
"WHAT.........?" Brendi memukul meja dengan keras setalah mendengar semua penjelasan Sinta. Matanya menjelalatan berapi api seperti ingin menghancurkan segala yang ada dihadapannya.
"Ayo cabut...!" Ucap Brendi kepada Sinta.
"Mau kemana Brend?"
"Tentu saja minta penjelasan kepada Mommy dan Daddy."
"Stop." Sinta berdiri dihadapan Brendi.
"Kamu Gila ya. Kalau emang benar kita berdua anak angkat kamu mau kita hidup dijalanan." Sinta menatap Brendi. Brendi terdiam lalu menendang kaki kursi yang ada didekatnya.
"Kita harus menyelidikinya berdua. Tanpa minta penjelasan ke Mommy dan Daddy." Ucap Sinta.
"Tidak. Kita harus tanya ke Mommy. Bukankah Prilla mengatakan mommy juga belum tentu mendapatkan warisan. Berarti Mommylah yang memiliki rahasia ini."
Sinta mencoba untuk berfikir. Setelah rasanya perkataan yang dikatakan Brendi benar Sinta setuju dengan ide Brendi.
Mereka berduapun memutuskan untuk keluar dari cafe tersebut.
Disaat ingin menuju parkiran tanpa sengaja mereka bertemu dengan Prilla.
Brendi mempercepat langkah kakinya lalu menghampiri Prilla.
"Kamu... Wanita ******. Apa kamu bermain main dengan keluargaku." Brendi memgang kerah baju Prilla dengan sangat kuat hingga membuat Prilla menjadi kesulitan sekali bernafas.
Nindi dan Ariel yang datang bersama Prilla langsung dengan cepat keluar dari mobil.
"Lepaskan....!" Ariel mendorong tubuh Brendi dengan sekali dorongan.
"Jangan masuk campur kamu." Brendi meninju Ariel namun dengan cepat ditangkis oleh Ariel.
"Hentikan Brend....!" Ucap Sinta.
Sinta menatap kesal kepada Brendi yang sudah mencari masalah dengan Ariel.
"Ingat! Jika sampai saja ucapanmu masuk kedalam media. Aku akan membunuhmu." Teriak Brendi menatap kearah Prilla hingga membuat mereka menjadi tontonan.
Sinta menarik tubuh Brendi menjauh "Lepaskan...!" teriak Brendi.
"Apa apan kamu, Dia itu Ariel Pratama. Anak lelaki tuan Pratama pemilik perusahaan yang bergerak di emas dan mode yang bernama "Perusahaan X".
Brendi menatap Sinta lalu menahan amarahnya kemudian menuju mobilnya diikuti oleh Sinta. Sinta melirik kearah belakang.
"Aku akan menghancurkan kariernya." Ucap Brendi dalam hatinya sambil menyunggingkan senyuman smirknya kepada Ariel.
Dirinya melihat Ariel dari kejauhan lalu menatap Prilla kemudian masuk kedalam mobilnya.
Sementara Sinta tidak berhenti menatap kearah sosok yang gagah tersebut.
"Pantes saja Prilla tergila gila dengan lelaki itu. Aku yang baru sekali bertemu saja langsung menginginkannya." Ucap Sinta dalam hatinya.
Ariel menatap Brendi dan Sinta dari kejauhan lalu setelah memastikan mereka pergi Ariel melihat kearah Prilla yang sedang bersama Nindi.
"Apa kamu baik baik saja?" Ariel menatap Prilla dengan tatapan khawatir.
"Iya. Aku baik baik saja."
Prilla sudah hampir 3 tahun ini bekerja sama dengan perusahaan Ariel. Sejak dirinya menyerahkan proposal beberapa tahun yang lalu di negeri paman sam. Ariel mulai tertarik dengan hasilnya. Hingga mereka memiliki kesepakatan untuk bekerja sama.
"Apa kamu mengenali mereka?"
"Iya. Mereka anak tuan Hasan. Pemilik perusahaan X.
"Oooh... Ya aku tahu. Ada masalah apa kamu dengan mereka?"
"Setauku aku tidak memiliki masalah apa apa. Aku terakhir bertemu dengan gadis itu waktu di Amerika setelah pertemuan denganmu beberapa tahun yang lalu."
"Apa ada kata kata kak Prilla yang membuat mereka marah?" Ucap Nindi kepada Prilla.
