Paintfull Love

Paintfull Love
Papaku adalah Dia


__ADS_3

"Sheril......."


"Bunda.... bunda sudah bangun!


Sheril menghampiri nyonya Amara lalu duduk di pembaringan. Nyonya Amara menatap Sheril dengan tatapan sendu.


"Maaf! Bunda tertidur....!"


"Tidak apa apa bund!"


Sheril menggenggam tangan nyonya Amara dengan lembut lalu meletakkan di bibirnya. Sheril memejamkan matanya menikmati momen tersebut hingga membuat nyonya Amara merasa sedih.


"Nak... Maafkan bunda! Ucap nyonya Amara sambil meneteskan air mata.


"Kenapa bunda ngomong gitu?" Tatap Sheril sambil menghapus tetesan tetesan permata yang mengalir di pipi nyonya Amara.


"Bunda tidak tahu harus ngomong dari mana Sher! Bunda takut kamu akan membenci bunda. Tapi bunda sudah tidak sanggup untuk berbohong."


Nyonya Amara mengalihkan pandangannya ke sisi kiri menatap vas bunga yang ada diatas meja. Kata kata suaminya terngiang di telinganya.


"Amara... mau kamu tutupi gimanapun kebenaran itu cepat atau lambat akan menemui jalannya. Akan sangat menyakitkan bagi Sheril jika dia tau sendiri dari orang lain." Ucap tuan Hasan dua hari yang lalu.


"Bunda... Ada apa? Jika ada sesuatu jangan di tanggung sendiri. Itu akan menjadi beban dan membuat kesehatan bunda menurun. Aku tidak mau terjadi apa apa sama bunda." Sheril menggenggam erat tangan nyonya Amara.


Ucapan Sheril membuat nyonya Amara kembali menatapnya. Melihat wajah dan senyuman Sheril membuat dirinya takut jika senyuman itu kelak akan perlahan lahan memudar dan menghilang.


Nyonya Amara menyentuh pipi Sheril dengan sangat lembut lalu mengusapnya. Kata kata tuan Hasan lagi lagi terngiang ditelinganya hingga mengganggu fikirannya.


"Jika kamu ceritakan semuanya sama Sheril itu akan sangat mudah untuk Sheril mengetahui seseorang yang harus dihindari. Aku takut ibu dan Winda mengetahui tentang Sheril sementara Sheril tidak tahu apa apa."


Nyonya Amara menarik nafasnya lalu menyentuh dahinya yang tiba tiba pusing mengingat nama Oma Dira dan juga nyonya Winda.


Apa yang dikatakan tuan Hasan selaku suaminya adalah benar. Nyonya Amara sangat paham sekali gimana Oma Dira membencinya ditambah lagi Nyonya Winda yang pernah mencari dirinya agar menandatangani surat perceraian.


Jika mereka mengetahui Sheril adalah anaknya dari tuan Hasan tentu saja mereka tak akan tinggal diam.


Jika Sheril saja tidak tahu siapa dirinya bagaimana dirinya akan melindungi diri sendiri.


Tidak akan mungkin nyonya Amara membawa Sheril untuk hidup berpindah pindah sperti dulu lagi karena sampai kapan dia harus menghindari.


Ditambah lagi Sheril sudah dewasa. Tentu saja dirinya mesti memikirkan masa depan Sheril.


"Bund.... Bunda.... !" Ucap Sheril sambil menepuk pundak bundanya yang sedang melamun.


"Oh ya nak.... Maaf!"


"Apa yang bunda fikirkan?"


"Bisakah kamu membawa bunda ke lantai atas? Bunda ingin melihat bintang. Ucap nyonya Amara.


"Hm... Tentu saja bisa. Tapi sebentar yaa bund. Angin malam tidak bagus untuk lesehatan. Aku hubungi perawat dulu. Boleh atau gaknya?"


Sheril pergi berjalan keluar lalu berbicara sama bodyguard di depan pintu kemudian masuk kedalam kamar kembali.


Sheril menatap bundanya yang kembali melamun. Sheril mencuci wajahnya. Tidak lama kemudian seorang perawat datang memberikan izin kepada Sheril. Sherilpun langsung mengeksekusi bundanya bersama perawat untuk menduduki nyonya Amara di kursi roda.


