Paintfull Love

Paintfull Love
Apartemen


__ADS_3

"Bam...." Suara pintu mobil ditutup.


Sheril keluar dari mobil lalu berjalan menyusuri ruang parkiran menuju lobi apartemen. Disana dirinya bertemu dengan pak Tono yang sedang menunggu dirinya.


Beberapa staff yang ada disana melirik Sheril yang berjalan dengan begitu anggunnya. Pak Tono yang melihat kedatangan Sheril dari jauh langsung berdiri dari kursinya lalu menuju Sheril.


Seorang staff yang ditugaskan untuk menunjukan ruangan pertemuan Sheril bersama Ariel berjalan dihadapan mereka menunjukan arah dimana ruangan pertemuan mereka.


Setelah sampai diruangan, Staff tersebut pergi lalu meninggalkan Sheril, Meli dan juga pak Tono.


"Aku akan menemani Sheril. Kamu cukup disini saja."Ucap pak Tono kepada Meli.


"Baik pak." Meli memberikan hormat lalu meninggalkan mereka berdua menuju lobi hotel.


"Tok... Tok... Tok..."


"Masuk" Ucap seorang pria dari dalam.


Pak Tono pun langsung mebukakan pintu dan masuk kedalam ruangan diikuti oleh Sheril.


Sheril berjalan dibelakang pak Tono lalu duduk di kursi yang ditarik oleh pak Tono.


Eric menatap Sheril sembari berfikir "Apakah wanita ini yang akan menempati kamar diatas? Jika dilihat wanita tersebut dia bukanlah seorang buronan. Apa dia jatuh cinta dengan Ariel?" fikir Eric


"Hm... Dimana pemiliknya?"Ucap pak Tono setelah melirik arloji namun hanya Eric yang ada dihadapannya.


Eric teralihkan fikirannya dari pertanyaannya pak Tono. Eric melihat arlojinya sudah 15 menit berlalu dari perjanjian namun Ariel belum juga muncul menampakkan batang hidungnya.


"Sebentar ya....! Eric keluar dari ruangan lalu menghubungi Ariel.


"Tut.....tut.....tut..." Panggilanpun tersambung dan mendapat reaksi dari pihak seberang sana.


"Dimana? Pembelinya sudah datang."


"Sabar. Sebentar lagi gue sampai. Disini macet."


"Gimana sich bro... Biasanya kamu ga pernah telat."


"Iya macet." Jawab Ariel singkat.


"Kamu bawa dia berputar apartemen dulu buat habiskan waktu." Ariel memutuskan pembicaraannya.

__ADS_1


Eric menutup sambungannya lalu kembali masuk keruangan dengan hati kesal.


Eric duduk di hadapan calon pembeli. "Bagaimana kalau kita ke lantai atas dahulu sambil melihat kamar yang bakal ditempati?" Ucap Eric kepada Sheril.


Sheril tidak menjawabnya. Dirinya memandang kearah pak Tono karena dirinya lebih ingin mengikuti saran pak Tono yang lebih tua.


"Baiklah." Pak Tono berdiri dari kursi lalu diikuti oleh Sheril.


Eric berjalan di depan dan diikuti oleh Sheril dan pak Tono. Mereka melalui meja resepsionist didepan lalu menaiki lift pribadi lalu sampai dilantai paling atas.


Eric menjelaskan satu per satu ruangan. Apartemen elit ini memiliki ruang parkir di bawah tanah lalu di lantai satu adalah lantai pekerja. Ruangan resepsionis, lobby, supermarket, cafe, ruang gym.


Jika ingin butuh sesuatu bisa melakukannya sendiri atau menelepon resepsionis untuk diantar ke kamar. Di lantai ke dua barulah kamar sampai lantai atas. Disamping bangunan apartemen adalah mall. Semua pakaian bermerek dan barang mewah tersedia disana.


Kemudian Eric menjelaskan lantai atas. Lantai atas adalah private room pemilik apartemen tersebut. Tidak ada yang bisa mengaksesnya selain orang kepercayaan.


Sheril melirik semua fasilitas yang ada dengan kagum. Terdapat 4 kamar. Di lantai atas tersebut sangat tenang. Ada kolam renang yang lumayan besar sambil menghadap tempat matahari tenggelam, ada ruang gym yang menghadap matahari terbit lalu ada salon dan terdapat ruangan terbuka yang sangat besar untuk acara acara.


"Teeeertttt.... Teeeerttt.... " telepon Eric bergetar.


Eric mengangkat ponselnya dan pergi sedikit jauh.


"Hallo Ric... aku masih macet. Apa masih aman?"


"Argh....... Sialan." Teriak Ariel.


"Siapa pembelinya?"


"Seorang perempuan. Dari tadi sedikitpun dia tidak berbicara hanya lelaki paruh baya tadi siang yang berbicara."


"Coba kamu baca situasinya. Masih maukah dia menungguku."