Prilla mencoba untuk mengingat ngingatnya. Ariel yang melihat Prilla yang masih pucat langsung memiliki ide.
__ADS_1
"Ayo kita minum dulu. Kamu masih shock." Ariel memberi kode kepada Nindi untuk membawa Prilla ke dalam.
Ariel menarik sebuah kursi lalu mempersilakan Prilla untuk duduk. Kemudian tidak berapa lama datang seorang waitress membawa menu minuman dan makanan.
"Bagaimana sudah mendingan kak?" Ucap Nindi kepada Sheril.
"Sudah Nind. Makasih."
"Apa sudah ingat kejadiannya? Kalau ga ingat ga usah dipaksakan atau jika tidak ingin diceritakakan pun tidak apa apa." Nindi menyeruput minumannya yang sudah datang dari tadi.
"Ya, Makasih. Ucap Prilla.
Prilla menyeruput minumannya. Fikirannya saat ini sedang bercabang. Bukan karena dirinya takut dengan Brendi dan Sinta namun dirinya merasa ada yang aneh.
"Apa dugaan mama benar jika Sinta dan Brendi bukan anak tuan Hasan namun anak hasil perselingkuhan Nyonya Winda bersama suami teman mama? Jika benar berarti Nyonya Winda menikahi tuan Hasan dalam keadaan hamil muda?" Ucap Prilla di dalam hatinya.
Prilla refleks menutup mulutnya karena terkejut namun dia enggan menceritakannya kepada kedua insan yang ada dihadapannya.
"Apa kamu baik baik saja Prill?" Ucap Ariel mengalihkan fikiran Prilla.
"Oh iya. Aku baik baik saja. Tidak apa apa."
"Jika ada apa apa. Hubungi saja aku."
"Baiklah. Makasi ya, Kalian dah banyak bantu."
"Kitakan sahabat Prill." Ucap Ariel.
Nindi melihat kearah Ariel dengan tatapan kesal.
"Kapan lah manusia satu ne sadar kalau kak Prilla itu menyukai dirinya. Dasar Blo'on". Nindi menoleh sekilas kearah Prilla.
Prilla memaksakan dirinya untuk tersenyum namun kenyataannya hatinya sangat terluka jika Ariel mengatakan hal tersebut.
"Hem.. Ngomong ngomong kamu kapan pulang ke sini Nind?"
"Semalam kak." Prilla kembali menyeruput minumannya.
"Ooh... Soalnya baru aja kemaren Ariel cerita kalau kamu minggu depan akan pulang. Ech tau taunya dah nongol." Canda Prilla.
"Oooh... Kamu dah punya sahabat disana. Lain kali kenalin donc."
"Bukan ga mau kak tapi temanku itu sedikit aneh kak."
Ariel yang mendengar ucapan Nindi refleks menoleh Nindi.
"Aneh gimana?" Ucap Prilla penasaran.
Nindi menarik nafasnya lalu berfikir sejenak. Sementara Prilla dan Ariel menunggu jawaban Nindi.
"Dia itu... Dia itu.... Aduch gimana ya. Sulitlah jelaskannya. Cerita yang lain aja." Ucap Nindi.
"Hem baiklah."
Nindi dan Prilla pun bercerita banyak hal sementara Ariel sibuk dengan ponselnya. Ini bukan hal yang pertama kali Ariel dikacangin namun Ariel sangat sayang sama adik semata wayangnya.
"Kita kembali ke kantor yuk. Da pukul 2." Prilla melihat arlojinya.
"Ayo..."
Merekapun menuju parkiran lalu menaiki mobil kemudian mobil melaju menuju sebuah perusahaan yang sangat besar.
Prilla menuju ruangannya sementara Ariel dan Nindi berjalan bersama menuju ruangan Ariel. Setiap libur Nindi memang sudah terbiasa ke perusahaan.
Papa dan mamanya sengaja meminta Ariel membawanya agar Nindi terbiasa dengan suasana kantor dan mengerjakan apa yang dia bisa.
Nindi menghempaskan seluruh tubuhnya diatas sofa sementara Ariel duduk di kursi kebesarannya sambil melihat jadwal.
"Nind..."
"Iya kak..."
__ADS_1
"Kamu harus menceritakan tentang sahabatmu yang berada di samping apartemenmu itu kepadaku." Ucap Ariel serius.
