
Tuan Hasan menatap istrinya dengan berkaca kaca. "Apa kamu hanya membiarkanku berdiri diluar Amara?" Baritonnya yang khas memecah keheningan.
"Masuk Mas."
Tuan Hasan memasuki ruang tamu berukuran 3×3 meter lalu duduk diatas karpet yang tesedia. "Maaf mas tidak ada kursi tamu." Nyonya Amara mengambil air mineral yang selalu ada dimeja dan meletakkannya dihadapan suaminya.
"Mau minum apa mas?" Nyonya Amara bersiap untuk berdiri namun ditahan oleh suaminya.
"Ga usah. Mas baru dari rumah makan." Senyum merekah dibibir tuan Hasan. Dirinya bahagia karena dalam bayangan yang ada dikepalanya ia akan di usir namun kenyataannya istrinya tidak berubah sedikitpun. Wanita yang ada di hadapannya masih sangat menghargainya.
Tuan Hasan melihat sekeliling lalu menatap wajah istrinya "Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik mas." Nyonya Amara menatap suaminya lalu bertanya hal yang sama "Mas sendiri bagaimana?"
"Sekarang setelah bertemu denganmu sangat baik kalau kemaren tidak baik." Nyonya Amara tersenyum mendengar jawaban suaminya yang memang selalu tidak terduga. Suaminya masih belum berubah dari dahulu. Kemudian mereka berduapun terdiam. Hampir lima belas menit berlalu.
"Hem.. Amara.. Begini... Aku kesini ingin menjemputmu dan membawamu kembali." Nyonya Amara diam dan menatap suaminya. Ia tidak terkejut dengan ucapan suaminya karena ia sangat mengerti dan paham sekali sifat suaminya.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kamu meninggalkanku karena aku tahu pasti kamu punya alasan Amara. Tapi aku minta kepadamu agar kamu tidak menolak keinginanku." Tuan Hasan menatap istrinya dengan penuh permohonan.
"Bagaimana dengan anak dan istri mu yang sekarang jika kamu membawaku? Bagaimana dengan orangtuamu? Apa mereka bisa menerimaku?"
Tuan Hasan menatap istrinya " Aku akan keluar dari rumah itu dan hidup bersamamu." Ucapnya tegas.
"Mas... Kita sudah tua. Aku ingin kehidupan yang tenang dan tentram. Terlebih lagi aku sudah memiliki seseorang yang mesti aku jaga mas." Nyonya Amara teringat bayangan Sheril yang selalu ada mendampinginya selama ini.
"Sherilkan namanya. Dia adalah darah dagingku juga. Aku mengetahuinya walaupun kamu tidak menulis nama belakangku." Tuan Hasan menatap istrinya sedikit kecewa.
Nyonya Amara menarik nafasnya lalu menatap suaminya yang sedang kesal.
"Aku tidak punya pilihan mas. Aku takut terjadi sesuatu jika aku menggunakan nama belakang kebesaran keluargamu. Aku takut nyawa Sheril yang menjadi taruhannya." Mata nyonya Amara berkaca dan menahan amarah jika mengingat perlakuan Nyonya Dira selaku ibu mertuanya kepada dirinya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka. Apakah kamu bisa memaafkanku dan keluargaku?"
Tuan Hasan menunggu jawaban dari istrinya tersebut.
"Aku sudah lama memaafkan keluargamu mas namun aku tidak ingin membawa Sheril kerumah itu dan aku juga tidak ingin kamu memilih mengikutiku dan meninggalkan ibumu yang sudah lanjut usia. Jaga dan rawatlah dia mas. Bukankan kamu adalah satu satunya anak yang dia miliki."
Tuan Hasan menarik nafasnya dan dirinyapun tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Baiklah. Aku akan menyerah. Namun izinkan aku menafkahi Sheril. Aku tidak akan memisahkan kamu dan dirinya. Apakah menafkahi darah dagingkupun kamu tidak mengizinkannya?" Tuan Hasan menatap tajam kearah istrinya.
Nyonya Amara meneguk salivanya melihat tatapan suaminya. Ia tahu jika suaminya sudah emosi dan menahan amarah maka sorot matanya yang tajam seakan akan ingin mencabik cabik lawan bicaranya.
