
"Ada apa non sheril? Apa yang bisa saya bantu." Pak Tono mengurungkan niatnya.
"Panggil Sheril aja pak, jangan pakai nona. rasanya lebih nyaman gitu." Ucap Sheril tersenyum malu malu.
"Iya ga papa non. Saya lebih nyaman seperti itu. Nona mau menyampaikan sesuatu sama saya?" Pak Tono menatap gadis cantik dihadapannya.
"Iya pak. Masalah beasiswa yang bapak berikan sama saya. Sebelumnya makasih karena sudah bantu saya tapi apa tidak ada pilihan universitas dalam negeri pak?" Pak Tono menoleh kearah nyonya Amara.
"Maksudnya?" Ucap Pak tono yang tidak paham apa yang disampaikan Sheril karena sepengetahuan pak Tono dirinya tidak ada membahas masalah beasiswa, yang dia tahu dirinya membawakan berkas berkas untuk ditandatangani dan berkas tersebutpun bukan masalah beasiswa.
"Itu lho pak. Beasiswa keluar negeri yang saya terima.... " Belum sempat Sheril melanjutkan ucapannya pak Tono melihat ada panggilan masuk. Tertulis dilayar handphone Big boss yang tidak lain merupakan pak Hasan.
"Sebentar ya... " Pak Hasan keluar lalu mencari tempat yang aman untuk menjawab.
"Halo tuan..."
"Bagaimana? Sudah beres?"
"Sudah tuan... Namun saya ditahan nona Sheril. Dia menanyakan masalah beasiswa. Saya tidak mengerti."
"Bukannya dia ngajar les?
"Iya tuan. Tapi tiba tiba dia kembali lagi."
"Ya sudah berikan saja ponselnya kepada dia. Biar saya bicara sama dia." Ucap Tuan hasan dari seberang sana.
Tuan Hasan menunggu ponsel diserahkan kepada Sheril yang tidak lain merupakan anak kandungnya sendiri. Senyuman mengambang di bibir tuan Hasan membayangkan sebentar lagi akan berbicara dengan anaknya sendiri walaupun hanya lewat ponsel.
"Hallo... Assalamaualaikum. Saya Sheril pak penerima beasiswa diluar negeri." Terdengar suara merdu di seberang telpon. Sheril yang tidak tahu jika yang ditelponnya adalah ayahnya sendiri. Yang Sheril tau dirinya sangat senang sekali bisa bicara langsung kepada orang yang akan menguliahkannya. Nyonya Amara menatap Sheril dari samping yang sedang sangat bahagia sementara pak Tono bahagia melihat majikannya akhirnya bisa bersama keluarganya lagi walaupun Sheril tidak tau cerita sebenarnya.
"Iya ada apa nak Sheril?" Tuan Hasan menjawab dengan mata berkaca kaca karena mendengar suara anaknya yang sangat bahagia.
"Saya pengen tanya, saya akan kuliah diuniversitas apa serta jurusan apa? Maaf saya lancang pak, tapikan saya harus tau." Ucap Sheril dengan penuh semangat.
"Kamu pengennya dimana nak? Kalau menurut bapak, kamu bagusnya di universitas X dan ambil jurusan akuntansi dan keuangan. Nanti sebelum keluar negeri kamu akan ikut les beberapa bahasa dulu." Pak Hasan memberi pandangannya dan sangat berharap Sheril mendengarkannya
"Hem... Baiklah pak. Kebetulan saya memang senang dalam masalah hitung mengitung apalagi menghitung uang." Sheril ketawa di sebalik ponsel hingga membuat Nyonya Amara geleng geleng kepala dan mencubitnya.
__ADS_1
Tuan Hasan dan pak Tono yang mendengarnya tertawa terbahak bahak. Lalu setelah mengucapkan terimakasih Sheril memberikan ponsel kepada pak Tono dan pembicaraan pun ditutup.
Pak Tono pamit setelah menjelaskan kepada nyonya Amara dan Sheril tentang keberangkatannya sekitar 4 bulan lagi. Sheril dan nyonya Amara mengantarkan pak Tono sampai keluar lalu nyonya Amarapun masuk kedalam lebih dulu.