"Kalian disini saja. Jaga ruangan." Ucap sheril kepda bao bao dan temannya.


"Tidak non. Mohon. Kami ikut. Bisa digantung hidup hidup kami."


"Kamu.... " Ucap temannya ingin marah kepada bao bao yang asal bunyi kalau ngoming.


"Ya sudah kamu ikut sementara kamu jaga ruangan." Ucap Sheril.


Bao bao tersenyum lalu meninggalkan temannya sementara temannya menjaga ruangan. Setelah sampai dilantai atas nyonya Amara menghirup nafas lega.


Berada didalam ruangan membuat dirinya makin sakit. Dengan melihat bintang dan menghirup udara segar membuat dirinya bersemangat kembali.


Sheril duduk di kursi sementara bao bao berdiri sedikit menjauh dari mereka.


Sheril melihat bundanya memejamkan mata kemudian tersenyum melihat bundanya.


"Nak... "


"Iya bund...."


"Jika bunda berbohong dan banyak melakukan kesalahan apakah kamu akan membenci dan meninggalkan bunda?" Ucap nyonya Amara sambil melihat langit.


"Tidak. Aku percaya bunda melakukannya karena ada alasannya. Namun aku lebih suka bunda jujur daripada berbohong. bukankah menyakitkan jika kita mengetahui seseorang berbohong dari orang lain daripada mulutnya sendiri?"


Nyonya Amara menatap Sheril. "Ya. Kamu benar."


Nyonya Amara mengalihkan pandangannya ke jalanan. Nyonya Amara menatap hirup pikuknya ibu kota. Fikiran nyonya Amara melayang ntah kemana. Saat ini dirinya tidak tau harus bicara mulai dari mana.

__ADS_1


Sheril yang melihat bundanya kembali melamun dengan raut wajah murung dan sedih langsung menghadapkan kursi roda dihadapannya.


"Katakanlah bund. Aku berjanji aku akan mendengarkannya dan tidak akan menyalahkan bunda dan bunda mesti janji jangan tampakkan wajah murung itu lagi padaku." Ucap Sheril dengan tersenyum.


"Apa kamu yakin?"


"Iya. Aku yakin."


"Janji tidak akan m meninggalkan bunda."


"Iya bund..."


Nyonya Amara menarik nafasnya lalu menggenggam tangan Sheril lalu berbicara sambil menatap mata Sheril.


"Nak... Sebenarnya papamu masih hidup."


"APA....? Sheril menutup mulutnya serasa tidak percaya. Sheril menggigit bibirnya menahan amarah. Ada rasa sedih dihatinya mengingat selama ini dirinya dan nyonya Amara hidup tanpa sosok papa.


Belum lagi penilaian tetangga mengingat bundanya adalah seorang janda ditambah lagi penilaian orang kepada dirinya mengatakan bahwa Sheril adalah anak hasil luar nikah karena besar tanpa sosok papa.


Kemudian saat ini nyonya Amara tiba tiba mengatakan papanya masih hidup. Sementara Sheril ketahui papanya sudah tidak ada.


Selama ini jika ditanya sosok papa bundanya selalu mengalihkan pembicaraan.


Sheril menahan tangisnya. Matanya berkaca kaca.


Setidaknya jika ada sosok lelaki didalam hidup mereka. Mereka bisa dilindungi begitu juga Sheril tidak harus jadi bahan bully teman temannya.


"Aku sudah menganggapnya tidak ada bund. Aku membencinya. Dia tidak pernah hadir di dalam hidup kita. Aku tidak ingin membahasnya."


Sheril berdiri menarik kursi roda bundanya "Jangan kita bahas lagi itu bund. Kita kembali ke kamar."


"Sheril. duduk dulu. Bunda mau menjelaskan semuanya."


"AKU TIDAK MAU BUNDA....! Teriak Sheril tiba tiba membuat nyonya Amara kaget. Selama ini Sheril tidak pernah membentak dirinya.


"Kamu membentak bunda Sher... !" Ucap bundanya terbata bata. Mata nyonya Amara berkaca kaca.


"Maaf bund... Aku tidak sengaja."


"Lepaskan... Apa begini caramu Sher. Setelah kamu berpendidikan. Teganya kamu membentak bunda. Bukankah tadi kamu berjanji untuk tidak membenci bunda." Nyonya Amara menggigit bibirnya.


