PALOMA

PALOMA
Bab 5 Paloma


__ADS_3

Mobil porsche Jacob tiba di parkiran apartemen Paloma.


Parkiran apartemen Paloma ada di bawah tanah, di lantai dasar.


Jacob kemudian menelpon paloma.


"Aku sudah sampai, aku menunggumu di bawah" kata Jacob.


"Oke, aku ke bawah" sahut Paloma singkat.


Paloma turun dan berjalan ke arah mobil Jacob. Paloma menggunakan dress berwarna pink di atas lutut dan rambut panjangnya yang di curly dibiarkan terurai. Lipstik berwarna pink menghiasi bibirnya. Dandanan yang tidak menor namun sangat menawan. Benar-benar sempurna, gumam Jacob dalam hati. Bahkan Jacob sampai tidak bisa berkedip memandangnya.


Namanya juga seorang model, jangankan memakai dress, memakai piyama saja tetap cantik, pikir Jacob.


Paloma tersenyum tipis melihat reaksi Jacob yang terpesona.


"Ayo kita berangkat, jangan melamun." kata Paloma membuyarkan lamunan Jacob.


"Ayo, mau makan di restoran mana? Apa kamu punya restoran favorit?" tanya Jacob.


"Kita makan di restoran yang agak sepi saja. Aku takut ada wartawan yang mengikuti kita." kata Paloma dengan nada khawatir.


"Tenang saja, aku sudah membawa 2 bodyguard untuk menemani kita, mereka ada di mobil belakang, aku rasa kita akan aman" sahut Jacob.


Sesampainya di restoran yang dituju, mereka kemudian memesan makanan. Paloma memesan salad sayur dan Jacob memesan steak. Sambil menunggu makanan, Jacob tak berkedip memandang Paloma, sangat anggun dan cantik, kata Jacob lirih.


Makan malam yang sangat romantis, diiringi musik yang sangat indah, benar - benar tak akan terlupakan bagi mereka berdua.


Paloma perempuan pertama yang membuat hati Jacob berdebar - debar.


Jacob merasa bangga bisa mengajak Paloma, karena menurut informasi yang dia dapat, banyak laki - laki yang berusaha mendekati Paloma dan ingin mengajaknya kencan tapi tidak pernah berhasil.


Saat mereka akan pulang, tiba - tiba seseorang memotret mereka, kilatan blitz kamera tak henti - hentinya mengambil foto wajah mereka. Jacob berusaha menutup wajah Paloma, 2 bodyguard cepat - cepat menarik Jacob dan Paloma masuk ke mobil.


"Ah sial.. itu pasti wartawan, besok berita apalagi yang akan dibuat" kata Paloma kesal.


"Biarkan saja mereka, aku tidak peduli lagi, dulu aku sempat kesal dengan para wartawan, tapi sekarang aku cuek" kata Jacob.


Paloma tersenyum, rasa kesalnya juga hilang, yang ada cuma rasa bahagia. Dia lupa tentang pesan-pesan neneknya dan juga lupa tentang perjodohannya.


Mobil melaju dengan kencang, namun Jacob memutar musik romantis.


"Bagaimana jika kita berlibur ke suatu tempat yang indah, tempat dimana hanya ada kita berdua" kata Jacob sambil memandang Paloma.

__ADS_1


"Tidak, aku masih sangat sibuk dengan kuliahku, sebentar lagi aku akan skripsi." sahut Paloma seraya menatap Jacob dari samping.


Jacob yang merasa dipandang menoleh Paloma dan mengedipkan sebelah matanya.


"Awan nabrakkk" teriak Paloma mengagetkan Jacob dan Paloma tertawa melihat Jacob kaget.


Saat Paloma terdiam memandang jalanan sambil menikmati musik, tangan Jacob meraih tangan Paloma, dia menggenggam erat tangan Paloma, Paloma kaget dan melihat ke arah Jacob.


Jacob tetap memandang lurus ke depan sambil menyetir, tetapi tangan yang satunya tetap menggenggam tangan Paloma.


"Kamu mau langsung pulang ke apartemen, atau mau mampir lagi?" tanya Jacob.


"Aku mau langsung Pulang, besok aku harus ke kampus" kata Paloma.


Tidak terasa mobil sudah sampai di apartemen Paloma, Jacob berdoa dalam hati semoga Paloma menawarkannya untuk masuk ke dalam.


"Terima kasih untuk hari ini, apa kamu langsung pulang?" tanya Paloma.


"Apa boleh aku masuk ke apartemenmu" tanya Jacob dengan gugup, dia merasa konyol di depan Paloma.