"Bukankah kamu sudah begitu lama memisahkan aku dan darah dagingku Amara? Tidak cukupkah kamu menghukum darah daging kita dengan hidup menderita? Apakah egomu lebih kamu dahulukan Amara? Tidak cukupkah dengan penderitaanya selama ini. Harusnya dia bisa menimati jenjang kuliah namun mesti mencari rupiah hingga tengah malam begini?" Tuan Hasan menatap istrinya lagi yang terdiam seribu bahasa.
Tak terasa bulir bulir air mata keluar dari pelupuk mata nyonya Amira mengingat Sheril yang dari kecil selalu membantu dirinya berjualan. Nyonya Amara menggigit bibirnya jika mengingat dirinya yang tidak sanggup untuk menguliahkan anaknya.
"Maafkan aku Amara. Aku hanya tidak ingin Sheril menjadi terlantar. Aku tidak akan memisahkan kamu. Kamu boleh menjaga dan merawatnya namun aku ingin dia menikmati hasil kerja keras ayah kandungnya. Apakah kamu ingin aku disiksa oleh sang pencipta karena tidak menafkahi anak dan istriku? Bercerai saja seorang lelaki wajib menafkahi anaknya apalagi tidak bercerai Amara! Aku mohon mengertilah keinginanku."
__ADS_1
Nyonya Amara menatap suaminya. "Apakah itu tidak mendatangkan masalah dikemudian hari? Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan Sheril."
Tuan Hasan mengukir senyum tipis di bibirnya. "Aku akan memastikan aman. Lagipula hanya menafkahi. Kamu hanya perlu menyiapkan segala dokumen data pribadi milik anak kita. Besok pagi akan ada seseorang yang datang menjemput berkas tersebut. Aku harus pergi bukankah sebentar lagi Sheril akan pulang."
Nyonya Amara menatap suaminya lalu mengangguk tanda mengerti. "Aku tidak bisa memberimu pelukan atau sekedar ciuman dipunggung tangan karena aku tidak mau kalian berdua jadi gosip tetangga." ucap pak Hasan dengan senyum menawannya kemudian berlalu pergi dan meninggalkan istrinya.
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan Nyonya Amara bersama Tuan Hasan yang merupakan suaminya.
"Tok... Tok... Tok.... Terdengar suara pintu diketuk di kediaman nyonya Amara. Nyonya Amara membuka pintu lalu berdiri sosok pria paruh baya dengan tatapan ramah.
"Saya utusan tuan Hasan. Perkenalkan saya Tono." Pria tersebut mengukir senyum ramahnya kepada wanita tersebut.
"Oh... Silakan masuk pak." Nyonya Amara mempersilakan masuk namun ditolak oleh pak Tono.
"Diluar aja Nyonya. Saya hanya sebentar. Saya hanya ingin menyerahkan semua berkas yang harus ditandatangani non Sheril. Saya akan datang nanti malam untuk menjemput kembali berkasnya. Sekalian saya ingin menyerahkan ini." Nyonya Amara mengambil sebuah map dan juga juga sebuah tas belanjaan lalu menatap punggung pak Tono berlalu pergi.
Nyonya Amara membuka sebuah map lalu mengeluarkan beberapa berkas yang ada didalamnya. " Huft... Kenapa semua dalam bahasa inggris?" Nyonya Amara memasukkan berkas tersebut kedalam mapnya lalu beralih ke tas belanjaan.
"Apa yang harus kukatakan kepada Sheril?" Nyonya Amara menatap kotak handphone yang sekarang ada dalam genggaman tangannya. Tidak lama kemudian Handphone yang sudah diaktifkan oleh pak Tono tersebut berdering.
"Hallo... Ini aku Hasan. Kamu harus mengunakan handphone mulai sekarang agar aku mudah mengetahui kabar kalian. Maaf aku tidak bisa membelikanmu yang mahal karena aku takut Sheril salah paham darimana kamu mendapatkannya." Ucap tuan Hasan dari seberang sana.
"Iya, Gak masalah mas. Malahan tadinya aku bingung mau jelaskan apa kepada Sheril darimana aku mendapatkan uang untuk membeli handphone. Kalau harganya murah aku malah bersyukur karena lebih masuk akal jika kubilang ini adalah hasil tabungan Sheril selama ini."
"Iya. Kalau ada apa apa kamu tinggal hubungi aku saja. Semua berkas yang diserahkan pak Tono secepatnya di tandatangani. Bilang saja sama Sheril dia menerima beasiswa kuliah diluar negeri salah satu pelangganmu ada kerja dibagian itu. Aku tutup dulu." Belum sempat Nyonya Amara menjawab telepon sudah terputus.
