PALOMA

PALOMA
Bab 11 Paloma


__ADS_3

Paloma diam sesaat dan kemudian memutuskan untuk mengangkat panggilan dari neneknya tersebut dengan hati berdebar.


"Selamat pagi, Nenekku sayang." Kata Paloma.


"Selamat malam, sayang." Jawab neneknya.


Paloma terkejut mendengar sapaan dari neneknya tersebut dan baru sadar perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia sekitar 12 jam, sehingga ia baru menyadari bahwa di Indonesia sekarang berada pada waktu malam hari.


"Maaf ya, nek...., ternyata di Bali sekarang sudah malam ya." Kata Paloma.


"Iya, tidak apa-apa, cucu nenek yang cantik." Jawab neneknya.


"Paloma, nenek ingin bicara denganmu." Kata neneknya yang membuat jantung Paloma berdegup kencang.


Ia merasa neneknya akan membicarakan masalah perjodohannya lagi.


"Iyy, iya nek." Kata Paloma dengan gugup.


"Paloma, nenek sekarang sudah semakin tua. Nenek juga sudah tidak sanggup bekerja lagi. Sebaiknya kamu pulang ke Bali. Lagian umurmu sudah 21 tahun, Paloma." Tutur neneknya yang menuju ke pokok pembicaraan.


Paloma terdiam dan kemudian menghela nafasnya.


"Tapi nek, aku masih kuliah. Kurang sedikit lagi. Setahun lagi saja, nek." Kata Paloma mencoba mengulur waktu.


"Kamu sudah janji bahwa di umur 20 tahun, kamu akan pulang. Tapi sampai sekarang pun kamu masih belum pulang." Kata neneknya.


"Apa semua ini karena laki-laki penyanyi itu..!" Kata neneknya dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Nek, ini murni karena aku ingin kuliah, nek." Jawab Paloma.


"Nenek jangan khawatir, kita cuma berteman biasa." Jawab Paloma berbohong untuk menenangkan hati neneknya tersebut.


"Nenek harap kamu ingat akan kesepakatan keluarga kita. Jangan mencoreng nama baik keluarga kita, ingat itu Paloma." Tutur neneknya.


"Iya, nek. Aku mengerti." Jawab Paloma.


***

__ADS_1


Sementara itu, manajer Jacob diam sambil memegang keningnya. Ia merasa buntu untuk memcarikan jalan keluar untuk mereka berdua. Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya sambil berkata :


"Ahaaaaaa...! Bagaimana kalau kamu bangun rumah saja di sana? Kamu kan cukup punya banyak uang untuk membangun rumah untuk kamu dan Paloma di sana." Kata Manajernya.


Jacob yang memainkan gitarnya akhirnya menghentikan petikan jari-jarinya.


"Apa kamu tahu hukum di Indonesia?" Tanya Jacob.


"Emang kenapa?" Sahut manajernya heran.


"Ahhhhh, masa kamu engga tahu. Warga Negara Asing dilarang memiliki rumah di sana, kecuali kamu harus menikah dengan warga negara sana." Kata Jacob.


"Emang harus seribet itu ya? Kata Siapa?" Tanya manajernya dengan keheranan.


"Kata Paloma." Jawab Jacob singkat.


"Jacob, aku ada ide lain..." Kata Manajernya, namun sebelum menyelesaikan kata-katanya, Jacob keburu memotong kalimatnya.


"Apapun usulanmu itu, aku sudah pernah membicarakannya dengan Paloma." Kata Jacob sambil meletakkan gitarnya.


"Paloma tidak akan merubah pendiriannya. Dia lebih memilih menyelamatkan keluarganya daripada cintanya." Sambung Jacob.


"Aku pasrah apapun yang akan terjadi pada cintaku dan Paloma. " Kata Jacob sambil menarik nafas yang panjang.


"Tapi masalahnya, kegalauan hatimu sudah merusak konsentrasi kerjamu. Akhir-akhir ini kamu lebih banyak termenung dan performancemu sangat menurun." Kata manajernya.


"Aku tak bisa mengendalikan hatiku. Aku akan jalani saja semuanya ini. Terserah mau gimana." Ucap Jacob.


Manajer Jacob hanya bisa mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah tidak habis pikir lagi dengan semua ini. Ia akhirnya menyerahkan semuanya ke Jacob.