"Akan kuusahakan."


Ariel mematikan ponselnya lalu menghampiri Sheril dan pak Tono.


"Bagimana?" Ujar Eric kepada pak Tono karena Eric berfikir pak Tonolah yang membuat keputusan. Wanita disamping pak Tono akan mengikuti apapun.


"Kenapa anda bertanya bagaimana?" Ucap Sheril membuat pak Tono dan Eric menatap Sheril.


"Heh... Apakah anda ingin mempermainkan saya? Anda mengatakan tuan anda keberatan untuk menjual kamar ini namun setelah pembahasan yang panjang. Dia meminta saya datang kesini. Namun sampai sekarang tuan anda belum menampakkan batang hidungnya. Lalu anda bertanya bagaimana?? Bukankan sangat jelas sekali sebelum melihat lantai atas ini. Saya menginginkan kamar ini." Ucap Sheril sambil berjalan menyentuh gorden lalu menatap Eric disaat ucapan selesai dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


Eric menelan salivanya disaat Sheril menatapnya. Bukan karena takut namun lebih kepada semua yang dikatakan wanita dihadapannya benar.


"Apakah bos anda hanya ingin mengetahui siapa saya lantas setelah itu tidak ingin menjualnya? Segitu liciknyakah anda dan bos anda?"


"Tidak. Jangan salah paham nona. Bukan begitu nona." Ucap Eric cepat sambil ingin menjelaskan sesuatu namun ucapannya langsung dipotong oleh Sheril.


"Lantas dimana dia? Sudah satu jam kami menunggu. Saya tidak ada waktu untuk menunggu lagi."


Eric gelabakan mau menjelaskan apa. Eric meminta waktu sebentar kemudian menghubungi Ariel. Eric tidak menyangka disaat wanita tersebut bersuara langsung memojokkan dirinya.


Disaat berkomunikasi dengan pak Tono tadi sore pak Tono lebih banyak menghargai lawan bicara berbeda dengan wanita tersebut.


Sheril sebenarnya malas mau bersuara. Dari awal dirinya lebih banyak diam dan tidak ada bersuara sama sekali namun karena sudah sejam menunggu ditambah lagi dirinya sudah bersiap dari pukul 4 sore membuat kesabarannya terpancing.


Pak Tono menyunggingkan senyumnya disaat Eric buru buru keluar. "Benar kata orang buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Sheril sangat mirip sekali dengan tuan Hasan." Batin pak Tono disaat mendengar perkataan Sheril.


Sheril menarik nafasnya lalu melihat begitu indahnya pemandangan dimalam hari dari apartemen tersebut.


Hatinya mendadak menjadi sedikit melankolis. Kini dirinya merasa sangat kesepian disaat kehidupannya yang tiba tiba berubah. Dirinya menjadi introvert.


Suasana malam hari yang dipenuhi dengan cahaya lampu membuat gedung gedung yang ada dihadapannya menjadi sangat indah.


Sementara Eric tengah sibuk menjelaskan sesuatu dengan Ariel.


"What.....? Kenapa kamu harus membawanya ke lantai atas Eric. Akukan belum memutuskan ingin menjualnya atau tidak."


"Tapi kamu sendiri memintaku mengalihkan perhatian mereka. Aku tidak menebak ini akan terjadi serumit ini." Eric menjelaskan semua perkataan Sheril.


Ariel bingung harus bagaimana. "Apa benar yang dimaksud wanita itu apakah kamu hanya ingin memastikan siapa pembelinya namun tidak ingin menjualnya?" Ucap Eric.


"Tidak." Ucap Ariel cepat. Ariel sebenarnya berbohong. Apa yang dikatakan Sheril semuanya sangat benar. Ariel sempat terlintas dengan ide itu.


"Ya sudah jika begitu biar aku aja yang urus serah terimanya seperti biasa kamu hanya tinggal menandatanganinya?"


"Hem... Baiklah." Ucap Ariel dengan nada keberatan karena dirinya sudah hampir satu jam terlambat.


Ditambah lagi semua syarat yang diminta sudah dipenuhi oleh pembeli. Eric mematikan ponselnya.


"Arghhhhhh.... " Teriak Ariel melepaskan kekesalannya sambil memijit dahinya yang terasa tiba tiba pusing.


Dirinya tidak menyangka harus terjebak karena rasa penasarannya. Jika dirinya datang tepat waktu tentu saja kamar apartemen tersebut tidak akan lepas. Kini dirinya harus berbagi dengan orang yang sama sekali tak diketahuinya.

__ADS_1


Eric dengan cepat menghampiri Sheril lalu memintanya untuk menandatangani berkas penyerahan serah terima jual beli sebuah unit kamar apartemen.


Ariel sudah menyerah untuk mempertahankan kamar dilantai atas tersebut karena tidak ingin reputasinya dinilai jelek.


__ADS_2