"Bagaimana mungkin Sheril kuliah diluar negeri. Bahasa inggrisnya saja belepotan. Memangnya dia fikir Sheril sama dengan anaknya yang lain." Nyonya Sheril memijit dahinya lalu tidak berapa lama kemudian Sheril muncul dari belakang.
"Sheril... Kamu ini kebiasaan dech. Masuk kerumah itu ucapin asalamualaikum bukan malah menyelonong."
Sheril tidak menggubris ucapan bundanya. Dia lebih tertarik dengan benda hitam yang ada diatas meja. "Cie.. Cie punya handphone baru ya Nyonya Amara." Sheril menggoda bundanya sambil mencolek dagu sang ibunda.
"Hanya handphone murah sayang, bunda beli dari hasil kerja kamu selama ini."Nyonya Amara menggenggam tangan anaknya dengan penuh kasih sayang lalu menatap wajah Sheril dengan hangat.
"Mau murah atau mahal ga masalah bunda, yang pentingkan bisa digunakan." Sheril tersenyum kepada wanita yang sudah melahirkannya.
"Itu apa bunda?" Sheril menoleh kearah map yang tidak jauh dari dirinya berada.
"Oh... itu berkas yang harus kamu tandatangani Sher. Ini berkas buat sekolahmu di luar negeri." Nyonya Amara mengambil map tersebut lalu mengeluarkan beberapa berkas yang tidak dimengertinya sama sekali.
"what....? Luar negeri? Apa aku ga salah dengar bund?" Sheril mengambil beberapa berkas yang disodor oleh Nyonya Amara. Ia melihatnya namun tidak ada satu berkaspun yang dipahaminya. Disetiap berkas hanya tertulis namanya dan juga nama Hasan Dirgo Notonegoro itu yang dipahaminya.
"Kemaren bunda ketemu sama langganan bunda dan kebetulan suaminya mengurus masalah beasiswa. bunda daftarin nama kamu. Tau taunya lulus."
Sheril menatap bundanya lemas. Sheril tidak pernah curiga kepada bundanya. Dia sangat percaya dan nurut sama orang tua. "Kenapa harus luar negeri bund? Kenapa bunda ga pilih yang ada di sini aja? Aku kan ga bisa bahasa inggris selain itu aku tidak bisa ninggalin bunda."
Nyonya Amarapun terdiam. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan Sheril keluar negeri sendiri. Boro boro keluar negeri, ke luar kota saja Sheril belum pernah sendiri. Sementara sekarang suaminya ingin menyekolahkan Sheril keluar negeri sementara bahasa inggris saja belepotan.
"Tanda tangani saja dulu soalnya berkas berkas itu mesti diserahkan malam ini. Nanti bunda minta ganti yang dalam negeri." Nyonya Amara mengambil sebuah pena kedalam kamar lalu menyerahkan kepada anaknya agar segera menandatangani semua berkas yang ada.
__ADS_1
"Aku ingin ketemu sama bapak itu bund biar bisa pilih universitas yang mana. Nanti bunda ga ngerti asal pilih lagi." Sheril menatap bundanya lalu menandatangani semua berkas yang ada tanpa rasa curiga sedikitpun begitu juga dengan nyonya Amara.
"Ga boleh...! Kamu ga boleh ketemu." Nyonya Amara spontan menjawab dengan nada tinggi.
"Lho... Kenapa? Bukannya lebih bagus jika aku ketemu. Aku dan bundakan ga begitu mengerti universitas dan jurusan yang mesti aku pilih diluar negeri. Biasanya bun ga semua universitas ada beasiswanya. Jadi nanti aku bisa tanya tanya jurusan yang ini bagus nya di universitas mana. Gitu lho bund.." Sheril menatap bundanya dengan penuh harap. Tidak biasanya ibunya menjawab dengan nada tinggi.
Nyonya Amara menggigit bibirnya lalu mendekati putri semata wayangnya. "Maaf...! bunda tidak bermaksud membentak kamu. Bunda hanya merasa tidak enak saja sama temen bunda kalau kita merepotkan beliau."
