Pangeran DEWA PERANG

Pangeran DEWA PERANG
Bab 10 Pertarungan Hidup dan Mati


__ADS_3

Jendral Hammer bukanlah keturunan Federasi asli, dia merupakan perantau dari negeri timur tengah. Dengan kemampuan pedang scimitar yang lihai dia berhasil menjadi Jenderal setelah memenangkan beberapa perang di Federasi. “Hammer” adalah nama samaran yang dia buat agar bisa berbaur dengan orang-orang barat, nama itu diambil dari salah satu kebiasaannya yang membawa palu di kedua punggungnya.


Dengan postur tubuh yang tidak terlalu besar namun lebih tinggi dari orang-orang barat, Jendral Hammer sering menjadi bahan pembicaraan para prajurit mengenai kebiasaannya yang aneh, para prajuritnya sering kali berbicara mengenai fungsi palu yang ada di punggungnya. Mereka tidak tahu bahwa palu tersebut menyimpan rahasia terbesar yang dimiliki oleh Jendral Hammer.


Pada malam yang sunyi, diterangi cahaya bulan yang menerangi jalan. Pasukan Jendral Hammer berangkat menuju pesisir selatan Kota Serikat. Jendral Hammer hanya membawa sebagian kecil pasukannya. Diam-diam Letjen Wein dan Jendral Leo mengikuti pasukan tersebut.


Saat tengah malam, Jendral Hammer sampai ke tepi pantai dan tidak melihat tanda-tanda kapal dari Kekaisaran. Jendral Hammer tersenyum kemudian turun dari kudanya, dia menyuruh pasukannya untuk membuat perkemahan di daerah hutan di dekat pantai. Sementara itu dirinya pergi berjalan ke sebuah tebing di dekat pantai, dia kemudian duduk dan melihat ke pantai.


Jendral Hammer sedang menunggu kedatangan seseorang, dia tahu ini adalah jebakan. Selang beberapa waktu, akhirnya muncul Pangeran Louis bersama dengan Jendral Fredrick yang bersiap untuk menyerang Jendral Hammer. “Jendral Hammer, aku adalah Pangeran Louis dari Kekaisaran. Menyerahlah, akan aku beri kamu keselamatan,” ucap Pangeran Louis dengan suara dingin.


Hembusan angin sepoi-sepoi malam itu membuat suasana tenang, namun seketika berubah ketika Jendral Hammer berbalik badan dan melemparkan sebuah pedang scimitar ke arah Pangeran Louis. Pangeran Louis menghindari pedang itu, walau beberapa helai rambutnya terpotong oleh pedang tersebut. “Pangeran Louis?” tanya Jendral Hammer. Aku membawa 200 pasukanku ke daerah ini, apa kamu sudah membunuh mereka semua?” tanya Jendral Hammer dengan nada datar.


Pangeran Louis menatap mata Jendral Hammer dengan serius. "Ya. Sekarang, kamu berdiri sendirian. Apakah engkau marah karena aku telah menghancurkan mereka?" suaranya penuh dengan tekad.


Mendengar pertanyaan itu, senyum sinis melintas di wajah Jendral Hammer yang penuh kekesalan. "Marah?" tanya Jendral Hammer. "Hahaha, terima kasih, Pangeran. Sejujurnya, aku membenci mereka dengan sepenuh hati," jawabnya dengan senyuman yang tulus.

__ADS_1


Penuh rasa penasaran, Jendral Fredrick meraih pedang scimitar yang dilemparkan Jendral Hammer dan mengamati lengkungannya yang khas di ujungnya. "Pedang yang begitu unik. Hati-hati, Pangeran. Dia berasal dari tanah Timur Tengah, kita tidak tahu gaya bertarungnya," ucap Jendral Fredrick dengan kecemasan yang terpancar dari matanya.


“Terima kasih atas perhatiannya,” ucap Pangeran Louis sambil mengambil pedang scimitar itu kemudian melemparkan pedang tersebut ke udara, pedan itu jatuh di tanah. “Aku menghormatiku karena tidak memihak Kekaisaran walau sudah terpojok sejauh ini, kamu bukan orang dari benua ini kenapa kamu begitu peduli dengan Federasi?” tanya Pangeran Louis dengan wajah serius.


Jendral Hammer terdiam sejenak, dia mengambil pedang scimitar yang tergeletak di tanah. “Apa aku terlihat begitu peduli dengan Federasi?” gumam Jendral Hammer sambil melihat bilah pedangnya. “Aku datang untuk mencari tahu tentang kebenaran sebuah ramalan. Peristiwa belakangan ini mirip seperti yang dikatakan ramalan” ucap Jenderal Hammer dengan ekspresi senang.


“Ramalan?” tanya Pangeran Louis penasaran. “Sepertinya aku tidak akan membunuhmu sebelum kamu memberikan ramalan itu” ucap Pangeran Louis cemas.