"Aw.... Sheril." Nyonya Amara terkejut karena Sheril memeluk tubuhnya dari belakang.
"Makasih bund.. Malam ini adalah malam yang tak terlupakan. Aku bahagia." Sheril menangis dalam pelukan sang bunda. Yeah begitulah namanya wanita, bahagia menangis sedihpun menangis.
"Apa kamu sebahagia ini Sheril...?" Nyonya Amara menghadapkan tubuhnya ke hadapan Sheril. Nyonya Amara menggigit bibirnya karena jauh dilubuk hatinya dirinya takut Sheril pergi meninggalkannya.
"Iya bund... Aku dari dulu pengen sekali kuliah. Aku ingin menjadi orang sukses. Aku ingin membahagiakan bunda. Memberikan bunda semua yang terbaik yang ada didunia ini. Aku tidak ingin melihat bunda menangis dimalam hari jika tidak ada uang dan aku tidak ingin melihat bunda dihina." Sheril menatap bundanya dan memegang erat tangan nyonya Amara.
"Benarkah? Bunda tidak menginginkan apa apa. Bunda hanya ingin kamu bahagia selalu dan itu buat bunda bahagia." Nyonya Amara menggigit bibirnya mengingat sebentar lagi ia akan berpisah dengan anaknya.
Enam bulan berlalu.......
Rintik gerimis disubuh hari membasahi bumi ciptaan Allah. Gemerisik suara dedaunan dihembus angin menambah sahdunya suasana pagi hari.
Sheril membuka jendela kamarnya dan melihat pemandangan yang ada didepannya. Hidup dipedesaan dan jauh dari keramaian membuat susana subuh menjadi sangat tenang.
Sheril memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya lagi.
"Sheril.... Sher....sarapan dulu, sebentar lagi kamu akan berangkat." Nyonya Amara dari tadi sudah bertempur didapur mempersiapkan sarapan sang anak semata wayangnya.
Sheril keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper yang baru dibeli oleh nyonya Amara. Beberapa hari yang lalu nyonya Amara menarik uang yang ditransfer oleh tuan Hasan tiap bulan belakangan ini. Ini adalah untuk pertama kalinya ia menggunakannya.
Pak Tono sebenarnya juga sudah menyerahkan buku tabungan dan juga kartu Atm atas nama Sheril kepada nyonya Amara untuk membeli segala kebutuhannya sendiri namun Nyonya Amara sengaja tidak menyerahkan kepada Sheril. Nyonya Amara tidak ingin Sheril menjadi manja dan juga bertanya darimana uang tersebut didapatinya.
"Kamu sudah buat rekening? Nanti jika ada apa apa hubungi bunda biar ditransfer. Tapi ingat ya hanya buat keperluan kuliah jangan buat foya foya. Kamukan tau kita harus berhemat. Nanti uang beasiswa kamu masuknya ke rekening bunda. Bunda kirim ke rekening kamu hanya buat belanja bulanan." Nyonya Amara menarik nafasnya dalam dalam.
Dalam hati nyonya Amara ia tidak ingin berbohong namun jika diceritakan hal sebenarnya nyonya Amara takut Sheril akan menemui papanya dan hal ini membuat Nyonya Amara bergidik ngeri menbayangkan apa yang akan dilakukan nyonya Dira kepada Sheril.
"Iya bund... Tenang aja. Nomor rekeningku sudah ku simpan di ponsel bunda."
Satu jam berlalu dan kini pak Tono sudah ada di halaman depan. Setelah melepas rindu dan mengucapkan salam perpisahan dengan berat hati nyonya Amara melepaskan kepergian Sheril. Nyonya Amara menatap punggung Sheril hingga masuk kedalam mobil. Sheril melambaikan tangannya kepada bundanya hinga wajah bundanya tidak kelihatan lagi.
Nyonya Amara menatap jalanan yang sepi hingga mobil pak Tono sudah tidak kelihatan lagi. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Lalu ambruk di belakang pintu.