"Yeah.... tadi bunda sendiri yang bilang mau coba ngomong ke suami temen bunda. Makanya aku mau ketemu langsung. Bunda lagi mikirin apa sich... tumben cepet kali lupanya?" Sheril memanyunkan bibirnya sambil cemberut.
Nyonya Amara lagi lagi menarik nafasnya. Dia sangat paham sekali sifat putri semata wayangnya. Sheril sangat mirip dengan tuan Hasan yang merupakan ayah kandungnya. Jika menginginkan sesuatu dia akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkannya.
"Bukannya Kamu nanti malam mengajar les Sher? Lagian bunda sudah janji berkasnya dijemput jam 8 malam. Itukan waktunya kamu ngajar." Nyonya Amara menoleh kearah Sheril yang sedang merapikan berkas berkas kedalam map.
"Iya ya bund... Kenapa mesti malam coba? Apa ga bisa ditunda pagi bund atau sekarang aja?" Sheril menggoyangkan tubuh bundanya dengan memasang wajah memelas.
"Kamu ini... Sudah ditolong banyak maunya." Nyonya Amara menarik telinga Sheril dengan lembut lalu berlalu pergi memasuki kamarnya.
"Aw... Sakit bund... " Sheril memasuki kamarnya lalu menatap langit langit kamarnya.
"Gimana ya cara ketemu. Bolos ngajar gak mungkin. Tapikan ini menyangkut masa depan. Masa aku kuliah di jurusan yang gak aku sukai." Sheril menggigit jari telunjuknya sambil mencari cara buat ketemu sama temen mamanya.
Beberapa jam telah berlalu kini sudah waktunya Sheril pergi mengajar les private seperti biasanya sementara pak Tono yang ditugaskan untuk mengambil berkas yang ditandatangani oleh tuan Hasan kini sedang berada dalam perjalanan menuju rumah nyonya Amara. Pak Tono berencana mengambil berkas lalu kembali ke Ibu kota dimana tuan Hasan tiggal.
"Bund.. Bund... Aku pergi dulu." Sheril mencium punggung telapak tangan ibunya lalu pergi menghilang dalam gelapnya malam menggunakan motor kesayangannya.
Setelah mengendarai motor tidak jauh dari rumah, Sheril memutar balik motornya lalu berhenti dirumah tetangga yang tidak jauh dari rumahnya berada. Sheril melirik arloji ditangan kanannya. Lalu tersenyum memikirkan tingkahnya.
"Sebentar lagi sepertinya akan sampai." Sheril duduk diatas motor sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
Tidak berapa lama muncul mobil mewah bewarna hitam lalu berhenti dihalamannya.
"Sepertinya itu orangnya." Sheril menghidupkan motor mesin lalu mengendarainya sampai kerumah.
"Assalamualaikum..." Sheril mengucapkan salam lalu tersenyum kepada bundanya dan lelaki paruh baya yang dipanggil pak Tono. Nyonya Amara dan pak Tono yang sedang memeriksa berkas terkejut melihat kedatangan Sheril.
"Sheril... Bukannya kamu tadi pergi ngajar les." Nyonya Amara menahan amarahnya.
"Iya bund... Tapi tiba tiba orangtua nya nelpon kalau anaknya lagi demam dan hari ini ga perlu les." Sheril tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah. Ke kamar kamu." Nyonya Amara menatap Sheril dengan kesal lalu mempersilakan pak Tono untuk melanjutkan memeriksa berkas yang ditanda tangani oleh Sheril apakah ada yang tertinggal atau tidak.
Sheril melangkahkan kakinya lalu ikutan duduk disamping bundanya. Pak Tono menatap Sheril lalu memberikan senyuman ramahnya.
"Aw...Aduh.... "Teriak Sheril mengelus pahanya karena dicubit oleh nyonya Amara. Sheril menatap bundanya kesal.
"Ada apa?" Pak Tono memperhatikan Nyonya Amara yang sedang tersenyum dipaksakan begitu juga dengan Sheril.
"Tidak apa apa pak. Silakan lanjut diperiksa." Nyonya Amara tersenyum kepada pak Tono lalu membelalakkan matanya kepada Sheril.
__ADS_1
"Sudah Nyonya Amara. Saya pamit dulu." Pak Tono memasukkan berkas berkas kedalam map lalu berencana ingin segera pergi.
"Tunggu dulu pak." Sheril menatap pak Tono dengan penuh harap. Nyonya Amara hanya pasrah melihat tingkah anak semata wayangnya.