PALOMA

PALOMA
Bab 10 Paloma


__ADS_3

Hingga pada suatu, Christina menanyakan kepada Paloma.


"Ada apa, Paloma? Kamu sepertinya gelisah." Kata Christina, managernya saat menemuinya di apartemen Paloma.


"Aku besok akan pergi kampus." Jawab Paloma datar.


"Apa yang akan kamu lakukan di sana?" Tanya Christina penuh selidik.


"Bukannya kamu sudah selesai kuliah? Apa ada masalah?" Tanya Christina lagi.


"Tidak ada."


"Aku akan melanjutkan studiku di S2." Sahut Paloma, yang membuat Christina terkejut.


"Apa itu sebuah alasan saja agar kamu tidak cepat-cepat ke Bali?" Selidik Christina sambil menatap wajah Paloma.


Paloma diam dan menghela nafasnya. Ia sejurus memandang ke langit apartemennya, kemudian dia menatap Christina seraya berkata :


"Kamu tahu bahwa aku sangat mencintai Jacob dan kamu juga tahu bahwa cinta kami baru mekar-mekarnya." katanya dengan galau.


"Apa kamu tidak punya saran untukku, Christina?" Kata Paloma dengan nada penuh harapan.


Christina diam sesaat, sepertinya sedang berusaha mencari ide untuk membantu Paloma.


"Aku tidak punya ide yang lebih bagus, tapi menurutku kamu jangan terlalu menuruti kehendakmu." Kata Christina.


Paloma kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat, ia kemudian berkata dengan memegang kepalanya.


" Aku sudah berusaha untuk tidak mengikuti keinginan hatiku, Christina. Tapi...." Jawab Paloma dengan kata-kata menggantung.


"Oh my godness..." Keluh Paloma.


Pikirannya mumet dan tak karuan. Ia memejamkan matanya sambil terus memegang kepalanya.


Chritina ikut prihatin dengan keadaan Paloma. Dia sebenarnya mengerti isi hati Paloma, tapi keadaan yang tidak berpihak kepadanya.

__ADS_1


"Seandainya aku yang berada di posisi Paloma, mungkin aku akan mengkhiri hidupku saja. Sepertinya itu jalan yang terbaik", bathin Christina.


Christina kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia kemudian duduk di samping Paloma dan mendekatkan badannya ke badan Paloma. Lalu ia mengusap dan membelai rambut pirang Paloma yang panjang.


Rasa haru menyelimuti perasaan Christina. Sudah 12 tahun Christina menjadi manajer Paloma. Bagi Christina, Paloma sudah seperti adiknya sendiri. Apapun yang terjadi pada Paloma, Christina akan mengetahuinya. Karena Paloma menganggap ia bukan hanya seorang manajer saja, melainkan juga sebagai kakak, guru dan juga tempat mengadu dari segala masalah yang dihadapinya.


"Apa kamu sudah konfirmasi dengan keluargamu tentang keinginanmu itu?" Tanya Christina sambil terus membelai rambut Paloma.


"Sudah." Jawab Paloma singkat.


"Terus bagaimana respon mereka?" Tanya Christina lebih lanjut.


"Ayah sih setuju-setuju saja, tapi masalahnya ada di nenek. Nenek tidak menyetujui rencanaku itu." Jawab Paloma dengan nada sedih.


Christina menghela nafasnya, lalu ia berkata :


"Kamu tahu bahwa nenekmu tidak bisa dikalahkan. Jadi aku pikir, lebih baik kamu mengurungkan niatmu dan..." sebelum Christina menyelesaikan kalimatnya, Paloma langsung memotong kalimatnya.


"Pulang ke Bali maksudmu?" Sahut Paloma.


"Walau aku tidak bisa melawan kehendak nenekku, tapi aku akan tetap kuliah S2. Jujur, aku tidak bisa meninggalkan Jacob. Kami saling mencintai, Christina." Kata Paloma dengan sangat galau.


"Dan aku bisa mati tanpa Jacob, Christina." Katanya dengan suara yang sedih dan air mata yang meluncur membasahi wajahnya yang cantik.


Tak terasa air mata Christina juga jatuh menetes dipipinya. Ia sangat sedih memikirkan keadaan Paloma sekarang. Ia kemudian memeluk Paloma dan berbisik kepadanya.


"I am sure, everything will be fine again." Bisik Christina sambil memeluk Paloma.