"Aku cuma ingin lebih lama bersamamu dan aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu." sambung Jacob lagi.


"Oke masuklah, kita mengobrol di dalam." kata Paloma.


Apartemen Paloma berbentuk semi villa dengan bangunan yang kokoh. Apartemen tersebut dihiasi cat tembok yang berwarna putih tulang, yang membuat kesan luas dan mewah.


Sebenarnya Jacob tidak kaget dengan desain interior mewah apartemen Paloma, karena semua keluarga Paloma bergelut di bidang perhotelan. Tentu saja apartemen Paloma mengusung gaya hotel bintang 5, gumam Jacob dalam hatinya.


Paloma mempersilahkan Jacob untuk duduk. Jacob kemudian duduk di sofa sementara Paloma mengambilkan minuman untuk Jacob.


"Apa kamu punya minuman semacam vodka atau black label?" kata Jacob.


"Tidak, aku tidak punya minuman seperti itu, hanya ada air putih dan jus buah" sahut Paloma sambil tersenyum.


"Oke, aku mau jus saja." kata Jacob.


Tak lama kemudian, Paloma memberikan Jacob jus dan duduk di hadapan Jacob.


"Ayo kita mengobrol, apa yang ada dipikiranmu? Katakanlah?" kata Paloma.


"Dihadapanmu aku tidak bisa berpikir apa - apa, kamu sangat cantik" kata Jacob jujur.


"Sudah berapa perempuan kamu yang gombalin? Dan aku yang ke berapa?" tanya Paloma sambil tertawa.

__ADS_1


"Aku serius, kamu sangat menarik hatiku. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Jacob pura-pura ga tau.


"Aku tidak mengerti apa aku sudah punya pacar atau belum, tapi nenekku di Bali menjodohkan aku dengan sepupuku" kata Paloma.


"Apa kamu menerima begitu saja perjodohan yang diatur oleh nenekmu? Apa kamu sekolot itu?" tanya Jacob setengah emosi.


"Aku belum berpikir apa aku harus menerima atau menolaknya, sampai hari ini aku juga belum mempunyai pacar." sahut Paloma dengan ringannya.


Jacob berpindah tempat duduk di sebelah Paloma, membuat jantung Paloma berdetak lebih kencang. Mata Jacob memandang Paloma tajam.


"Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Jacob to the point.


Paloma terdiam, antara senang dan takut. Senang karena dia juga menyukai Jacob, tapi juga takut karena dia memikirkan neneknya.


"Apa kamu serius?" tanya Paloma.


"Aku tidak mau dipermainkan seperti perempuan - perempuan lain yang pernah digosipkan denganmu." kata Paloma.


"Hari ini aku benar - benar serius. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya." kata Jacob meyakinkan Paloma.


"Bisa beri aku waktu untuk berpikir, berikan waktu 3 hari untuk aku memutuskannya." kata Paloma.


Wajah Jacob terlihat agak kecewa, tapi dia menyetujuinya. Dia tidak ingin Paloma merasa dipaksa untuk menjawab pertanyaan Jacob tersebut.


"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu 3 hari untuk berpikir. Sekarang udah larut malam, aku pulang dulu." kata Jacob sambil melihat jam di tangannya.


"Terima kasih Jacob, kamu mau mengerti aku" kata Paloma tersenyum.


"Aku akan mengantarmu ke parkiran." kata Paloma lagi.


"Tidak usah, antar aku sampai depan pintu saja, ini sudah malam." kata Jacob.


Kemudian Paloma mengantar Jacob sampai depan pintu. Lalu Jacob berjalan keluar, namun sekitar 10 langkah, tiba - tiba Jacob balik badan dan berjalan mendekati Paloma. Dia mencium kening Paloma.


"Good Night." kata Jacob sambil tersenyum dan menatap mata Paloma.


Paloma hanya bisa diam. Pipinya merah merona, tangannya gemetar dan dia hanya bisa mengangguk sambil melambaikan tangannnya.


"Sesampainya di rumah, aku akan menghubungimu." kata Jacob seraya tersenyum.


Jacob berjalan pergi dan kemudian Paloma masuk ke dalam.


Di dalam kamar, Paloma tersenyum, dia melompat-lompat kegirangan. Dia tidak menyangka Jacob memintanya untuk menjadi pacarnya. Sebenarnya tadi Paloma ingin langsung menjawab "Iya", tapi dia tidak ingin terlihat terburu-buru karena dia ingin terlihat lebih anggun.

__ADS_1


__ADS_2