Sheril yang merasa bersalah langssung bersimpuh di paha bundanya yang duduk di kursi roda.


Nyonya Amara menyentuh rambut Sheril. Apa yang dikatakan Sheril semuanya benar. Tapi semuanya bukan kemauan tuan Hasan. Nyonya Amaralah yang selalu menghindar.


Pernah tuan Hasan menitipkan uang untuk nyonya Amara kepada keluarga nyonya Amara namun uang itu ditolak mentah mentah oleh nyonya Amara.


Tuan Hasan tidak pernah berhenti mencarinya hingga akhirnya menemukan mereka.


"Maaf nak..... Semuanya salah bunda. Jika bukan karena keegoan bunda. Mungkin kamu tidak akan melewati hari hari itu."


"Tidak... Jangan katakan itu bund. Berkat bundalah aku seperti ini. Sekarang aku bisa kuliah menikmati semua yang aku mau. Semua karena bunda. Aku tidak membutuhkan seorang papa."


"Tidak Sheril. Ini semua berkat papamu! Semua karena papamu." Teriak Nyonya Amara sambil menagis tersedu sedu. Nyonya Amara menepuk nepuk dadanya yang saat ini sangat sesak hingga terasa sangat sakit.


Nyonya Amara sangat membenci dirinya saat ini karena dirinyalah Sheril membenci papanya tanpa tahu siapa papanya.


Tangisan Sheril berhenti lalu menatap bundanya. Ucapan nyonya Amara membuat dirinya kaget.


"Selama ini bunda berbohong. Bundalah yang meninggalkan papamu karena suatu alasan. Kamu kuliah bukan karena beasiswa tapi karena papamu membiayaimu. Kebutuhanmu disana semuanya tidak gratis Sher... Semuanya pakai uang dan itu adalah uang papamu." Nyonya Amara menangis tersedu sedu.


Sheril terduduk di kursi. Saat ini dirinya merasa seperti mendengar petir yang menyambar. Orang yang difikirnya sudah mati dan barusan menjadi orang yang dibenci ternyata dia selama ini yang menjadi malaikat penolong.


Sheril terdiam menatap bundanya dengan tatapan kosong.


"Maafkan bunda Sher....!" Tubuh Nyonya Amara yang masih lemah ditambah lagi dengan kejadian yang terjadi menguras emosinya hingga membuat dirinya pingsan.


Bodyguard yang tidak jauh dari sana dengan cepat bergerak lalu menggoncang tubuh Sheril yang sedang mematung.


"Non... Non... Nyonya pingsan!"


"Apa.... " Sheril yang fikirannya ntah kemana mendadak seperti orang bingung lalu melihat bundanya yang sudah tidak bergerak langsung dengan cepat mengikuti bao bao yang sudah lebih dulu mendorong kursi kembali ke kamar.


Didalam perjalanan Bao bao sudah langsung menelepon temannya untuk meminta menghubungi perawat. Setelah sampai diruangan perawat dan dokterpun sudah ada ditempat.


"Bagaimana keadaannya dok?


"Kondisi tubuhnya lemah non. Jika bisa jangan terlalu banyak stres. Jika keadaan tetap lemah dan makin kritis operasi nya nanti kita percepat!"


"Operasi?" Maksudnya apa dok?"


Suster dan Dokter saling berpandangan karena setahu mereka. Mereka sudah menjelaskan tentang penyakit nyonya Amara kepada suaminya. Setidaknya tentu saja anaknya tahu.

__ADS_1


"Anda anaknyakan?"


"Iya dok."


"Kami sudah menjelaskan kepada suami nyonya Amara selaku orang tua anda. Nanti anda tanyakan langsung kepada walinya selaku orangtua anda. Saya pamit dulu. Sebentar lagi nyonya Amara akan sadar."


Sheril menarik nafasnya. "Oh... Bunda. Kenapa banyak sekali hal yang harus kufikirkan!" Sheril duduk disofa tidak jauh dari pembaringan bundanya.


Sheril meremas kepalanya yang tersa sangat sakit.


"Sheril... " Ucap nyonya Amara setelah sadar.


"Bunda...." Sheril langsung berlari mendekati nyonya Amara.


"Sher... Berjanjilah kepada bunda satu hal."