“Mati?” gumam Jendral Hammer sambil bersiap-siap dengan kuda-kudanya. “Jika ramalan itu benar, aku tidak akan mati di sini. Tapi aku tidak tahu dengan dirimu” ucap Jendral Hammer tersenyum jahat.


Sementara itu, Jendral Fredrick mengambil jarak untuk menghindari dampak dari serangan dahsyat Jendral Hammer yang membuat tanah retak-retak dan menciptakan kekacauan di sekitarnya. Wajah Pangeran Louis tampak cemas, sebab ini adalah pengalaman pertamanya dalam pertarungan hidup dan mati, dihadapkan dengan lawan yang begitu tangguh dan misterius. "Aku bahkan tidak mampu memprediksi gerakan serangan," gumam Pangeran Louis dalam hati.


Jendral Fredrick melempar satu lagi pedang kepada Pangeran Louis. Pangeran Louis mulai serius melawan Jendral Hammer dengan gaya bertarung dua pedangnya yang mematikan. Jendral Hammer bersiap-siap kembali untuk menyerang, sementara itu Pangeran Louis menerima pedang tersebut dan maju ke depan dengan langkah yang berani.


Pertarungan kilat yang tidak bisa dilihat oleh mata sedang terjadi, gerakan kedua pedang Pangeran Louis begitu elegan namun semua serangannya dapat dihindari dan ditangkis oleh Jendral Hammer menggunakan pedang scimitarnya. “Apa cuma segini kemampuan seorang Putra Mahkota Kekaisaran?” ucap Jendral Hammer dengan nada mengejek, sambil terus menangkis.

__ADS_1


Pangeran Louis mulai kewalahan, tidak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai Jendral Hammer. Sementara itu Jendral Hammer hanya menghirup nafas lega, karena serangan dari Pangeran Louis telah berakhir. Jendral Hammer tersenyum kemudian mengambil salah satu palu di punggungnya, “Sebentar lagi matahari akan terbit, dan aku harus kembali. Aku akan akhiri permainan kita, Pangeran Louis” ucap Jendral Hammer sambil memukul palu besarnya ke tanah, membuat retakan besar di tanah sehingga debu-debu menghalangi pandangan Pangeran Louis.


Pangeran Louis melihat sekeliling dengan ketegangan yang membara, mata waspada mengamati kepulan debu yang menghalangi pandangannya.


Tiba-tiba, Jendral Hammer muncul dari balik debu itu, kedua tangannya meluncur ke depan mencoba menyerang Pangeran Louis. Namun, serangan palu sang Jendral jauh lebih lambat daripada gerakan pedang scimitar-nya. Dengan kelincahan yang memukau, Pangeran Louis berhasil menghindari serangannya. Namun, Pangeran menyadari kesalahannya ketika Jendral Hammer tak mengincar titik vitalnya. Ternyata, dia mengincar kedua pedangnya. Pangeran Louis berusaha keras menahan serangan brutal dari kedua palu itu, salah satu pedang Pangeran akhirnya patah, dan dalam sekejap, hantaman palu menghantam tubuh Pangeran dengan kerasnya.


Pangeran Louis terluka parah, beberapa tulangnya patah, dan tubuhnya terdampar di atas pohon yang patah. Jendral Hammer yakin serangannya telah membinasakan lawannya. Dengan cepat, Jendral hendak melarikan diri, tetapi tak disangka, pedang Pangeran dengan gesit meluncur dan menusuk perut Jendral dengan mematikan.


Berdiri di tengah puing-puing pertarungan, Pangeran Louis menatap Jendral Hammer dengan tatapan penuh api dan keberanian. Wajah sang Jendral berseri, mengakui bahwa pertarungan ini adalah yang terberat yang pernah ia alami. Baju Pangeran Louis robek oleh perjuangan yang sengit, namun Pangeran tetap tegar. Sementara itu, Jendral Hammer terdampar dari tebing menuju ombak yang ganas dan batu-batu karang yang membahayakan.


Di sampingnya, Jendral Fredrick mendekati Pangeran Louis, memberikan pujian atas aksinya yang memukau. "Hebat sekali, Pangeran! Gerakan pedangmu luar biasa, dan-"


Namun, Pangeran Louis memotong perkataan Jendral Fredrick dengan tegas. "Dia belum mati. Aku jauh kalah darinya. Dia bahkan belum menunjukkan seluruh kekuatannya, sedangkan aku terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuanku," ucap Pangeran dengan pandangan serius, melihat arah laut yang jauh.


"Dalam beberapa tahun ke depan, saya yakin negara-negara di Timur Tengah akan menginvasi Benua Barat," lanjutnya, mengungkapkan kekhawatiran akan ancaman yang mengintai di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2