
Paloma kemudian membuka matanya. Ia kemudian melonggarkan tangannya dan melepaskan pelukan Jacob. Jacob kemudian melepaskan pelukannya dan kemudian mereka duduk di tempatnya semula dan saling bertatapan satu sama lain. Jacob kemudian memejamkan matanya dan memegang kepalanya. Ia merasa tiba-tiba kepalanya berdenyut dan sakit. Paloma yang melihat hal tersebut langsung berkata kepada Jacob.
"Mandilah, agar kamu merasa fresh. Semua sudah ada di kamar mandi." Kata Paloma.
Jacob kemudian bangun dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Jacob sebenarnya takut meninggalkan Paloma sendirian. Takut Paloma berbuat yang tidak-tidak lagi. Namun ia ingin sekali mandi, menyegarkan badan dan pikirannya yang sudah terlalu penat.
Jacob membuka semua pakaiannya. Badannya yang bidang tersiram air yang menyegarkan. Ia membiarkan kepalanya diguyur air yang keluar dari shower kamar mandi. Selang tiga puluh menit kemudian, Jacob menyelesaikan mandinya. Ia memakai handuk yang telah tersedia di kamar mandi. Paloma memang sengaja menyiapkan banyak sekali handuk yang tertata rapi di lemari kamar mandinya.
Jacob lalu mengenakan kembali pakaiannya karena ia tidak membawa baju ganti. Setelah itu dia kembali ke sofa tempat Paloma duduk. Saat Jacob datang, Paloma menawarinya makan.
"Kamu mau sarapan?" Tanya Paloma dengan nada yang tidak bersemangat.
Jacob menganggukkan kepalanya dan kemudian mengikuti langkah Paloma menuju ke meja makan. Jacob melihat di meja makan sudah ada sandwich dengan irisan daging kalkun asap, omelet, heart blood juice yang terbuat dari buah bit, roti gandum, irisan zuccini yang dibuat persegi, wortel yang sudah diserut, tomat dan juga beberapa lembar selada dan kol ungu yang sudah dipotong-potong.
"Kamu yang menyiapkan semuanya ini, Paloma?" Tanya Jacob.
"Iya, aku menyiapkan ketika kamu mandi." Jawab Paloma.
Kemudian mereka menarik kursi masing-masing di meja makan dan duduk saling berhadapan. Lalu Paloma mengambil satu sisir roti gandum dan mayonaise. Ia mengolesi roti gandumnya tersebut dengan mayonaise dan menambahkannya dengan omelet, zuccini dan beberapa potongan kol ungu. Sementara Jacob mengambil sandwich yang sudah diisi dengan smoke kalkun dan menambahkannya dengan beberapa potongan tomat dan 1 gelas heart blood juice.
Paloma makan dengan wajah menunduk. Sementara Jacob makan sandwichnya sambil menatap wajah Paloma yang cantik, namun tampak pucat. Mereka berdiam diri dan tidak mengatakan apapun, terbawa oleh perasaan yang ada dalam diri mereka masing-masing.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati perasaan mereka masing-masing, tiba-tiba ponsel Jacob berdering. Mereka berdua kaget dengan suara ponsel Jacob tersebut.
__ADS_1
"Sorry.." Kata Jacob kepada Paloma yang menatap ke arahnya.
Jacob kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan ternyata manager Jacob yang menelponnya.
"Jacob, kamu ada dimana sekarang? Aku ada di apartemenmu sekarang?" Kata managernya dengan kata-kata khawatir.
"Aku...." sebelum Jacob meneruskan kalimatnya, Paloma langsung berdiri dan menutup mulut Jacob dengan tangannya.
Melihat reaksi Paloma seperti itu, Jacob kaget dan kemudian dengan cepat-cepat mematikan ponselnya. Lalu ia memasukkan kembali ponselnya itu ke saku celananya.
"Ada apa, Paloma?" Tanya Jacob dengan perasaan masih kaget.
"Jangan bilang kamu ada di sini, aku khawatir nanti managermu akan mengundang wartawan datang ke sini."ucap Paloma sambil kembali duduk di tempat duduknya.
"Apa kamu mau pulang sekarang?" Tanya Paloma.