"Bund... Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Dokter melarang bunda banyak fikir. Aku mohon. Aku tidak apa apa. Aku bisa mengerti." Ucap Sheril tersenyum walaupun sebenarnya saat ini banyak sekali pertanyaaan. Namun karena keadaan nyonya Amara dirinya lebih baik tidak membahas itu. Sheril takut terjadi sesuatu.


"Tidak... Bunda akan menjadi bahan fikir. Jika tidak mengatakan kepadamu."


"Hm... Baiklah." Sheril memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Setelah bunda kasi tahu siapa papamu kamu jangan pernah mencari tahu dirinya sampai ke rumah nya dan ke kantornya ya Sher.


"Iya." Ucap Sheril.


Sheril sebenarnya tidak terlalu peduli siapa papanya. Dirinyantidak ada keinginan untuk mengetahuinya.


"Nak...papamu adalah tuan Hasan." Ucap Nyonya Amara lirih.


"Tuan Hasan...." Lirih Sheril.


Sheril menggenggam selimut nyonya Amara dengan kuat kemudian menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Pantesan saja dia menyekolahkanku. Mungkin dia takut jika diketahui orangndia menelantarkan anak." Batin Sheril.


"Papamu adalah suami dan ayah yang hebat nak. Dia adalah pengusaha sukses."


Sheril menahan amarah "*jika dia adalah ayah dan suami yang hebat kenapa dia meninggalkan kita."


S*heril lagi lagi memaksakan dirinya untuk tersenyum namun mimik wajah tidak sukanya terbaca oleh nyonya Amara selaku ibu kandungnya.


"Kamu pasti punya banyak pertanyaankan?"


"Tidak bunda. Ayo bunda istirahat lagi." Ucap Sheril yang sudah bosan mendengarkan ucapan bundanya yang memuji tuan Hasan. Pujian itu membuat dirinya ingin muntah mendengarnya.


Sheril tidak tahu ceritanya dari awal jadi sulit untuk dirinya menerima.


"Sheril... Kamu mau mendengarkan bundakan nak? Bunda mohon.


Sheril menarik nafasnya lalu kembali duduk disamping bundanya dengan terpaksa.


"Bunda akan cerita semuanya dari awal agar kamu tidak salah paham."


Sheril hanya diam sambil menatap bundanya. Nyonya Amara menggenggam tangan Sheril lalu mulai bercerita dari awal dirinya bertemu dengan tuan Hasan hingga menikah kemudian diusir lalu dikejar untuk menandatangani surat perceraian hingga memiliki Sheril.


Sheril terkejut dan tidak menyangka mendengar cerita bundanya layak sebuah film film yang ada disinetron.


"Sheril... Setelah mendengar semua cerita bunda. Apa kamu masih membenci papamu nak?"


"Tidak bunda." Ucap Sheril sambil berkaca kaca.


"Nak... Berhati hatilah dengan Oma Dira, Nyonya Winda serta anaknya karena mereka sangat kejam."


"Brendi dan Sinta bukan anak kandung papamu melainkan anak selingkuhan nyonya Winda. Mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkan."


"Iya bund... Aku mengerti. Aku akan berhati hati."


"Sheril... Bunda sekarang tenang. Jikapun bunda meninggal karena penyakit bunda. Bunda sudah tidak menanggung beban lagi.


"Bunda. Bunda jangan bicara seperti itu. Bunda tidak ingin melihatku menikah." Ucap Sheril sedih.


"Tentu saja bunda mau nak."


"Jiwa bunda saat ini terasa tenang, Fikiran bunda tersa ringan dan hati bunda tidak sedih lagi setelah menceritakan semuanya. Selama ini bunda tidak tenang Sheril.


"Maafkan Sheril bund. Sempat berfikir buruk sama papa."


"Bagaimana perasaaanmu sekarang?"


"Bahagia. Rasanya aku ingin memeluknya dan mendatanginya namun aku juga sedih bund karena tidak bisa memanggilnya papa dan tidak bisa memeluknya di depan orang." Ucap Sheril.


"Maafkan kami nak..."

__ADS_1


"Tidak bunda. Setidaknya aku punya keluarga utuh sekarang. Walaupun harus seperti ini." Sheril memeluk tubuh nyonya Amara dengan pelukan bahagia bercampur haru dan sedih.


__ADS_2