesal karena diikuti bak bocah kecil.


Sheril menggerutu sendiri karena dirinya hanya berputar putar sejak tadi. Rumah sakit tempat nyonya Amara dirawat tersebut memang sangat besar sekali.


Pria berbadan kekar yang mengikuti Sherilpun hanya bisa menahan tawa dihatinya melihat nona muda didepannya sedang kesal.


"Ditanya mau kemana ga mau jawab. Ya sudah beputar putar aja kita non. Lumayan menggerakkkan kaki dari pada jadi patung didepan pintu." Batin pria tersebut.


Pria tersebut berjalan mengikuti Sheril sambil menggerak gerakkan badannya yang terasa kaku. Beberapa orang yang melihat mereka dari tadi berputar putar hanya tersenyum


Sheril yang kelelahan karena sudah hampir sejam hanya berputar putar namun tidak menemukan kantin akhirnya menyerah karena tenggorokannya benar benar sudah tidak bisa diajak berkompromi.


Sheril membalikkan badannya menatap bodyguard yang mengikutinya sedang jingkrak jingkrak seperti orang yang sedang olahraga. Sedangkan orang hanya tertawa melihat tingkah bodyguardnya bak orang gila.


"Kamu kenapa?"


"Olahraga non." Ucapnya santai.


"Apa...? Ga salah dengar."


"Ada apa non?" Ucap pria yang dipanggil Bao bao tersebut.


"Kantinnya dimana?" Ucap Prilla heran sambil menahan malu.

__ADS_1


"Capek ya non? Fikir saya nona ga akan menyerah sampai langit berubah menjadi gelap." Jawabnya sambil cengengesan.


"Kamu ini.....!" Ucap Sheril kesal.


"Disana non." Bao bao menujuk sebuah bangunan yang tidak jauh dari mereka.


"Oooh... Kenapa ga ngomong dari tadi!"


"Eaelah non. Saya tanya nona ga jawab. Emanc saya bisa baca hati nona." Ucap pria tersebut tersenyum.


Sheril terdiam lalu memaksakan dirinya untuk tersenyum kemudian merekapun menuju ke kantin.


Sheril mengambil sebuah meja disudut lalu memesan makanan.


"Ayo, sini.. Kamu mau pesan apa! Sheril tersenyum ramah kepada bao bao yang tidak jauh dari hadapannya.


Sejak tinggal di negeri Paman Sam Sheril sudah tidak begitu canggung lagi berhadapan dengan pria. Dirinya sudah bisa membuka diri untuk berteman dengan pria.


"Tidak non...."


"Ayolah.. Duduk disini. Temani aku makan." Ucap Sheril penuh harap.


Sheril sebenarnya bukan ingin mengajak makan namun dirinya punya tujuan untuk mendekati bodyguard yang menjaga bundanya tersebut. Dirinya ingin bertanya sesuatu ditambah lagi dilihatnya bao bao ini hanya menang fisik aja tidak dengan IQ nya.


Setelah dipaksa beberapa kali kini pria tersebut duduk dihadapannya. Sambil menunggu pesanan mereka datang Sheril memulai bertanya tanya tentang hal hal yang ringan tentang bao bao tersebut yang bersifat umum.


Kemudian disaat dirinya merasa bao bao sudah terlihat nyaman. Sheril mulai bermain menjadi seorang intel intelan.


Berada di Negeri Paman Sam bertahun tahun dengan lingkungan Universitas yang sangat kritis dan terbuka membuat dirinya menjadi lebih cepat untuk mengetahui sebuah keadaan seseorang.


"Ngomong ngomong dah berapa lama di tugaskan sini?" Tanya Sheril disaat pesanan dihidangkan.


"Dah hampir seminggu non." Ucap bao bao tanpa menyadari jika dirinya menjawab hal tersebut berarti dirinya menjawab sudah hampir seminggu juga nyonya Amara dirawat di rumah sakit swasta ini.


"Aku tidak pernah melihat kalian berdua. Apakah kalian baru bekerjasama dengan tuan Hasan!" Tanya Sheril asal asalan seolah olah dirinya mengetahui siapa saja yang bekerja sama dengan tuan Hasan.


"Iya non. Kami baru. Khusus buat nyonya Amara dan anda selama di rumah sakit ini."


"Oooh.....!"


"Darimana kalian memgenali tuan Hasan?" tanya Sheril lagi sambil mengaduk aduk minumannya.


"Maksudnya non?" ucap pria tersebut dengan mulut yang penuh makanan.


"Iya dari mana kalian mengenali tuan Hasan sampai bisa bekerjasama?"


"Oh... Itu Lewat pak Tono." Pria tersebut mengelap bibirnya dengan tisu lalu menyeruput minuman.


Belum sempat Sheril melanjutkan pertanyaan terdengar bunyi ponsel berdering.


"Maaf non, saya angkat dulu."


Pria tersebut menjauhi nona Sheril lalu mengangkat ponselnya.


"Kamu dimana?" Ucap seseorang dari balik ponsel.


"Dikantin pak. Menjaga Non Sheril." Ucapnya.


"Oh. Baiklah."


Setalah kisaran 5 menit mereka berbicara tanpa bisa didengarkan oleh Sheril. Percakapan merekapun terputus.


"Ayo non... Kalau sudah kita ke ruangan."


"Oh ya... Ayo." Sheril meninggalkan kantin menuju ruangan dimana bundanya dirawat.


Setelah sampai Sheril membersihkan kedua tangannya dengan anti septik kemudian


Sheril menuju pembaringan sang bunda. Dirinya menatap wajah ibunya yang sedang tidur dengan tatapan sedih.


"Rahasia apa yang kamu simpan bunda?" Sheril memejamkan matanya karena dirinya belum bisa menemukan jawaban.

__ADS_1


__ADS_2