****


Saat Paloma sedang mengobrol dengan neneknya, tiba-tiba Christina datang. Sehingga Paloma mempunyai alasan untuk menyudahi pembicaraannya dengan neneknya. Ia sudah gerah mendengar petuah neneknya yang panjang kali lebar di telinganya.


"Iya nek, sudah dulu ya, love you, muach...muach..." Kata Paloma mengakhiri obrolan dengan neneknya.


"Siapa? Pasti nenek ya?" Tanya Christina dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Bukan." Sahut Paloma singkat.


"Terus siapa?" Tanya Paloma sambil senyam-senyum.


"Hantu yang terus membayangi hidupku." Jawab Paloma sambil menghela nafasnya.


Christina tertawa mendengar jawaban dari Paloma. Paloma hanya bisa menarik nafas sambil menatap Christina yang terus tertawa.


"Sudah, ikuti saja saran dari nenek, supaya kamu selamat." Kata Christina.


Paloma yang mendengar kata-kata Christina itu langsung menutup kupingnya. Ia malas mendengar ceramah Christina.


"Dasar anak bandel." Gerutu Paloma melihat tingkah Paloma.


"Paloma, ayo sana mandi. Kita akan berangkat sekarang." Kata Christina lagi.


"Kita mau kemana lagi, Christina. Aku mau jalan-jalan dulu di Aussie ini. Mau menikmati alam liarnya sebelum aku kembali ke Los Angeles." Kata Paloma.


"Kita akan ke Paris. Kamu nikmati aja suasana Kota Paris nanti. Pasti cocok dengan gayamu yang fashionable." Kata Christina.


"Aku tidak bergairah, Christina. I am not in a good mood." Sahut Paloma.


"Paloma sayang..., aku bisa babak belur kalau kamu sampai membatalkan kerja yang sudah kita approved. Nanti kita kembali lagi ke Aussie untuk stay lebih lama lagi, okay." Ucap Christina.


Christina kemudian duduk di sebelah ranjang Paloma.


"Kamu di sana cuma sebentar saja, karena kamu cuma menjadi iklan parfum Dessire." Ujar Christina sambil membelai rambut Paloma. Christina mencoba membujuk Paloma karena akhir-akhir ini kinerja dan performance Paloma agak menurun.


"Di sana kamu akan memperkenalkan rumah parfum dan beberapa aksessoris yang berkaitan dengan parfum yang di pakai." Jelas Christina.


"Come on, Darling. Let's go." Kata Christina sambil menarik tangan Paloma.


Paloma tidak menyahut, dengan enggan dia bangun dari tempat tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi. Kata-kata neneknya masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya.


Ia lalu pergi ke Bandara Kingsford Smith yang berada di Sidney bersama dengan Christina. Mereka lalu pergi ke Paris untuk menjalani pekerjaan mereka di sana.


Christina harus memberikan perhatian dan support dengan full karena selama menjalani pekerjaan, Paloma terlihat tidak seperti biasanya. Ia terlihat tidak terlalu semangat sehingga Christina harus mengeluarkan kemampuan extranya untuk menjadikan pekerjaan mereka sesuai dengan ekspetasi yang diharapkan. Setelah menjalani pekerjaannya tersebut, Christina membawa Paloma berkeliling Negara Perancis. Ia membawa Paloma berjalan-jalan ke berbagai tempat yang menjadi destinasi wisata di Perancis. Ia berharap Paloma bisa lebih terhibur dan rileks atas masalah yang dihadapinya.

__ADS_1


Pertama, Christina membawa Paloma ke Menara Eiffel yang menjadi ikon Kota Paris. Christina mengajak Paloma menikmati pemandangan landscape Menara Eiffel yang cantik dari kejauhan. Mereka berjalan mengelilingi Taman Champs de Mars yang berada di Menara Eiffel. Menikmati street food dan roti yang dijajakan di area sekitar itu. Setelah itu, Christina mengajak Paloma untuk makan steak dan minum wine di Restoran Le Jules Vernes yang berada di tingkat kedua dari menara Eiffel. Setelah itu, mereka menghabiskan waktu mereka dengan menikmati indahnya kota Paris dari puncak menara. Sungguh indah pemandangan ini, gumam Paloma dalam hati.


__ADS_2