"Ayo... Naksir ya..."
Ariel menatap Nindi dengan tajam. Nindi pun mulai menghentikan senyumnya.
"Iya.. Nanti dirumah akan kuceritakan."
"Sekarang."
"Huft.. Santai aja dech kak. Kakak kerjakan aja dulu pekerjaan kakak. Masih banyak waktu."
Ariel tidak menjawab ucapan Nindi. Dirinya menggerakkan kursi lalu menyilangkan kakinya sambil menatap Nindi. Nindi yang sangat paham sekali karakter kakaknya hanya bisa pasrah.
"Tapi janji jangan melarangku berteman dengannya?" Ucap Nindi yang sangat paham sekali sifat protektif kakaknya.
"Kita dengar dulu ceritanya. Tidak ada yang ditutupi. Jika kamu berbohong aku akan mecari tau sendiri."
"Iya iya....." Nindi memanyunkan mulutnya. Ada rasa penyesalan kepada dirinyasendiri karena mengatakan sahabatnya itu aneh.
"Mulai dari mana ya kak. Aku bingung dech."
"Dari hal yang menurutmu aneh aja."
Nindi mulai mengingat ingat kejadian yang menurutnya aneh.
"Hm... Aku pernah beberapa kali ketemu sama tuan Hasan bertemu dengan dirinya. Pertama aku fikir dia adalah selingkuhannya tapi hubungan mereka lebih seperti keluarga."
"Apa kamu tidak pernah bertanya siapa itu?
"Pernah. Namun jawabannya aneh. Sheril mengatakan bahwa Tuan Hasan itu adalah temen mamanya. Tuan Hasan bekerja dipemerintahan malahan beliaulah yang memberi dia beasiswa keluar negeri."
Ariel mencoba mencerna ucapan Nindi lalu menatap Nindi dengan penuh tanda tanya.
"Selain itu kak.. Dia bilang mamanya hanya bisnis catering rumahan namun yang anehnya semua pakaian yang digunakan bermerek. Mereknya juga bukan abal abal. Merek kelas dunia lho."
Ariel diam mencoba untuk berfikir namun dirinya tidak menemukan jawaban.
"Aku sempat berfikir dia adalah anak dari selingkuhan tuan Hasan. Tapi tidak mungkinkan kak...?"
Ariel lagi lagi tidak menemukan jawaban. Ariel menarik nafasnya lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Oh ya kak. Dia punya seseorang yang selalu ada disampingnya. Namanya Meli. Wanita tersebut selalu menggunakan masker. Jika kulihat dia lebih mirip seperti ajudan lho kak namun yang anehnya sahabatku Sheril sepertinya tidak tahu apa apa."
Sheril melihat kakaknya yang hanya diam sambil memainkan bulpen.
"Masih banyak sich kak tapi sepertinya kakakpun sama denganku bingung dan merasa ada yang janggal namun tidak tahu jawabannya apa?"
Nindi bangun dari kursinya lalu pamit ke kakaknya untuk pulang terlebih dahulu. Ariel hanya menatapnya sebentar kemudia melihat keluar jendela lagi.
Ariel sangat yakin ada sesuatu rahasia diantara Sheril dan tuan Hasan namun tidak tahu rahasia apa itu.
Namun dirinya urung untuk mencari tahu lebih dalam karena dia berfikir itu tidak ada kaitan dengan dirinya karena itu bersifat pribadi.
Ditambah lagi mengingat nama tun Hasan dia tidak begitu menyukainya karena melihat tingkah Brendi dan Sinta membuat dirinya tidak nyaman.
Dirinya dan Sherilpun hanya sekali bertemu disaat dirinya mengantar Nindi ke negeri Paman Sam. Disanalah pertama kali mereka bertemu dan sejak itu tidak pernah bertemu lagi.
"Tok...... Tok... Tok...." Bunyi suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk...." Seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan.
"Tuan Pratama meminta anda ke kantor pusat pak."
"Hm... Baiklah. Apa saya ada rapat hari ini?"
"Tidak pak."
"Hm.. Anda boleh keluar!"
Ariel menatap arlojinya lalu turun kebawah. Supir membuka pintu mobil kemudian Ariel memasukinya.
__ADS_1
"Ke kantor pusat."
"Siap pak."