__ADS_1
"Sheril.... Kembalilah lagi nak. bunda tidak sanggup berpisah. Bunda takut ditinggal sendiri..." Nyonya Amara menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar tetangga. Dirinya kembali mengingat bagaimana disaat suaminya pergi meninggalkannya untuk melakukan perjalanan bisnis.
Lalu setelah itu terjadi peristiwa besar hingga membuat mereka berpisah. Bunda Amara takut hal ini terjadi kepada Sheril. Pecahlah tangis nyonya Amara didalam keheningan. Tubuhnya yang sudah tidak muda lagi mencari pegangan untuk berdiri.
Negeri Paman Sam
Pak Tono memberhentikan mobilnya didepan sebuah apartemen lalu mengajak Sheril menuju lantai atas. Sesampainya dilantai atas pak Tono menekan tombol lalu pintupun terbuka.
"Sekarang non Sheril tinggal di sini. Sebentar lagi akan datang keponakan saya yang kebetulan sedang menempuh pendidikan disini juga. Dia sudah semester 4." Pak Tono menoleh kekiri dan kekanan kemudian dari sebuah lorong muncul sosok wanita yang sangat cantik menurut Sheril.
"Oh itu dia." Pak Tono memperkenalkan wanita tersebut kepada Sheril lalu pamit meninggalkan mereke berdua.
"Ayo masuk kak?" Sheril tersenyum ramah kepada wanita yang ada dihadapannya.
Wanita yang bernama Meli tersebut membalas senyuman Sheril lalu mengikuti Sheril dari belakang. Sheril dam Meli memandang takjub tempat tinggal yang akan ditempatinya sekarang. Semua peralatan tersedia diapartemen tersebut.
"Waaaaw... Sepertinya kamu tidak akan keluar keluar dari apartemen ini." Ucap Meli sambil tersenyum sementara Sheril hanya menatap Meli dengan penuh tanda tanya.
"Kakak jurusan apa?" Sheril menoleh kearah wanita tersebut.
"Sama dengan kamu. Oh ya jangan panggil kakak, kita seumuran kok. Ngomong ngomong kamu sudah makan apa belum?" Meli menatap ramah kepada Sheril.
"Hem baiklah. Sudah Mel... Tadi mampir dulu di rumah makan bareng pak Tono." Meli dan Sherilpun hanyut dalam percakapan mereka. Meli yang ramah sangat mudah untuk akrab dengan siapapun orangnya. Tak terasa haripun sudah sore. Melipun izin pamit untuk pulang ke kosannya.
"Besok aku akan kesini bawa kamu keliling kampus dan beberapa tempat penting. Jangan lupa dandan yang cantik cantik ya...! Mana tau ketemu gebetan."
"Iiih.... Apaan sich mel. Baru aja nyampe disini." Sheril tersenyum lucu mendengar godaan Meli.
"He..he... Mana taukan dah kebelet." Cuil Meli berlalu pergi.
Sheril menatap punggung Meli sambil tersenyum sampai menghilang. Seandainya Sheril tamat SMA langsung kuliah tentu saja dia sudah semester 4 sama dengan Meli.
" Uuuuuh....... " Sheril merenggangkaan badan badannya yang rasanya sangat pegal. Lalu membalikan badannya menutup pintu.
Sheril memyempatkan diri melihat tiap sudut yang ada diapartemen ini. Apartemen yang ditinggali ada ruang tamu, ruang dapur, ruang TV dan terdapat satu kamar tidur. Semua peralatan yang ada di apartemen yang ditinggalinya kelihatan serba mewah.
"Coba saja jika punya sihir, akan aku pindahkan apartemen ini kekampung." Gumam Sheril sambil mempraktekkan beberapa adegan sihir yang dilihatnya dalam drama TV.
__ADS_1
"Eaelah.... Kenapa jadi gene... jangan jangan aku sudah jadi gila neyh.." Sheril memukul jidatnya lalu memberhentikan gerakan gerakan sihirnya yang selalu dilihat Di drama kemudian mengambil ponsel untuk menghubungin bundanya.