Sementara Paloma menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Christina dengan erat. Ia menumpahkan segala isi hati dan perasaannya lewat tangisannya tersebut.


***


Sementara itu, akhir-akhir ini kesibukan Jacob juga semakin meningkat. Namun jalinan kasihnya dengan Paloma masih tetap berlanjut. Walaupun kadang-kadang hubungan mereka diwarnai dengan pertengkaran kecil, namun cinta yang ada dilubuk hati mereka semakin membara dan bergairah.


Tapi tidak bisa dipungkiri, perasaan Jacob sering gundah dan gelisah. Ia masih teringat perkataan Paloma tentang perjodohannya. Ia sangat takut kehilangan Paloma sehingga semakin hari, perasaannya tersebut terus menyerangnya dan membuat konsentrasi kerja serta performance kinerjanya terganggu.

__ADS_1


Manajer Jacob juga pusing dengan masalah yang Jacob alami tersebut. Ia sebenarnya mengetahui akar permasalahan Jacob tersebut karena Jacob sempat menceritakan masalah yang menjadi duri dalam hubungannya dengan Paloma selama ini. Melihat kinerja Jacob yang terus menurun akibat dampak masalah tersebut, membuat Manajer Jacob merasa sangat kasihan dan simpati terhadap Jacob dan Paloma. Ia juga tidak ingin karir Jacob hancur akibat terus memikirkan masalah yang dialaminya itu. Ia juga tidak ingn hidup Jacob menjadi berantakan akibat masalah tersebut. Sehingga ia berpikir keras untuk berusaha mencari jalan keluar yang sekiranya bisa membuat Jacob dan Paloma bisa hidup tenang untuk saat ini. Walaupun mungkin pada akhirnya nanti mereka tidak bisa hidup bersama tapi setidaknya mereka bisa hidup berdekatan dan saling berhubungan satu sama lain.


Manajer Jacob berjalan hilir mudik di depan Jacob untuk memikirkan jalan keluar yang pas untuk mereka berdua. Hingga akhirnya, sang manajer menghentikan langkahnya sambil menjentikkan jarinya.


"Ahaa, aku punya ide. Bagaimana kalau kita beli tanah di Bali saja. " Kata manajer Jacob dengan muka yang ceria.


"Ide cemerlangku ini berupa suatu panggung musik yang bisa menampung 500 ribu penonton."


"Kita juga akan buat studio rekaman yang paling canggih di Bali. "


Dan yang tak kalah penting, kita akan bangun hotel bintang lima berlian di Bali."


"Bagaimana menurutmu? Apa kamu paham rencanaku ini, Jacob?" Pungkas manajer Jacob sambi menaik-turunkan alis matanya ke arah Jacob.


Jacob yang dari tadi sedang gundah gulana langsung lemes mendengar kata-kata manajernya tersebut.


"Silahkan kamu berkhayal sendiri." Kata Jacob dengan malasnya.


Sang manajer yang terkejut dengan ucapan Jacob tersebut langsung menimpalinya.


"Daripada kita engga ada solusi." Katanya.


"Dan daripada kamu terus murung seperti ini." Imbuhnya lagi.


"Apa kamu tidak punya solusi yang lebih bagus lagi. "Jawab Jacob.


" Apa kamu tidak punya ide untuk menyatukan kami berdua." Ucap Jacob lebih lanjut.


"Kamu tahu, aku sangat mencintai Paloma dan aku sungguh sangat tidak rela kalau aku harus kehilangan dia." Kata Jacob yang menyiratkan ketidakberdayaannya dalam menghadapi masalahnya tersebut.


Ia merasa sangat sedih, gelisah dan gundah. Ia tidak mampu berbuat apa-apa. Sungguh dia merasa terjebak dengan cintanya yang buta terhadap Paloma.


Manajernya pun diam. Dia mengela nafasnya dan berkata apa-apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Manajer Jacob tersebut merasa otaknya buntu sehingga tidak bisa memberikan saran lebih lanjut tentang masalah percintaan antara Jacob dan Paloma.


****

__ADS_1


Paloma bangun dari pembaringannya dan menggeliatkan badannya. Ia duduk di atas ranjangnya sambil melamun tentang masalah cintanya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan membuyarkan lamunan paginya tersebut. Ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan melihat nama neneknya ada di panggilan masuknya.


__ADS_2