"Apa kamu mengusirku dari sini, Paloma?" Sahut Jacob sambil menatap Paloma.
"Apa kamu tidak mencintaiku, Paloma?" Tanya Jacob lebih lanjut dengan rasa penasaran.
Paloma diam sesaat kemudian ia menjawab :
"Tidak." Katanya sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Jacob menghela nafas dengan berat, lalu ia melanjutkan perkataannya.
"Berarti aku salah menilaimu, Paloma." Kata Jacob lalu ia berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi kita masih bisa bersahabat" Jawab Paloma sambil ikut berdiri.
"Buat apa? Sekarang aku anggap kita sebagai orang asing dan tidak saling kenal." Kata Jacob mencoba memancing emosi valuma.
Benar saja, Paloma langsung terpancing emosinya. Ia menundukkan wajahnya dan kemudian ia menangis. Setelah itu ia langsung memeluk Jacob yang ada dihadapannya. Jacob diam sesaat, lalu membalas pelukan Paloma. Dengan ragu-ragu, Jacob mensejajarkan wajahnya dengan wajah Paloma dan kemudian mencium bibir Paloma. Paloma pertama ragu untuk membalas ciuman Jacob. Namun perasaan cinta yang ada dihatinya membuatnya berani untuk berbuat lebih jauh. Hingga akhirnya Paloma membalas ciuman Jacob. Mereka saling berciuman dengan lembut dan sepenuh hati mereka. Mereka menumpahkan segala perasaan yang ada di dalam diri mereka masing. Cukup lama mereka saling berciuman, hingga Jacob berani untuk mengangkat tubuh Paloma dan memindahkannya ke kamar tidur Paloma.
Di kamar tidur tersebut, Jacob dan Paloma kembali melakukan ciuman. Mereka saling membalas ciuman dengan penuh gairah. Jacob bertindak lebih berani dengan membuka pakaian yang di badan Paloma satu demi satu. Tangan Jacob pun mulai beraksi ke seluruh badan Paloma. Hingga akhirnya setelah pakaian mereka semua telah berada di lantai, mereka melakukan hubungan suami istri atas dasar cinta yang ada di dalam hati mereka masing-masing.
Cinta akhirnya mengalahkan segalanya. Mengalahkan rasa ego yang ada di dalam diri mereka masing-masing, termasuk pesan-pesan nenek yang selama ini terdoktrin di dalam diri Paloma.
***
Paloma semakin sibuk dengan karirnya. Ia banyak sekali mengambil tawaran job yang dialamatkan kepadanya. Di sela-sela kesibukannya, ia berkeinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya dengan cara menempuh studi program magister di Los Angeles. Hal itu dilakukan agar ia bisa lebih lama tinggal di Los Angeles dan agar ia bisa tetap berhubungan dengan Jacob, kekasihnya. Semuanya itu ia lakukan demi cinta yang bersemayam di dalam hatinya.
Dia menyadari bahwa sekarang dia sudah berumur 20 tahun, dimana dia diharuskan menikah dengan pria yang sudah dijodohkan oleh neneknya. Dia ingin sekali menunda perjodohannya tersebut sehingga dengan sibuk berkarir dan ikut program Magister selama 2 tahun, itu merupakan cara dan alasan yang tepat untuk disampaikan kepada ayah dan neneknya untuk menunda perjodohannya tersebut.
Terus terang saja, Paloma sangat takut untuk cepat-cepat menikah dengan pria yang dijodohkan keluarganya tersebut. Sementara neneknya sudah sering mengingatkan dia untuk cepat kembali pulang ke Bali. Namun sayangnya, Paloma menolak permintaan neneknya tersebut secara halus dengan beribu-ribu alasan.
Dia tahu hari itu akan datang, hari dimana dia harus melepaskan cintanya dengan Jacob. Namun ia tidak rela bila ia harus berpisah dengan Jacob. Ia juga tidak membayangkan bagaimana dirinya nanti bisa hidup dengan orang yang tidak ia cintai. Membayangkan dan memikirkannya saja sudah membuat dadanya merasa sesak. Ia merasa sedih dan gundah gulana.
__ADS_1